Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
An Orange Eye


__ADS_3

No POV


A Week Later


Matt dan Anthem sudah turun kembali ke bumi. Mereka sudah di sibukan dengan aktivitas manusia mereka. Anthem mulai merasakan lelahnya menjadi manusia.


"Ah, sial! Ini seperti tidak ada habis-habisnya! Matt, aku butuh tongkat ajaibku," kata Anthem suatu hari.


Matt tertawa. "Kau tau apa itu karma? Kamu sedang mendapatkan karmamu, Anthem. Saat kamu masih menjadi seorang malaikat, kamu selalu meremehkanku dan memandangku rendah karena aku sering mengeluh lelah," ucap Matt.


"Ya, aku sekarang merasakannya. Pantas saja banyak manusia cepat mati," tukas Anthem cemberut.


Matt tertawa, tak lama ia sudah memimpin rapat yang diadakan hari itu.


Anthem bekerja bersama Matt. Karena ia masih beradaptasi menjadi seorang manusia, maka kekuatan serta tenaganya sangat terbatas. Anthem belum bisa melakukan pekerjaan yang berat atau pun melakukan satu aktivitas dalam waktu lama. Tak jarang ia pingsan di tengah pekerjaannya.


Beruntunglah Anthem karena mendapatkan Alesya yang sangat sabar dan pengertian. Alesya dengan sabar memijat Anthem atau terkadang ia menjadi tempat sandaran Anthem saat mereka sedang berkeliling kota.


Berbeda dengan Anthem, Matt masih belum memutuskan apakah ia sudah siap di sumpah dan di lantik menjadi seorang Raja yang abadi.


Ia masih bersenang-senang dengan kehidupan pribadinya bahkan ia nyaris melupakan hal itu jika Lea dan Rue tidak mengingatkannya.


"Matt, bagaimana keputusanmu karena Raja Wren menunggumu, jangan sampai ia turun ke bumi hanya untuk meminta jawabanmu," tanya Rue suatu hari.


Matt memutar kursi kerjanya. "Memangnya keputusan tentang apa?" tanya Matt menautkan alisnya.


Rue menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau apa yang di lihat oleh Raja Wren darimu. Kamu jauh dari kriteria seorang raja, Matt," kata Rue sambil menggoda Matt.


Matt mengambil beberapa tangkup kacang kemudian ia memasukkan ke dalam mulutnya. "Raja Wren berarti pintar karena ia memilihku, hahahaha." kata Matt berkelakar.


Rue manatap Matt tajam. "Aku serius," ucap Rue.


Mimik wajah Matt kembali serius. "Baiklah, kapan acara pelantikannya?" tanya Matt.


Rue membulatkan kedua matanya. "Kamu bersedia? Kupikir kamu akan menolaknya, Matt," ujar Rue terkejut dengan jawaban Matt.


Matt mengangguk. "Ya, mungkin Lea akan marah padaku karena ia takut aku akan mati seperti kakaknya Raja Wren," sahut Matt.


"Oh, dia tidak mati karena berubah menjadi abadi. Kekuatan dan energinya bertabrakan dan menyerangnya," ucap Rue menjelaskan.


Matt menautkan kedua alisnya. "Heh? Bagaimana? Apa mungkin itu bisa terjadi kepadaku?" tanya Matt lagi.


Rue menggelengkan kepalanya. "Tidak, kecuali kalau kamu memang sudah punya kekuatan yang besar dan tidak kamu sadari," kata Rue.

__ADS_1


"Ada sepertinya dan aku merasa itu besar sekali," jawab Matt, raut wajahnya serius.


"Benarkah? Kekuatan apa yang kamu miliki? Aku harus memberitahukan informasi ini kepada Raja Wren," ucap Rue.


Matt tersenyum lebar. "Kekuatan untuk mencintai dan terus mencintai Lea, hehehe," jawab Matt terkekeh.


"Itu keharusan!" tukas Rue.


Kemudian Rue mengeluarkan sesuatu seperti ponsel tapi bukan ponsel. Modelnya seperti tab milik Anthem jadi apa pun itu pasti alat untuk berkomunikasi.


"Kita berangkat sekarang!" kata Rue menarik Matt tiba-tiba.


Matt menahan kedua kakinya agar tetap di tempatnya. "Ni, no, no, Rue. Bagaimana dengan Lea? Bagaimana kalau dia mencariku?" tanya Matt panik.


"Lea sudah menunggumu. Ayo, lekaslah Matt," jawab Anthem dan ia segera menerbangkan Matt di atas sayapnya.


-


Kerajaan Awan,


Raja Wren sudah menunggu kedatangan Matt sore itu. Ia menunggu di singgasananya dengan di apit oleh Lea dan Ratu Edwina di kiri kanannya.


"Matt, anakku. Selamat datang," sapa Raja Wren, memeluk Matt dengan erat.


Matt terkesiap saat Raja Wren yang bertubuh besar itu menariknya masuk ke dalam pelukannya.


Matt mengangguk. "Apakah proses memakan waktu yang lama? Apakah akan sakit?" tanya Matt mulai panik.


Raja Wren menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Matt, "Cepat dan tidak akan sakit. Sudah kukatakan kepadamu, rasanya seperti di tetesi air dingin setelah itu biarkan tubuhmu yang bekerja," kata Raja Wren riang.


Matt tersenyum kecut. "Lebih cepat lebih baik, kan? Ayo kita mulai saja," ajak Matt. Dia tidak mau berlama-lama.


Raja Wren meminta Matt untuk duduk di singgasana dan menutup kedua matanya. Setelah itu, ia mengibaskan tongkat kebesarannya.


Swwoossshh!


"Matt! Ayah, dia masih hidup, kan?" pekik Lea. Ia panik melihat Matt terkulai lemas.


"Dia cukup kuat, Lea. Dia akan mampu menghadapinya," kata Raja Wren. Raja Wren meminta Lea serta Ratu Edwina untuk segera menyingkir.


"Menjauhlah sebentar," titah Raja Wren. Lea dan Ratu Edwina mengikuti perintah Raja Wren.


Lea menautkan kedua tangannya sambil terus mendaraskan sebuah harapan supaya Matt dapat kembali bersamanya baik itu abadi atau pun tetap seperti manusia.

__ADS_1


Tak lama, terdengar Raja Wren mengucapkan mantra. Tiba-tiba saja tubuh Matt menekuk ke belakang, tubuhnya sedikit terangkat dari tempatnya, dan


Brak!


Matt terjatuh di depan singgasana Raja Wren dengan posisi telentang.


Raja Wren mendekati Matt untuk mengecek kondisinya. Namun, tidak ada respon dari Matt. Lea memberanikan diri untuk menghampiri Matt juga dan memeluknya.


Lea mengecup kening serta pipi Matt. "Matt, bangunlah. Aku menunggumu," kata Lea. Butiran mutiara mulai berjatuhan memenuhi singgasana Raja Wren.


Lea terus memegangi tangan Matt bahkan ia tidur di samping Matt. Ia tidak meninggalkan Matt semenit pun.


Keesokan harinya Rue membawa Anthem beserta dengan Alesya. Ia melihat Lea berbaring di atas dada Matt yang masih terpejam, belum sadarkan diri.


"Lea," kata Alesya. Lea berdiri dan memeluk Alesya dengan hangat. Ia kembali menumpahkan air mata mutiaranya disana


"Sekarang aku tau rasanya menjadi dirimu saat kamu menunggu Anthem sadar. Ini tidak enak sekali," tangis Lea.


Alesya menoleh ke arah Anthem dan Rue, ia tidak tau bagaimana mengusap air mata Lea karena setiap kali air matanya bergulir, tetesan airnya segera berubah menjadi mutiara putih.


"Kumpulkan saja mutiaranya," kata Anthem paham maksud Alesya.


Rue dengan cepat melenyapkan mutiara-mutiara air mata Lea.


Setelah Lea tenang, mereka duduk mengelilingi Matt. Mereka sesekali berbicara tetapi lebih banyak terdiam karena mereka hanya menunggu.


Ratu Edwina dengan di bantu oleh para peri rumah tak ada habis menghidangkan makanan kecil serta besar untuk mereka.


Ketika malam tiba, tiba-tiba saja jari jemari Matt bergerak pelan.


"Rue! Jari Matt bergerak!" sahut Lea antusias.


Mereka semua kembali mengerumuni Matt, tak ketinggalan Raja Wren serta Ratu Edwina.


"Dia sadar! Matt terbangun!" ucap Raja Wren dengan suaranya yang menggelegar seakan memberitahukan kepada seluruh penghuni langit bahwa calon raja mereka segera datang.


Benar saja, tak hanya jari, kini Matt menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Tak lama, seperti seseorang yang mengalami mimpi buruk, mata Matt terbuka!


Tring!


Bola mata Matt berubah menjadi warna jingga kemerahan.

__ADS_1


"Jingga," bisik Raja Wren.


...----------------...


__ADS_2