Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Magical Wedding


__ADS_3

Max POV


"Bisa kamu katakan kepadaku siapa mereka Rue?" Tanyaku kepada Rue sore hari itu.


Rue menggeleng, "Aku tidak mengenal mereka Max. Hanya saja mereka ingin membalas dendam." Jawab Rue


"Balas dendam? Kepadaku? Setauku aku tidak punya musuh dan aku selalu baik kepada semua orang." Sahutku sambil berpikir. Atau mungkin mereka iri dengki? Ya, pasti itu karena aku tau aku sulit di gapai.


"Itu kan menurutmu, kamu pernah bercerita kalau kamu membalas dendam kepada sekelompok mafia yang menghabisi orangtuamu. Apa mungkin itu mereka?" Tanya Rue.


Aku berpikir sejenak kemudian kugelengkan kepalaku, "Tidak mungkin, aku sudah memastikan mereka benar-benar habis tak bersisa." Ucapku, namun jauh di dalam lubuk hatiku ada tanda tanya kecil yang tiba-tiba masuk dan menyeruak ke dalam, apakah mungkin...?


"Tidak! Itu tidak mungkin!" Sahutku meyakinkan.


Aku menepis jauh-jauh kemungkinan aku atau Lea akan mati, aku lebih memikirkan permintaan Lea untuk menikah secepatnya.


"Rue, andai aku tidak pernah bertemu Lea apakah takdir ini akan berubah?" Tanyaku.


Rue mengangguk, "Tentu saja." Jawab Rue.


"Kenapa Lea ingin menjadi manusia? Dan mengapa itu dilarang oleh Raja?" Tanyaku lagi.


"Ratu Edwina ada seorang manusia bumi." Jawab Rue santai.


"Benarkah?" Tanyaku, "lalu bagaimana Ratu bisa disana maksudku di atas sana?" Tanyaku lagi.


"Saat itu Raja turun ke bumi untuk sebuah misi, dan Raja bertemu dengan Ratu yang saat itu sedang menangis di tengah jalan karena patah hati. Raja jatuh hati pada Ratu yang sedang menangis itu, dan karena tidak tega akhirnya Raja membawa Ratu ke kerajaan kami. Setelah sampai di atas Raja meminta Ratu untuk berhenti nangis. Dan betapa terkejutnya Ratu saat dia sudah berada di atas sana. Raja Wren berbohong kepada Ratu dan berkata bahwa mereka sedang ada di surga. Dan Ratu baru mengetahui itu belum lama ini. Murka sekali saat Ratu tau bahwa ia di bohongi selama puluhan tahun." Kata Rue bercerita.


Aku bisa membayangkan bagaimana Ratu Edwina marah, dia pasti mirip sekali dengan anaknya.


"Lalu, kenapa Lea tidak boleh menjadi manusia? Sedangkan Ratu Edwina manusia." Tanyaku lagi.


"Karena manusia tidak abadi. Mereka akan mati, tapi kami tidak." Jawab Rue.


"Kalau kalian tidak mati, bagaimana dengan ramalan itu? Ramalan yang menyebutkan kalau Lea akan mati?" Tanyaku.


"Lea akan abadi saat usianya 25 tahun, masih 4 tahun lagi bagi Lea untuk bisa hidup abadi. Makanya Ratu dan Raja melarang keras Lea turun ke bumi." Jawab Rue.


Luar biasa sekali. Aku seperti membaca novel Twilight itu, dimana si wanita ingin menjadi vampir. Tapi masa aku menjadi peri? Aku membayangkan diriku membawa tongkat berbintang dan mempunyai sepasang sayap, itu akan terlihat konyol sekali dan menghancurkan reputasiku.


"Apakah Ratu Edwina abadi? Dan berarti Lea itu setengah manusia?" Tanyaku mulai memahami sedikit latar belakang Lea.


"Aku tidak tau apakah Ratu sudah abadi atau belum. Aku tidak tau prosesnya. Dan bagaimana pernikahanmu?" Tanya Rue.


Ah, benar aku jadi ingat tentang pernikahanku yang mendadak ini.

__ADS_1


"Aku sedang menunggu Brad. Lea memintaku untuk tidak pergi bersamanya. Dia ingin membuat ini sebagai sebuah kejutan." Jawabku.


Ya, dia ingin pernikahan kami seperti pernikahan biasa, tapi itu tidak mungkin kan? Dengan segenap penghuni langit ke pernikahan kami tidak mungkin akan terlihat seperti pernikahan manusia pada umumnya. Tidak ada manusia menikah dengan dihadiri oleh duyung, para peri dan malaikat kematian.


Aku tidak bisa tenang, hanya dengan terus berbicara aku dapat mengalihkan perhatianku.


***


Din...din


"Max! Masuklah." Brad datang menjemputku, dan dia menatapku heran.


"Kamu mau menikah atau mengajak duel sih? Mana tuksedo atau jasmu?" Tanya Brad kesal.


"Aku segera mengambilnya. Ayo Rue!" Sahutku menarik jas Rue untuk menemaniku.


Jantungku tidak berhenti berdetak, bagaimana kalau aku tiba-tiba dibawa oleh Anthem di tengah pemberkatan itu? Tidak...tidak! Berpikirlah yang baik-baik Max! Aku akan berbulan madu bersama Lea, aku akan mengajaknya ke pantai atau melihat gunung, pasti akan indah dan menyenangkan sekali.


"Kamu pasti akan terkejut melihat Lea. Dia cantik sekali Max." Tukas Brad saat kami di perjalanan menuju tempat pemberkatan pernikahanku dan Lea.


Membayangkan Lea mengenakan gaun pengantin, hatiku sedikit tenang. Tapi begitu mengingat ayahnya akan datang kembali jantungku berdetak kencang.


"Kami tidak seperti kami, Max. Tenang saja." Kata Rue menenangkan.


"Apa maksudmu kalian tidak seperti kalian?" Tanyaku heran.


Benar juga, tidak mungkin ayah Lea membawa tongkat kebesarannya ke pesta pernikahan putrinya bukan?


Sesampainya disana, aku benar-benar terkejut. Kami disambut di depan gerbang manis berwarna putih yang dihiasi dengan daun-daun bergelantungan.


Tidak ada yang aneh saat aku memasuki gerbang itu, sampai Brad menyeretku untuk merapikan pakaianku, "Max, dengarkan aku. Ini hari besarmu. Lea akan menjadi milikmu selamanya dan aku telah merelakan Lea kepadamu. Sampai kamu membuatnya menangis aku tidak akan segan mengambil Lea darimu." Kata Brad berbisik.


Aku menatapnya, "Brad, jika terjadi sesuatu kepadaku, aku titipkan Lea kepadamu." Ucapku bersungguh-sungguh. Aku sendiri tidak tau mengapa aku berbicara seperti itu.


Brad meninjuku, "Ini hari bahagiamu Max, janganlah suram seperti itu." Sahut Brad, "bersiaplah. Kita akan berjalan ke altar." Ucap Brad lagi menguatkanku.


Brad berjalan di sisiku sebagai waliku, "Brad. Terimakasih." Sahutku berbisik.


Brad menepuk punggungku dan memegang lenganku.


Musik Canon In D mulai mengalun, aku berjalan dengan langkah pasti dan kulewati deretan kursi tamu, sejauh ini tidak ada yang aneh.


Sampai aku bertemu Anthem, dia melambaikan tangannya kepadaku dan tersenyum ceria. Hari ini dia tampan dan tidak terlihat seperti malaikat kematian.


Aku terus melangkah dan aku melihat Lea sangat sangat cantik dengan menggunakan gaun putih panjang dengan sarung tangan putih menutupi kedua lengannya dan ditambahkan entah aksesoris atau memang itu sayapnya sendiri.

__ADS_1


Segala keraguanku hilang, segala ketakutanku sirna dan aku hanya menatap Lea yang ada di depanku.


Ketika aku sudah tiba di depan altar dan berdiri di sampingnya, aku baru sadar ayah Lea serta ibunya sedari tadi mengapitku dan Lea.


Lea tersenyum cantik dan menggenggam tanganku, "Hai Max." Sapanya dengan manis.


"Hai, kamu cantik sekali hari ini Lea." Ucapku.


Tidak ada pemuka agama yang memimpin pemberkatan ini tapi ada suara bergaung yang entah datang darimana memimpin upacara pemberkatan ini.


Acara pemberkatan berlangsung dengan khidmat walau pun pemimpinnya tidak terlihat. Hingga sampailah kami pada pesta pernikahan.


Aku melihat berkeliling, dan kulihat para duyung termasuk Meltem berdansa di depan kami. Dan aku bertanya kemana ekor mereka?


Seolah membaca pikiranku, Raja Wren mendekatiku dan berbisik, "Kami hanya punya waktu 60 menit berada di bumi dan menjadi manusia. Dan bersukarialah Max, yang memimpin pemberkatan pernikahan kalian tadi adalah Sang Penguasa langsung. Aku memintanya sebagai temanku." Kata Raja Wren.


"Uhuk! Uhuk! Apa? Pe.. Penguasa?" Tanyaku tak percaya tapi anggukan pasti dari ayah Lea berhasil meyakinkanku kalau itu nyata.


Aku tidak mungkin bisa selingkuh atau melirik wanita lain atau bahkan mendebat Lea. Luar biasa memang mertuaku ini.


Pesta kami berlangsung meriah dan Lea tampak bahagia sekali. Hingga waktu mereka habis,


"Time's up!" Seru Raja Wren dengan suaranya yang menggelegar.


Dan mereka satu per satu berpamitan kepadaku dan Lea. Tak lupa Seidna serta Sirine memberikan kecupan perpisahan kepada Brad. Setelah itu mereka menghilang dan meninggalkan kepulan asap.


***


"Jadi?" Tanyaku pada Lea di malam pertama kami.


"Jadi?" Jawab Lea tersenyum.


"Kita akan membuat anak malam ini?" Tanyaku.


Lea mengangguk. Wajahnya tampak memerah di bawah sinar temaram ruangan kami. Lea menciumku lembut, selalu ia yang pertama menciumku.


Aku membalas ciumannya.


Lea berbisik, "Max, berjanjilah kita akan melakukan ini setiap pagi, setiap malam sampai kita berhasil membuat seorang anak. " Pintanya.


"Apa itu tidak terlalu banyak? Apa kamu tidak lelah?" Tanyaku memikirkan umurku.


Lea menggeleng, "Tidak Max. Aku tidak akan pernah puas bersamamu. Dan berhentilah berbicara kita akan memulai malam ini." Kata Lea menggodaku.


Baiklah, lupakan umur, lupakan kerutan di wajah dan rambut yang mulai memutih karena aku akan menikmati setiap detikmu bersama Lea.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2