Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Hades


__ADS_3

Matt POV


Nah, gini kan enak? Aku bisa bercerita dengan leluasa tanpa ada yang mengatur.


Baiklah, aku akan mulai ceritaku.


Beberapa hari setelah kejadian di gudang tua itu, aku dan Lea kembali ke rumah kami. Lea sedang berada di dalam masa pemulihan. Wajar saja dia marah sampai berubah bentuk menjadi menyeramkan seperti itu pasti sangat lelah kan?


Hari itu, Lea sudah mulai kembali normal. Dia sudah kembali banyak makan, dan mengomentari tentang apa pun. Kuanggap dia sudah sehat.


"Aku ingin bicara dengan Anthem!" sahut Lea tiba-tiba.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanyaku.


Akhir-akhir ini Anthem jarang terlihat. Aku pikir dia sibuk, tapi Castiel berkata padaku bahwa dia tidak ada di tempatnya. Maka aku dan Rue saat itu mencarinya ke rumah Alesya.


"Anthem? Dia sudah beberapa hari ini tidak kemari. Jujur saja, aku juga sedikit menghindarinya. Maksudku, aku belum punya jawaban untuk pertanyaannya." jawab Alesya. Aku melirik ke jari tengah kirinya, dia memakai cincin pemberian Anthem. Andai Anthem mengetahuinya, dia pasti akan bahagia sekali.


"Kemana Anthem itu?" tanyaku.


Keesokan harinya, Rue terbangun dan seperti teringat sesuatu yang penting.


"Matt, aku baru ingat. Hades itu adiknya Anthem." kata Rue.


"Hah? Benarkah? Kenapa berbeda sekali? Anthem tampan, sedangkan Hades hanya berupa bayangan. Bukannya aku membandingkan, tapi mereka berbeda sekali. Apa kamu yakin, Rue?" tanyaku tak percaya.


Aku membayangkan kehidupan Anthem andai mereka manusia normal. Pasti sangat merepotkan mempunyai adik seperti Hades itu. Eh, tapi seharusnya kakak itu mengalah dan membimbing adiknya. Tunggu? Apakah Hades seperti itu karena perbuatan Anthem?


"Bukan!" bantah Rue.


"Hei, di novel ini hanya aku yang pernah flashback. Bagaimana kalau kita lompat ke masa lalu untuk melihat Hades." sahutku mengusulkan.

__ADS_1


Rue berpikir, "Ide bagus. Ayo!" jawabnya.


Gubrak! Gubrak!


Aku dan Rue terjatuh saat ingin melompat, seakan ada dinding besar menghalangi kami.


Ada apa? Apa yang terjadi?


"Rue, kamu baik-baik saja?" tanyaku sambil membantu Rue berdiri.


Rue bangkit berdiri dengan perlahan, kami pun duduk kembali, "Penulis sialan! Dia bilang, tunggu saja. Nanti Anthem akan datang dan menjelaskan tentang Hades. Kita tidak boleh flashback karena merubah alur cerita." ucap Rue.


Tak lama Anthem datang, wajahnya lesu dan tak bertenaga. Dia menghenyakkan dirinya di sebuah sofa panjang.


"Huft! Aku lelah." katanya dan merebahkan tubuhnya di atas bantal besar.


"Ada apa?" tanyaku.


"Hades. Dia adalah adikku," jawab Anthem memulai ceritanya.


"Aku dan Hades adalah saudara. Hades selalu mengikuti apa yang aku lakukan dan terkadang itu membuatku kesal karena ia menggangguku." kata Anthem.


"Wajahku memang terlahir tampan, tapi tidak dengan Hades. Dia menuruni wajah ibuku. Manis sebenarnya tapi semua orang membandingkan kamim dan itu sering sekali terjadi. Sampai pada suatu hari, ketika di Kerajaan Awan sedang melakukan perayaan ulang tahun Raja Wren. Kami semua diundang. Namun, saat itu Hades sedang diajak ibuku berbelanja ke bumi dan ia tidak tau tentang pesta ini." sahut Anthem sambil membuka kaleng minuman.


Setelah minum dan memasukan sekeping biskuit, Anthem melanjutkan ceritanya, "Singkat cerita, Hades marah. Begitu pula dengan ibuku. Kenapa tidak ada yang mengabarinya saat itu. Begitu tau, aku dan ayahku sudah lebih dulu datang ke pesta Raja Wren, Hades dan ibuku sangat marah. Mereka menyusul kami dan membawa aura kegelapan dan membuat semua orang yang hadir disana merasa sedih, takut, frustasi, dan marah." lanjut Anthem.


Aku dan Rue mendengarkan dengan seksama, kami tidak berani menyela atau memotongnya dengan pertanyaan.


Permasalahan keluarga Anthem tampaknya sangat berat dan menjadi cerita kelam dari seorang Anthem.


"Penguasa saat itu menghadiri pesta Raja Wren. Ia kesal dengan suasana seperti itu. Namun, belum sempat Penguasa menjelaskan situasi yang sebenarnya. Hades sudah murka, meluluh lantakkan semuanya. Kekuatan Hades luar biasa besar. Kerajaan Awan saat itu hancur lebur hanya dalam waktu sepersekian menit. Korban-korban berjatuhan. Para duyung pun kembali ke lautan. Melihat banyaknya korban yang di sebabkan oleh Hades, Penguasa pun murka. Ia mengirim Hades ke Alam Kegelapan Tanpa Akhir bersama ibuku." kata Anthem, mengakhiri ceritanya.

__ADS_1


Aku dan Rue tidak bisa berkata-kata, kami tidak menyangka bahwa Anthem dari keluarga broken home. Aku turut prihatin kepadanya.


"Bukan broken home. Broken home hanya untuk manusia. Entahlah apa sebutannya untukku." kata Anthem, membaca pikiranku.


"Aku rasa sama saja." jawabku bersikeras.


"Ibuku selalu berada di pihak Hades, karena menurutnya Hades tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahku. Padahal kenyataannya, kedua orangtuaku sangat sayang kepada Hades daripada aku." ucap Anthem lagi.


"Hades terlalu dimanja, lihat saja sifatnya menjadi cepat marah dan liar seperti itu! Beda sekali denganku. Dan karena kejadian itu, ayahku memarahiku karena menurut ayah aku tidak memberitahukan info pesta itu kepada Hades. Begitu Hades mendapatkan hukuman bersama ibuku, ayahku marah dan menbuangku. Raja Wren dan Penguasa menolongku dan membesarkanku. Kemarin itu menjadi pertemuan pertama kalinya lagi untukku dan Hades." sambung Anthem lagi.


"Lalu orangtuamu?" tanyaku.


"Mati. Hades mengambil jiwa mereka." jawab Anthem singkat.


"Kisah yang mengerikan. Lalu, bagaimana caramu mengenali kalau itu Hades?" tanyaku lagi. Aku semakin penasaran dengan ceritanya.


"Hades terlahir tidak memiliki sayap. Tidak seperti aku. Dan dia iri pada sayapku. Suatu hari, ayahku meminta Penguasa untuk memberikan sayap kepada Hades. Penguasa berkata tidak bisa, karena Hades memang seperti itu. Ayahku marah, dan saat aku tidur, ia membelah seperdelapan sayapku dan membentuknya menjadi sepasang sayap di kanan dan kirinya. Keesokan paginya, saat aku terbangun, sayapku terpotong jelek sekali. Namun, Penguasa sangat baik kepadaku, Ia menggantinya dengan sayapku yang sekarang ini." jawab Anthem, raut wajahnya tampak sedikit ceria.


Ternyata, Anthem punya cerita seperti itu. Yeah, everybody got a dark side, kan?


"Bagaimana mengalahkan Hades itu?" tanyaku lagi. Karena bagaimanapun juga kita harus melawan Hades dan Brad. Aku bahkan tidak bisa membayangkan nasib Brad bagaimana?


"Hades? Kamu ingin mengalahkan Hades? Dia abadi sama seperti Lea." jawab Rue.


Aku tercengang mendengar jawaban Rue. Makhluk menyeramkan itu bisa hidup abadi.


"Sama seperti aku, Matt. Aku abadi, Rue abadi. Bedanya adalah malaikat seperti aku dan Hades sudah abadi begitu kami di lahirkan. Berbeda dengan Rue atau Lea, mereka akan abadi setelah melewati proses." jawab Anthem.


Aku mengangguk-angguk. Rumit sekali sepertinya. Lalu, sekarang harus bagaimana? Apa yang harus kita lakukan? Aku belum paham. Banyak sekali pertanyaan di pikiranku.


"Matt, kita tidak bisa melawan Hades. Untuk Brad, aku turut berdukacita. Ketahuilah, dia akan berada di bawah kendali Hades selamanya. Dan jiwanya? Kita juga tidak yau bagaimana jiwanya. Sama seperti orangtuaku. Aku tidak tau bagaimana nasib mereka." jawab Anthem suram.

__ADS_1


Jadi? Begini sajakah akhirnya? Entah kenapa aku bersimpati untuk Brad. Bagaimana dia bisa menjual jiwanya kepada Hades? Apa yang dia inginkan sebenarnya?


...----------------...


__ADS_2