Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
What's Now?


__ADS_3

Lea POV


Senang sekali rasanya melihat Alesya sudah dapat berbicara lagi dengan kami.


Dan Anthem? Dia benar-benar tidak meninggalkan Alesya sedikit pun. Anthem terus berada di sisi Alesya dan berusaha memenuhi segala yang diperlukan Alesya.


"Kamu butuh apa?" Tanya Anthem suatu hari.


Alesya sudah boleh pulang namun ia masih berada di bawah pengawasan dokter. Kami di haruskan untuk menjaga dan menemaninya.


Alesya menggeleng, "Tidak butuh apa pun, Anthem." Jawab Alesya sambil mengusap pipi Anthem.


Ini yang kami lewatkan! Apakah mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih atau belum atau bagaimana? Apakah Anthem sudah menjadi manusia? Aku penasaran sekali.


Aku melirik ke arah Matt yang saat ini sedang sibuk dengan Rue. Bagaimana nasib cintaku? Walau pun penulis mempertahankan kami sampai novel ini mencapai 50k, tapi kami butuh akhir cinta yang manis dan jelas. Ah, sedih sekali.


Keinginan penulis dengan kisah cintaku sama mustahilnya. Hiks, menyedihkan!


Beberapa hari kemudian, aku mendapat giliran menjaga Alesya. Dia belum boleh keluar karena kondisinya masih lemah. Padahal aku ingin mengajaknya keluar. Setelah Eleanor, aku ingin sekali mempunyai teman wanita.


Kalau dilihat-lihat temanku adalah pengawal pribadiku, malaikat pelindung yang sibuk sekali menagih hutang serta makaikat kematian yang sedang jatuh cinta.


"Halo Alesya." Sapaku begitu sampai.


"Hai, Lea. Masuklah dan maaf merepotkanmu." kata Alesya.


Aku menggeleng, "Ah, tidak apa. Aku justru senang karena bisa mengobrol denganmu. Bagaimana kabarmu hari ini?" tanyaku.


Dia tersenyum, "Aku baik-baik saja." jawabnya.


"Aku membawakanmu kukis, serta kue-kue cantik ini. Aku suka sekali dengan mereka semua. Apa kamu menyukainya?" aku bertanya sambil mengeluarkan buah tanganku.


Alesya berusaha bangkit dari ranjangnya, aku membantu Alesya berjalan dan duduk di kursi makan.


"Kamu sudah kuat untuk duduk?" aku bertanya dengan melanjutkan misiku yaitu, mengeluarkan kudapan manis yang aku bawa.


Alesya mengangguk, "Aku bosan. Sudah berapa lama aku terbaring disana? Aku juga ingin menikmati hidup sepertimu." jawab Alesya.


Aku duduk di depannya, "Silahkan dimakan." kataku dan menggigit satu buah kue manis dengan toping keju melimpah serta strawberry di atasnya.


"Mmm, ini enak sekali. Makanlah Alesya tidak usah malu-malu." ucapku kemudian tersadar ini rumah Alesya bukan rumahku.


"Ma...maafkan aku." sahutku.


Alesya tertawa. "Kamu lucu sekali. Hei, maukah kamu menjadi temanku? Sepertinya hidupku akan seru sekali jika berteman denganmu." tanya Alesya.


"Tentu saja. Ayo kita berteman baik mulai sekarang." Katany tersenyum lebar dan mengulurkan tanganku untuk Alesya.


Alesya menyambut uluran tanganku dan tertawa.

__ADS_1


Kami berbincang-bincang tentang kudapan manis, makanan enak, camilan, pria-pria tampan. Aku tidak bercerita kalau aku bukan manusia. Aku takut dia terkejut dan terjadi apa-apa dengannya lagi. Akan terjadi kegelapan total jika aku berkelahi dengan Anthem.


"Ceritakan tentang dirimu, Lea. Apakah kamu sudah menikah? Apa kesukaanmu?" tanya Alesya.


"Tidak ada yang menarik tentang hidupku. Aku seseorang yang biasa saja. Aku sudah menikah tapi suamiku tidak mengingatku, dan aku suka semua hal yang ada di bumi ini." jawabku.


Agak sesak rasanya menjawab pertanyaan Alesya tentang suamiku. Bagaimana tidak? Pria bodoh itu meninggalkanku selama setahun hanya untuk menjalani hukuman di Api Penyucian. Begitu dia sudah kembali ke bumi, dia lupa padaku.


Dan aku belum mempunyai kesempatan untuk berbicara berdua dengannya. Kemarin itu kami sempat berdua tapi tidak ada obrolan apa pun. Kami hanya terdiam dan karena Matt tampak lelah aku membiarkannya tertidur. Manusia lemah!


"Apa kamu ada hubungannya dengan Matt? Atau teman Matt?" tanya Alesya.


Kemudian dia bercerita bahwa Matt pernah membahas tentang temannya dan kisah cinta mereka yang sampai saat ini belum menemukan titik temu.


"Saat dia bercerita aku merasa itu adalah kisahnya entah dengan siapa. Dan begitu aku mendengar ceritamu seperti ada kesamaan dalam cerita kalian." kata Alesya menutup ceritanya.


"Akan sangat panjang sekali jika aku menceritakan kisah hidupku kepadamu, bayangkan 71 bab! Panjang sekali bukan? Kapan-kapan aku akan membawamu untuk membaca bab awal dari kisah ini." sahutku.


Alesya tertawa. "Akan aku tunggu janjimu itu." sahut Alesya.


***


Beberapa hari setelah kunjunganku ke tempat Alesya kami benar-benar menjadi teman baik.


"Bicarakan ini pada Matt." bujuk Alesya suatu hari.


Dia semakin yakin kalau Matt adalah suamiku yang tak lain adalah Max.


Alesya memainkan bibirnya. "Sedikit." jawab Alesya tersenyum.


Anthem ini tidak dapat menjaga rahasia! Padahal malaikat itu tidak boleh mengumbar gosip! Malaikat apa itu?


Setelah Alesya terus membujukku akhirnya aku memutuskan untuk berbicara dengan Matt.


Oh, aku menerima Matt menjadi pegawaiku dan dia berhenti dari restoran tempatnya bekerja. Surat pengunduran dirinya di sambut meriah oleh pemilik restoran itu.


"Benarkah kamu akan berhenti dari sini? Kamu tidak akan kembali lagi kan? Ooh, aku lega sekali! Datanglah kesini sebagai tamu dan aku doakan karirmu panjang di tempat barumu." ucap pemilik restoran itu sambil memeluk Matt.


Dan memang Matt adalah Max, dia pintar sekali mencari peluang dan kesempatan. Dia berani bertaruh demi mendapatkan sesuatu yang cukup besar.


"Matt, malam ini aku ingin berbicara denganmu. Apakah kamu punya waktu untuk itu?" tanyaku.


Matt mengangkat kepalanya dari laptop. "Tentu saja. Aku akan menunggumu." jawab Matt.


Rue mengetahui rencanaku dan mendoakan semoga aku berhasil kali ini.


"Satu pesanku, jangan terburu-buru walau pun ingatannya sudah kembali." kata Rue menasihatiku.


Aku mengangguk. "Iya Rue." jawabku.

__ADS_1


Setelah pekerjaan kami selesai aku menemui Matt yang sudah menungguku bersama Rue di depan gedung kantorku.


"Lea, ingat pesanku tadi." ucap Rue.


Aku mengacungkan ibu jariku ke arah Rue dan mengajak Matt ke sebuah kafe tempat menjual kudapan manis favoritku.


"Tempat apa ini?" Tanya Matt.


"Ini tempat baru karena lucu jadi aku masuk dan membeli untuk mencobanya." sahutku.


"Bagaimana kalau ternyata tidak enak? Apakah kamu akan tetap mencobanya?" tanya Matt.


Aku tertawa. "Tapi ini enak. Percayalah. Aku dan Alesya pernah mencobanya." kataku memesan satu potong kue coklat dan sepotong donat kayu manis serta satu gelas kopi berukuran kecil.


Sedangkan Matt memesan satu gelas kopi hitam dan roti tanpa hiasan atau toping apa pun.


"Ouch, hidupmu tampak sepi sekali." sahutku memandang ke arah pesanannya yang terlihat menyedihkan kemudian aku membandingkan pesananku yang berwarna-warni ceria.


Matt tersenyum, "Aku suka ini." Sahutnya.


"Matt atau lebih tepatnya Max. Boleh aku memanggilmu seperti itu?" tanyaku.


Dia kembali tersenyum. "Sudah kuduga kamu akan membicarakan ini, Lea." Jawab Matt.


Deg!


Dia memanggilku Lea tanpa nona. Berarti setelah dia menerima mantra dari Rue dia telah mengingat segalanya?


"Aku merindukanmu, Max." ucapku menahan airmataku.


"Apakah masih berubah menjadi mutiara?" tanya Matt dan sekarang mengacak-acak rambutnya.


Aku mengangguk.


"Aku juga merindukanmu Lea. Selalu. Aku tidak pernah tidak memikirkanmu." balas Matt.


Jantungku berdetak cepat. Kalau dia merindukanku kenapa dia tidak pernah menyapaku, kenapa dia tidak pernah menghampiriku atau sekedar mengajakku berjalan berdua?


"Aku diajari oleh Anthem cara membaca pikiranmu. Hanya kamu dan sekarang aku tau yang kamu pikirkan. Aku menahan sampai waktunya tepat." jawab Matt.


"Kapan waktu yang tepat itu?" tanyaku.


"Setelah segalanya selesai dengan baik. Karena aku baru mengetahui tentang kebenaran yang mengerikan." kata Matt.


"Dan apa itu?" Aku bertanya lagi.


Aku tidak pernah tau ada hal seperti itu, Rue atau Anthem tidak pernah bercerita kepadaku tentang hal-hal yang mengerikan.


"Brad." jawab Matt.

__ADS_1


Brad? Bradley? Ada apa dengannya?


...----------------...


__ADS_2