Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Negotiation And Emotions


__ADS_3

Max POV


Lea terus mengikutiku seperti seekor anak anjing yang menggemaskan, dia juga memegangi ujung bajuku. Ini menggemaskan sekali. Aku berbalik arah sehingga kami berhadapan dan aku mendekap pingganya, "Bisakah kamu berhenti mengikutiku?" Tanyaku.


Lea menundukan kepalanya, "Tentu saja aku takut! Aku takut kamu menembak orang lagi." Sahut Lea.


Aku tersenyum dan memeluknya, "Siapa yang kutembak?" Tanyaku.


"Nelson." Jawab Lea.


"Dia bukan manusia, Lea. Dia iblis yang menyamar menjadi seorang manusia." Aku menjawabnya, "dan lagi aku tidak menembaknya, aku hanya menggertaknya."


"Tetap saja itu mengerikan. Nelson saja lemas apalagi aku, beruntunglah aku tidak meledak lagi." Kata Lea.


Aku tertawa,


Cup!


Aku mengecup bibirnya, entah kenapa aku suka sekali menyentuhnya.


***


Sore itu selepas dari Lea, aku mengunjungi Eleanor di kamarku.


"Temani aku ke rumah orangtuamu sekarang." Perintahku.


Eleanor memelukku, "Aku tidak mau berpisah denganmu." Rengeknya.


"Baiklah, aku pergi sendiri ke orangtuamu." Sahutku dan bergegas pergi menemui orangtuanya di kota sebelah.


"Oke, aku ikut!" Seru Eleanor.


"Bagus. Aku menunggumu di mobil." Ujarku dan berjalan mendahului Eleanor.


Perjalanan ke rumah orangtua Eleanor hanya memakan waktu sekitar dua jam.


"Halo Max, Eleanor. Ada apa datang kesini? Kami tidak menyiapkan apa pun untuk kami hidangkan kepada kalian." Kata Nyonya Edward.


Nyonya Edward, sosok wanita kurus dengan leher jenjang tinggi dan senang sekali memakai pewarna bibir berwarna merah terang.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua." Sahutku.


Aku menceritakan maksud kedatanganku kesana, dan aku sudah menebak reaksi mereka.


"Apa yang akan kamu berikan kepada kami sebagai kompensasinya?" Tanya Tuan Edward.


Sebenarnya ini janggal, karena mereka yang berhutang tapi aku yang harus memberikan kompensasi untuk mereka. neh bukan? Yang berhutang lebih galak daripada yang dihutangi.


"Apa yang kalian butuhkan? Aku bahkan akan menghapus hutang kalian dan tidak akan kuungkit lagi." Sahutku.


Tuan dan Nyonya Edward memikirkan jawabanku, namun rengekan Eleanor berhasil mempengaruhi mereka.


"Kenapa kamu tidak bisa terus bersama anakku? Dia masih sangat mencintaimu?" Tanya Nyonya Edward membelai rambut anak semata wayangnya.


"Aku hanya menganggapnya sebagai seorang adik tidak lebih. Dan saat ini aku menyukai seorang wanita." Aku berusaha menjelaskan dengan sejelas mungkin supaya tidak ada kesalahpahaman.


"Apakah selama ini yang di beritakan oleh media adalah wanita itu? Dan bukan Eleanor kami?" Tanya Tuan Edward.


Aku mengangguk, "Saat itu Eleanor sedang menemui paman dan bibinya tanpa seijinku dan kupikir wanita itu adalah Eleanor jadi aku, seperti kalian lihat." Aku menjawab Tuan Edward.

__ADS_1


Tuan Edward sangat murka mendengarkan jawabanku, "Bisa-bisanya kamu tidak mengenali Eleanor! Kalian dibesarkan bersama! Aku juga tidak pernah melihat kalian jalan berdua sebelum wanita itu muncul! Ada apa ini Max!" Tukas Tuan Edward.


"Sudah kukatakan kepadamu ketika wanita itu muncul semua duniaku terasa berbeda." Aku menjawabnya.


"Perjanjian itu tidak bisa dialihkan begitu saja Max. Hutang kami memang besar, tapi bagaimana dengan hutangmu kepada kami?" Tuntut Nyonya Edward.


Aku menundukan kepalaku, bagaimana menolong seorang anak kecil dianggap berhutang?


"Bagaimana aku harus membayar hutangku?" Tanyaku kepada Tuan dan Nyonya Edward.


"Apa yang bisa kamu lakukan untuk kami?" Tantang Tuan Edward.


Eleanor berbisik kepada orangtuanya dan mereka mengangguk-angguk setuju dan tersenyum.


"Aku baru saja mendengar dari anak kami Eleanor tentang penggabungan wilayah yuridiksimu dan Nelson. Itu ide yang sangat brilian menurutku. Lakukan itu untukku!" Pinta Tuan Edward dengan sedikit memaksa.


Aku menggelengkan kepalaku, "Aku tidak bisa." Sahutku.


"Jelaskan padaku!" Tuntut Tuan Edward.


"Aku tau sekali Nelson Elcapo. Dia mafia terkejam di wilayahnya, sedangkan aku tidak suka pertumpahan darah. Dia bahkan tega menguliti orang. Aku mempunyai puluhan bahkan ratusan rakyat yang aku lindungi. Aku tidak setuju dengan itu." Jawabku.


"Mana yang kamu lindungi? Anak kami saja kamu sakiti. Kami termasuk rakyatmu bukan?" Desak Tuan Edward.


Ingin rasanya kubelah mulutnya itu menjadi empat bagian sehingga dia tau bagaimana rasanya membagi wilayah dengan Nelson.


"Mintalah padaku yang lain asal jangan itu!" Sahutku menegaskan.


"Bawa anak kami menjadi istrimu, aku tidak terima jika kamu mengembalikan anak kami." Tuntut Nyonya Edward.


Aku bangkit berdiri, "Baiklah. Terimakasih." Sahutku.


"Itu berlaku juga untukmu, bisakah kamu tidak mendekati Lea? Jangan dekati Lea!" Kata Lea mengancam balik.


"Hohoho, begitu?" Tanyaku menantangnya, "apa yang akan kamu lakukan jika aku tetap mendekatinya?"


"Aku akan menyetujui ide Nelson tanpa seijinmu." Jawabnya.


"Kupikir ini obrolan yang serius, masuklah ke dalam mobil kita bicarakan di dalam!" Perintahku.


***


"Jadi apa kejadian yang membuatmu trauma Max? Kamu berjanji kepadaku untuk menceritakannya." Lea menagih janjiku.


Aku tersenyum kepadanya, "Mau ikut aku menjenguk Nelson?" Tanyaku.


Lea mengangguk, "Mau, apa harus kubawakan sesuatu?" Tanya Lea.


"Bawakan saja apa pun yang kamu mau." Jawabku.


Lea pergi ke dapur dan mengambil sekotak besar es krim pemberian dari Tom. Tak lama ia sudah berlari kecil menyusulku.


Tok...tok


Tanpa menunggu Nelson membuka pintu, aku sudah membuka pintu untukku sendiri dan Lea.


Lea meletakkan es krim pemberiannya ke dalam lemari es kecil di dekat tempat tidur Nelson.


"Bilang apa kepada Lea?" Tanyaku.

__ADS_1


Nelson melengos, "Ya, terimakasih Lea. Dan maafkan aku karena menjelek-jelekanmu saat itu." Kata Nelson.


"Bagaimana kabarmu?" Aku bertanya kepadanya dan kulihat Lea mendekati kami.


"Nelson, apa kamu masih berdebar-debar?" Tanya Lea, "aku punya ramuan untuk membuatmu tenang dan santai, apa kamu mau mencobanya?" Tanya Lea lagi.


"Tidak. Aku baik-baik saja." Jawab Nelson.


Max memperhatikan kondisi Nelson, "Saat kamu sehat nanti, lekaslah pergi dari sini dan bawa Eleanor bersamamu!"


"Aku tidak akan mengancammu lagi Max! Aku hanya mau kamu memikirkan keuntungan yang akan kita dapatkan dan kita akan menjadi lebih kuat. Kalau kamu mau mengikutsertakan wanita ini, silahkan." Nelson masih mencoba bernegosiasi denganku.


"Lalu bagaimana kehidupan wargaku? Lihat saja wilayahmu, Nelson. Gersang dan kering, angka kriminalitas tinggi. Bandingkan dengan disini, apa yang kamu lihat? Aku tidak mau wilayahku menjadi seperti itu! Belum lagi aturan kejammu! Kamu hanya haus saat melihat wilayahku yang sangat indah ini, bukan begitu?" Aku berbisik di dekat Nelson.


"Eleanor dan orangtuanya hanya memikirkan keuntungan semata, tapi tidak denganku. Keselamatan dan kesejahteraan wargaku menjadi prioritas utamaku, Nelson. Kamu paham itu? Berjalanlah ke sisi yang terang, maka kamu akan melihat kehidupan." Aku menambahkan penjelasanku untuk Nelson.


Nelson tersenyum meremahkan, "Itu pendapatmu saat bertemu dengannya, Max." Bisik Nelson sambil menganggukan kepala ke arah Lea.


Aku mengambil senjataku dan kutempelkan ke pelipisnya, "Ingat, aku tidak akan ragu menembakmu ada atau tidak ada Lea. Jangan pernah libatkan dia dalam dunia hitam kita, Nelson!"


Nelson mengambil senjatanya, mengokangnya dan meletakanny di pelipisku, "Aku akan menembakmu lebih dulu. Akan indah bukan jika wanita yang kau cintai bergabung denganku?" Sahut Nelson tertawa lebar.


"Hentikan!"


Wuussh!


Prang!


Prang!


Swooosshh!


Aku melihat ke arah Lea begitu pula Nelson, "Lea!" Aku memanggilnya. Akan tetapi Lea tidak menggubrisku.


Bola mata Lea berubah menjadi ungu, kekuatannya benar-benar luar biasa. Dia menerbangkan apa pun di ruangan ini.


Plep!


Seluruh ruangan menjadi gelap, dia mematikan listrik di ruangan ini. Atau dia mematikan listrik di seluruh rumah ini?


"Apa itu Max?" Seru Nelson.


Aku harus membuat Nelson pingsan. Aku mengambil senjataku. Aku mendorong Nelson dan memukulkan pegangan senapanku di tengkuknya berkali-kali.


Aku mendekati Lea dan memeluknya, "Maafkan aku Lea. Maafkan aku. Hentikanlah!" Seruku.


Lea menatap ke arahku dengan mata ungunya. Kemudian melemparkanku hanya dengan satu pincingan matanya.


Brak!


Aku menabrak pintu sehingga pintu kayu nan kokoh itu menjeblak terbuka,


"Aarrgghh! Rue! Rue! RUE!" Aku memanggil Rue sekuat yang aku bisa.


Rue tidak kunjung datang, aku berusaha berdiri dan mendekap Lea kuat untuk mengimbangi tenaganya.


"Lea... tenanglah." Aku memegang pipinya dan tidak kulepaskan tatapan mataku, aku menciumnya dengan segenap perasaanku. Aku tumpahkan maaf dan penyesalanku di dalam ciuman itu, berharap Lea bisa kembali seperti semula.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2