Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Don't Be Selfish


__ADS_3

Lea POV


Aku membawa Matt ke tempatku, Kerajaan Awan. Aku ingin dia melihat Hades. Karena siapa pun yang berani mempermainkanku, nasibnya akan berada di bawah kakiku. Tak terkecuali dengan Matt.


Sesampainya disana, aku menarik Matt menuju pantai oara duyung.


"Nona Lea, dan wow, siapa ini?" tanya Sirene yang sudah siap menyambut kami.


Sirene satu-satunya duyung yang ingin sekali turun ke bumi. Pantai kami ini bersambungan dengan salah satu pantai yang ada di bumi.


Sirine juga selalu menungguku dan cerita-ceritaku tentang bagaimana bumi dan isinya. Suatu hari dia berkata bahwa dia ingin bertemu dengan salah seorang pria bumi dan menikah dengannya.


Namun sayangnya, Meltem melarangnya karena Meltem pernah meramal nasib Sirene, jika ia bersikeras turun ke bumi dan bertemu dengan pria bumi maka nasibnya akan sama seperti Ariel. Ia kan menjadi buih dan mati.


Tidak heran si Rene selalu antusias melihat Max atau Matt yang baru saja datang dari bawah.


"Kenalkan dia Matt, tapi Max berada di dalam tubuhnya," sahutku.


Kedua mata siren membesar saat aku mengenalkan met kepadanya. "Benarkah itu? Apakah dia Max si mafia?" tanya Sirene tertarik.


"Aku kesini mencari Hades, Sirine. Di manakah dia?" tanyaku.


"Sebentar," kata Sirine kemudian ia menceburkan dirinya ke dalam lautan dan keluar lagi dengan membawa seekor kepiting berwarna hitam.


Aku memperlihatkan kepiting itu kepada Matt. "Kamu tahu siapa dia, Matt? Dia adalah Hades, dia yang membawamu untuk menghianatiku dan lihatlah sekarang bagaimana nasibnya. Aku ingin kamu tahu siapapun yang berada di alam semesta ini mempermainkanku maka dia akan berada di bawah kakiku selama-lamanya," kecamku kepada Matt.


Aku tidak pernah marah kepada Matt, hanya saja Aku ingin dia tahu kalau saat ini dia telah menyakitiku dan membuatku sangat marah. Ketika aku dalam posisi sangat marah, aku tidak akan menjadi pixie seperti kata Anthem, aku hanya akan diam dan melenyapkan mereka yang menyakitiku.


Matt menatapku ketakutan. Sebenarnya bukan itu yang kuharapkan, bukan maaf juga yang kuharapkan. Aku mau dia berjanji kalau dia tidak akan mengulangi hal seperti kemarin lagi. Dan janjinya adalah janji orang dewasa yang tidak akan dilanggar apapun alasannya.

__ADS_1


Begitu kan janji manusia dewasa?


Aku ingin dia dewasa, karena aku ingin menikah dan hidup bersamanya sampai aku tua nanti. Atau katakanlah jika aku tidak bisa menua paling tidak kami terpisahkan oleh waktu. Itu hubungan yang lama sekali bukan?


Aku memegang kepiting hitam itu dan berkata, "Hades, Apakah kau cukup nikmat jika diberikan saus padang atau ditambahkan bumbu asam manis dengan bawang bombay yang cukup banyak atau hanya aku jadikan sup bersama dengan asparagus? Tapi aku rasa kamu tidak nikmati apa-apakan! Kembalilah!" Aku melemparkan hadits kembali ke dalam lautan. Dan duyung-duyung itu dengan cepat menangkapnya dan menjadikannya seolah ia bola pantai.


Aku bisa lihat tatapan matanya yang melirik ke kanan dan ke kiri meminta pertolongan.


"Ikuti aku, Matt!" perintahku.


Aku mengajak Matt duduk di bawah jembatan pelangi karena disanalah tempat ternyaman untuk berbicara.


"Apakah kamu mau bertanya apa maksudku memperlihatkan ini semua kepadamu?" tanyaku.


Matt menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tahu kamu memperlihatkan ini kepadaku hanya untuk menunjukkan bahwa kamu marah kepada Hades dan aku rasa kamu tidak sekedar menakutiku atau mengancamku. Mungkin kamu ingin aku tahu kalau kamu mau memaafkanku. Tebakanku benar atau tidak?" tanya Matt.


Inilah yang aku sukai dari Max, ia pandai dan cukup cerdas dan dia mampu mengenal isi hatiku dengan baik.


"Kata siapa aku memaafkanmu? Jika aku seorang manusia aku tidak akan memaafkanmu, Matt," jawabku.


Dan inilah saat yang paling aku takutkan. Pembicaraan mengenai hubungan dan masa depan. Aku ingin menikah dengannya tapi sepertinya dia tidak ingin menikah denganku.


Aku tidak bisa menatap matanya saat ini dan aku hanya memperhatikan air terjun pelangi yang ada di depanku saat ini. Aku juga menyibukkan diriku menyapa para peri bunga yang lewat di depan kami.


Aku ingin memulai percakapan tentang hubungan kami tapi aku terlalu takut. Saat menatap Matt sepertinya tidak ada aku di masa depannya.


Tapi aku harus berani kan supaya aku tahu apa yang harus aku lakukan dengan hubungan kami. Jadi aku akan memulainya saat ini untuk bertanya tentang kelanjutan hubungan kami.


"Matt, bagaimana menurutmu tentang hubungan kita?" Aku memberanikan diriku untuk bertanya kepada Matt tanpa menatap matanya.

__ADS_1


Matt berdeham. "Ehem! Bagaimana menurutmu?" Matt balik bertanya kepadaku.


"Kalau kamu bertanya seperti itu kepadaku, aku butuh waktu untuk menata kembali hatiku. Apa kamu tahu bagaimana rasa sakitnya hatiku ketika melihatmu berciuman dengan wanita lain. Aku pikir ciumanmu hanya untukku tapi ternyata kamu memberikannya untuk wanita lain juga. Dan aku pikir aku cukup spesial karena bisa mendapatkan ciuman itu darimu tapi ternyata itu semua salah, kan?" ucapku.


Matt mengangguk. "Maafkan aku karena telah menyakitimu. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya kepadamu. Saat itu aku merasa itu bukan aku. Dan mengenai ciuman itu aku melakukannya tanpa sadar dan saat ini pun aku benar-benar tidak mengingat bagaimana rasanya. Mungkin itu yang membedakan kamu dengan wanita itu," jawab Matt berusaha menjelaskan dan meminimalisir kemarahanku.


"Aku tidak mau disamakan dengan wanita seperti itu. Jawablah pertanyaanku, kamu mau apa dari hubungan kita ini?" tanyaku.


Matt mengangkat bahunya. "Aku hanya perlu kamu memaafkanku setelah itu aku akan membiarkanmu untuk memutuskan bagaimana hubungan kita nantinya." jawab Matt.


Ciri khas manusia! Malas berusaha, ataukah memang dia tidak ingin bersama denganku? Itu mengerikan kalau ternyata seperti itu.


"Matt, apakah kamu ingin bersamaku?" aku kembali bertanya, kali ini pertanyaannya aku sederhanakan. Mungkin saja pengaruh Hades masih melekat padanya.


Matt menatapku. "Ya, aku ingin bersamamu. Bahkan kalau tersisa kamu dan ratu kecantikan di dunia ini, aku akan tetap memilihmu, Lea. Yang perlu kamu tahu adalah aku seorang manusia yang tak lepas dari salah baik disengaja maupun tidak disengaja," jawab Matt.


"Kesalahan seperti kemarin mungkin akan terulang lagi misalkan jika aku mengalami masalah dan aku pergi ke klub malam kemudian aku minum dan mabuk, aku bisa saja melakukan hal seperti kemarin karena aku manusia biasa," jawab Matt.


Pernyataan yang mengandung pembelaan diri yang sangat besar. Dan aku tidak menerima alasan seperti itu. Karena menurutku, ketika kita sudah berkomitmen untuk menjalani sebuah hubungan maka kita juga harus berkomitmen untuk menjauhi hal-hal yang membuat pasangan kita sakit hati baik itu kalian manusia atau bukan. Aku rasa semua akan melakukan hal itu.


"Ucapanmu sangat bodoh, Matt. Kamu ingin bersamaku tapi kamu tidak ingin melewatkan semua kesenanganmu. Kalau kamu seperti itu aku tidak bisa bersama denganmu. Aku akan mengembalikanmu setelah itu jangan bertemu denganku lagi!" ucapku kesal.


Pria egois ini! Kenapa dia berbeda dengan Max yang dulu! Apakah Hades benar-benar telah membangkitkan sisi gelapnya!


Kali ini aku kesal, dan aku menjatuhkan Matt dari atas! Biarkan Rue atau Anthem yang akan menangkapnya!


"Le...Lea! Waaaaaaa!"


Aku masih mendengar teriakan Matt dari atas sini dan aku tidak peduli.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2