
Lea POV
Saat ini suasana di Kerajaan Awan kacau balau, gelap, dan mencengkam. Peri-peri kehilangan sayapnya dan pelangi terbelah menjadi dua.
Para duyung menangis tersedu-sedu. Aku mencari orangtuaku, dan aku menemukan ibuku.
"Dimana ayah, Bu?" tanyaku.
"Ayahmu sedang ke tempat Penguasa, dia ingin bertanya bagaimana menghadapi Hades. Apakah Anthem tidak memberi tahu kepada Hades kalau dia mau menikah?" tanya ibuku.
Aku mengangkat bahuku, "Anthem pasti punya pemikiran sendiri, kenapa ia tidak mengundang Hades. Apakah kamu tau ibu, beberapa waktu lalu kami baru saja berhadapan dengan Hades." sahutku.
Ibuku terkejut, "Benarkah? Bagaimana kalian bisa seperti itu?" tanya Ibu.
"Seorang mafia kenalan Max, ingin membas dendam kepada Max. Dia sudah mengenalku sejak awal, dia berpikir aku memiliki ilmu hitam sehingga ia mencari keberadaan orang yang bisa ilmu sihir sepertiku, tapi dia salah. Dia malah bertemu dengan Hades dan menjual jiwanya kepada Hades dengan iming-iming, dia akan diberikan kemenangan atas pertarungannya denganku dan Max." ucapku menceritakan tentang Brad.
Ibuku berdecak pelan, "Manusia, selalu saja salah dalam memgambil keputusan. Jadi, maksudmu, Hades akan memakan jiwa kami yang berada disini?" tanya ibuku.
"Mungkin saja." sahutku.
Aku membantu ibu menolong yang lainnya, setelah itu aku mencari Matt dan Rue.
"Apakah Hades berhasil mengambil Alesya?" tanyaku.
Matt dan Rue mengangguk lemas, "Hades cepat sekali. Dia benar-benar seperti bayangan hitam." jawab mereka.
"Kemampuan Hades lebih tinggi dari Anthem, hanya saja Anthem mampu menguasai emosinya sehingga ia tampak lebih kuat sedangkan Hades dia menuruti emosinya sehingga kita dapat menemukan celah dari rencananya. Dan saat ini, itu yang akan kita lakukan. Mencari celah kesalahan Hades." ucap Rue.
"Apa celahnya?" tanyaku putus asa. Karena mendengar kemampuan Hades lebih tinggi dari Anthem, aku merasa putus asa. Kalau nama mereka di letakkan di dalam piramida, maka paling bawah adalah namaku, di atasku ada Rue, di atas Rue ada Anthem, sedangkan puncak piramida dihuni oleh Hades. Mengerikan bukan?
Rue menggelengkan kepalanya, "Aku belum tau, kita akan menunggu Anthem untuk turun dari atas sana." jawab Rue.
"Bagaimana dia tau itu Alesya, kenapa dia tidak mengambilku saja?" tanyaku kesal.
__ADS_1
Matt dan Rue kembali menggelengkan kepala mereka dengan pasrah, "Kamu bodoh sekali, Lea! Sudah jelas kan Anthem yang menikah, jadi Hades juga pasti akan mencari seorang wanita yang memakai gaun pengantin, kan!" tukas Rue kesal.
Aku termenung, "Oh iya, benar juga. Kepalaku sudah penuh! Apa tidak bisa aku yang ke atas sana dan bertarung melawan Hades? Maksudku jika kekuatan kita bertiga di jadikan satu kita pasti akan mengalahkan Hades, kan? Katakan ya! Katakan ya!" sahutku kesal.
Hades ini! Anthem ini! Eerrgghh! Aku gemas sekali kepada mereka! Adik kakak tidak dapat hidup rukun! Apa maunya sih! Tidak dapat kumengerti!
"Sabarlah, Lea. Kita akan mencari jalan keluar untuk permasalahan Anthem dan Hades ini." jawab Rue sabar.
Kami membantu ibu dan ayahku untuk merapikan kekacauan yang ada sembari menunggu Anthem turun dari tempat Hades.
Setelah selesai kami memulihkan kondisi psikologis para duyung, mereka itu mudah sekali terguncang dan tidak bisa menahan beban berat sedikit. Jika ada cerita yang berkata seorang duyung menyelamatkan seorang manusia kemudian mereka hidup bahagia, itu hoax. Tidak ada cerita seperti itu.
Para duyung lebih memilih mati menjadi gelembung saat mereka sakit hati atau sangat frustasi. Begitulah, maka para duyung semakin lama semakin dikit karena banyak dari mereka musnah.
***
Tak lama kemudian, Anthem datang. Wajahnya sangat pucat, langkahnya lemas dan tertunduk lesu.
Kami menyambutnya dan bertanya tentang Alesya, tapi Anthem menggelengkan kepalanya.
Dia memberikan kami seuntai kalung bertuliskan inisial LS atau Leslie Simpson. Ini kalung yang dipakai oleh Alesya.
"Mereka masih berada disana, tapi aku tidak menemukan mereka di tempat itu." jawabnya.
"Ini salahku! Aku yang mengajaknya mengadakan pesta pernikahan disini." sambung Anthem lagi, ia mengusap kasar wajahnya dan menyembunyikan tangisnya.
Matt dan Rue menepuk-nepuk pundak Anthem. Kami tidak tau harus berbicara apa lagi saat ini. Ini sangat menyakitkan untuk Anthem dan juga untuk kami. Seharusnya ini menjadi hari yang sangat membahagiakan untuk Anthem dan kami.
"Apakah ada celah, Anthem? Atau bisakah aku dan Rue kesana?" tanyaku kepada Anthem.
"Aku belum menemukan celah Hades. Dia sangat sempurna dalam melakukan kejahatan. Aku rasa kita akan segera menemukan celahnya hanya saja kita harus membuat Hades sangat marah. Disanalah celahnya akan terlihat." jawab Anthem.
Kami mengangguk, "Jadi?" tanyaku.
__ADS_1
Anthem kembali merebahkan kepalanya di pundak Matt, "Entahlah. Aku hanya berharap Alesya baik-baik saja dan Hades tidak berbuat macam-macam terhadapnya." jawab Anthem.
"Apakah Hades akan menghisap jiwnya?" tanya Rue.
Anthem tampak putus asa sekali, "Itu pasti, dia butuh makan. Alesya sedang berbahagia jadi Anthem akan dengan senang hati menghisap kebahagiaannya. Dia akan kenyang malam ini." jawab Anthem.
Kami kembali terdiam dan termemung mendengar jawaban Anthem. Mengerikan sekali.
"Maafkan aku, aku belum paham. Lalu, jika Hades menghisap jiwanya, apa yang akan terjadi kepada kita?" tanya Matt.
"Kosong. Kamu hanyalah sebuah tubuh tanpa emosi dan tanpa jiwa. Itu lebih mengerikan daripada kematian." jawab Anthem.
Benar sekali apa kata Anthem, setelah tubuh itu kosong, Hades akan melemparkannya begitu saja ke tempat Anthem. Disanalah mereka disucikan, di Api Penyucian.
Kami melewati malam itu dalam keheningan, kadang berbicara tapi hanya seperlunya saja. Akhirnya kami tidur berdesakan, tapi ibu dan ayahku melarangku untuk tidur bersama Matt.
Malam itu, ibuku masuk ke dalam kamarku.
"Lea, apakah kamu sudah tertidur?" tanya ibuku mengetuk pintu kamarku.
Aku menggeleng, "Belum." jawabku. Aku beranjak dari tempat tidurku.
Ibu membelaiku, "Aku hanya ingin bertanya bagaimana hubungamu dengan Max?" tanya ibuku.
Apakah ibu tau malam itu aku melakukan adegan dewasa bersama Matt karena mereka bertengkar?
"Aku sudah tau bagaimana hubunganmu dengannya, hanya saja aku ingin tau mau seperti apa kelanjutannya?" tanya ibu.
Aku menatap ibu, "Bagaimana kalau aku ingin menikah dengannya? Maksudku, sebenarnya Matt itu Max, kan? Jadi kupikir aku telah menemukan cintaku kembali." jawabku.
Ibuku terdiam, "Tapi dia manusia, Lea. Maksudku, ayahmu berkata bahwa Matt tidak bisa menjadi abadi dan dia akan tetap menjadi manusia. Dia akan menua dan mati, Lea." kata ibu lagi.
"Itu tidak masalah untukku, ibu. Aku akan tetap menemaninya sampai Matt mati nanti. Kami akan menua bersama apapun yang terjadi." jawabku.
__ADS_1
Ibu menghela nafas, tampaknya dia sudah tidak dapat membantah ucapanku lagi karena orangtuaku tau, kalau aku sudah mengambil keputusan, itu akan selamanya dan tidak ada yang dapat memantahkan keputusanku itu.
...----------------...