Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Oh, Hai!


__ADS_3

Lea POV


"Rue, siapa itu?" Tanyaku


"Brad." Jawab Rue


Aku segera berlari menuju pintu depan begitu mendengar nama Brad disebut.


"Oh, hai Brad!" Sahutku dan memeluknya, "masuklah." Sambungku dan mempersilahkan Brad untuk segera masuk.


"Darimana kamu tau kami tinggal disini?" Tanya Rue tajam. Rue agak sedikit waspada, aku memaklumi itu karena mencegah kejadian tahun lalu terjadi lagi.


"Ah, tadi aku melewati jalan ini. Beberapa kali aku lewat sini tapi rumah ini tampak suram. Dan tadi begitu aku lewat sini, aku melihat lampu menyala terang, tanaman merambat dan rumput liar sudah tidak ada. Aku penasaran, aku turun begitu saja dan mengetuk pintu." Cerita Brad.


"Begitu saja? Berarti kamu sudah tau kami kembali?" Rue bertanya lagi, ia sama sekali tidak menurunkan tingkat kewaspadaannya.


Brad kembali tersenyum dan dengan sabar menjawab pertanyaan Rue, "Aku tidak peduli siapa pun yang akan membukakan pintu untukku, Rue. Aku hanya ingin melihat siapa yang tinggal disini." Jawabnya.


"Maafkan aku." Kata Brad lagi dengan tiba-tiba.


"Karena aku terlambat datang setahun yang lalu. Aku datang tapi kalian sudah berlumuran darah, mengerikan sekali. Aku tidak menepati janjiku kepada Max untuk menjagamu Lea. Max menghubungiku dan dia memintaku untuk membawamu pergi saat itu, tapi aku terlambat datang." Ucap Brad menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, suaranya tercekat dan ia mulai terisak sedih.


Aku berpandangan dengan Rue dan menyalahkannya karena telah membuat Brad mengingat kejadian itu.


"Sudahlah Brad. Lupakan kejadian itu." Ucapku sambil membelai punggungnya.


"Lalu, dimana Max sekarang?" Tanya Brad


Keheningan total dengan segera menyergap kami. Tak ada yang menjawab, dan tak ada berbicara.


Brad kembali terisak, "Katakan padaku dia selamat! Katakan padaku dia akan segera menemui kalian disini!" Tangisnya.


Aku dan Rue hanya terdiam, kami tidak tahu harus menjawab apa karena memang kami tidak tahu dimana Max dan bagaimana keadaannya.


Malam itu, Brad memutuskan untuk menginap di rumah kami.


Kehadiran Brad di rumah kami membuat Rue tidak nyaman, dan ini tidak biasanya dia seperti itu kepada Brad.


"Kenapa aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Brad yah?" Tanya Rue.


"Dulu, kamu bilang Brad orang baik dan kita bisa mempercayainya. Kenapa sekarang kamu berkata sebaliknya, Rue?" Tanyaku.


Rue berjalan mondar-mandir di depanku sambil memelintir dan memainkannya, "Ya, dulu aku bisa merasakan kalau dia baik. Tapi entah kenapa saat ini aku tidak seperti itu. Hatiku berkata aku harus waspada terhadapnya." Jawab Rue.

__ADS_1


Aku terdiam, Rue tidak pernah salah dalam menilai orang lain. Jadi aku pun ikut mencurigai Brad.


"Lea, siapkan selalu tongkatmu. Aku mengijinkanmu untuk membawanya kemana pun saat ini." Tegas Rue.


"Kan aku sudah abadi, benang kehidupanku sudah berwarna emas jadi kamu tidak perlu khawatir denganku." Jawabku bangga.


"Demi apapun Lea, sombong sekali kamu." Kata Rue mencibir.


"Kan yang baca belum tau kalau aku sudah abadi dan benang kehidupanku sudah berubah menjadi keemasan." Jawab Lea lagi tersenyum lebar.


"Mereka sudah tau Lea. Walau pun penulis cerita ini sedang malas dan kehabisan ide untuk meneruskan cerita kita tapi dia sudah memberitahukan di bab sebelumnya kalau kamu sudah menjadi abadi di usia ke 21." Rue kembali menjawab dengan gusar.


"Cih!" Sahutku


Kuakui akhir-akhir ini aku jarang tampil karena si penulis sedang mengalami krisis imajinasi kronis yang sulit di sembuhkan jadilah aku kurang di perhatikan. Bahkan sampai bab ini di tulis dia belum tahu bagaimana nasib Max.


Aku menggelengkan kepalaku secara tidak sadar dan turut bersimpati kepadanya.


***


"Brad kapan kamu akan kembali ke rumahmu sendiri?" Tanya Rue suatu hari.


Sudah empat belas hari sejak Brad tinggal bersama kami dan dia kembali ke rumahnya hanya untuk mengambil barang keperluannya lalu kembali lagi kesini.


"Aku kan menjaga kalian sesuai perintah Max sebelum kepergiannya. Apa kalian menjadi tidak nyaman karena ada aku disini? Atau aku jadi merepotkan kalian?" Tanya Brad tanpa rasa sungkan.


Brad tertawa, "Hahaha, aku yang mempunyai perusahaan Rue. Tidak masalah aku datang atau tidak. Oh, ataukah kalian ingin bekerja lagi?" Tanya Brad.


Aku dan Rue menggeleng, "Tidak usah, terimakasih." Jawabku cepat.


Aku sudah lelah berpikir, masa iya aku harus kerja juga? Malang sekali nasibku.


"Bagaimana perusahaanmu Brad?" Tanya Rue.


Brad mengambil segenggam keripik jagung dan memasukannya ke dalam mulut, "Baik. Mereka berkembang dengan baik." Katanya sambil mengunyah.


"Hanya saja perusahaan yang Max jalankan mengalami kemunduran dan hampir bangkrut. Semua modalku ada disana dan belum berputar jadi aku rugi juga dan aku tidak bisa membantunya untuk tetap berdiri." Kata Brad.


Deg!


"Benarkah? Separah itu?" Tanyaku kepada Brad.


Brad mengangguk, kali ini dia menuangkan segelas minuman yang rasanya seperti digigit semut saat mengenai lidah kalian. Aku tidak menyukainya.

__ADS_1


"Tentu saja. Siapa yang mau menjalankannya jika Max terus-terusan menghilang? Aku tidak bisa menghandle semuanya." Jawab Brad


Aku terdiam dan tiba-tiba saja muncul ide tak terduga dari kepalaku,


Bruk!


"Baiklah, aku yang akan menjalankan perusahaan Max. Aku sanggup." Sahutku menggebrak meja.


Rue menggelengkan kepalanya, "Jangan Lea, bisa langsung gulung tikar nanti. Sayang dananya. Aku tau kamu cerdas dan pandai, tapi lebih baik kamu urungkan niatmu untuk menjalankan usaha Max." Kata Rue.


Aku membesarkan mataku kepada Rue, "Aku istri sahnya, Rue. Wajar saja jika perusahaan itu jatuh ke tanganku." Jawabku percaya diri.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan nanti?" Rue bertanya lagi.


Aku mengangkat bahuku, "Entahlah, tapi Brad pasti mau mengajariku. Bukan begitu, Brad?" Tanyaku.


Brad tertawa, "Baiklah aku akan mengajarimu dan membantumu untuk mengambil alih perusahaan Max."


***


"Perusahaan Max bergerak di bidang trading atau pialang saham. Aku mengagumi Max karena dia seseorang yang berani mengambil keputusan dan tidak kenal kata kalah dalam hidupnya. Dia berani membeli saat tinggi dan tidak sungkan untuk menjual saat sedang rendah." Jelas Brad.


Aku mengangguk,


"Sampai sini kamu paham Lea?" Tanya Brad.


Aku mengangguk lagi dengan mantap, "Paham. Beli saat tinggi dan jual saat rendah." Jawabku.


Rue melihat ke arahku dan menggelengkan kepalanya tanda dia sudah menyerah denganku.


"Oke. Paling tidak kamu sudah paham konsep dasarnya. Jadi? Kita akan membuka kembali gedung ini dalam hitungan jam? Kamu sudah siap?" Tanya Brad.


"Ya, aku siap!" Jawabku.


"Oh, satu lagi. Apa kamu tidak mempunyai nama belakang? Lea siapa gitu?" Tanya Brad lagi.


Aku menggeleng, "Tidak ada, aku tidak suka dan aku tidak memerlukannya. Panggil saja aku Nona Lea." Sahutku.


Brad dan Rue tampaknya sudah pasrah sekali, "Baiklah. Kita akan mulai bekerja per hari ini. Siapkan matamu dan jangan sampai lelah. Setelah kita running pagi ini, aku akan menjelaskan tentang grafik-grafiknya." Kata Brad.


"Rue bisa mendampingimu." Sambung Brad


Aku dan Rue mengangguk setuju,

__ADS_1


"Oke, we're open now." Sahut Brad dan membuka pintu gedung perusahaan Max.


...----------------...


__ADS_2