Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Matt


__ADS_3

Lea POV


Rasa-rasanya Anthem sedang jatuh cinta, harusnya dia menjemput Alesya dua hari yang lalu tapi Anthem menjadi semakin sering mengajaknya keluar untuk berjalan-jalan atau terkadang hanya sekedar memgobrol sambil minum kopi.


Dan dia selalu menghubungiku untuk menemaninya menunggu Alesya selesai bekerja. Seperti hari ini Anthem ke kantorku hanya untuk mengajakku ke restoran tempat Alesya bekerja, "Lea, sudah makan siang?" Tanya Anthem.


Aku mengangguk, "Sudah bersama Rue tadi, ya kan Rue?" Jawabku.


Rue pun menepuk pundak Anthem, "Apa yang terjadi denganmu Anthem? Apakah manusia wanita itu benar-benar telah menjeratmu?" Tanya Rue.


"Harusnya kan dia mati dan kamu membawanya dua hari yang lalu, tapi lihat kamu menyelamatkannya." Sahut Rue kagum.


Anthem tersipu malu, "Setelah ini aku akan menghilang dan lenyap." Jawab Anthem putus asa.


"Tentu saja kamu telah melanggar siklus kehidupan manusia." Sahutku.


Anthem mengalihkan pandangannya dariku, "Aku tidak menyangka aku akan jatuh cinta kepada seorang manusia dan aku juga tidak menyangka aku akan jatuh cinta dengan manusia yang harus aku bawa kesana. Tadinya aku ingin mempercepat kematiannya, namun semakin aku mengenalnya semakin aku ingin dia hidup." Kata Anthem menjelaskan.


Itulah cinta. Aku juga tidak pernah menyangka akan jatuh cinta kepada Max, seorang mafia dengan masa lalu yang sangat gelap. Tapi aku mencintainya. Cinta tidak bisa memilih dengan siapa kita akan menjatuhkan pilihan kita.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan terhadap Alesya ini?" Tanyaku.


Anthem hanya menatap jauh ke luar jendela, "Entahlah. Aku jalani apa yang ingin kujalani, tentu saja aku tetap menjalani pekerjaanku. Dengan begitu kehidupan cinta dan karirku berjalan dengan seimbang." Jawab Anthem berbangga diri.


Ada yang ingin kutanyakan sekali kepada Anthem, soal keberadaan Max. Tapi aku takut mendengar jawabannya.


"Anthem, apa...maksudku.."


"Max?" Anthem seketika bertanya.


Terkadang aku lupa kalau Anthem bisa membaca pikiran seseorang.


"Ya, aku hanya ingin tau apakah selama setahun ini kamu bertemu dengannya? Karena nama dia tidak ada di dalam daftar nama manusia yang sudah mati. Selama setahun aku mengeceknya. Suami Rose kan bekerja di divisi itu jadi aku bisa meminta bantuannya." Jawabku.


"Yang perlu kamu ketahui Max sudah melanggar kebijakan Penguasa dan dia harus menjalani hukuman. Yang aku tau hukuman itu sudah selesai, dan saat ini Max sudah tidak bersamaku lagi." Ucap Anthem.


"Tadinya dia bersamamu?" Jawaban Anthem yang mengambang semakin membuatku ingin tau.


Anthem tidak menjawab pertanyaanku dan melengos pergi, aku menggunakan kekuatanku untuk melemparkan sekotak dokumen kepadanya,


Bruk!


"Ouch!" Anthem mengaduh dan memegangi kepalanya.


Aku tertawa puas, "Aku sedang bicara denganmu, wahai malaikat! Tidak sopan jika kamu berlalu pergi begitu!" Tukasku.


Anthem tidak terima, dia berbalik ke arahku dan menerbangkan semua kotak, meja, kursi, dan segala yang ada di depannya.


"Oh, kamu mau perang? Oke!" Ucapku meladeninya.


Aku tidak peduli dengan teriakan orang-orang di sekitarku, aku menangkis semua lemparan Anthem dan melemparkan kembali kepadanya.

__ADS_1


Pertarungan kami semakin sengit, namun tiba-tiba


Glep!


Semua berhenti...


"Rue! Lepaskan kami!" Tukas Anthem.


Rua membuat waktu berhenti dan mengikat kami dengan tali tak terlihat.


"Kalian ini seperti anak kecil yang sedang bertengkar karena hal yang tidak jelas. Aku akan membiarkan kalian seperti itu selama waktu di hentikan." Jawab Rue kalem.


"Berapa lama Rue? Rue!" Tukasku geram.


"Sepuluh menit. Itu waktu yang cukup untuk membuat kalian merenung apa yang sudah kalian lakukan serta apa dampaknya terhadap manusia yang ada di sekitar kalian. Sekarang diam dan renungi perbuatan kalian!" Kata Rue masih dengan nada santainya.


Aku memandang Rue dan Anthem dengan kesal, harusnya mereka mengerti wanita! Dan ini semua karena Anthem! Andaikan dia mendengarkanku dan tidak melengos pergi aku tidak akan marah.


Aku melihat Anthem dan memicingkan mataku, kembali kertas-kertas beterbangan,


"Lea, hentikan itu!" Tukas Rue.


"Ya Rue. Maafkan aku." Sahutku.


"Kontrol emosimu dan belajar memaafkan." Rue menjelaskan lagi.


"Ya Rue." Jawabku.


Dan akhirnya,


Splash!


Ikatan tali itu sudah terlepas dan Rue sudah memberikan mantra pelupa kepada manusia-manusia yang ada di ruangan kami.


"Jangan diulangi lagi!" Ancam Rue


Aku mengangguk dan melirik kepada Anthem yang sudah menghilang.


***


Beberapa hari setelah aku bertengkar dengan Anthem, Anthem tetap menghubungiku dan memintaku untuk menemaninya di restoran tempat Alesya bekerja.


"Lea, ayo temani aku. Aku akan membayari makan siang dan makan malammu. Ajak Rue." Tulis Anthem dalam pesan.


Aku tidak membalasnya, tapi kemudian aku memutuskan untuk tetap membalasnya, "Oke! Aku akan makan yang sangat banyak sampai kamu keriput karena kehabisan uang manusiamu!" Seruku dalam pesan.


Aah, indahnya hidup jika bisa memanfaatkan orang lain. Tapi Anthem bukan manusia, jadi aku akan memanfaatkannya sampai kekuatan maksimal Anthem habis...hahahaha, jahatnya aku.


Akhirnya aku mengganti pakaian kerjaku dengan sebuah gaun untuk makan siang. Aku hanya memutar badanku satu kali dan tadaaa, pakaianku sudah berubah.


Aku tersenyum lebar dan kemudian memanggil Rue yang ternyata sudah siap juga.

__ADS_1


Sesampainya di restoran itu, aku mencari Anthem. Dia melambaikan tangan kepada kami.


"Sepertinya kamu niat sekali untuk menghabiskan uangku." Kata Anthem sinis.


"Tentu saja, aku tau kenapa kamu selalu memanggilku supaya tidak terlihat terlalu jelas kalau Alesya menunggumu bukan?" Aku menggoda Anthem dan menganalisa alasannya.


"Diamlah. Dia kesini. Ingat, aku yang akan memesankan makanan untukmu." Tukas Anthem.


Aku memajukan bibirku, "Oke." Jawabku.


Tak lama dua orang waitress mendatangi meja kami, Alesya memakai seragam restoran ini dan seorang pria memakai pakaian putih hitam polos.


Pria waitress itu tersenyum kepadaku dan menyerahkan buku menu kepadaku, "Silahkan." Katanya


Deg!


Mata itu! Mata hijau lumut itu mengingatkanku pada Max! Tapi jelas dia bukan Max.


"Siang Nona, apa pesanan anda?" Tanya waitress itu bahkan senyumnya pun mirip sekali dengan Max.


"Maaf, siapa namamu?" Tanyaku penasaran.


Anthem dan Rue juga memperhatikan waitress pria itu.


Pria itu tersenyum dan tersipu malu, "Oh saya? Saya Matthew, panggil saja Matt." Jawab pria yang bernama Matt itu.


"Matt?" Aku bergumam. Bahkan namanya pun mirip sekali dengan Max.


"Apakah Matt itu Max?" Tanyaku kepada Anthem dan Rue.


"Lea, sadarlah." Jawab Rue.


"Segala sesuatu yang ada di pria itu mengingatkanku pada Max." Ucapku setengah histeris.


"Lea...tenanglah. Dia bukan Max!" Rue berseru.


Nafasku memburu dengan cepat, aku ingin menariknya kesini dan memperhatikan Matt lebih lama.


"Dia Max." Ujar Anthem.


"A...apa? Kamu tidak bercanda kan?" Tanyaku kepada Anthem.


"Ceritanya panjang dan harus punya kisah sendiri sepanjang satu bab dan seribu kata lebih. Penulis ini terlalu bertele-tele padahal judul bab ini sudah Matt tapi Matt baru muncul di akhir bab." Anthem kembali menjawab sinis.


Tapi kali ini aku setuju dengan Anthem, "Ya, kamu benar Anthem. Buatkan aku satu bab tentang Matt!" Seruku kepada penulis.


Rue menenangkanku karena seisi restoran melihatku, "Sabarlah Lea. Untuk saat ini tugasmu memastikan apakah Matt adalah Max." Sahut Rue bijak.


Aku mengangguk setuju walaupun jantungku berderu hebat seperti ada badai di dalam sana.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2