Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Light


__ADS_3

Matt POV


Dok....dok


"Alesya."


Agak janggal sebenarnya bertamu ke rumah seorang wanita sepagi ini, tapi demi menyelamatkan nyawanya jadi aku akan berusaha untuk tidak peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang dan berbisik-bisik mencibirku.


Alesya membukakan pintu rumahnya, dia pucat sekali. Apa dia cukup istirahat? Apa dia cukup makan? Bahkan aku rasa dia tidak mandi berhari-hari.


"Hai Matt. Ada apa?" Tanya Alesya. Ia tidak mempersilahkanku untuk masuk ke dalam.


"Bolehkah aku masuk ke dalam?" Tanyaku. Ingin rasanya aku mendobrak pintu itu dan duduk di dalam tanpa basa basi. Tapi aku manusia yang beradab jadi aku tetap menjaga harga diriku untuk menunggu dipersilahkan masuk.


"Ini masih pagi sekali, Matt. Matahari saja belum muncul sepenuhnya." Jawab Alesya.


Itu benar, beruntunglah aku sepanjang jalan tadi aku tidak bertemu dengan pencuri atau penjahat yang bekerja di malam hari dan selesai sebelum matahari muncul.


"Tidak masalah kan? Aku hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu." Sahutku mencari alasan yang tepat.


Alesya masih bersikeras supaya aku tidak masuk ke dalam.


"Atau begini saja, maukah kamu jalan denganku pagi ini? Karena aku sedang butuh seorang teman." Tanyaku.


Alesya mengerutkan keningnya tanda ia sedang menbang-nimbang apakah aku masuk atau dia keluar.


"Masuklah Matt. Sepertinya ini penting sekali." Kata Alesya akhirnya mempersilahkanku untuk masuk.


Aku masuk dan betapa terkejutnya aku karena rumah ini gelap sekali, hanya memakai cahaya lilin.


"Apakah lampu rumahmu mati?" Tanyaku.


Alesya menggeleng, "Tidak, hanya saja aku sedang berdoa." Katanya.


Dia berbohong! Dia hanya seorang diri di rumah kenapa untuk berdoa saja harus menyalakan satu buah lilin di meja makan?


"Boleh aku duduk?" Tanyaku berbasa-basi.


"Silahkan saja. Jangan duduk di kursi sebelahku atau di depanku karena Leslie akan duduk disana." Sahutnya.


"Leslie?" Aku bertanya dan tiba-tiba aku teringat bahwa Leslie anak Alesya sudah tidak ada.


"Iya, Leslie. Kamu bisa duduk di sebelahnya." Kata Alesya mempersilahkanku duduk di samping kursi kosong.

__ADS_1


"Jadi, apa kepentinganmu?" Tanya Alesya.


"Bisakah aku meminjam kamar kecil?" Aku bertanya dan entah kenapa aku harus pergi kesana walaupun aku tidak merasakan adanya panggilan alam tapi aku harus kesana.


Alesya menunjukan kamar kecilnya, "Silahkan." Kata Alesya.


Aku masuk ke dalam kamar kecil itu dan memerisak sekelilingnya. Apakah ada obat atau sesuatu, aku membuka kotak tempat penyimpanan berbagai macam keperluan wanita di sana.


Tidak ada di kotak itu dan aku tidak tau bagaimana bentuknya. Aku membangkitkan insting mafiaku dimana biasanya mafia-mafia itu menyimpan obat terlarang mereka?


Aku membuka tutup kloset Alesya dan,


Aku mendapatkannya! Yes! Satu tabung kecil berisi puluhan obat tidur terlarang. Aku membuang seluruh isinya ke dalam lubang pembuangan dan aku memflushnya.


"Matt, kamu baik-baik saja?" Tanya Alesya.


Dia sudah mulai curiga, "Yep, sebentar lagi. Aku tidaj tau apa yang dimasak oleh Anthem kemarin malam tapi perutku sakit sekali." Jawabku.


Tak lama, aku keluar dari kamar kecil itu. Terdengar suara dentingan gelas dari arah dapur, "Kamu membuat apa?" Tanyaku.


"Teh hangat untukmu. Apakah Anthem bisa memasak? Kalau melihat kondisimu yang parah seperti ini berarti Anthem tidak bisa memasak, kan?" Tanya Alesya. Pikirannya saat ini teralihkan kepadaku.


Aku menjilat sendok bekas teh itu, "Anthem lebih cenderung ingin membunuhku bukan memasakanku. Kalau kamu yang minta, mungkin akan lain ceritanya." Jawabku.


Syukurlah, dia sudah tersenyum kembali. Sekarang targetku adalah membuatnya terus bercerita.


Aku melihat jam tanganku, pukul 08.00 am. Sisa waktu empat jam lagi. Aku harus apa supaya dalam empat jam ke depan Alesya melupakan obatnya?


"Alesya, apakah kamu bisa memasak?" Tanyaku. Pertanyaan bodoh sebenarnya karena Alesya bekerja di sebuah restoran.


Dan dia tersenyum lagi, "Pertanyaan macam apa itu Matt? Kamu sering melihatku berada di dapur restoran untuk memasak, kenapa masih bertanya?" Sahut Alesya.


Aku merutuki kebodohanku!


"Anthem yang memintamu untuk menjagaku disini, kan? Supaya aku tidak terlalu bersedih hati." Alesya berkata lagi.


Aku mengangguk, "Iya tapi aku tidak pandai membujuk seseorang." Ucapku.


"Anthem baik sekali kepadaku, Matt. Hatiku ingin sekali menyukainya tapi aku merasa tidak pantas berada di sampingnya. Dia sempurna." Kata Alesya tiba-tiba.


Jelas sempurna karena Anthem seorang malaikat. Andai Alesya tau Anthem seorang malaikat kematian yang tugasnya membawa jiwa manusia yang sudah meninggal, apakah Alesya akan tetap mencintainya. Kisah cinta mereka lebih berat dari kisah cintaku.


"Ya kamu benar. Mengapa kamu tidak mengikuti kata hatimu saja? Mungkin saja keajaiban akan terjadi kan? Aku punya sebuah cerita tentang kisah cinta seorang teman, mereka benar-benar merubah garis takdir mereka. Itu luar biasa menurutku." Sahutku menanggapi.

__ADS_1


"Aku...aku belum bisa mencintai orang lain Matt karena.."


"Kamu belum mencintai dirimu sendiri." Sanggahku.


Aku pun dulu demikian, tapi Lea datang dengan segala keajaiban yang dia tawarkan kepadaku. Awalnya aku takut, tapi ia selalu berusaha menggapaiku.


Alesya mengangguk.


"Bolehkan aku membagimu sebuah cerita tentang temanku?" Aku bertanya kepadanya.


Dia kembali mengangguk. "Boleh saja." Jawabnya.


"Aku punya seorang teman. Dia seorang pembunuh berdarah dingin yang dingin sekali. Dia seorang mafia yang akan tega menghabisi satu orang beserta keluarganya dalam satu hari tanpa perasaan bersalah." Sahutku memulai cerita tentang diriku sendiri.


"Apa ini tentang temanmu?" Tanya Alesya.


Aku mengangguk, "Ya, dia seorang mafia yang kejam. Suatu hari seorang gadis yang luar biasa datang kepadanya. Gadis itu awalnya menyebalkan karena selalu mengeluh tentang ini dan itu yang menyangkut kebijakan si mafia di kota itu. Gadis itu terus berbicara kalau dia tidak suka ini, tidak suka itu, gadis itu mengajak temanku untuk menikmati hidup walaupun hanya sekedar makan es krim, berjalan di tengah kota, memetik strawberry."


"Dan kamu tau, lambat laun mafia itu jatuh cinta kepada sj gadis. Tiba-tiba saja hidupnya yang dipenuhi kegelapan sekarang bergelimang cahaya yang menghangatkan dari si gadis itu. Sampai akhirnya mereka berdua sama-sama jatuh cinta." Aku melanjutkan ceritaku.


"Namun sayangnya Penguasa ingin menguji cinta mereka. Ada saja sesuatu yang menghalangi mereka untuk bersama, bahkan kematian pun menghampiri mereka. Karena cinta mereka sangat kuat mereka melawan takdir dan garis hidup. Penguasa pun akhirnya merestui hubungan mereka, tapi sampai sekarang mereka masih belum bisa bersama. Aku berharap mereka akan berakhir bahagia." Ucapku mengakhiri ceritaku.


Alesya tersenyum, "Cerita yang menarik. Semoga aku bisa menemukan cahaya yang membawaku seperti temanmu itu sehingga aku berani menghadapi dunia." Kata Alesya.


Aku memegang kedua tangannya, "Kuatlah dan berjuanglah Alesya." Ucapku.


Alesya menggenggam tanganku, dan tiba-tiba saja dia terjatuh! Aku segera menghampirinya,


"Alesya! Alesya! Bangunlah!" Sahutku. Badannya dingin sekali! Apa yang terjadi? Apa dia sudah meminum obatnya sebelum aku datang?


Aku mengambil ponselku dan menghubungi ambulance, tepat setelah aku menghubungi ambulance, Anthem datang.


"Bawa ke rumah sakit sekarang! Aku akan membimbing jiwanya." Sahut Anthem dengan cepat.


Ambulance pun datang dan membawa Alesya ke rumah sakit.


Anthem mengikuti kami dalam wujud malaikat, begitu sampai di rumah sakit Alesya segera di tangani.


Aku melihat Anthem berbicara dengan seseorang yang tak terlihat yang kuduga itu adalah jiwa Alesya.


"Matt, tolong awasi terus Alesya. Bantu dia untuk tetap hidup. Terimakasih." Ucap Anthem lagi dan kemudian dia menghilang.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2