
Anthem POV
"Kamu harus mempunyai bukti kalau ingin membuat laporan kepada pihak berwajib." tukas Matt.
"Kenapa harus menunggu pihak berwajib? Kenapa kita tidak bergerak sendiri." tanya Lea.
"Kamu akan di anggap menganiaya seseorang, Lea." jawab Matt lagi.
Aku hanya mengikuti percakapan mereka. Karena tugasku disini adalah mengangkut jiwa-jiwa mereka yang sudah mati.
"Bagaimana cara kita mendapatkan bukti kalau Brad adalah seorang mafia yang bengis? Dan bagaimana dengan mayat-mayat itu?" tanya Lea lagi.
"Ketika kaum kami sudah berkata rapikan, artinya mayat itu dibuang, di bakar, di potong menjadi beberapa bagian kemudian di masukan ke dalam sesuatu lalu kami tenggelamkan. Jangan sampai ada jejak atau sisa. Mafia itu cerdas, kami bermain sangat rapi dan sempurna." jawab Matt bangga.
Aku mengetuknya dengan sayapku, "Kamu bukan mafia lagi, Matt. Ingatlah! Kamu sekarang Matt seorang karyawan kantoran jadi jangan berbangga diri dengan pekerjaan seorang mafia karena kamu bukan bagian dari mereka lagi. Gunakanlah kata ganti kami menjadi mereka!" Aku mengingatkannya.
Sebenarnya aku kesini karena ingin bertemu dengan Alesya dan ada beberapa hal yang ingin kubahas dengannya.
"Hei Anthem bagaimana proses perubahanmu? Apakah kamu sudah memberikan keputusanmu kepada Penguasa?" tanya Matt.
"Setelah ini." jawabku singkat.
"Apa yang kamu sembunyikan di dalam jasmu, Anthem? Sedari tadi kamu memasukan tangan kananmu ke dalam kantung jasmu. Ada apakah disana?" tanya Lea.
Tajam juga penglihatannya, abadi memang menjadikan seseorang menjadi nyaris sempurna.
Sedari tadi aku menggenggam sebuah kotak berwarna cokelat berisi cincin pasangan yang nanti akan kuberikan kepada Alesya. Jika Alesya menerimanya maka aku akan segera menghadap Penguasa, kalau Alesya menolaknya aku akan tetap menjadi malaikat saja. Dan aku tidak mau menampakkan diriku di hadapan Alesya lagi.
Aah, itu sakit sekali. Apakah manusia akan merasakan sakit seperti ini? Aku melihat ke arah Matt dan merasakan penderitaannya saat ia kehilangan Lea.
Entah dorongan darimana aku mendekap Matt erat dan membiarkan kedua sayap besarku memeluknya. Matt memberontak, "Hei! Hei! Apa-apaan ini Anthem! Lepaskan aku!" tukas Matt.
Aku melepaskan pelukanku, "Tidak apa. Hanya saja tiba-tiba aku ingin memelukmu."
Matt membersihkan tubuhnya, "Ja...jangan seperti itu lagi karena aku trauma saat kamu membawaku ke Api Penyucian itu. Mengerikan sekali." ucap Matt.
Aku tersenyum kecil, "Takut nyaman yah? Hahaha." aku menggoda Matt.
__ADS_1
"Bukan bodoh! Sudahlah!" sahut Matt kesal.
"Apa kalian tidak ingin makan?" tanyaku. Itu adalah pertanyaan kode supaya mereka mau menemaniku menemui Alesya.
Lea melihatku, "Baiklah ayo. Alesya kan? Lain kali jujurlah, Anthem saat kamu ingin menemuinya. Kami juga ingin mencoba rumah makan baru." ucap Lea.
"Baiklah, temani aku menemui Alesya." pintaku menelan harga diriku.
Sebenarnya aku sudah membisiki Rue untuk meminta bantuannya mereservasi restoran itu untukku nanti malam karena aku ingin melamarnya.
Sudah kuputuskan aku akan menceritakan siapa aku sebenarnya setelah itu aku akan memberikan cincin ini kepadanya dan aku berharap Alesya mau menerimaku. Sebenarnya kata menikah tidak ada dalam kamus hidupku apalagi menikah dengan manusia. Tidak pernah terbayangkan aku menikah dengan manusia.
Aku membenci manusia karena sifat mereka. Kalau aku bermain ke tempat Penguasa, banyak malaikat pelindung yang mengeluh kalau manusia yang mereka jaga selalu cepat sekali putus asa dan tidak mempunyai semangat hidup, lalu untuk apa Penguasa mengirim malaikat pelindung untuk melindungi mereka kalau mereka tiba-tiba mengiris pergelangan tangan mereka sendiri atau menelan sesuatu yang mengandung racun mematikan.
Aku menyebutnya mereka tidak tahan dengan proses. Selain itu, manusia ini banyak sekali meminta keringanan hukuman. Berpikirlah, jika mereka sudah berada di Lembah Kematian apakah mereka bisa mendapatkan keringanan hukuman? Mengapa mereka tidak melakukan sesuatu hal yang baik semasa hidup untuk mengurangi hukuman mereka disini. Aneh sekali cara berpikir mereka. Apa karena aku seorang malaikat yang belum pernah mengenal manusia selama hidupku?
Baiklah... baiklah, aku akan menghentikan keluh kesahku. Sesampainya kami di restoran tempat Alesya bekerja aku menberikan isyarat kepada Rue dengan menganggukan kepalaku.
Aku sudah mengaturnya, Rue akan mereservasi atas namaku untuk nanti malam, dan untuk menunya aku minta untuk dibuatkan semua makanan yang disukai Alesya. Tentu saja aku yang membayar semua itu. Akhir-akhir banyak jiwa yang aku angkat ke tempat Penguasa maka itu aku mendapatkan bonus insentif dari Penguasa. Hebat sekali aku.
***
Lea menengok ke arah kami, "Ada apa? Apa yang kalian rencanakan? Katakan kepadaku!" titah Lea.
"Wow!" Aku bertepuk tangan untuk ketajaman Lea dan sekarang aku ingin menguji kemampuan dia untuk membaca pikiranku. Ini salah satu kelemahannya.
"Baca pikiranku, Lea. Jika kamu ingin tau apa yang aku dan Rue rencanakan nanti malam." sahutku menantangnya.
Lea mengepakkan kedua sayapnya dan menghembuska sayap itu ke arahku. Aku terjungkal menubruk dinding di belakangku, "Kamu tau itu kelemahanku jadi jangan menggodaku atau menantangku, Anthem!" seru Lea yang sekarang terbang di atasku.
Aku suka Lea yang ini, dia menakjubkan. Wajahnya campuran antara manusia dengan peri kecil berkekuatan sangat besar. Sayang sekali jika dia menjadi manusia maka tongkat berbintang yang sekarang berubah warna menjadi keemasan tidak akan terpakai.
Lea memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tatapannya lapar.
Tring Tingting... Tring tingting
Suara alarm menyadarkanku tapi tidak dengan Lea. Rue mempunyai cara khusus untuk menyadarkan Lea. Dia akan meniup telinga Lea.
__ADS_1
Fuuuh!
"Aaahhh, Rue! Kenapa kamu selalu meniupku?" tukasnya marah.
"Biarkan Anthem pergi dan belajarlah untuk menahan emosimu. Anthem, pergilah! Jangan menggodanya lagi, dia masih sulit untuk menahan emosinya!" Rue berseru kesal kepadaku dan kepada Lea.
Dia seperti seorang ibu, "Baiklah, hahaha. Aku pergi. Dadah Lea." sahutku ceria.
***
"Kamu yang memesan ini semua?" tanya Alesya kepadaku.
Aku mengangguk, "Nikmatilah, Sya. Makan yang banyak." ucapku tersenyum lebar.
Alesya menatapku, "Apakah kamu berulang tahun?" tanya Alesya yang tampak cantik dengan gaun berwarna biru metalik tanpa lengan.
Aku menggeleng, "Malam ini, aku mau kamu mendengarkan ceritaku sampai selesai. Setelah itu aku akan menanyakanmu tentang sesuatu. Nilailah aku setelah ceritaku selesai. Bagaimana?" tanyaku menantang Alesya.
Alesya mengangguk, "Okei, tapi ini tentang apa?" tanya Alesya lagi.
"Dengarkan saja." Aku minta Alesya untuk memejamkan matanya dan aku memanggil jiwanya sebentar.
"Ikutlah denganku." ucapku menggandeng tangannya.
Dia terkejut melihat dirinya sedang duduk di dalam restoran, "Hah! Anthem! Apakah aku mati?" tanya Alesya terkejut.
Aku tersenyum, "Tidak. Kamu tidak mati. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan sebentar." sahutku.
Aku mengajak dia terbang, dan berhenti di depan Kerajaan Magic Of Wands, ini semua sudah diatur oleh Rue. Aku mengajak Alesya menjelajahi kerajaan itu, setelah puas aku mengajaknya ke tempatku. Dia bergidik ngeri, tidak sampai satu menit kami sudah kembali ke restoran.
"Apa itu tadi? Kamu seorang malaikat? Malaikat Kematian? Dan...dan... tempatmu adalah di tempat yang sangat dingin itu? Bagaimana...? Apakah kamu akan mengajakku pergi ke tempatmu? Apakah aku akan ma..."
Aku mencium bibirnya, "Aku mencintaimu, Alesya sejak awal aku bertemu denganmu."
Aku berlutut di depannya, mengeluarkan kotak cokelatku dan membuka kotak itu. Kemudian aku mengambil salah satu cincin yang ada disana, "Alesya Simpson, maukah kamu menikah denganku?" tanyaku.
Bulu-bulu sayapku mulai berguguran, sayap yang aku banggakan dan selalu menjadi kesayanganku tapi sekarang wanita yang ada di depankulah yang menjadi kesayanganku. Aku menantikan jawabannya saat ini....kumohon katakan ya!
__ADS_1
...----------------...