Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
That's You


__ADS_3

Lea POV


"Kenapa kamu harus menghapusku Rue?" Tukasku. Aku sangat kesal kepada Rue. Di saat Max datang menghampiriku, Rue memintaku untuk bersembunyi dan menghapus kembali ingatan Max tentangku.


"Mutiara apa itu? Airmatamu kan? Dia mendekatimu kali ini hanya untuk airmatamu! Dia seorang mafia, Lea! Kamu bisa di culiknya dan dibuat menangis sepanjang hari sampai airmatamu habis, setelah itu kamu akan dibuang." Sahut Rue.


Aku memikirkan ucapan Rue, ada benarnya juga sih ucapan Rue itu. Karena Max sudah kembali ke masa sebelum bertemu denganku. Aku tidak tau bagaimana Max sebelum bertemu denganku, tapi memang tatapannya berubah.


"Apa lebih baik kita kembali saja, Rue?" Tanya Vivi.


Rose mengangguk setuju, begitu pula dengan Rue tapi aku menggelengkan kepalaku, "Aku tidak mau kembali! Aku masih ingin disini." Tukasku.


"Untuk apa?" Tanya Rue.


"Lea, kamu tau kalau Max berjanji kepada ayahmu untuk melindungimu?" Rue melanjutkan bertanya. Aku mengangguk.


"Dan kamu tau, aku yang akan menjadi pengganti Max andaikan dia gagal. Kemarin kuanggap Max gagal menjagamu." Sahut Rue.


"Aku ingin mengembalikan Max seperti saat bersamaku dan dia masih punya satu hutang kepadaku." Ucapkua. Aku teringat janji Max yang belum sempat ia katakan dan aku akan menagihnya.


"Tidak bisakah kamu lupakan saja hutang Max itu? Apa besar sekali?" Tanya Rose.


Aku menggeleng, "Tidak bisa." Sahutku menegaskan. Karena Max sudah berkata kepadaku akan menceritakan apa yang terjadi dengan masa lalunya. Bukannya ingin tau tapi menurutku itu sudah sebuah janji dan janji adalah hutang.


"Aku ingin kembali. Kalau kami kembali kamu akan tinggal bersama siapa?" Tanya Vivi cemas.


"Tidak perlu mencemaskanku. Aku bisa tetap disini atau aku akan bekerja dengan Tom di kedai es krim." Jawabku.


"Apa yang akan kamu lakukan tanpa kami? Aku mengkhawatirkanmu, Lea." Kata Rose.


Aku tersenyum, "Aku sanggup hidup disini kok. Aku sudah tau bagaimana mencari uang dan menyimpannya seperti yang kalian ajarkan." Aku menjawabnya dengan bangga.


"Bagaimana ini Rue?" Aku mendengar Rose bertanya dengan berbisik kepada Rue.


Rue membalasnya sepelan mungkin sehingga aku tidak bisa mendengarnya. Apa yang mereka rencanakan?


Selama beberapa hari mereka memaksaku untuk kembali tapi aku tetap menolaknya. Dan hari itu juga aku menemui Tom untuk bertanya apakah aku boleh bekerja disana.


Ketika tiba hari untuk mereka kembali jujur saja aku sedih sekali dan aku merasa sendiri. Oh iya, saat kami kembali kami harus sebisa mungkin tidak boleh terlihat oleh orang lain. Karena akan aneh bukan jika kamu melihat seorang manusia terbang dengan sayap?


"Aku akan turun kembali untuk menemanimu setelah aku mengantar Vivi dan Rose ke atas sana." Sahut Rue.


Aku mengangguk, dan sebelum mereka pergi aku memeluk mereka satu per satu. Hanya satu pesan mereka untukku, yaitu supaya aku bisa menahan emosiku.


Aku pun pindah ke tempat Tom untuk bekerja disana. Tom sudah menyiapkan tempat untuk aku tinggali jadi aku aman dan lagi aku bisa memata-matai Eleanor dan Max.


"Hai Tom." Sapaku. Aku tiba di tempat Tom saat hari mulai menjelang senja, dan aku melihat Tom sedang beristirahat di kursi goyangnya.


"Hai anak cantik. Aku sudah menunggumu dari siang. Masuklah." Kata Tom mempersilahkanku untuk masuk dan duduk bersamanya.


Wajah Tom tampak sangat lelah, wajar saja Tom mengelola kedai ini seorang diri.


"Apa yang bisa kubantu untukmu Tom?" Aku bertanya kepadanya.

__ADS_1


Tom tertawa, "Hahaha..duduklah disini dulu toh sedang tidak ada pengunjung. Kamu mau es krim?" Tanya Tom.


Aku menggeleng, biasanya aku selalu mau tapi sekarang aku pekerja disini dan jika aku mau es krim aku harus membayarnya.


"Gratis untukmu sebagai ucapan terimakasih. Kayu manis seperti biasa dengan taburan coklat chip di atasnya bagaimana?" Tom membujukku dan pada akhirnya aku menyerah dengan tawaran Tom.


Tak lama aku sudah menikmati es krim kayu manis dengan coklat chip dan strawberry di atasnya.


"Bagaimana keadaan disini Tom?" Aku bertanya kepadanya. Oh iya, hanya Tom yang mengetahui aku dan Eleanor tapi Tom tidak tau darimana asalku.


Tom memainkan bibirnya memajukan dan memiringkannya, kemudian berdecak, "Ck, keadaan disini semakin aneh saja. Tuan Max membuat kebijakan baru. Ia menaikkan pajak tiga kali lipat. Bayangkan saja. Itu belum dengan uang keamanan, dan kemarilah..." Kata Tom dan tiba-tiba berbisik, "Apa kamu tau Tuan Max sekarang mengijinkan Tuan Nelson untuk merombak semua sistem yang ada disini? Kebijakan Tuan Nelson sangat bertolak belakang dengan Tuan Max tapi Tuan Max tidak bisa berbuat apa-apa atau tidak terlalu peduli dengan itu." Bisikinya.


Aku bertanya kepada Tom, "Mengapa kamu berbisik Tom?"


"Karena jika ada tentara yang mendengar, kamu akan di tembak di tempat. Tentara itu milik Tuan Nelson. Belum lagi Nyonya Eleanor, karena dia istri Tuan Max dia menolak untuk membayar segala yang ia beli." Kata Tom melanjutkan ceritanya.


Aku tercengang mendengarnya, "Mengerikan sekali Tom. Bagaimana kita bisa hidup tenang dan damai jika keadaannya seperti itu?" Kataku menanggapi.


Tom mengangguk, "Jadilah pemimpin kami, Lea. Kamu punya sifat yang adil, baik dan berani. Suarakanlah suara kami." Usul Tom secara mengejutkan.


Aku menggoyangkan kedua tanganku, "Tidak! Tidak! Aku tidak bisa!" Aku menolaknya, tentu saja. Ayahku dan Rue akan mengamuk jika aku kelepasan lagi hanya karena emosi.


Tom menarik nafasnya panjang dan menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi goyang, "Apa kamu sudah makan malam? Maukah makan bersamaku?" Tanya Tom.


Aku mengangguk, "Terimakasih. Aku senang sekali." Aku menjawabnya.


***


Keesokan harinya aku membantu Tom membuat es krim dan memindahkannya ke tempat es krik untuk di jajakan dan di jual.


"Kamu mau mencoba es krim itu?" Tanya Tom.


"Apa ini?" Aku bertanya kepada Tom.


"Hahaha, itu rasa durian. Wanginya luar biasa, kamu bisa lihat begitu aku membelah buahnya. Harumnya, wow." Jawab Tom antusias.


Tom mengambil sesendok kecil es krim durian itu untukku. Dan begitu aku mencobanya, rasa es krim itu berbeda sekali dengan harumnya.


"Ini aneh." Sahutku. Tom tertawa melihatku.


Menjelang siang, para pengunjung mulai berdatangan dan memenuhi kedai. Aku membantu Tom melayani pengunjung atau menjadi seorang kasir. Tom seseorang yang fleksibel, dia tidak terlalu menuntut. Tom membiarkanku bekerja semampuku.


Saat jam makan siang tiba, aku sedang menemani Tom santap siang sampai seorang wanita masuk ke dalam kedai. Dan dengan seenaknya membuka tempat penyimpanan es krim.


"Maaf kami sedang tutup sementara." Tukasku sambil menahan tutup tempat penyimpanan es krim yang hendak di bukanya.


Wanita itu seketika melihat ke arahku,


Deg!


Eleanor!


"Siapa kamu? Kalau kamu hanya pekerja disini tandanya kamu belum mengenalku. Hei, Tom aku ingin es krim coklat dan vanila masing-masing tiga scoop. Bawakan ke tempatku sekarang!" Perintahnya, kemudian melengos pergi.

__ADS_1


Eleanor menabrak pundakku tanpa menoleh. Aku memerintahkan Tom untuk tetap di tempatnya dan aku yang akan mengantarnya kesana.


"Tom, biarkan aku yang melayani Nyonya brengsek itu. Duduk dan habiskan makananmu saja." Ujarku.


Tom seperti mau mengalah, tapi begitu ia melihat raut wajahku ia mengurungkan niatnya dan memilih menuruti apa yang kukatakan.


Setelah selesai menyiapkan es krim pesanan Eleanor aku mengantarnya ke rumah Max.


"Eleanor!" Sahutku begitu para penjaga meloloskanku untuk masuk.


"Eleanor!" Aku memanggilnya lagi dengan suara lebih lantang.


Eleanor keluar dengan kesal, "Apa-apaan kamu! Panggil aku Nyonya Eleanor! Hormatlah kepadaku!" Tukasnya.


"Kamu saja tidak bisa menghormati orang lain lalu mengapa aku harus menghormatimu?" Sahutku. Kali ini aku tidak akan meledak, aku tidak akan membiarkan emosi menguasaiku.


Eleanor tampak murka sekali mendengar jawabanku, ia mengambil senapan laras pendeknya yang di selipkan di stockingnya dan mengarahkannya kepadaku.


"Panggil namaku dengan benar baru aku akan memaafkanmu." Katanya setengah berbisik.


Aku tersenyum tanpa takut, "Lakukanlah. Kamu harus tau bagaimana menghormati orang lain." Sahutku tenang.


Ceklek!


Eleanor sudah mengokang senapannya, "Minta maaf! Minta maaf kepadaku!" Tukasnya.


"Aku tidak akan minta maaf kepadamu!" Sahutku tegas.


"Baiklah kalau itu maumu." Katanya menyeringai memperlihatkan sederet gigi kecilnya yang seperti tikus.


"Bersiaplah wanita rendah! Akan kutunjukan siapa pengendali hidupmu sebenarnya!" Tukas Eleanor mengerikan.


Aku tidak mundur, aku tidak memejamkan mataku, aku tidak akan minta maaf, dan aku tidak akan menghindar darinya. Mantra perlindungan yang kurapalkan aku harap dapat melindungiku.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Eleanor menembak dengan cepat, tapi tidak ada satu peluru pun mengenaiku namun,


"Max apa yang kamu lakukan!" Eleanor berteriak histeris.


Aku melihat Max berdiri di depanku dan menerima peluru-peluru itu untukku.


"Max..." Sahutku lemas melihat Max berlumuran darah. Apakah aku dan Eleanor tadi memejamkan mata kami sampai kamu tidak melihat bahwa Max datang dan menghadang semua peluru itu?


Airmataku kembali jatuh tanpa bisa kutahan, dan segera saja airmataku berubah menjadi butiran mutiara.


"Mutiara? Apakah itu darimu?" Tanya Eleanor mengambil satu butir mutiara yang terjatuh. Aku mendongakkan wajahku dan kulihat seringai mengerikan dari wajah Eleanor.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2