
Matt POV
Sejak malam itu aku memikirkan tentang siapa wanita yang selalu menatapku dengan tatapan seperti mau menangis yang kutemui.
Lea, aku pernah mendengar nama itu. Ada kerinduan yang kurasakan saat aku menyebut namanya. Namun, aku tidak mengingat dengan jelas siapa Lea ini?
"Matt, kamu sudah bangun?" Tanya Anthem pagi itu.
Aku mengangguk, "Aku tidak bisa tidur." Jawabku.
"Kalau kamu bingung, berpeganganlah yang kuat supaya tidak terjatuh." Jawab Anthem asal.
"Anthem, aku penasaran dengan wanita bernama Lea itu? Apa aku pernah dekat dengannya?" Tanyaku.
"Temukanlah jawabannya sendiri. Aku tidak akan membantumu mencari jawabannya tetapi kalau kamu meminta bantuanku untuk mendekatinya aku akan membantumu." Jawab Anthem.
"Benarkah? Kamu mau membantuku?" Tanyaku.
Anthem mengangguk mantap, "Aku tidak akan mengulangi pernyataanku tentang membantumu untuk kedua kalinya. Jadi mintalah bantuan kepadaku, kapan pun kamu siap." Kata Anthem.
"Anthem, terimakasih. Kamu benar-benar saudaraku!" Aku berseru sembari memeluknya erat.
"Eerrggghhh, lepaskan aku! Aku bukan saudaramu. Sudah kukatakan kita hanya seperti saudara! Seperti saudara!" Ujar Anthem menegaskan.
Sesampainya di restoran tempatku bekerja, seperti biasa aku melakukan segala hal dengan canggung.
Prang!
Aku menatap piring-piring itu,
"Sudah berapa kali kamu memecahkan piring dalam satu jam ini?" Tanya Alesya kepadaku.
Alesya adalah seniorku. Anthem menyukainya, dia baik dan sangat sabar.
"Maafkan aku, aku akan berhati-hati." Sahutku tertunduk.
Aku kembali menyelesaikan pekerjaan mencuci piringku dengan lebih pelan dan hati-hati. Aneh sekali rasanya aku memegang piring-piring ini. Aku lebih menyukai sesuatu yang menantang, seperti berburu. Aku rasa itu menyenangkan.
Seperti biasa, setiap jam makan siang, makan malam hingga restoran ini menjelang tutup, Anthem dan teman-temannya selalu memesan makanan disini.
Dan hari ini mereka pun datang ke restoran sambil bersenda gurau. Ah, aku ingin masuk ke dalam circle mereka.
"Hei Matt, ambil menu disana dan catat pesanan mereka!" Perintah Owen, manajer restoran ini.
"Baik." Jawabku, kemudian keluar membawa menu dan siap mencatat pesanan mereka.
Jantungku berdebar begitu sampai ke meja Lea dan teman-temannya.
"Selamat siang, silahkan mau pesan apa?" Aku bertanya dengan sopan sambil melirik ke arah Lea.
Tapi mengapa Lea sama sekali tidak melihat ke arahku?
__ADS_1
"Aku seperti biasa saja." Jawab Lea.
"Aku juga." Jawab pria yang duduk di sebelah Lea.
Alhasil pesanan mereka sama seperti kemarin dan kemarinnya lagi.
"Matt,"
Lea!
"Ya nona? Ada tambahan?" Tanyaku berusaha untuk tidak tampak terlalu senang.
"Maukah kamu menemaniku malam nanti?" Tanya Lea.
"Ba...baik nona. Terimakasih." Jawabku. Lea memberikan senyumannya kepadaku. Aku simpan senyum manisnya itu.
Ah, rasanya aku mau terbang. Tunggu...tunggu, apakah ini berarti aku menyukai dia? Jantungku kembali berdetak cepat tak terkontrol membayangkan malam nanti dan aku tidak sabar untuk segera malam.
"Matt, kamu menyukai teman Anthem?" Tanya Alesya saat jam istirahat kami.
Aku merasakan wajahku memanas dan semburat merah menjalar dengan cepat ke atas, "Sepertinya." Jawabku.
"Dia manis. Anthem sering menceritakan tentang Lea kepadaku." Kata Alesya.
"Aku seakan pernah mengenalnya dan kami mempunyai hubungan yang sangat dekat. Ini seperti dejavu. Kamu pernah merasakan hal itu?" Tanyaku kepada Alesya
Alesya menggeleng, "Tapi aku mengalami keajaiban saat Anthem masuk ke dalam hidupku. Seperti ada yang membuat semangat hidupku muncul kembali. Setiap hari aku terbangun dengan harapan, begitu pula Leslie anakku walaupun dokter memvonisnya dia tidak akan bisa berumur panjang tapi semakin hari dia tidak seperti anak yang sedang sakit. Dia sangat ceria sejak Anthem masuk ke dalam hidup kami." Ucap Alesya.
"Jadi, bagaimana menurutmu?" Tanyaku.
"Dengan Lea? Sepertinya dia menyenangkan dan baik, jalani saja dulu sampai kamu mengenalnya dengan baik." Jawab Alesya lagi.
Aku mengangguk, "Aku akan menuruti nasihatmu, Alesya. Terimakasih." Ujarku.
"Percayalah, ketika kita jatuh cinta kepada orang yang tepat maka keajaiban akan terjadi di hidupmu." Bisik Alesya dan bersiap untuk menyiapkan hidangan makan malam.
***
Malam itu setelah selesai jam kerjaku, Lea sudah menungguku di depan restoran.
Rambutnya di kuncir ekor kuda dengan poni tipis di depannya, dengan memakai kemeja serta cardigan yang manis dan rok selutut yang semakin membuatnya tampak manis.
"Ha...hai." Sapaku.
"Hai, mau jalan kemana?" Tanya Lea.
"Mmm, kita jalan-jalan saja ke taman. Apa kamu mau?" Ajakku.
Lea mengangguk.
Kami berjalan dalam diam, sesekali bicara basa basi. Dia bertanya tentang bagaimana pekerjaanku,
__ADS_1
"Aku termasuk pegawai baru dan aku tidak cekatan melakukan ini atau itu." Sahutku.
"Semua yang baru memang tidak enak saat awalnya. Apa kamu mau bekerja denganku?" Tanya Lea.
"Kamu bekerja juga?" Tanyaku.
Lea mengangguk, rambut ekor kudanya turun naik.
"Apakah aku bisa bekerja denganmu?" Tanyaku lagi
"Datanglah ke kantorku saat kamu mempunyai waktu luang. Sebenarnya itu bukan milikku, itu milik seseorang yang sangat kucintai tapi sekarang dia menghilang." Jawab Lea.
Deg!
Dia sudah mempunyai tambatan hati, hilang sudah kesempatanku. Aku tertunduk lemas.
"Kamu lelah? Ah, disana ada kursi. Ayo kita kesana." Sahut Lea.
Ia menggandeng tanganku dan membantuku berjalan. Andai aku bisa berkata kepadanya bahwa aku lemas karena dia sudah memiliki tambatan hati dan sekarang dia menggandeng tanganku.
Ketika kami sudah duduk di kursi, Lea memperhatikan wajahku dalam keremangan lampu taman, "Loh, kamu demam?" Tanyanya kemudian ia memegang keningku dengan tangannya.
Jantungku semakin meronta-ronta, "Apa kamu kedinginan? Sayang sekali tidak ada yang hangat disini. Atau kamu mau ke rumahku? Rumahku sudah cukup dekat dari sini." Tanya Lea dan memberikanku penghangat tangan.
"Te.. terimakasih." Sahutku gugup.
"Kita ke rumahku saja mau? Sebenarnya itu juga bukan rumahku, itu rumah laki-laki bodoh itu." Ucap Lea kini tatapannya kosong.
"Aku rasa aku pun akan menjadi bodoh jika itu menyangkut tentangmu." Sahutku.
Lea menoleh ke arahku, "Maksudmu?"
"Aku rela melakukan apa saja asal kamu tertawa dan bahagia. Bahkan aku rela menukar nyawaku demi menyelamatkanmu." Jawabku.
Entah kekuatan darimana aku bisa mengucapkan kalimat itu, padahal untuk menatapnya saja jantungku sudah tidak tenang.
"Begitukah menurutmu? Kamu akan melakukan sesuatu yang bodoh juga untukku?" Lea bertanya kembali.
Kembali kekuatan itu mendorongku untuk mengangguk dan menjawab tanpa ragu, "Tentu saja!" Sahutku.
Lea mengunci tatapannya sehingga aku tidak bisa berpaling darinya, "Kamu akan melakukan apa pun untukku?" Tanya Lea.
Aku membalas, "Apapun." Jawabku tanpa berpikir.
Lea memegang wajahku dengan kedua tangannya dan dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arahku, kemudian ia mendaratkan bibirnya dengan lembut ke bibirku.
Deg!
Deg!
Aku membalas ciumannya sambil berharap semoga Lea tidak mendengar detak jantungku yang bertabuh seperti genderang perang.
__ADS_1
...----------------...