
Max POV
Aku membimbing Lea keluar, aku tidak tau apa yang ia gunakan yang terus menyala kecil. Untuk ukuran sebuah senter, sinarnya terlalu terang dan bentuknya terlalu kecil.
Segala sesuatu tentang Lea membuatku tertarik. Dan tiba-tiba saja aku tidak bisa berpaling darinya. Hanya dalam hitungan jam, Lea berhasil mengalihkan duniaku dan menguasai hatiku.
"Duduklah disini!" Aku berseru kepadanya. Aku menarik kursi dan duduk tepat di depan Lea.
Bola mata biru itu masuk ke dalam relung hatiku sampai yang terdalam, dia terus memandangiku.
Aku berdeham salah tingkah, "Ehem! Ceritakan siapa dirimu sebenarnya!"
"Lea." Jawabnya sangat singkat.
"Kamu tidak punya keluarga atau siapa pun yang bisa kamu sematkan sebagai nama belakangmu?" Aku bertanya kepadanya. Tidak nama hanya satu kata saja, kan? Kecuali namaku.
Lea menggelengkan kepalanya. Dan itu membuatku cukup bingung dan berpikir, apakah dia tidak punya keluarga? Sama sepertiku?
"Kamu tidak punya keluarga atau sanak saudara?" Aku bertanya lagi.
Lea mengangguk, "Aku punya tapi mereka jauh sekali di atas awan." Jawab Lea.
Apakah keluarganya sudah meninggal? Astaga, aku tidak terpikir sampai situ, pantas saja Tom menyayanginya sampai rela menggantikan hukuman gadis malang ini.
"Aku turut berduka cita, Lea. Malam ini kembalilah ke tempatmu." Sahutku.
Lea tersenyum, "Berduka cita? Tidak ada yang meninggal di keluargaku." Sanggah Lea.
Apa Lea ditinggalkan saat masih kecil? Sampai ia tidak ingat kepergian keluarganya? Tiba-tiba aku merasa kasihan kepadanya dan spontan saja aku memeluknya.
"Kamu gadis yang kuat Lea. Kamu bisa bertahan di dunia yang berat dan jahat ini." Ucapku sambil menepuk-nepuk pucuk kepalanya.
"Malam ini aku akan mengantarmu kembali kepada Tom. Besok pagi atau kapan pun kamu merasa kesepian, datanglah kemari." Sahutku untuk menghiburnya.
Lea menatapku dengan bingung, "Apa yang kamu bicarakan? Terimakasih karena sudah mengijinkanku kembali kepada Tom." Kata Lea bangkit berdiri.
"Kamu mau kemana?" Aku bertanya kepadanya. Karena sekarang dia membuatku bingung.
"Ke tempat Tom." Jawab Lea singkat seperti biasa.
Aku tersenyum, "Apa kamu mau kembali sekarang?"
Lea menggeleng kemudian duduk lagi, "Kenapa kamu bekerjasama dengan Nelson? Apa kamu tau bagaimana orang-orang menjerit karena peraturan baru ini?" Tanya Lea.
Aku menatapnya terpesona, "Woaah, hahaha. Pertanyaanmu luar biasa sekali. Tapi maaf itu bukan urusanmu." Jawabku.
"Tentu saja ada urusannya denganku karena aku seorang pekerja di kedai Tom. Dan Tom mengeluh kepadaku, terutama ceritanya tentang istrimu yang suka seenaknya sendiri itu." Jawab Lea
Mau tidak mau aku mengagumi keberaniannya dalam menyampaikan isi hatinya.
"Baiklah, apa keluhanmu?" Tanyaku.
"Oke, yang pertama adalah turunkan pajak karena kami juga harus membayar iuran keamanan yang sangat tinggi. Untuk apa kamu menarik pajak jika kami masih harus membayar uang keamanan? Belum lagi anak buahmu yang siap mengacak-ngacak jika kami telat membayar, apa kalian tau jumlah pengunjung di kota ini berkurang karena takut kepada orang jahat?" Jawab Lea menjelaskan.
__ADS_1
Aku tersenyum, "Aku akan mencoba berdiskusi dengan Nelson. Kuakui ucapanmu sangat benar. Aku hanya malas berdebat dengan Nelson."
"Kenapa kamu mau berteman dengannya kalau dia orang jahat? Apa yang kamu dapatkan darinya?" Tanya Lea lagi.
"Lantas apa yang akan kudapatkan kalau aku berteman denganmu?" Aku balas bertanya.
"Yang sudah pasti akan kamu dapatkan adalah keajaiban." Lea menjawabnya tanpa ragu.
Aku tertawa kecil, "Apa kamu seorang penyihir?"
Lea mengeluarkan tongkat kecil berwarna putih dengan bintang di ujungnya, kemudian dia menyalakan ujung tongkatnya hanya dengan sekali ketuk.
Dan dengan tatapan matanya tongkat itu padam kembali. Lea menatapku lagi, "Kamu sudah melihat airmataku yang berubah menjadi mutiara bukan?" Tanya Lea.
Aku terkesima mendengar ceritanya, entahlah apakah aku harus percaya atau tidak.
"Anggaplah aku percaya kepadamu. Berarti kamu juga memantraiku untuk menciummu seperti yang tadi kulakukan?" Tanyaku.
Lea menggelengkan kepalanya, "Tidak. Rasa cinta itu selalu datang alami. Aku tidak pernah memantraimu untuk suka padaku, tapi aku tadi memberikan mantra supaya kamu mengingatku kembali." Jawab Lea.
"Kapan itu? Apakah saat aku tertidur?" Aku bertanya lagi sambil mengingat kapan kiranya Lea mengambil sehelai rambutku atau bagian dari tubuhku atau apa pun itu.
"Ya, saat kamu menemaniku tidur. Tapi sihir atau mantra jaman sekarang tidak perlu mengambil rambut atau apa seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak menyakitimu." Jawabnya santai.
Aku menghela nafas lega, "Baguslah kalau seperti itu. Aku akan mengantarmu ke tempat Tom." Sahutku, dan mengulurkan tanganku untuk membantunya.
Lea menatapku tersenyum dan meraih uluran tanganku, "Terimakasih." Katanya.
Wush!
"Lea, ayahmu memintamu untuk kembali." Kata pria itu dengan suara berat.
"A...ayah? Bu..bukan itu! Maksudku, siapa kamu? Dan kamu masuk darimana?" Tanyaku. Jujur saja aku bingung apa yang sedang terjadi disini.
"Bukankah Lea sudah memberitahukan kepadamu kalau kami seorang penyihir? Maksudku bukan penyihir yang menyeramkan seperti itu. Kami tergabung dengan para Peri, lihatlah,"
Gruwwth.
Sepasang sayap tiba-tiba muncul dari punggung belakang pria itu.
Dan dengan bangganya dia menunjukkan sayap milik Lea, "Lea juga memiliki sayap hanya saja sayapnya akan hilang saat turun ke bumi." Katanya.
"Sebelumnya kamu sudah mengetahui tentang kami, Max." Sahut Lea.
Pria itu melepaskan pegangan tanganku dan Lea, kemudian mengambil alih tangan Lea, "Pulang sekarang!" Katanya menarik tangan Lea.
Lea melepaskan pegangan tangan pria itu, "Aku tidak mau!" Seru Lea.
"Ayah dan ibumu mencarimu dan ingin berbicara denganmu!" Tukas pria itu tegas.
"Tu...tunggu dulu. Bukankah ayah dan ibu Lea sudah meninggal?" Aku bertanya dan setelah itu aku merasa sangat bodoh.
"Aku tidak pernah mengatakan orangtuaku meninggal." Jawab Lea.
__ADS_1
"Katamu orangtuamu berada jauh sekali di atas awan?" Ucapku.
"Memang. Kami berasal dari negri di atas awan, tapi keluargaku masih sehat dan hidup bahagia." Jawab Lea tersenyum, "apa yang membuatmu berpikir orangtuaku meninggal?" Katanya tertawa geli.
"Seseorang katakanlah kepadaku bahwa aku bermimpi." Aku menyahut.
Lea dan pria tegap itu menyubitku, "Aw!" Seruku.
"Kamu tidak bermimpi. Ikut saja dengan kami. Orangtua Lea sudah mengenalmu dengan baik." Kata pria berbadan tegap itu lagi. Baiklah, aku akan bertanya siapa namanya.
"Siapa namamu?" Aku bertanya kepada pria itu.
"Bagaimana dia bisa lupa namaku? Ah, mantra melupakan. Namaku Rue." Jawab Rue.
Nama yang aneh.
"Ayolah, kembalilah dulu setelah itu kamu bisa turun lagi ke bumi." Perintah Rue.
Lea menggelengkan kepalanya, "Tidak. Bagaimana dengan Tom? Aku bekerja dengannya sekarang." Sahut Lea.
"Dia tidak akan menyadarinya. Ikut aku!" Rue sekarang setengah memaksa Lea.
Aku menengahinya, "Tu...tunggu dulu. Apakah dia harus kembali?" Tanyaku.
Rue mengangguk, "Tentu saja. Orangtuanya ingin berbicara dengannya. Atau kamu ikut sajalah dengan kami, dengan begitu Lea akan kembali tanpa paksaan." Katanya, kemudian ia menaburkan sesuatu mirip bubuk susu berwarna emas, dan itu membuat hidungku gatal.
"Haachim!"
Syut!
A...aku terbang! Tidak mungkin! Seseorang bangunkanlah aku dari mimpiku!
"Lea, susul kami! Aku membawa Max ke atas." Kata Rue.
"A...atas mana?" Aku bertanya dengan gugup.
"Atas awan. Kemana lagi. Kalau takut berpeganglah pada sayapku." Sahut Rue santai.
Dan benar saja, Rue menarik tanganku atas dan semakin ke atas menembus langit malam. Aku menengok ke bawah yang tampak hanyalah Lea yang sepertinya sedang mengomel dan awan bergerak perlahan. Aku kembali mendongak ke atas, kami membelah awan dan tampaklah sebuah bangunan. Tidak, bukan bangunan! Istana yang megah dan sangat besar.
Dan kemudian Rue menurunkanku tepat di atas awan putih kecil dan membawaku ke pintu istana.
Seorang pria tua tinggi dan besar dengan janggut menjuntai seperti Santa Claus datang menyambut kami,
"Halo Max!" Sapanya dengan suara yang sangat besar dan dalam.
King Triton!
Aku lemas dan tiba-tiba semua menjadi gelap. Cahaya berkilauan itu menghilang dan meninggalkanku dalam kegelapan.
Mimpi yang sangat aneh.
...----------------...
__ADS_1