Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
The Truth


__ADS_3

Matt POV


Sehari setelah aku melakukan wawancara di tempat Lea, aku menemui Alesya di kediamannya.


Alesya tampak muram sekali semenjak kepergian anaknya jadi aku memutuskan untuk memebawakan sesuatu untuk Alesya.


Di tengah perjalanan, seakan tiga orang ini bisa membaca pikiranku mereka tiba-tiba sudah berada di sampingku secara ajaib.


"Ba...bagaimana kalian bisa secepat ini mengejarku?" Tanyaku kepada mereka.


"Tidak ada yang mengejarmu. Kita mempunyai misi yang berbeda." Jawab Lea.


Apakah mereka agen kepolisian? Atau agen FBI? Terkadang mereka mempunyai aura yang tidak dapat kujelaskan dengan kata-kata.


"Apa maksudmu dengan misi yang berbeda?" Tanyaku penasaran.


Anthem berjalan mendahului kami dan sekilas seperti ia menyibakkan sayapnya ke belakang. Apa mungkin aku yang terlalu lelah?


Tok... tok


"Alesya." Sapa Anthem ketika kami sudah berada di depan rumah Alesya.


Alesya membukakan pintu untuk kami, wajahnya pucat dan tidak berwarna.


"Hai, masuklah." Jawab Alesya mempersilahkan kami untuk masuk.


Sepi sekali rumah ini,


"Karena biasanya ada Leslie yang berteriak, menangis, atau berdebat dengan Alesya. Aku harap kamu tidak menyinggung soal Leslie sama sekali karena itu akan membuat kesedihannya bertambah." Bisik Anthem kepadaku.


Aneh sekali, dia seperti bisa membaca apa yang aku pikirkan.


Awal pertemuanku dengan Anthem, entahlah aku tidak dapat mengingatnya dengan jelas. Begitu aku terbangun, aku berada di rumah sakit dan dia sudah duduk di samping ranjangku.


"Halo. Selamat datang kembali." Sahut Anthem saat itu sambil tersenyum cerah.


Dan aku sama sekali tidak dapat mengingatnya. Siapa dia, apakah dia keluargaku atau saudaraku. Tiba-tiba saja dia membawaku keluar dari rumah sakit, menanggung semua biaya rumah sakitku, mencarikanku apartemen dan memberikanku pekerjaan. Dia juga yang mengenalkanku pada Alesya.


Sejak saat itu Anthem selalu menemuiku, menemaniku, bertanya apa yang kubutuhkan, dia sudah seperti saudara bagiku.


Sebenarnya aku tidak enak mengundurkan diri dari restoran tempat aku dan Alesya bekerja, karena Anthem juga yang membawaku kesana. Bagaimana kalau aku bekerja di dua tempat saja? Aku akan mengambil jam kerja sore sampai malam di restoran Alesya. Itu ide yang bagus. Hatiku menjadi ringan seketika.


Aku melihat kondisi Alesya saat ini, dia sudah tidak masuk kerja hampir satu minggu. Dia bisa kehilangan pekerjaannya walau pun pemilik restoran sudah banyak memberikan keringanan untuknya.


"Apa yang membawa kalian kesini?" Tanya Alesya. Senyumnya sedikit di paksakan.


Lea, Anthem, dan Rue menjawab serentak, "Kami menemani Matt."


Aku terkejut, itu bohong!


"Hah? Aku?" Tanyaku tampak bodoh.


"Ya, Matt ingin mengambil pekerjaan di tempat Lea maka itu ia ingin bertanya kepadamu apakah boleh ia bekerja hanya di jam sore sampai malam di restoran itu?" Kata Anthem mewakili isi hatiku.

__ADS_1


Lea melihat ke arahku, "Benarkah itu Matt? Kamu mau bekerja bersamaku?" Tanya Lea.


Mau tidak mau aku mengangguk.


"Wah terimakasih. Eh, tapi aku belum memutuskan kamu diterima atau tidak." Kata Lea lagi.


Astaga! Aku lupa bagian itu.


"A...aku hanya bertanya dulu karena aku belum mendapatkan keputusan dari Nona Lea tapi andaikan Nona Lea menerimaku apakah aku bisa bekerja seperti itu? Maksudku aku tidak akan meninggalkanmu..."


Anthem menatapku tajam, "Apa maksudmu dengan meninggalkan Alesya? Aku memintamu bekerja disana untuk menjaganya!" Anthem mampu berbicara denganku tanpa membuka mulutnya tapi suaranya bergaung di dalam kepalaku.


Siapa mereka bertiga ini? Aku harus berani menanyakan kepada mereka nanti.


Dan sekarang suara Lea bergaung di kepalaku, "Kami akan bercerita kepadamu di saat yang tepat saat ini anggap saja kami temanmu tapi sesungguhnya kamu lebih dari seorang teman untukku." Ucap Lea. Aku melihat dia mengusap matanya.


Apa-apaan mereka ini!


***


"Matt, ikuti kami!" Perintah Anthem.


Setelah selesai berbicara dengan Alesya kami menemaninya hingga menjelang malam. Dan sekarang mereka bertiga menginginkanku untuk ikut dengan mereka.


Aku ingin tau siapa mereka akan tetapi rasa takutku lebih besar mengalahkan rasa penasaranku.


Mereka membawaku ke sebuah rumah di dekat taman. Ah, taman ini mengingatkanku akan ciuman Lea yang sangat lembut itu.


Bletak!


"Ada apa Matt?" Tanya Rue kepadaku.


"Ah, tidak ada apa-apa." Sahutku.


Mereka bertiga saling berpandangan seakan mereka bertengkar hanya dengan bertatapan saja.


"Masuklah." Kata Anthem.


Rumah ini tampak normal dan tidak ada yang janggal jadi aku masuk tanpa ada firasat apa pun.


Namun begitu aku masuk,


Wush!


Wush!


Wush!


A...apa itu?


Pandanganku gelap seketika dan aku tidak kuat menopang berat tubuhku lagi.


"Yah, dia pingsan." Ucap Lea. Aku bisa mendengar suara mereka samar-samar.

__ADS_1


"Wajar saja. Tiba-tiba kita memberitahunya wujud asli kita, jelas pingsanlah. Manusia mana yang akan sanggup melihat seperti ini kan?" Jawab Rue.


"Apa kita harus berubah lagi?" Lea bertanya lagi.


"Dia harus tau siapa kita. Aku pikir dia cukup pintar sehingga tidak membutuhkan waktu selama ini untuk menebak siapa kita. Ternyata dia benar-benar Max." Kata Anthem tajam.


Apa yang mereka bicarakan? Max? Siapa lagi dia? Berubah? Sebenarnya apa mereka?


"Dia sudah sadar." Ucap Anthem lagi.


"Matt, apa kamu sudah sadar?" Tanya Lea lembut.


Aku memberanikan diri membuka mataku, pertama yang kulihat adalah Lea dengan jarak yang dekat sekali denganku.


Dia mempunyai sesuatu yang gemerlapan, sayap? Sayap putih berkilauan?


Aku memejamkan mataku lagi dan mengerjakannya untuk memastikan bahwa aku tidak salah lihat.


Mereka semua bersayap! Siapa mereka!


"Hai Matt. Kamu baik-baik saja? Minumlah." Lea memberikanku segelas air putih tapi aku ragu untuk meminumnya.


"Kami tidak meracuninya jadi minumlah." Kata Rue.


Aku meminum air di gelas itu, dan meletakkannya di meja.


"Oke, kamu ingin tau siapa kami kan? Pertanyaan itu sudah ada di benakmu belakangan ini dan inilah kami." Jawab Anthem.


Aku berusaha tenang dan menguasai diriku sendiri, "Jadi siapa kalian?" Tanyaku.


"Kalau aku menjadi kamu, aku akan bertanya siapa aku karena tiba-tiba kamu bangun di rumah sakit dan ditemani olehku." Kata Anthem lagi.


"Ma...maksudmu?" Tanyaku.


"Kamu adalah Max yang tinggal di dalam tubuh Axel Johnson. Max adalah suami Lea dan sahabat kami." Jawab Rue.


Aku terhenyak mendengarkan jawaban Rue, aku menelan salivaku dan berusaha menegakan diriku sendiri, "Ja...jadi aku adalah Max? Suami Nona Lea? Lalu Anthem? Bagaimana aku mengenalnya?" Tanyaku.


"Harusnya aku mengambil nyawamu. Aku malaikat kematian. Selama kamu kenal denganku, aku sudah membawa Leslie dan kemungkinan besar aku akan membawa Alesya bersamaku." Jawab Anthem.


"Kenapa kamu ada di sampingku saat aku terbangun di rumah sakit itu?" Tanyaku.


"Karena aku ditugaskan untuk membawa dan mengantar Axel, jiwa yang tubuhnya kamu pakai sekarang. Setelah itu aku yang menemanimu. Harusnya Castiel. Dimana dia?" Tanya Anthem.


Dan dari belakangku muncullah malaikat bertubuh besar, rambut ikal seperti mie dan sayapnya putih berbulu dan besar sekali,


Bwossh!


"Hai, maafkan aku telat datang, karena memang peranku hanya sedikit yang diberikan oleh penulis ini." Ucap Castiel.


"Castiel adalah warisan yang diberikan oleh Axel untukmu. Dia malaikat pelindungmu." Kata Anthem menjelaskan.


"Ma... malaikat pelindungku?"

__ADS_1


Kembali pandanganku kabur dan segalanya menjadi gelap seketika.


...----------------...


__ADS_2