
Max POV
Setelah beberapa waktu lalu aku diselimuti kegelapan, dan saat aku terbangun aku seperti terlahir kembali. Entah petualangan apa yang aku hadapi saat ini.
Dan di depanku sekarang berdiri sesosok raja yang sangat besar dan berbadan tegap dengan suara menggelegar sedang melihatku dengan tatapan membunuh karena aku hampir memeluk putri kesayangannya.
"Ehem! Eheeeeheem! EHEM!" Raja Wren berdeham.
Dengan segera aku memutar tubuhku menghadap sang Raja dan berlutut di hadapannya, "Ya Yang Mulia, maafkan saya." Ucapku.
"Ehem! Kamu tau apa yang terjadi kepadamu?" Tanya Raja Wren.
Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak Yang Mulia. Yang saya ingat hanyalah Raja mengibaskan tongkat kebesaran Raja ke arah saya. Setelah itu saya tidak tau lagi apa yang terjadi." Jawabku.
"Anakku dua kali telah menyelamatkan nyawamu, Max. Sebelum itu aku mengakui keberanian dan tanggung jawabmu. Aku terkesan dengan itu. Apa kamu masih mengingat ramalan Melthem?" Tanya Raja Wren.
Aku mengangguk, "Ya, Yang Mulia." Jawabku singkat.
Raja Wren berdiri di depanku dan berjalan dengan tongkatnya. Sungguh pasti yang membaca akan bosan, tapi aku akan tetap mengatakannya lagi kalau Raja Wren seperti King Triton.
"Lea berjuang supaya ramalan itu tidak tergenapi, salah satunya adalah kematiannya. Akan tetapi kamu merusak semuanya dengan menemui Lea yang saat itu sedang bernegosiasi dengan temanmu. Ada satu ramalan lagi yang harus tergenapi, yaitu perang dan pertumpahan darah. Aku tidak mungkin mengijinkan Lea untuk kembali ke bumi." Sahut Raja Wren.
Hatiku mencelos karena aku ingin sekali membawa Lea turun ke bumi, pergi dari Nelson sejauh mungkin dan membangun kembali kehidupanku bersamanya.
"Apa kamu ingin kuperlihatkan ramalan tentang bagaimana nasibmu?" Tanya Raja Wren dan sudah bersiap mengayunkan tongkatnya.
"Ah, tidak perlu Yang Mulia..." Sahutku cepat-cepat.
"Kalau Lea turun ke bumi, maka salah satu di antara kalian harus ada yang mati. Kemarin ternyata belum saatnya kamu mati, Penguasa di atas sana marah kepadaku karena hal itu." Sahut Raja Wren lagi. Entah ini candaan atau bukan tapi aku merasa takut seketika.
"Pe...Penguasa?" Tanyaku. Aku tidak sanggup membayangkan siapa yang dimaksud dengan Penguasa itu.
Raja Wren terkekeh, "Hehehe, tentu saja Penguasa itu Pencipta. Dia yang menguasai semesta ini dan menciptakan segala makhluk di seluruh alam ini." Jawabnya.
Aku menatapnya tak percaya. Mana mungkin calon mertuaku berteman dekat dengan Sang Penguasa? Apa yang akan terjadi jika aku menikahi Lea dan kami berdebat sedikit kemudian Lea mengadu kepada ayahnya. Ayahnya akan meneruskan keluhan Lea kepada Penguasa, nyawaku akan dicabut detik itu juga. Mengerikan!
"Lea sudah menyelamatkanmu sekaligus menggenapi ramalan Melthem. Pertama dia nyaris mati, kedua dia menyelamatkanmu saat kamu berada di Api Penyucian. Tidak ada satu makhluk hidup pun yang bisa keluar dari Lembah Kematian dalam keadaan hidup dan tetap bernyawa. Tapi Lea melakukan keajaiban itu. Dia menunjukkan cinta sejatinya untukmu." Sahut Raja Wren.
Seketika rasa sayangku kepada Lea semakin besar. Walau pun dia bukan manusia, dia rela mengorbankan dirinya hanya untuk menyelamatkan aku yang jahat ini.
"Lea menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang manusia. Aku tidak dapat melarangnya karena itu kemauan dia. Sepanjang hidupnya, Lea tidak pernah meminta apapun, dan baru kali ini dia mempunyai keinginan." Sambung Raja Wren.
Aku menangguk, "Ya Yang Mulia." Jawabku.
"Andaikan, aku mengijinkannya turun ke bumi. Aku ingin dia jauh darimu. Buatlah supaya ia membencimu. Sanggupkah kamu Max melakukan itu?" Tanya Raja Wren.
Aku tidak segera menjawabnya karena keinginanku adalah tinggal bersamanya bukan menjauh dari Lea.
"Max. Aku butuh jawabanmu." Kata Raja Wren mendesakku untuk segera menjawabnya.
"Saya tidak bisa seperti itu, Yang Mulia. Saya mencintai Lea, maafkan saya Yang Mulia." Akhirnya aku menjawab pertanyaan Raja Wren.
Aku memberanikan diri menatap mata Raja Wren untuk membuktikan kesungguhanku. Raja Wren menatapku dengan tatapan murka.
"Bagaimana kamu akan melindungi putriku nanti!" Seru Raja Wren sambil mengetukkan tongkatnya ke lantai dengan kencang.
"Aku akan melindunginya dengan caraku sendiri, Yang Mulia. Maka dari itu, maafkan saya." Ucapku tertunduk.
__ADS_1
Lea sudah berjuang untukku dan ini saatnya aku membalas perjuangannya itu.
Raja Wren terlihat gundah, dan aku sangat paham dengan apa yang Raja rasakan. Aku pun kalau mempunyai seorang anak perempuan, tidak akan kuijinkan dia dekat dengan seorang mafia sepertiku.
Raja Wren meninggalkan singgasananya tanpa kata. Aku masih tetap bertekuk lutut dan terdiam.
Tak lama Raja Wren kembali datang, "Lindungi Lea dengan nyawamu! Kalau kamu memang mencintai dia, cintai putriku dengan segenap jiwa dan ragamu." Tukas Raja Wren lagi.
"Ya Yang Mulia. Akan saya lakukan pesan Yang Mulia." Ucapku dengan penuh rasa terimakasih.
****
Keesokan harinya, aku mengajak Lea untuk berkeliling sebelum kami kembali ke bumi.
Lea mengajakku untuk bertemu dengan duyung-duyung karena mereka ingin sekali bertemu Max yang Tamoan, begitu pesan yang kudengar.
"Max, kalau kamu sudah tidak mencintai Lea kamu bisa kesini kapan pun kamu mau. Iya kan?" Kata Sedna centil.
Sirine dan Muirgen tertawa terkikik, "Hihihi, jika Penguasa datang kemari maka aku akan bertanya kepadaNya. Mengapa Dia menciptakan Max sangat tampan seperti ini." Kata Sirine malu-malu.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar gombalan mereka. Seperti berada di klub malam dan di kelilingi wanita cantik, hanya bedanya wanita-wanita yang menggodaku sekarang ini memiliki sirip dan ekor.
"Jangan menggoda Max seperti itu!" Tukas Lea.
"Apa kalian akan menikah di bumi?" Tanya Muirgen.
Splash!
Tiba-tiba seekor duyung berambut panjang berwarna biru naik ke permukaan, "Hai Max aku Meltem." Katanya.
Suaranya sangat dalam dan menenangkan seperti lautan tanpa gelombang.
"Aku ingin menyampaikan penglihatanku, kalian akan terpisah sangat jauh dan saling menempuh jalan kalian masing-masing. Namun, jika cinta kalian kuat kalian akan dipertemukan kembali. Semua pilihan ada di tangan kalian. Lea, jadilah kuat." Pesan Meltem.
Dia menatapku dan seakan-akan membawaku ke masa depan. Sekelebat bayangan demi bayangan muncul di depanku.
Byur!
Aku dan Lea saling berpandangan. Setelah berpamitan dengan duyung-duyung itu, kami kembali ke tempat Raja Wren.
Betapa terkejutnya aku, disana sudah berdiri Anthem yang tersenyum lebar.
"Ayah, kenapa ada Anthem disini?" Tanya Lea.
"Kan sudah kubilang, sore ini aku ada janji dengan ayahmu untuk minum teh di pondok Nyonya Titipati. Hai Max, aku belum akan menjemputmu. Jangan khawatir." Sahut Anthem tersenyum dan mengelus dadaku.
Aku menarik nafas lega, "Syukurlah." Sahutku berbisik.
"Eh tapi jangan lega dulu, aku dapat tugas untuk berjaga di rumahmu. Ada beberapa nama yang sudah masuk ke dalam notebookku. Bersiaplah." Kata Anthem ceria.
Aku menatap Lea, "Be...benarkah itu?" Tanyaku.
"Dia tidak pernah berbohong." Jawaban Lea membuat perasaanku tidak nyaman dan kembali berpikir apakah Lea tinggal saja disini? Aku tidak mau karena keegoisanku dia menjadi pendamping Anthem.
"Sudah siap?" Tanya Raja Wren.
Aku dan Lea mengangguk.
__ADS_1
"Aku akan tetap meminta Rue mendampingimu. Dimana pun kamu berada nanti kalau kamu kesepian di bumi segeralah pulang." Ucap Raja Wren.
Lea mengangguk, kemudian menggandeng tanganku.
Raja Wren mengalihkan pandangannya kepadaku, "Aku percaya padamu Max dan janjimu." Sahutnya.
"Ya, Yang Mulia. Terimakasih." Ujarku.
Rue memintaku untuk naik ke atas punggungnya, Lea mengembangkan sayapnya dengan tongkat siap di tangan mereka.
Dan begitu kami tiba suara senapan dimana -mana. Banyak orang yang tergeletak dengan darah mengalir dari salah satu bagian tubuh mereka.
Bau darah yang menyengat mengingatkanku kepada kejadian beberapa tahun lalu, dimana aku membantai satu keluarga besar dari orang yang telah membunuh orangtuaku.
Aku melihat Nelson tertawa kegirangan, "Max! Lihat pembalasanku Max!" Nelson mengarahkan senapannya kepadaku.
Dor!
Rue menarikku, aku berhasil menghindari tembakan Nelson. Aku berbicara dengan cepat kepada Lea dan Rue, "Bawa Lea pergi dari sini! Kumohon Rue! Selamatkan dia!"
Rue mengangguk tapi tidak dengan Lea, "Aku akan menemanimu disini Max! Aku tidak mau pergi!"
Nelson dan anak buahnya kembali menembaki kami,
Dor!
Dor!
Dor!
"Max, hadapi aku! Pengecut!" Teriak Nelson.
Rue mengibaskan tongkatnya dan membelokan peluru ke arah mereka.
"Aaaghhh!"
Entah peluru itu mengenai siapa aku tidak peduli. Aku memegang pundak Lea dan menciumnya di tengah kebisingan rentetan senapan.
Aku menciumnya seolah tidak akan pernah ada hari esok untuk kami, "Lea, kumohon pergilah dari sini. Aku akan segera menyusulmu begitu waktunya tiba. Kumohon Lea." Pintaku kepadanya.
Airmata sudah membasahi pipi Lea dan segera berubah menjadi mutiara. Sialnya Nelson melihat ini,
"Gadis itu! Tangkap gadis itu! Jangan tembak dia! Aku akan membunuh kalian jika gadis itu tergores!" Perintahnya.
"Lea ayo!" Ujar Rue.
Aku mengangguk ke arah Rue dan menatap Lea, "Aku berjanji aku akan segera mencarimu." Seruku.
Rue mengangkat Lea dan menaikkannya ke atas punggungnya,
Lea masih melihat ke arahku, "Max! Max! Turunkan aku Rue!" Teriakan dan tangisnya masih kudengar sampai mereka menghilang dengan cepat.
"Nelson! Ini pertarungan kita tarik anak buahmu!" Seruku.
Nelson tertawa-tawa mendengarku, "Mundur!" Titah Nelson kepada pasukannya.
Lea, tunggulah aku.
__ADS_1
...----------------...