Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Investigation


__ADS_3

Matt POV


Sepanjang hari itu aku muak sekali melihat Anthem. Yeah, dia sudah mempunyai perasaan yang sama layaknya manusia. Rasakan itu, Anthem!


Bletak!


"Hei, manusia jahat! Kuasai pikiranmu!" tukas Anthem yang datang dengan sayap hitam kebanggaannya yang sekarang nampak tinggal setengah karena banyaknya bulu yang rontok.


"Itu nyata wahai malaikat setangah sayap!" balasku tajam.


Anthem mendarat, "Oh, jadi mau mengajakku berperang? Ayo! Aku terimana tantanganmu, Matt! Mafia culun sepertimu akan mudah sekali aku kalahkan!"


"Apa katamu? Malaikat yang malang dengan berbagai macam kebanggaan yang ada padamu tapi ternyata kamu di tolak oleh seorang wanita! Cih! Dimana ketampananmu! Tidak berguna, kan?" sahutku lagi.


Tiba-tiba Anthem terdiam, "Kenapa kamu membahas itu, Matt? Itu membuatku sakit. Sudah dua hari tapi Alesya belum memberikanku jawaban. Bahkan aku tidak berani bertemu dengan dia." ucap Anthem muram.


Aku duduk di samping Anthem dan merangkulnya, "Sabarlah, Anthem. Manusia memang rumit. Mereka bilang mereka mencintai kita tapi begitu kita mengungkapkan cinta, mereka menggantungkan kita tanpa harapan. Padahal sebelumnya, dia membawa harapan untuk kita banyak sekali hingga tumpah ruah. Aneh bukan?" sahutku berusaha menghibur Anthem.


Anthem mengangguk lemas, "Ya, jahat sekali. Apalagi wanita! Bisa-bisanya mereka bersembunyi di balik harapan. Aaarrgghh! Aku harus bagaimana, Matt!" seru Anthem putus asa.


"Sabar Anthem. Alesyamu itu takut jika dia menerimamu, kamu akan memboyongnya ke lembah kematian. Itu yang dia takutkan. Berubahlah dulu menjadi manusia!" tukas Lea yang tiba-tiba masuk dan bergabung bersama kami.


Anthem menegakan posisi duduknya, "Benarkah itu, Lea? Kamu tidak sekedar menghiburku?" tanya Anthem.


"Tanyakan saja kepadanya kalau kamu tidak percaya kepadaku atau baca pikiranku." ucap Lea.


"Kamu sudah menutupnya. Curang sekali!" sahut Anthem kesal.


Sekarang Lea memiliki kekuatan untuk menutup pikirannya dari Anthem. Kemampuan adaptasi yang kuat biasa. Dia melakukan itu hanya karena dia tidak bisa membaca pikiran Anthem.


"Matt, rencanamu hari ini bagaimana?" tanya Rue yang ikut bergabung bersama kami.


"Jadi. Ayo!" sahutku.


"Aku ikut." ucap Anthem.


"Apakah waktumu begitu senggang hingga mengikuti kami seperti ini?" tanyaku.


"Aku sudah memiliki pengganti untuk jabatan Malaikat Kematian. Walau pun dia tidak tampan, tidak keren, dan tidak seceria aku, paling tidak dia bisa bekerja dengan baik." jawab Anthem.


Pernyataan yang aneh, mana ada Malaikat Kematian ceria? Oh, hari ini aku berencana untuk melakukan penyelidikan bersama Lea dan Rue. Mereka yang akan membantuku dalam penyelidikan yang nanti akan aku lakukan.


"Siap?" tanyaku kepada Lea.


Lea mengangguk. Aku menyalakan mesin mobilku dan melajukannya ke arah rumah Brad. Lea dan Rue tau dimana rumah Brad. Aku hanya tau rumah Lea yang di pinjami oleh Brad sebelum dia menikah denganku.


"Hei, Lea. Kalau ini sudah selesai maukah kamu menikah denganku?" tanyaku asal.

__ADS_1


"Bukankah kita sudah menikah?" tanya Lea.


"Kamu menikah dengan Max, aku sekarang Matt." aku menjelaskannya.


"Ah benar juga." aku bisa lihat wajahnya memerah seperti strawberry.


"Tapi, penulis itu berkata kepadaku. Kita baru bisa menikah setelah novel ini mencapai 50k. Masih jauh sekali, Matt. Apa kamu yakin?" tanya Lea.


"Tentu saja. Kita cukup terkenal, Lea." jawabku menenangkannya.


Lea tersenyum kali ini dan wajahnya berseri-seri, "Aku bisa menunggu kalau begitu." ujarnya.


Kami memarkirkan mobil kami agak jauh dari rumah Brad. Rue bertugas untuk mengawasi rumah Brad dari atap. Dia terbang dan seketika merendah kembali, "Mobilnya masih ada, itu berarti dia masih ada di dalam rumahnya."


"Bisakah kamu menjadi tak terlihat dan mengawasi apa yang sedang di kerjakannya di dalam?" tanyaku kepada Rue.


"Itu keahlianku." sahut Anthem tiba-tiba.


"Kamu bilang kamu hanya akan melihat, apakah sekarang kamu bersedia membantu kami?" tanyaku.


"Tentu saja. Setelah ini aku akan mengambil imbalan dari kalian, hahaha." sahutnya kemudian terbang mengelilingi rumah Brad.


Aku mengawasi Rua dan Anthem yang sedang berkeliling. Rasanya asik sekali jika aku bisa terbang seperti mereka.


"Asik sekali jika aku punya sayap." ucapku.


Aku menatapnya, "Ya, supaya aku selalu bisa melindungimu." jawabku.


Mata kami saling mengunci, dan jika Anthem tidak menembakkan peluru karetnya ke arahku, aku sudah berhasil mencium Lea.


Plak!


Peluru karet itu tepat mengenai kaca jendela mobil bagian depan, dan kemudian dia terbang merendah, "Hei! Kami mengintai mempertaruhkan nyawa, dan kamu disini malah asik berciuman! Tidak sopan!" seru Anthem.


"Belum!" sahut Lea dan aku berbarengan.


"Lagipula kamu bukan manusia! Kamu tidak punya nyawa, Anthem! Terkadang ucapanmu membuatku umurku memendek." tukasku menenangkan diriku sendiri.


"Yah, aku minta maaf." ucap Anthem pada akhirnya.


"Aku membawa laporan, mau dengar tidak?" tanya Anthem lagi.


Tak lama mobil Brad keluar,


"Anthem masuklah, Rue! Ayo cepat!" seruku kepada mereka.


"Aku bisa terbang!" bantah Anthem.

__ADS_1


Rue mendorongnya, "Masuk sajalah, cepat!" tukas Rue.


Aku meminta Rue untuk membuat mobil ini tak terlihat saat mengekor Brad dari belakang.


"Apa laporanmu tadi?" tanyaku pada Anthem.


"Dia sedang mencetak yang sepertinya lembaran uang." jawab Anthem.


"Uang palsu? Luar biasa!" ucapku bersiul.


Peredaran dan perdagangan uang palsu memang marak di antara mafia, nantinya uang itu akan di sebarluaskan pelan-pelan. Keuntungannya? Tentu saja sangat besar.


Brad menghentikan mobilnya di sebuah gudang kecil lebih kepada sebuah barak.


"Bisakah aku turun?" tanyaku.


Aku bertekad aku harus segera mendapatkan bukti kejahatan Brad, dan apa maksud Brad dari awal menolong Lea dan Rue? Apakah hanya sekedar menyukai Lea?


"Aku ikut denganmu." sahut Lea.


Aku kembali menutup pintu mobilku, "Jangan, nanti kamu terluka. Aku tidak mau ka..."


"Aku sudah abadi dan tidak bisa mati, sudah pasti aku akan melindungimu." jawab Lea memotongku.


Aku hanya bisa menerima ucapannya dengan pasrah, harusnya aku yang mengucapkan itu kan?


Aku dan Lea berjalan mengendap-endap dan bersembunyi.


"Apa itu Matt?" tanya Lea.


Aku beringsut mendekat lagi, Lea mengikutiku, "Itu obat-obatan terlarang dan yang ada di dalam amplop cokelat itu adalah uang palsu yang tadi ia cetak." jawabku.


"Manusia yang aneh. Dia baik sekali dan aku tidak pernah menyangka dia memiliki bisnis gelap seperti ini. Sayang sekali Brad." ujar Lea.


"Apa yang kamu sayangkan? Dia punya pilihan kok." sahutku.


Aku kembali mendekati Brad dan kawananya. Cara kerja yang rapi sekali. Biasanya sehabis transaksi mereka akan membakar dan melenyapkan lokasi transaksi tersebut.


"Lea, jangan jauh-jauh dariku!" tukasku berbisik saat melihat Lea berada di depanku.


"Aku hanya merekam apa yang mereka lakukan. Keluarkan juga ponselmu!" seru Lea.


Oh iya aku lupa, aku mengeluarkan ponselku dan memperbesar layarnya. Mereka sedang berbicara dan tampaknya seorang pria sedang memanggil seseorang.


Tak lama dari dalam gudang itu keluar seorang wanita bermake up tebal, tubuhnya kurus dan kecil sekali.


Eleanor!

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2