Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Mission


__ADS_3

Lea POV


"Aku tadi bertemu dengan Meltem dan dia memberiku penglihatan, hanya sekilas tapi itu mengerikan." Sahutku kepada teman-temanku.


Setelah aku berjalan-jalan mengelilingi setengah dari negriku bersama Max, aku mencari Rue dan menceritakan apa yang terjadi di pantai duyung.


"Meltem sudah menceritakan tentang hal itu kepadaku lebih dulu. Tapi aku tidak berani untuk mencegahmu." Sahut Rose.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku, Rose? Paling tidak aku bisa melakukan sesuatu agar semua itu tidak terjadi." Tukasku gusar kepada Rose.


"Bagaimana aku bisa memberitahumu kalau kamu saja berada di bumi? Meltem sudah memberikan penglihatan itu kepadaku sehari setelah aku kembali." Jawab Rose membela diri.


Rue mengambil alih pembicaraan, "Bagaimana maumu, Lea?" Tanya Rue.


Aku berpikir, memang segalanya sekarang bergantung kepadaku. Mereka tau aku sangat keras kalau sudah menginginkan sesuatu.


"Aku akan tetap turun ke bumi." Jawabku mantap.


Rue bertepuk tangan, sedangkan Vivi dan Rose sibuk membujukku.


"Apa kamu tidak takut akan mati kering? Kamu akan dipaksa terus menangis untuk mengeluarkan semua mutiara dari matamu." Tukas Vivi.


"Andai airmataku berubah menjadi mutiara putih sepertimu aku akan dengan senang hati menggantikan posisimu." Kata Rose.


"Aku akan baik-baik saja dan tidak akan mati kering. Apa kalian pikir aku akan diam saja tanpa perlawanan?" Tanyaku kesal.


"Kemarin ayahmu nyaris turun tangan tapi begitu Nyonya Lily membaca hatimu ayahmu mengurungkan niatnya untuk turun ke bumi." Kata Rue menjelaskan.


"Aku berniat mengubur mereka hidup-hidup di dalam mutiara, sayangnya Max sudah membuka tali pengikatku dan membawaku pergi dari sana." Sahutku menjelaskan.


Vivi dan Rose saling berpandangan, "Kamu sangat mengerikan, Lea." Ujar mereka.


"Harus! Aku berhadapan dengan manusia yang menyeramkan. Aku tidak akan menjadi domba di kandang serigala." Sahutku.


Rue menepuk pundakku kencang,


Bugh!


"Kamu sudah bisa menggantikan raja tahun depan, Lea! Luar biasa pemikiranmu itu. Aku sebagai pengawalmu sangat bangga kepadamu." Kata Rue.


"Lalu, kapan kamu akan kembali?" Tany Rue kepadaku.


"Kemungkinan malam ini." Jawabku.

__ADS_1


"Aku akan ikut denganmu, Lea. Aku akan membantu Tom bekerja sekaligus mengawasimu." Ujar Rue.


Aku mengangguk, "Baiklah Rue." Jawabku.


Sebelum kami kembali turun ke bumi malam itu, Raja Wren dan Ratu Edwina mengajak Max dan Rue berbicara. Menurut Rue, ayah dan ibuku sudah tau tentang penglihatan Meltem. Begitulah, tidak di bumi tidak di atas awan yang namanya kabar seperti ini akan cepat sekali menyebar.


Aku dan Rue menghampiri singgasana ayahku. Ayah dan ibuku sudah menunggu disana beserta Max yang melihat kami dengan takut. Terkadang aku meragukan foto yang kulihat di ruangan gelap itu. Mereka seperti dua orang yang berbeda.


"Ehem, aku sudah mendengar dari Meltem langsung tentang penglihatannya akan masa depanmu, Lea. Bagaimana pun kamu anakku, kamu putri tunggalku dan kamu calon penerusku. Aku hanya bertanya satu hal padamu, apa kamu sanggup mencegah hal itu terjadi?" Tanya Raja Wren kepadaku.


"Yang Mulia. Saya sanggup Yang Mulia. Dan ini sudah saya pikirkan matang-matang, Yang Mulia." Sahutku menunduk penuh hormat.


Ibuku sudah tenggelam dalam isak tangisnya, "Hiks, hiks. Tidah usahlah kamu turun ke bumi. Apa kurangnya disini sih, Lea? Kamu anak gadis, bisa apa kamu kalau ada yang menjahatimu?" Tanya Ibuku.


Kalau ibu sudah menangis seperti itu akan sulit di tenangkan kecuali aku menuruti perintahnya.


"Maaf Yang Mulia, tapi bisakah memberikan kepercayaan kepada saya untung menyelesaikan misi saya di bumi?" Aku mencoba bertanya kepada ibuku.


"Huaaaa ..."


Ibuku menangis menjadi lebih histeris dari sebelumnya, harapan tipis untuk kembali malam ini.


Ayahku memeluk ibuku menenangkannya, "Pergilah, segala yang terjadi menjadi tanggung jawabmu sendiri, Lea. Rue akan tetap mengawasimu dan ikut denganmu dan aku berharap kepadamu, Rue. Untuk melaporkan segala sesuatunya kepadaku, setiap hari." Jawab ayah.


"Kapan kalian akan turun ke bumi? Karena aku ingin berbicara dengan pemuda ini dulu." Tanya ayahku lagi.


"Malam ini Yang Mulia." Jawabku.


"Baiklah. Kalian pergilah. Berikan aku waktu untuk berbicara dengan Max." Ucap ayahku.


"Terimakasih Yang Mulia." Sahutku dan Rue berbarengan.


***


Malam itu kami bersiap-siap untuk turun ke bumi. Ayahku mengubahku menjadi seorang manusia dan melepaskan sayapku. Kata ayah ketika nanti aku membutuhkannya aku tinggal memanggilnya maka sayapku akan menghampiriku.


Seperti awan kinton milik Sun Goku bukan? Nama sayapku itu Ayshill. Semua pemilik sayap bisa memanggil sayap mereka sendiri.


Namun, ketika sayap mereka dilepas otomatis kekuatan mereka akan menghilang sedikit, dan akan menjadi lemah saat kami berjauhan dari sayap kami. Untungnya aku masih diijinkan memakai tongkat ajaibku.


Aku memeluk orangtuaku, ibuku tidak mau kupeluk karena katanya ia marah kepadaku. Baiklah, aku hanya berharap aku tetap hidup.


"Berpikirlah sebelum bertindak, bergeraklah seperti ular dan cerdiklah seperti serigala." Bisik ayahku.

__ADS_1


Aku mengangguk, "Baik ayah akan aku ingat selalu dan doakan aku dari sini." Bisikku.


Karena sayap kami di lepas, kami tidak bisa terbang ke bawah. Rue menyiapkan tongkatnya dan mengetuknya tiga kali kemudian,


Plop!


Kami telah berpindah tempat dan sampai ke depan kedai es krim milik and Tom.


"Lea!" Sahut Tom dari dalam, dan ia bergegas menghampiriku dengan langkah besarnya.


"Tom!" Sahutku dan memeluk Tom.


"Lea! Akhirnya kamu di bebaskan. Aku sudah menyiapkan senapan untuk menembaki seisi rumah jika jamu tidak segera dibebaskan." Ujar Tom sambil menunjukkan senapan laras panjang yang sudah siap di depan kedainya.


Max tersenyum dan menepuk pundak Tom, "Kamu satu-satunya manusia yang berpikir logis saat ini, Tom. Aku hargai itu." Sahutnya kemudian bergegas pergi untuk kembali ke rumahnya.


Aku rasa dia mengalami semacam jet lag karena habis bepergian dari tempat yang sangat tinggi ke tempat rendah. Max yang malang.


Aku mengejarnya, "Max, tunggu aku!" Aku berseru.


Max menoleh melihatku dan wajahnya tampak lelah sekali, "Max, apa kamu akan langsung kembali?" Tanyaku.


Max mengangguk lemah, "Aku agak lelah hari ini. Tapi aku menikmatinya. Kamu memberiku banyak kejutan sepanjang hari ini." Jawab Max.


Deg!


Aku teringat peringatan Meltem, titik lengah Max adalah aku jadi sebelum hal itu terjadi aku memberikan nasihat untuk Max dan semoga ia tidak akan pernah melupakannya.


"Max, jadilah orang baik dan berbuat baiklah kepada semua orang tanpa pandang bulu." Ujarku.


Aku mengambil telapak tangannya, dan menuliskan sebuah pesan untuknya.


Max mengerutkan keningnya, "Apa yang kamu buat di telapak tanganku?" Tanya Max.


Aku tersenyum, "Ingatlah dan carilah artinya," Sahutku, "aku akan kembali ke tempat Tom. Semoga kamu mimpi indah Max." Ucapku berpamitan kepadanya.


Ketika aku beranjak pergi, Max mengambil tanganku dan memelukku dengan erat, "Lea, terimakasih. Untuk segala pesanmu hari ini, untuk segala penghiburanmu hari ini dan terutama terimakasih karena kamu mau menjadi tempat bersandarku. Aku tidak akan melupakan malam ini." Katanya.


Aku mengusap lembut punggungnya, "Aku melakukan itu karena aku sedang dalam misi, Max." Jawabku.


Max melepaskan pelukanku, "Misi? Apa misimu?" Tanya Max.


Aku mendekatkan wajahku ke telinga Max, "Aku sedang dalam misi penyelamatan Max." Bisikku, "karena aku akan menyelamatkanmu." Sambungku lagi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2