
Lea POV
"Apa arti mata jingga itu, ayah?" tanyaku kepada ayah.
Matt belum sadarkan diri, setelah kemarin-kemarin sempat membuka matanya, kini ia tertidur kembali. Kata ayahku itu hal yang wajar. Waktu aku di jadikan abadi oleh ayah, aku juga seperti Matt. Hanya saja mataku menjadi berwarna biru metalik.
"Jingga berarti kekuatan tersembunyi yang bahkan ia tidak sadar kalau ia memilikinya," jawab ayahku.
Kekuatan? Kekuatan macam apa yang dimiliki oleh Matt? Apakah karena kekuatan itu, Penguasa memperlakukan Matt dengan spesial?
"Kekuatan Apa itu, Ayah?" tanyaku penasaran.
Ayahku mengangkat kedua bahunya dan mengernyitkan keningnya sambil terus memandang Matt. "Aku juga tidak tahu kekuatan apa yang dimiliki oleh teman tapi aku berharap semoga dia cepat sadar sehingga aku bisa tahu apa yang harus aku lakukan untuk meredam kekuatan yang ada pada Matt," jawab ayahku lagi.
"Semoga ini tidak terlalu berbahaya. Aku akan mengunjungi Penguasa dan berdiskusi dengannya. Beritahukan kepadaku jika Matt sudah sadar," sambung ayah.
Aku mengangguk dan kemudian ayahku merentangkan sayapnya untuk pergi ke tempat Penguasa.
Tinggallah aku berdua bersama Matt yang masih penutup kedua matanya. Aku memeluk Matt sambil berbisik, "Cepatlah bangun Matt, aku merindukanmu. Apapun bentuknya kamu, aku akan tetap mencintaimu,"
Karena hari itu sudah sangat malam aku memutuskan untuk kembali tidur di samping Matt. Aku akan menjaga sampai ia sadar nanti.
Keesokan harinya, Ibu membangunkanku dan memintaku untuk sarapan. Di sana sudah menunggu ayah serta teman-temanku yang ternyata sudah berkunjung di pagi hari ini.
"Aku pikir kamu lelah, Anthem? Kenapa pagi-pagi sekali kamu sudah berada di sini?" tanyaku.
Anthem mendengus, hidungnya kembang kempis menunjukkan bahwa ia cukup bangga dengan dirinya sendiri. "Tentu saja aku tidak selemah itu, Lea. Ckckck, kamu terus berada di dalam, keluarlah sesekali dan pandang kami," katanya sambil tersenyum.
"Bagaimana Matt?" tanya Rue.
"Ayahku sedang menemui Penguasa, karena ayahku berkata mata jingga artinya ada kekuatan yang tersembunyi dan ayahku tidak tau kekuatan apa yang dimiliki oleh Matt, " jawabku.
Yang kutakutkan adalah kekuatan itu membahayakan diri Matt, dan bahkan bukan tidak mungkin kalau kekuatan itu dapat menyerang Matt sendiri.
Selesai makan, aku kembali menemani Matt dan menunggunya terbangun. Alesya datang dan duduk di sampingku.
"Hei, Lea," sapanya.
__ADS_1
"Hei," jawabku.
"Boleh aku menemanimu?" Alesya bertanya kembali.
Aku mengangguk dan mempersilahkan wanita berambut ikal kecil itu masuk dan menemaniku.
"Aku tidak bisa menghiburmu, tapi aku akan menemanimu disini sampai Matt terbangun," kata Alesya lembut.
Alesya pernah mengalami penantian yang serupa saat ia menunggu Anthem berubah menjadi manusia, saat itu ia tidak dapat berada di sisi Anthem.
"Kamu menemaniku saja sudah cukup untukku, Alesya," sahutku tersenyum.
Alesya menyandarkan kepalaku di bahunya. "Agak klise sebenarnya kalau aku memintamu untuk bersabar, tapi memang hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini, kan?" tanya Alesya.
Aku kembali menganggukkan kepalaku. "Semenjak aku turun ke bumi, aku berjumpa dengan Matt, kemudian bertemu dengan Eleanor sampai akhirnya takdir membawaku bertemu denganmu juga Anthem. Aku jadi merasa keluargaku bertambah," ucapku.
"Kau menganggapku keluarga saat kita pertama bertemu?" tanya Alesya.
Aku menegakan posisiku dan menatap kilau cahaya pada manik wanita yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri itu. "Tentu saja, sejak Anthem mengatakan ia menyukaimu di saat ia bertugas untuk membawamu serta Leslie, aku sudah menganggapmu sebagai keluargaku. Aku memiliki kekuatan batin, kau tau? Seperti membaca masa depan. Tapi kalau aku menginginkannya, kekuatanku seakan lenyap," jawabku.
Alesya memelukku. "Aku senang dapat mengenalmu, Lea. Kamu baik," katanya.
Aku menggelengkan kepalaku. Kalau itu lagu manusia, tentu saja aku tidak tau.
"Itu lagu yang sering aku nyanyikan supaya Leslie bangun. Aku nyanyikan untuk Matt, boleh?" tanya Alesya.
"Tentu saja, Matt kan seorang manusia, mungkin saja dia masih memiliki ingatan manusianya," jawabku.
Alesya pun bernyanyi dengan suaranya yang sangat lembut. Lagu ini bukan seperti lagu meminta untuk bangun jika di nyanyikan oleh Alesya. Aku jadi mengantuk.
Tak lama, ayahku datang.
"Hohoho, ada kakaknya Lea disini. Ah, duduk saja. Aku hanya ingin berbicara dengan Lea sebentar," kata ayah begitu melihat Alesya bersamaku.
Ayah mengedikkan kepalanya ke arahku. Aku beranjak berdiri dan bergegas mengikuti ayah.
"Bagaimana? Apa kata Penguasa?" tanyaku menuntut.
__ADS_1
"Penguasa berkata, kekuatan Matt tidak membahayakan dirinya, hanya saja memang perlu di kontrol. Bagaimana Matt pagi ini?" tanya ayah.
Aku menggelengkan kepalaku. "Belum ada tanda-tanda dia akan sadar. Alesya menemaniku. Kondisiku saat ini jauh lebih baik dari Alesya saat menunggui Anthem karena dia tidak bisa di sisi Anthem," sahutku berusaha menghibur diri dengan membandingkan kondisiku dengan Alesya beberapa bulan yang lalu.
Ayah merangkulku. "Aku yakin sebentar lagi Matt akan sadar," kata Ayah menghiburku.
Matahari mulai menghilang dari pandangan, digantikan oleh bulan dan bintang. Makan malam pun sudah siap di hidangkan, akan tetapi kondisi Matt masih sama seperti sebelumnya.
"Matt, bangun! Kamu pemalas sekali! Kamu sudah tidur terlalu lama, Matt! Kau tau nasib Aurora? Atau apakah kamu pernah dengar kalau kita tertidur terus, badan kita akan menjadi bengkak! Bangunlah, Matt!" tukasku kepada Matt.
Kalau Matt yang normal, dia akan menarikku ke dalam pelukannya dan menggodaku. Namun, saat ini Matt tetap tidak bergeming.
Aku kesal sekali! "Matt! Bangunlah!" ucapku.
Pintu kamarku tiba-tiba terbuka, "Lea, aku pikir ada apa? Kenapa kamu berteriak-teriak? Makan malam dulu, yuk," ajak ibuku.
Aku menatap Matt dengan kesal dan mengikuti ibuku untuk makan. Aku makan dengan cepat supaya aku bisa menemani Matt lagi.
"Matt, aku tadi makan steak daging yang super besar. Enak sekali loh. Apa kamu tidak lapar, Matt? Kamu terus memejamkan matamu, kamu belum melihatku sudah hampir seminggu. Aku semakin cantik atau jelek? Kamu tidak tau karena kamu tidak membuka matamu!" ucapku mulai meracau.
Setelah putus asa marah-marah kepada Matt, aku mulai bernyanyi lagu yang tadi di nyanyikan oleh Alesya. Hanya saja mungkin aku harus menyanyikan lagu itu dengan ramai. Aku mengibaskan tongkatku, dan membuat ruangan ini kedap suara.
"Kamu belum pernah mendengar aku bernyanyi 'kan, Matt? Baiklah, kamu akan mendengarnya sekarang. Bersiaplah!" sahutku. Aku menyiapkan berbagai alat musik ritmis yang ramai supaya Matt terbangun.
"Frere Jacques, Frere Jacques. Dormez vou, Dormez vou. Sonnes les matines, sonnes les matines. Ding dong ding, ding dong ding, " aku terus mengulangi lagu itu sampai Matt terbangun.
Aku peri yang abadi jadi aku tidak akan lelah dan suaraku tidak akan serak serta habis. Tak lupa aku memainkan tamborin, maracas, serta triangle di depan telinga Matt.
Sampai saat tengah malam, usahaku ini berhasil. Matt menggerakan jarinya dan ia segera duduk.
"Apa yang kamu lakukan? Berisik sekali!" tukasnya.
Aku menoleh ke arah Matt dan melompat ke dalam pelukannya. "Matt! Kamu sudah bangun! Kamu sudah sadar, Matt!" sahutku kegirangan.
"Berapa lama aku tertidur?" tanya Matt, dan tiba-tiba saja, kekuatan itu! Kekuatan Matt meledak-ledak luar biasa.
"Lea, apa yang terjadi?" tanya Matt yang kini melayang di atap ruangan ini.
__ADS_1
...----------------...