Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Side Story Of Anthem


__ADS_3

Anthem POV


Halo namaku Anthem, aku adalah malaikat kematian yang cukup tampan sebenarnya dan aku kurang menyukai pekerjaan ini karena orang-orang sudah beranggapan kalau aku menyeramkan padahal tidak semua yang berbau kematian itu menyeramkan contohnya aku.


Saat ini aku sedang bersama seorang manusia yang sangat keras kepala,


"Hei Max, sapalah penggemarku dahulu. Aku punya penggemar di novel ini." Ucapku tersenyum sombong.


Max menyeka keringat yang mengucuri pelipisnya, "Hai, penggemar Anthem. Puas?" Tanya Max kepadaku.


"Cih! Kamu iri kepadaku." Jawabku sambil melengos.


Manusia memang mempunyai kemauan yang banyak sekali dan sangat senang berubah. Penguasa terkadang suka kesal karena permintaan manusia yang sangat banyak itu.


Seperti Max, dia seorang manusia yang sangat di sayang oleh Penguasa dan kekasihnya yang setengah malaikat setengah peri. Tapi dia malah mengganti kehidupannya dengan kehidupan kekasihnya.


Akhirnya sekarang ia terpaksa harus menjalani hukuman di Api Penyucian, yaitu mencatat jiwa-jiwa berdosa yang akan masuk kesana serta menghitung berapa jumlah dosa yang sanggup di luruhkan di Api Penyucian.


"Max, sudah berapa?" Tanyaku.


Max menatapku tajam, "Aku sudah disini setahun, apakah aku harus selamanya disini?" Tanya Max.


"Waktu memang cepat berlalu Max. Aku tidak tau berapa lagi hukumanmu. Nikmati saja. Aku akan turun ke bumi, ada panggilan." Sahutku bergegas mengganti pakaianku.


"Bolehkah aku ikut denganmu?" Tanya Max berharap.


"Untuk apa?" Tanyaku.


"Jadikan aku asistenmu saja karena aku sudah tidak sanggup mencatat ini dan lagi kemarin aku baru saja bertemu Nelson. Setelah dari Pengadilan Terakhir ia kembali lagi kesini karena dosanya masih terlalu banyak." Ucap Max sembari bercerita.


"Untuk itu kamu harus mengajukan diri kepada Sang Penguasa, kalau aku sih senang-senang saja karena ada yang menemani apalagi kamu tampan. Paling tidak mereka akan mati dengan senang hati." Jawabku.


"Sudahlah! Pergilah! Anthem, bolehkah aku berkunjung ke tempat Lea?" Tanya Max.


"Apa kamu belum tau? Lea ada di bumi." Aku menjawab Max dengan santai.


Aku melihat perubahan wajah Max, "Apakah penjahat-penjahat itu masih berkeliaran disana?" Tanya Max lagi.


Wajahnya berubah menjadi kemerahan karena khawatir, "Aku akan mengawasinya." Jawabku menenangkannya.


Biasanya aku di tugaskan turun ke bumi 7 hari sebelum aku membawa mereka, ada yang selamat empat belas hari. Dan kali ini sepertinya aku lebih cepat.

__ADS_1


Malaikat penjaga mengirimkanku email berisi siapa-siapa saja yang akan aku jemput.


Wush!


Aku melebarkan kedua sayapku kemudian terbang ke bumi.


Tak beberapa lama, aku sudah mendaratkan kakiku disana dan mencari seorang wanita yang akan aku jemput ini.


Namanya Alesya Simpson, dia seorang waitress yang bekerja di sebuah restoran. Rumah tangganya berantakan, mempunyai satu anak kecil perempuan yang bernama Leslie Simpson, dan aku akan membawa keduanya.


Alesya, adalah seorang wanita mandiri. Dia single parents, pernikahannya harus berakhir di tengah jalan karena suaminya selingkuh dengan teman kantornya, miris. Dan meninggalkan Alesya yang tengah mengandung.


Saat ini Alesya mengalami depresi tingkat sedang, karena tekanan ekonomi dan anaknya yang sakit-sakitan. Padahal dia wanita yang cantik. Andai dia bertahan sedikit lagi akan ada seorang pria yang mengajaknya menikah.


Aku menggelengkan kepalaku sendiri, "Alesya, Alesya..nasibmu. Apa yang membuatku membawamu nanti?" Tanyaku kepada diriku sendiri.


Aku melihat Alesya bekerja dengan cekatan dan penuh senyum, oh! Itukah prianya? Apa tidak bisa kematiannya di tangguhkan?


Mengenai hal itu, sebenarnya aku ini cukup baik. Kalau menurutku manusia itu memiliki kesempatan untuk hidup sekali lagi, maka aku akan meminta kepada Penguasa untuk menangguhkan kematiannya, biarlah dia merasakan kebahagiannya dulu.


Ting!


Satu pesan masuk ke notebookku dari Malaikat Penjaga, aku harus pergi ke lampu merah karena akan ada kecelakaan disana sekitar dua puluh menit lagi. Dua orang akan kubawa.


Setelah aku menemukannya, aku berdiri dan menunggu apa yang terjadi. Jujur saja saat awal di angkat menjadi Malaikat Kematian hal-hal seperti ini sangat mengerikan tapi lama kelamaan aku terbiasa.


Lima belas menit sudah aku menunggu namun belum terjadi apa-apa. Oh iya, kalau ada yang bertanya kenapa tidak di cegah? Kalau aku mencegah kematian seorang manusia maka aku telah melanggar hukum alam. Sudah di katakan seperti itu maka terjadilah seperti itu.


Tujuh belas menit,


Dari arah kanan lampu merah, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, harusnya dia menurunkan kecepatannya untuk berhenti di lampu merah. Tapi tidak! Dia tetap melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, dan bersamaan dengan itu dua orang lansia menyebrang jalan karena lampu merah sudah menyala, namun karena pengendara mobil itu tetap melaju dengan kecepatan tinggi maka,


Ckkiitt!


Blugh!


Bunyi yang memilukan...


Jiwa dua orang lansia itu segera melayang dari raga mereka, dan aku menyambutnya dengan uluran tanganku.


Mereka melihat raga mereka yang tergeletak di tengah jalan dengan darah mengalir dengan derasnya. Sekelompok orang sudah mengerumuni lokasi itu, dan beberapa memanggil ambulance.

__ADS_1


Percuma, aku sudah menjemput mereka lebih dulu.


Setelah aku mengantar mereka kepada Malaikat Penjaga, aku kembali turun ke bumi untuk mengawasi Alesya dan Leslie.


Begitulah pekerjaanku, sibuk bukan?


Ketika aku kembali ke restoran tempat Alesya bekerja, aku melihat seseorang yang kukenal. Sebelum aku menghampirinya aku melirik jam tanganku, jam tangan Max tepatnya. Dia memberikannya kepadaku kemarin dulu. Baik sekali Max itu.


Setelah memastikan ini adalah waktu istirahatku maka aku menghampirinya.


Bwosh!


Sebuket bunga berwarna jingga cantik telah ada di genggaman tanganku,


"Hei cantik. Apa kabarmu?" Aku berbisik di telinganya ketika aku sudah berada dalam restoran.


Wanita itu menoleh ke arahku, wajahnya sumringah, "Anthem. Dan apa ini? Cantik sekali. Terimakasih." Sahutnya.


Aku berdeham, "Ehem! Jadi yang kamu lakukan setelah mendapatkan keabadian adalah bekerja?" Tanyaku kepada wanita itu.


Wanita itu membusungkan dadanya, "Panggil aku Nona Lea, karena aku sekarang pemilik perusahaan." Kata Lea dengan bangga.


Aku mendengus menahan tawa, "Pfft." Ucapku


Lea memandangku dari atas sampai bawah, "Sejak kapan kamu bisa menyamar menjadi manusia? Dan dimana sayapmu?" Tanya Lea.


"Penulis itu baru saja memberikan kemampuan kerenku ini kira-kira semenit yang lalu, jadi tanya saja kepadanya jangan bertanya kepadaku." Jawabku berbicara sesuai kenyataan.


Lea mengangguk, memahami kondisi dadakan ini dan sepertinya dia sudah sangat mengerti sifat penulis yang suka mendadak.


"Siapa yang akan kamu jemput di restoran ini?" Tanya Lea.


Seorang waitress datang dan menyajikan makanan serta minuman untuk Lea, "Ini pesananmu, sudah lengkap semua yah Nona. Ada lagi tambahannya?" Tanya waitress yang tak lain dan tak bukan adalah Alesya.


Tiba-tiba dia menyadari kehadiranku, "Tuan, adakah yang bisa saya bantu?" Tanya Alesya


Deg!


Ca...cantik sekali.


Bagaimana kalau aku jatuh cinta kepadanya? Nafasku sesak, tak ada satu kata pun keluar dari mulutku. Suka mengada-ada memang penulis ini! Mana ada malaikat jatuh cinta kepada manusia yang akan di bawanya!

__ADS_1


Bagaimana ini?


...----------------...


__ADS_2