Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Immortal


__ADS_3

Max POV


Aku memutuskan untuk mengarungi Api Penyucian yang ternyata sangat panas ini. Bagaimana cara Lea menyelamatkanku waktu itu? Dan bagaimana dia bisa mengenaliku di antara ribuan jiwa-jiwa yang melayang-melayang di sekitar sini dengan pekikan dan rintihan mereka yang memekakan telinga?


Aku terus mencari Lea di dalam sana, aku tidak peduli dengan panasnya atau jiwa-jiwa yang menarikku. Aku harus segera menemukan Lea dan mengeluarkannya dari sini.


Kulitku semakin terasa terbakar, aku rasa aku akan mati sebelum aku menemukan Lea. Sekarang aku mengerti kenapa mereka bilang tidak ada yang bisa keluar hidup-hidup dari sini.


Suara Anthem yang bergaung menyadarkanku, "Max, kamu sudah dua menit berada di dalam sana. Aku akan segera menyiapkan benang kehidupanmu." Katanya lantang.


Waktu cepat sekali berlalu, aku hanya mempunyai sisa waktu lima menit lagi.


Semakin dalam aku mengarungi Api Penyucian itu semakin banyak jiwa-jiwa yang menarik dan mencakarku. Itu membuat tubuhku terasa perih.


Lea, dimana kamu?


Aku menyelam lebih dalam lagi dan aku melihat sekelebat jiwa Lea melayang,


Wush...


Saat aku ingin meraihnya, nafasku tiba-tiba tercekat dan seluruh tubuhku seakan terbakar api, rasanya panas sekali. Aku mencoba meraih tangan Lea, tapi Lea terseret semakin jauh. Aku tidak bisa bertahan lagi.


Dan aku teringat perjanjianku dengan Anthem, kalau aku gagal membawa Lea dalam waktu yang di tentukan, maka aku akan mati. Sebagai gantinya Lea akan selamat.


Di tengah pertarungan dan perjuanganku sendiri, suara Anthem kembali terdengar, "Waktumu habis Max. Aku akan mengambil Lea dan sebagai gantinya aku akan memotong benang kehidupanmu." Ucapnya.


Setelah Anthem berkata seperti itu, tubuhku seperti terseret ke bawah dan kegelapan seakan menelanku.


***


One Year Later


Lea POV


"Ayah, aku bosan!" Sahutku.


"Bermainlah bersama Rue atau Vivi." Jawab Ayahku.


"Tidak bisa kan? Vivi dan Rose sudah menikah dan aku kehilangan teman bermainku." Ujarku menggerutu.


"Aku memintamu untuk menikah juga tapi kamu terus menolak. Jadi, bukan salahku kalau kamu bosan dan tidak ada teman bermain." Kata Ayahku santai.


Aku melihat Ayahku dengan kesal, "Apa Ayah pikir aku akan menikah setelah apa yang terjadi denganku dan... Sudahlah." Tukasku bergegas pergi.


Sudah setahun Max meninggalkanku. Kalau aku mengingat lagi kejadian itu rasanya kesal sekali, betapa bodohnya Max itu. Dia sudah selamat dan hidup malah menggantikanku di Api Penyucian. Entah dia bodoh atau bagaimana aku tidak paham.

__ADS_1


Ayahku pernah berkata bodoh dan berani itu memang beda tipis. Aku tidak tau apakah Max akan kembali? Aku sudah berkali-kali menemui Anthem tapi dia memintaku untuk melupakan Max.


Mana aku bisa!


Selama setahun juga aku tidak boleh turun ke bumi. Namun, ada satu hal yang terjadi selama setahun ini. Seharusnya yang sudah berusia 25 tahunlah yang akan mendapatkan keabadian, tapi Sang Penguasa mempercepatnya untukku. Sehingga di usiaku yang 21 tahun aku sudah mendapatkan keabadian dengan alasan aku menunjukkan keberanian dan cinta sejati.


Aku tidak peduli itu, aku meminta Max kembali kepada Penguasa dan jawabannya sama seperti Anthem. Aku harus melupakannya.


Hingga suatu hari aku meminta ijin kepada Ayah untuk turun ke bumi, "Bolehkan aku turun ke bumi? Aku ingin menemui seorang teman." Jawabku beralasan.


"Siapa? Max belum kembali." Kata Ayah.


Aku mendengus kesal, "Memang temanku hanya Max saja. Aku akan ijin kepada ibu." Ucapku dan mencari ibuku untuk meminta ijin darinya.


"Tidak Lea." Jawab ibu ketika aku menyatakan maksudku yang ingin turun ke bumi.


"Kenapa?" Tanyaku bersikeras.


"Untuk apa kamu kesana? Sudah cukup dengan kejadian kemarin, Lea!" Tukas Ibu.


"Kan musuhnya sudah tidak ada dan lagi aku disana karena ingin bertemu dengan temanku. Aku tidak akan macam-macam dan mencari masalah." Janjiku kepada Ibu.


Ibu terdiam dan berpikir, "Tanyalah pada ayahmu. Kalau ayah mengijinkan, aku juga akan mengijinkanmu turun ke bumi." Kata Ibu.


"Bagaimana Ayah? Ibu bilang kalau Ayah mengijinkanku maka Ibu juga akan memberikanku ijin." Sahutku, kali ini aku sedikit merayu.


"Kenapa seperti itu? Kenapa ibumu tidak bisa memutuskan sendiri?" Tanya Ayah.


"Ayolah Ayah." Pintaku memohon.


"Baiklah, tapi bersama Rue." Kata Ayah.


"Benarkah? Terimakasih Ayah." Sahutku, memeluk Ayahku dan sedikit meledek Anthem yang menggelengkan kepalanya melihat tingkahku.


Beberapa hari kemudian, Rue sudah di panggil kembali oleh Ayah untuk menemaniku turun ke bumi. Entahlah aku tidak tau apa yang ingin kulakukan di bawah sana. Hanya saja seperti ada seseorang yang memintaku turun kesana.


Akhirnya, hari yang dinanti pun tiba. Sebelumnya diiringi oleh drama perdebatan ayah dan ibuku dan diakhiri dengan ibuku yang mengalah sambil menggerutu, "Terlalu memanjakan anak!" Begitu kata Ibu.


Aku mengembangkan sayapku, sekarang dia sudah lebih kuat karena selama setahun aku tidak ada aktifitas jadilah aku hanya bermain dengan sayapku terbang mengelilingi kerajaanku sendiri, kadang aku ikut Ayahku ke tempat Penguasa. Sambil mencari Max di Pengadilan Terakhir. Tapi nama Max setahun ini tidak ada disana, itu berarti Max belum mati bukan?


***


"Sekarang, kemana tujuanmu?" Tanya Rue.


Aku terus berjalan menuju rumah Max, dan tepat di sebrang rumah Max sudah terlihat. Aku mempercepat langkahku untuk bisa segera sampai disana.

__ADS_1


"Lea, jangan katakan kamu mencari Max!" Tukas Rue.


Aku menjejakkan kakiku dengan kesal, "Kamu tau apa yang aku pikirkan setiap detiknya! Kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan setiap menitnya! Dan kamu tau siapa yang aku harapkan datang menemuiku setiap hari, Rue!" Jawabku gemas.


Semua tangisanku selama satu tahun yang telah kupendam dengan baik, kini pecah. Airmataku yang segera berubah menjadi butiran mutiara mulai berjatuhan.


Rue memandangku dan dengan segera ia memelukku. Tanpa kata dan tanpa bicara ia terus memeluk dan mendengarkan tangisanku.


Setelah puas menangis, Rue mengumpulkan mutiara-mutiaraku dan menyimpannya di dalam tas kecil yang selalu ia bawa.


"Aku akan menemanimu. Tapi dia tidak ada disini, Lea." Kata Rue.


Rue benar, rumah Max sudah di penuhi tumbuhan merambat dan rumput-rumput liar. Dengan sekali ayunan tongkatku, aku menghempaskan semua rumput dan tanaman liar itu.


Aku memasuki rumah itu, masih kuingat dengan jelas apa yang terjadi setahun yang lalu disini. Aku melangkahkan kakiku ke dalam, dan melihat setiap ruangan yang ada di rumah itu. Tidak ada yang berubah.


Aku mengangkat semua debu yang menutupi rumah ini. Rue membantuku. Semua barang dan furniture yang ada disini kami perbaharui. Tidak sampai lima menit, rumah ini sedah layak ditinggali kembali.


"Apa kamu akan tinggal disini?" Tanya Rue.


Aku mengangguk, "Untuk sementara ya aku akan menetap disini." Aku menjawabnya.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan menemanimu disini." Jawab Rue tulus.


Malam hari pun segera tiba, disaat aku dan Rue sedang bermain ular tangga (dengan menggunakan ular tangga sungguhan tentunya, aku tidak suka ular tangga milik manusia. Mana asik memainkan itu di atas kertas persegi dan hanya sebuah bidak yang turun dan naik.) Terdengar bel pintu rumah Max berbunyi,


Ting... tong


Ting...tong


Aku melihat Rue, "Apa itu Max?" Tanyaku.


"Bagaimana kalau lebih buruk dari Max?" Rue balik bertanya.


Rue membukakan pintu dengan tongkat siaga di tangan kirinya,


"Halo, oh hai. Kamu Rue kan?" Tanya suara itu.


Aku melongok ke arah pintu, "Siapa itu Rue?" Tanyaku.


Dan orang itu mengenali suaraku, "Tunggu, apakah itu Lea?" Tanyanya.


Hmmm, siapa dia?


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2