Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Last Station


__ADS_3

Max POV


Aku terbangun dan tidak ada siapa pun di tempatku tersadar. Kemanakah orang-orang ini?


Lea!


Aku bergegas mencari Lea. Tapi tempat itu kosong dan dipenuhi oleh warna putih, bahkan aku tidak tau aku berada dimana? Dan bagaimana aku mencari Lea atau Rue? Tempat apa ini sebenarnya?


Wush...wush


Wush...wush.


Anthem mendarat dan berjalan di sampingku, "Hai." Sapanya.


Dan itu membuatku terkejut, "Ha...hai! Ah ternyata kamu! Huh! Aku telan menyia-nyiakan kerja jantungku hanya karenamu." Sahutku sedikit kesal.


Anthem memberengutkan bibirnya, "Jangan seperti itu! Kita hanya berdua disini." Kata Anthem.


"Dimanakah kita?" Aku bertanya kepada Anthem.


"Stasiun terakhir." Jawab Anthem singkat.


"Hah? Apa maksudmu? Stasiun? Darimana kemana? Dan mengapa tidak ada orang lain selain kita? Dimana Lea?" Tanyaku menuntut.


Anthem menatapku, "Kamu bertanya atau mau main sirkus? Rombongan begitu pertanyaanmu, Max. Satu-satu dong. Walau pun aku malaikat aku punya keterbatasan." Jawab Anthem.


Baru kali ini aku bertemu malaikat dan berkat Anthem aku bisa berpikir bahwa malaikat itu lucu dan bisa diajak berteman.


"Pikiranmu salah Max. Tidak semua malaikat sepertiku. Aku memang baik dan selucu itu hanya penempatan tugasku saja yang menyeramkan. Hahaha." Kata Anthem.


Kemudian dia duduk di sebuah kursi panjang atau bench. Anthem menepuk-nepuk kursi di sebelahnya mengisyaratkanku untuk duduk di sampingnya.


"Duduklah. Apa kamu tidak lelah daritadi berjalan? Aku saja lelah melihatmu." Titah Anthem.


"Aku ingin menyelamatkan Lea bukan bermain bersamamu." Tukasku.


"Ah benar juga. Aku sedang bekerja." Kata Anthem tersenyum.


"Jelaskan kepadaku dimana ini?" Tanyaku.


"Ini adalah sebuah stasiun Max. Stasiun kehidupanmu maka dari itu hanya ada kamu dan aku. Aku yang membawamu kesini." Anthem mulai menjelaskan,


"Stasiun ini mempunyai dua tujuan. Tujuan pertama akan membawamu kembali dan tujuan yang kedua akan membawamu lanjut kesana." Sambungnya.


Aku mengernyitkan keningku dan berpikir, "Kalau ini stasiun dimana keretanya?" Tanyaku penasaran.


"Ketika kamu sudah memutuskan maka keretamu akan datang." Jawab Anthem sambil mengeluarkan kikiran kuku dan mulai mengikirnya.


"Apa maksud kereta dengan tujuan lanjut kesana?" Aku bertanya lagi.


"Ya kesana. Ke tempat dimana kamu akan di wawancarai oleh penjaga pintu gerbang Penguasa kemudian perbuatanmu akan di timbang. Begitulah." Jawab Anthem santai.


Kemudian ia menatapku, "Max, namamu tidak tercatat di notebookku. Nama Lea lah yang tercantum disana." Ujar Anthem

__ADS_1


Semua emosiku meledak begitu saja, "Apa? Apa maksudmu, Anthem? Apa maksudmu? Sudah kubilang, aku akan menggantikan dia! Kenapa sulit sekali untuk mengabulkan permintaanku! Anthem! Bawa aku sekarang kesana! Kembalikan Lea!" Airmataku segera saja turun dengan derasnya.


Kekuatanku seolah menguap begitu saja, aku terjatuh dalam tangisku, "Lea...Lea!" Tangisku.


Anthem terdiam dan tak lama ia berbicara lagi, "Lea menukarnya. Hari itu, Lea pergi menghadap Sang Penguasa. Ia melakukan negosiasi denganNya dengan cara menukar waktu kematianmu dengan waktu kematiannya." Kata Anthem, "aku bertemu dengannya di pintu gerbang Penguasa hari itu dan betapa terkejutnya aku, namamu segera saja berubah menjadi nama Lea." Anthem menjelaskan lagi.


Aku mendengarkan kisah Anthem dalam tangisku. Aku tidak tau harus berbuat apa lagi. Aku tidak punya kuasa seperti Lea.


"Anthem bawa aku!" Tukasku pada akhirnya.


Anthem melihatku, "Bawa kemana?" Tanya Anthem


"Kamu bisa membaca pikiranku, maka kamu pasti tau kemana aku ingin pergi kan?" Sahutku.


Anthem menggelengkan kepalanya, "Tidak bisa Max. Kamu harus kembali. Ragamu menunggu disana." Kata Anthem.


"Apakah Lea di Lembah Kematian? Bawa aku kesana!" Pintaku.


"Itu tidak mungkin! Kamu bisa mati, Max." Kata Anthem.


Aku terhenyak di kursi kecil itu, "Apa maksudmu tidak mungkin? Kamu bilang aku akan hidup bersama Lea sampai tua, tapi kenapa kamu membawanya?" Tanyaku.


Anthem tertunduk, "Aku hanya menjalankan perintah, Max. Aku di perintah untuk membawanya dan itu berubah di saat terakhir. Lea meminta kepada Rue untuk memberikan perlindungan maksimal kepadamu, itu sebabnya peluru itu berbalik arah. Rue tidak bisa berbuat apa-apa karena Lea sudah memberikan titah kepadanya." Sahut Anthem


Deg!


Perasaan sialan apa ini? Aku menenggelamkan wajahku di kedua tanganku dan menyembunyikan tangisanku disana.


Entah berapa lama aku menangis aku tidak tau. Aku ingin Lea kembali, "Bisakah aku berbicara kepada Penguasa? Aku ingin Dia menukarku dengan Lea." Pintaku kepada Anthem


Anthem melihat kesungguhanku, "Kamu bersedia?" Tanya Anthem.


Aku mengangguk mantap, "Ya, aku bersedia." Sahutku.


"Tunggulah disini aku akan menyampaikan permintaanmu." Kata Anthem.


Anthem terbang tinggi ke atas dan menembus langit-langit stasiun ini, sedangkan aku duduk termenung. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, seketika pikiranku kosong. Aku marah pada diriku sendiri.


Selalu Lea yang menyelamatkanku, kenapa aku selalu lemah dan gagal melindunginya?


Seakan ada yang mencengkram kuat jantungku, rasanya sakit sekali.


Aku menunggu Anthem dalam keheningan dan kesendirian, sampai akhirnya Anthem tiba dan mengajakku pergi dari sana.


"Ikutlah denganku, kita akan naik kereta yang sebentar lagi akan lewat." Katanya.


Dan benar saja, sebuah kereta api panjang berwarna abu-abu dan merah membunyikan tandanya,


Tit...tit


Kereta itu berhenti tepat di depanku dan Anthem, "Naiklah." Kata Anthem.


Aku menaiki kereta itu,

__ADS_1


Sepi


Kosong


"Duduklah." Anthem berkata lagi.


"Kemana tujuan kita?" Tanyaku.


"Ke tempat yang ingin kamu tuju. Kita tidak akan berhenti di Lembah Kematian tapi di Api Penyucian." Ucap Anthem,


"Apakah aku harus mencari Lea disana?" Tanyaku


Anthem mengangguk, "Penguasa memberikanmu satu syarat. Jika kamu bisa membawa jiwa Lea dalam kurung waktu tujuh menit kalian berdua akan selamat, akan tetapi jika kamu gagal dalam waktu yang telah diberikan, aku akan memotong benang kehidupanmu." Anthem menjelaskan.


"Bagaimana dengan Lea kalau aku gagal?" Aku bertanya kepadanya lagi.


"Karena kamu sudah melakukan pertukaran, maka aku yang akan segera mengambil Lea begitu kamu gagal." Jawab Anthem.


Aku mengangguk mengerti, "Baiklah. Selama Lea bisa hidup aku rela melakukan apa pun." Ucapku bersungguh-sungguh.


Sesampainya di Api Penyucian aku disambut dengan suara rintihan dan pekik kesakitan. Suasananya sangat suram dan panas.


"Lea pernah menyelamatkanmu disini. Sekarang giliranmu membawa Lea ke atas." Kata Anthem. Suara Anthem terdengar sama suramnya dengan tempat ini dan sekarang aku paham kenapa Anthem di dapuk menjadi seorang Malaikat Kematian.


Anthem mengambil benang berkilauan yang sangat panjang menjuntai dan sebuah gunting yang juga berkilauan, "Ini benang kehidupanmu, waktumu hanya 7 menit. Lea bisa keluar dengan selamat saat itu karena mantra perlindungan Rue dan tongkat ajaibnya tapi kamu hanya seorang manusia biasa Max." Ucap Anthem.


"Apa kamu sanggup?" Tanya Anthem.


Aku mengangguk, "Ya, aku sanggup." Tak ada keraguan dalam suaraku.


Anthem memintaku mencelupkan satu jariku ke dalam Api Penyucian, dan


Ssszzztt


Rasanya seperti terbakar dan sangat panas. Mengerikan!


Aku takut dan sialnya Anthem dapat mencium rasa takutku, "Mau mundur, Max? Hatimu menjerit kepadaku." Kata Anthem tersenyum mengerikan.


Aku tidak sanggup menjawabnya, kepalaku terus berpikir karena hati dan otakku sedang berperang. Siapa diantara mereka yang harus aku menangkan?


"Aku tidak akan mundur. Aku akan masuk. Maukah kamu mendoakanku agar aku selamat?" Tanyaku


Anthem tersenyum, "Bagaimana menurutmu?" Tanya Anthem.


Aku menelan salivaki dan menatap ke dalam Api Penyucian yang menggelegak mengeluarkan letupan panas,


Baiklah! Aku seorang laki-laki pemberani dari Klan Maximilianus hanya berenang di api saja tidak akan membuatku mundur.


"Anthem, hitung waktumu sekarang aku akan mulai masuk kesana dan mencari Lea." Ucapku mantap.


"Kalau kamu memintaku aku akan melaksanakannya. Waktumu dimulai dari sekarang!" Balas Anthem


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2