
Matt POV
Ah, aku ingin bercerita kepada kalian tentang hari-hariku di tempat Anthem. Itu pengalaman yang luar biasa sekali.
Saat aku gagal menarik Lea keluar dari Api Penyucian, jiwa-jiwa aneh dan kosong itu menarikku senakin ke dalam, dan saat kupikir aku akan mati ternyata tidak.
Aku terbangun keesokan harinya hanya dengan memakai jubah kain berwarna putih dan aku memiliki sepasang sayap.
"Hai bodoh." Sapa Anthem saat itu.
Aku memegang seluruh tubuhku dan kemudian aku bisa terbang serta mempunyai sayap.
"Tunggu! Apakah aku sudah mati? Aku melihatmu dan dimanakah aku? Aku bersamamu? Apakah aku tidak berada di dalam taman di surga?" tanyaku.
Anthem memandangku dengan tatapan mengejek, "Sudah kukatakan itu akan panas, dan kamu berkata kamu tetap ingin me...."
"Lea! Bagaimana dengan Lea! Apakah dia selamat? Aku melihatnya, namun aku...aku..." Aku menenggelamkan wajahku.
"Dia selamat bagaimana pun dia bukan manusia, Max apalagi ayahnya sahabat dekat Penguasa. Bisa kiamat bumi ini jika mereka bertengkar. Kamu tau itu?" kata Anthem.
Aku memikirkan ucapan Anthem, apa seharusnya aku tidak mencoba menyelamatkan Lea? Sehingga kami bisa kembali seperti dulu? Ada perasaan menyesal yang dengan cepat masuk ke dalam relung hatiku.
"Anthem, bisakah aku bertemu Lea?" tanyaku.
Anthem menggoyangkan jarinya, "No, dia sedang menjalani masa pemulihan dan aku tidak tau mereka memiliki semacam ritual atau semacamnya. Lea akan di jadikan abadi oleh orangtuanya seperti itulah." jawab Anthem.
Abadi? Apakah Lea tidak akan menjadi manusia? Lalu bagaimana dengan hubungan kami? Aku menarik nafas panjang. Aku pikir jika aku mati dan menyelamatkannya, dia akan di bumi dan menjadi manusia tapi ternyata semua perkiraanku meleset jauh.
"Proses kami untuk menjadi manusia itu panjang, Max dan mungkin menyakitkan. Manusia mempunyai rasa yang kompleks. Mereka sedih, marah, bahagia, senang, takut, bingung dan segalanya. Sedangkan kami hanya merasakan senang atau sedih. Marah hanya sedikit, kami tidak pernah takut dan kami tidak pernah bingung. Dan ketika kami turun ke bumi, segera saja perasaan kompleks manusia mempengaruhi kami." jawab Anthem lagi.
"Apa kamu ingin menjadi manusia?" tanyaku kepada Anthem.
Anthem menggeleng, "Aku tidak akan menjadi manusia kecuali keajaiban dan mukjizat turun ke atasku." tukasnya sombong.
"Cih! Jadi dimanakah aku berada saat ini? Apakah aku sudah mati?" tanyaku.
"Tubuhmu iya, jiwamu belum. Penguasa belum menghendaki kamu mati, Max. Jadi daripada kamu melayang-layang di bumi tanpa tujuan yang jelas, Dia memperkerjakanmu selama 365 hari full tanpa istirahat." jawab Anthem.
__ADS_1
Apakah maksudnya aku menjadi hantu gentayangan? Mengerikan sekali.
"Lalu apa yang harus aku kerjakan disini? Dan dimana tubuhku? Jadi sekarang aku hanyalah jiwa?" tanyaku masih belum paham.
Anthem mengangguk, "Tubuhmu ada disana, berputar-putar di dalam sana. Tidak ada manusia kuat dengan panasnya Api Penyucian, Max. " ujar Anthem.
"Tugasmu adalah membantuku, kamu harus menginput jiwa manusia yang aku bawa. Jika jiwa itu tidak mempunyai dosa yang berat maka bawa dia ke atas. Tapi jika jiwa itu memiliki dosa yang berat dan sangat berat, masukan dia ke dalam api." ucap Anthem lagi memberikan penjelasan tentang pekerjaanku nantinya.
"Lalu bagaimana dengan tubuhku? Apakah aku bisa kembali ke bumi? Atau aku akan disini selamanya?" tanyaku.
"Tubuhmu? Kamu mau lihat tubuhmu? Aku akan perlihatkan kepadamu." Anthem berjalan ke arah Api Penyucian dan mengucapkan satu mantra dan tubuhku terangkat dalam keadaan yang sangat mengerikan. Anthem tidak menasukannya kembali melainkan melemparkan tubuhku ke suatu tempat, "Toh kita akan membuangnya cepat atau lambat." ucapnya santai.
Aku terkejut dan memandangnya tak percaya, "A...apa yang kamu lakukan terhadap tubuhku, Brengsek!" sahutku kesal.
"Semua ketampananmu, kegagahanmu, tidak akan ada artinya disini Max karena pada akhirnya mereka akan membusuk dan hilang. Aku menghilangkannya lebih cepat. Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku." jawabnya tanpa beban.
"Tapi itu tubuhku! Bagaimana aku kembali jika aku tidak memiliki tubuh, Anthem! Jawab aku!" Aku berseru kepadanya, mengguncang tubuh Anthem yang bersayap.
Dia memandangku dingin, "Menangislah selagi kamu masih bisa menangis. Sampai air matamu berubah menjadi darah pun tubuhmu tidak akan kembali. Ini yang kamu mau kan? Kamu ingin menukar nyawamu dengan Lea? Apa kamu lupa dengan permintaanmu? Penguasa sudah mengabulkan permohonanmu. Dan sekarang kamu marah karena aku membuang tubuhmu? Apa kamu merasa lega saat aku berkata kamu belum mati? Apa yang kamu harapkan Max? Kembali seperti sedia kala? Enak sekali! Semua manusia sama itu sebabnya aku membenci kaum kalian, dan kamu tau mengapa aku selalu menjadi Malaikat Teladan? Karena aku melakukan pekerjaanku dengan sukacita. Aku menjemput jiwa manusia yang bodoh dan terlalu banyak mengeluh dan aku menikmati semua emosi mereka!" jawab Anthem.
Ucapannya membuat aku sadar, ya aku yang memohon kepadanya untuk menukar jiwaku dengan Lea. Dan sekarang permohonanku sudah di kabulkan, kenapa aku mengeluh? Baguslah aku tidak mati dan masih ada kemungkinan untuk bisa kembali ke bumi entah bagaimana.
"Aku mengirimkan tagihan sayap." kata Castiel suatu hari.
"Maaf, tagihan apa? Aku tidak pernah berhutang kepada malaikat mana pun disini." tukasku.
"Sayapmu. Itu masih hutang statusnya. Kamu menyewa sayap sampai kamu bereinkarnasi nanti." jawab Castiel.
"Cepatlah waktuku tidak banyak, aku harus menjaga seorang manusia yang mengalami lemah jantung." serunya.
"Dengan apa aku membayarnya?" tanyaku tidak paham.
"Kebaikanmu." jawab Castiel.
"Hah? Apa? Bagaimana?" Aku kembali tercengang dengan jawabannya.
Castiel mengibaskan tangannya tak sabar kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam diriku, "Aku ambil semuanya. Dan ini bisa terpakai untuk, hah? Hanya 2 bulan? Kamu baru membayar 2 bulan. Sedikit sekali kebaikanmu." tukasnya sambil lalu.
__ADS_1
Aku tidak mengerti sama sekali apa yang baru saja terjadi, aku kembali mendata jiwa-jiwa yang akan aku masukan ke dalam Api Penyucian.
"Nelson. Hei, Nelson! Aku mengenalmu." Aku melihat jiwa Nelson dan dia sama terkejutnya denganku,
"Max! Kamu sudah mati juga? Hahaha, karena Hunter atau Don Bradley?" tanya Nelson puas.
"Tidak keduanya. Dan siapa itu Don Bradley?" tanyaku.
Nelson menatapku tak percaya, "Kamu tidak tau? Hunter hanya capo, Max! Temtu saja setiap capo mempunyai seorang Don kan? Don Bradley, aku juga tidak terlalu mengenalnya tapi menurut Hunter dia mengenalmu. Hahaha, siapa yang tidak mengenal Don Maximilian bukan?" jawab Nelson.
Aku pikir saat itu dia sedang meracau sampai aku ingat tentang Brad! Orang yang aku anggap sebagai sahabatku. Apakah ternyata dia seorang mafia juga? Aku mengingat-ingat pertemuan pertama Lea dengannya.
Apakah ada yang terlewat?
"Hei Max." sahut Nelson lagi.
"Ada apalagi?" tanyaku.
"Aku harus kemana?" tanya Nelson.
Aku lupa.
"Masuklah." ucapku menunjuk ke dalam Api Penyucian dan meminta Nelson masuk ke dalam.
Bradley? Brad? Aku menuliskan nama itu ke sebuah kertas supaya aku bisa mengingatnya.
Saat Anthem tiba, aku menghampirinya dan meminta bantuan Anthem untuk mencari Brad.
"Jika kamu turun ke bumi lagi tolong bantu aku mencari orang ini." pintaku kepada Anthem.
"Aku sibuk." tukasnya.
"Ah, ayolah." aku terus membujuknya.
Akhirnya Anthem mengambil kertas dari tanganku, "Aku akan meminta bantuan kepada Rue kalau dia di perkenankan keluar oleh orangtuanya." sahut Anthem lagi.
Aku menghela nafas lega, tunggulah aku Brad aku akan segera menemuimu. Nama Brad kutuliskan di dalam otakku supaya suatu saat nanti aku tidak akan melupakannya.
__ADS_1
...----------------...