
MAX POV
Adegan memalukan aku memanjat gedung kantorku sendiri terbayar lunas dengan jatuhnya Lea ke dalam pelukanku. Aku mengajaknya tinggal bersamaku tapi tidak bisa karena Lea dan Rue adalah satu paket.
Aku lebih takut kepada Raja Wren daripada harus menuruti keegoisanku yang tinggi. Begitu Raja Wren tau kalau putri kesayangannya resmi menjadi kekasihku, malam itu dia mendatangiku dan menggedor, bukan mengetuk pintu rumahku.
Dok... dok
Dok...dok
"Max!" Panggilnya malam itu dengan suara bas yang dalam dan menggelegar.
Aku bersyukur aku tidak mengajak Lea berduaan malam itu, apa yang terjadi denganku jika aku mengajak Lea menginap disini pada malam ayahnya datang? Bab ini tidak akan muncul, aku yakin sekali.
Aku bergegas membukakan pintu untuk calon ayah mertuaku itu,
Ceklek!
"Yang Mulia." Aku menyapanya dengan penuh hormat.
Raja Wren mengelus-elus janggut kebesarannya, "Boleh aku masuk?" Tanya Raja Wren.
"Silahkan Yang Mulia, silahkan. Boleh duduk dimana saja tapi maaf Yang Mulia, saya tidak punya jamuan apa pun untuk menjamu Yang Mulia." Sahutku.
Raja Wren tertawa, "Hahaha, karena aku datang mendadak bukan jadi kamu tidak sempat menyiapkan apa-apa? Tujuanku datang kesini ada..."
"Maaf Yang Mulia, apakah Yang Mulia mau saya sediakan makanan dulu?" Tanyaku, tanpa bermaksud memotong ucapannya.
Raja Wren menatapku, "Kamu mempermalukan aku, Max!" Tukasnya.
Aku berlutut dan membungkukkan badanku, "Ya...Yang Mulia ampuni aku. " Sahutku.
Raja Wren duduk di sofa yang kekecilan untuk menampung seluruh tubuhnya, "Aku ulangi Max, tujuanku datang kesini memang untuk membahas hubunganmu dengan anakku. Perbedaan kalian sangat jauh, kamu sudah paham betul maksudku kan Max?" Tanya Raja Wren.
Aku sadar akan hal itu, "Ya Yang Mulia, saya paham." Jawabku sopan.
"Aku menentang hubungan kalian." Ucap Raja Wren.
"Aku menentangnya Yang Mulia. Ma...maafkan saya." Sahutku lagi, "ijinkan saya berbicara Yang Mulia." Pintaku.
Raja Wren menengadahkan tangan kanannya ke depan tanda aku boleh bicara, "Aku mohon restui hubungan kami Yang Mulia. Aku tidak bisa hidup tanpa Lea, dan itu sudah terbukti setahun yang lalu. Aku tersesat tanpanya."
Raja Wren tampak berpikir, "Aku mendapatkan pesan penglihatan dari Meltem." Sahut Raja Wren.
Raja Wren mengibaskan tongkatnya dan muncullah Meltem dari ujung tongkat, "Mereka tidak bisa bersatu Yang Mulia. Begitu mereka bersatu, mereka akan kembali berpisah. Salah satu dari mereka akan mati." Suara Meltem bergaung di seluruh ruangan.
__ADS_1
Raja Wren mengembalikan tongkatnya dan dalam sekejap Meltem menghilang.
"Anthem sedikit lagi akan mengikuti salah satu dari kalian, aku tidak tau siapa karena Penguasa menjadikan hal ini sebagai rahasia hidup kalian." Ucap Raja Wren.
Anthem? Jujur saja walau pun dia tampan dan jauh dari kata seram akan tetapi ada yang membuatku sangat takut kepadanya, apa mungkin karena pekerjaannya sebagai Malaikat Kematian? Entahlah, tapi aku takut.
"Saya tidak takut, kalau memang saya yang harus mati ya saya akan menerimanya dengan besar hati asalkan saya bisa menghabiskan sisa hidup saya dengan Lea." Ucapku menguatkan diri.
Aku pikir jawabanku cukup keren, namun Raja Wren tampak murka, "Aku tidak mau ketika kamu mati nanti, putriku akan tenggelam di dalam airmatanya sendiri!" Tukasnya.
Selang beberapa detik, wajah Raja Wren tampak sangat menyedihkan, "Dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana...bagaimana kalau Lea yang mati Max? Bagaimana hancurnya hidupku?" Tanya Raja Wren.
Aku menjawab dengan mantap, "Yang Mulia tidak perlu khawatir. Anda masih ingat dengan janji saya bukan? Saya akan melindungi Lea dengan jiwa dan raga saya dan..."
"Selalu Lea yang melindungimu, Max! Kapan kamu akan genapi janjimu itu?" Tanya Raja Wren murka.
"Segera! Saya tidak akan mengumbar janji lagi tapi saya akan membuktikannya!" Aku berseru kepada Raja Wren.
Raja Wren tampak teryakinkan dengan kata-kataku yang bersemangat.
"Aku akan pegang kata-katamu karena ini menyangkut nyawa Lea. Aku minta kamu menjaganya karena akan ada sesuatu yang besar yang akan menghampirimu cepat atau lambat. Bersiaplah Max." Ucap Raja Wren memperingatkan.
"Apa itu sesuatu yang besar?" Tanyaku.
"Aku juga tidak paham, itu penglihatan Meltem. Aku berdoa dan berharap supaya ini tidak terjadi. Aku sudah mengirimkan proposal kepada Penguasa untuk merubah hidup kalian. Semoga proposal keselamatan kalian berhasil di acc olehNya." Jawab Raja Wren.
"Semoga disetujui oleh Penguasa, Yang Mulia." Sahutku ikut berharap.
***
"Ayo berangkat bersamaku. Sorry for this, Brad." Sahutku suatu pagi. Ketika Lea hendak masuk ke dalam mobil aku sudah lebih dulu menariknya.
Begitu juga dengan makan siang,
"Lea, ayo kita istirahat dulu. Kamu mau makan apa? Aku akan mentraktirmu." Ucap Brad.
Aku menarik tangan Lea, "Lea makan bersamaku. Sorry lagi Brad." Aku menyela Brad dan Lea.
"Ada apa denganmu?" Tanya Brad suatu hari, "kamu memonopoli Lea. Aku tau kamu kekasihnya tapi bukan berarti kamu mengurungnya seperti itu, Max." Ucap Brad.
"Aku akan mati cepat kurasa, jadi aku tidak mau kehilangan satu hal pun tentang Lea dan aku." Jawabku.
Brad menatapku gusar, "Berbicaralah yang baik Max." Tukasnya.
"Aku serius. Dan kurasa Lea tau tentang itu. Kalau dia tidak tau, dia akan marah." Jawabku.
__ADS_1
Entah mengapa aku bisa berbicara seperti itu tapi aku bisa merasakannya atau mungkin karena aku terlalu memikirkan ucapan Raja Wren. Aku tidak tau.
Beberapa hari kemudian, Lea datang ke rumahku
Ting...tong
Ting...tong
Aku membukakan pintu untuknya, "Lea, ada apa? Masuklah." Sahutku.
Aku melihat dia membawa koper besar seperti orang pindahan, dan aku tidak melihat penampakan Rue.
"Kamu mau apa bawa koper?" Aku bertanya sambil membantunya mendorong koper miliknya yang ternyata ringan, kupikir berat karena koper itu sangat besar.
Cih! Aku tertipu!
"Hahahaha."
Aku melihat Lea yang tertawa terbahak-bahak menertawai kebodohanku, "Itu tidak lucu! Sudah kukatakan aku tidak suka di permainkan." Sahutku.
Lea menatapku dan mata kami bertemu. Lea yang memulainya, dia mengalungkan lengannya ke leherku kemudian dengan sangat lembut dia memberiku ciuman yang manis.
Maafkan aku ayah mertuaku, bukan aku yang memulai semua ini. Aku berdoa dalam hati supaya Raja Wren tidak turun ke bumi dan mengganggu aktifitas fisik kami yang sekarang kami lakukan.
Karena ini adegan dewasa, aku tidak bisa mendeskripsikan dengan detail apa yang aku dan Lea lakukan. Sedikit begini, sedikit begitu, sedikit kesana dan sedikit kesini. Begitulah kira-kira.
Aku membaringkan tubuhku di samping Lea, "Senyumanmu cantik sekali." Ucapku.
Lea menutupi wajahnya dengan selimut sampai sebatas mata, "Ini pertama kali aku melakukannya." Kata Lea.
Aku merasa berdosa karena ini pengalamanku yang kesekian kalinya.
Aku memeluk dan membelai rambut Lea, dia melihatku dengan menengadahkan kepalanya, "Max, tadi malam Rue menyampaikan tentang sesuatu kepadaku."
Deg!
Aku tau kemana pembicaraan ini mengarah, "Rue berbicara tentang apa?" Tanyaku selebihnya aku pura-pura tidak tau menau tentang ini.
Aku mencobanya untuk mengalihkan pembicaraan, "Malam ini mau makan di luar?" Tanyaku.
Lea menggelengkan kepalanya, "Max, ijinkan aku tinggal bersamaku dan kita akan melakukan ini setiap hari, bagaimana?" Tanya Lea
Aku menduga, dia sudah tau aku akan mati.
Aku mengangguk, "Baiklah." Ucapku dan mencium Lea kembali mendekapnya dalam pelukanku.
__ADS_1
...----------------...