
"Kenapa kalian membohongiku!" Tukasku. Bisa-bisanya aku dibodohi oleh dua pria ini!
"Le... Lea dengar dulu. Aku bisa men...waaaaa...turunkan aku Lea!" Teriak Rue ketakutan.
Aku melayangkan Rue ke udara dengan mantra pelayang yang sudah sangat kukuasai dari saat aku belum berbicara. Sudah tau aku sehebat dan sedahsyat itu harusnya Rue jangan main-main denganku!
Aku mengalihkan pandanganku ke arah Max. Max menelan salivanya dengan kasar, "I...itu ide Rue. Bu...bukan ideku.. Le...Lea...waaaa...Le...Lea!"
Pagi ini mereka boleh menang melawan capi atau capo tapi mereka tidak akan menang melawanku!
Aku sengaja keluar ke arah taman, untuk menunjukkan kepada anak buah Max kalau mereka tidak bisa membodohiku.
"Lea maafkan aku. Turunkan aku. Ini akan dilihat orang." Pinta Max memohon.
Aku melihat ke atas, memandangnya, "Kalau kamu sudah tau akan seperti ini kenapa membohongiku?" Tanyaku ketus.
"Aku tidak mungkin membiarkanmu ikut campur. Ini masalah pria." Jawab Max.
Pria dan wanita apa bedanya! Banyak alasan! Aku membuat ledakan seperti kembang api di belakang mereka dengan kedua mataku, mereka menjerit ketakutan.
"Lea...Lea..maafkan kami." Seru Max lagi.
"Namamu akan tercatat di daftar penyalahgunaan kekuatan sihir, Lea. Sadarlah!" Kata Rue.
Oh iya benar juga! Aku menurunkan mereka berdua,
Bruk!
Bruk!
"Ouch. Thank you Lea." Ucap Max.
"Aku tidak peduli kalau aku dikembalikan ke atas sana asal lain kali kalian harus mengajakku!" Tuntutku.
Rue membersihkan bajunya dari rumput yang menempel di sekitar tubuhnya. Begitu pula dengan Max.
"Aku sadar kamu lebih garang dari pria. Aku akui itu." Kata Max lagi.
"Jika kamu menggunakan sihirmu untuk menghukum atau bersenang-senang maka kamu akan dikembalikan ke tempat asalmu dan selama sisa hidupmu kamu tidak akan pernah mempunyai kekuatan apa pun. Oh, kamu senang sekali bermain di sarang Nyonya Lebah kan? Apa bisa masuk kesana tanpa sihir? Apalagi kamu senang sekali bermain dan melayang-layang di air terjun pelangi. Berpikir dulu baru bertindak!" Rue marah kepadaku.
Aku melemparnya dengan sepotong kayu,
Bletak!
"Itu urusanku! Tekadku turun ke bumi memang untuk bersenang-senang bukan untuk dimarahi!" Tukasku.
Uugghh, aku kesal sekali kepadanya!
Aku meraba punggungku untuk memastikan tulang sayapku masih ada...oh, masih ada. Aman. Aku menghela nafasku.
"Lea ikutlah denganku. Karena semalam kami habis berpesta aku ingin memastikan apakah ada jejak atau sesuatu yang ditinggalkan oleh anak-anakku ini." Ajak Max.
Aku mengangguk setuju, "Oke." Jawabku singkat. Aku memakai dress berwarna hijau tosca selutut dengan lengan puff manis dan motif kupu-kupu.
__ADS_1
"Kamu tampak seperti wanita yang manis dan tidak terlihat mampu membuat orang lain melayang." Kata Max tersenyum lebar.
Aku membelakkan mata ke arahnya, "Hentikanlah!" Tukasku.
Max mengajakku berkeliling dari satu pasar ke pasar lain. Banyak orang berjualan disana. Aku melihat Vivi dan Rose yang sedang membantu paman bibi Eleanor. Aku melambaikan tangan kepada mereka.
"Genevieve! Rose!" Aku berlari menghampiri mereka.
"Hai, Lea. Apa yang kamu lakukan disini? Apa kamu mau membeli strawberryku?" Tanya Vivi.
Aku mengangguk dan mengeluarkan selembar uang berwarna hijau kepadanya, "Berikan aku sebanyak ini." Pintaku.
Vivi memasukkan strawberry besar-besar itu ke dalam tas belanja dan mengikatnya kemudian memberikannya kepadaku.
"Kapan kalian berkumpul bersamaku lagi?" Tanyaku kepada mereka.
"Kami nyaman disini daripada harus tinggal bersama Max." Jawab Rose.
"Aku ingin bermain bersama kalian. Baiklah, aku akan meminta ijin kepada Rue untuk tinggal bersama paman dan bibi Eleanor." Sahutku.
Aku kembali kepada Max, "Ini buatmu." Sahutku dan memberikan kantung strawberry kepada Max.
"Darimana kamu mendapatkan ini?" Tanyanya.
"Vivi dan Rose. Max, mereka tinggal bersama paman dan bibi Eleanor. Bolehkah malam ini aku menginap bersama mereka?" Aku bertanya kepadanya.
"Tidak!" Jawab Max cepat.
"Kalau kubilang tidak boleh ya tidak boleh!" Tukasnya.
Karena kesal, aku berjalan di depan Max.
"Lea! Lea! Kembali! Jangan jauh-jauh dariku!" Teriaknya. Aku tidak peduli. Orang-orang melihat ke arahku dan Max bergantian.
Dari jauh tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut, "Bayar uang keamananmu sekarang!" Sahut pria itu. Pria itu berwajah seram dan sangar dengan anting kecil menjepit bibirnya.
Orang-orang sudah berkumpul mengitari stand itu, aku menghampiri stand itu dan ternyata penjualnya adalah seorang ibu yang sudah tua ditemani dengan suaminya.
Darahku menggelegak melihat pria itu mendorong wanita yang sudah renta, "Hei kamu!" Seruku sambil menendang kaleng kosong ke arahnya
Duang!
Straight!
Pria itu menoleh dengan garang ke arahku, "Siapa kamu? Kamu belum mengenalku hah? Apa urusanmu?" Tanya pria itu.
"Tentu saja ada. Apa yang kamu lakukan dengan kakek dan nenek itu? Kamu itu lawanku bukan mereka! Hadapi aku!" Sahutku dan kakiku membentuk kuda-kuda siap menyerang.
Pria itu melayangkan tinjunya ke arahku,
Bugh!
Aku berhasil menghindarinya kemudian aku menantangnya lagi, "Coba lagi!" Tantangku.
__ADS_1
Pria itu mencobanya lagi, kali ini dengan tenaga yang lebih kuat.
Bugh!
Pukulan pria itu tidak mengenaiku, tapi mendarat dengan manis di telapak tangan Max.
"Beraninya lawan wanita dan orang tua! Pria tidak tau malu!"
Bugh
Bugh
Max memberikan tinjunya ke pipi kanan dan kiri pria itu.
Bugh!
Pukulan telak dari pria jahat itu tepat mengenai rahang Max. Max terpelanting.
Aku memusatkan pikiranku dan,
"Aaarrrggghhh!" Pria itu terlempar sangat jauh ke belakang dan menghantam dinding beton di belakangnya. Segera darah mengalir dari mulutnya.
Aku tidak mau repot mengecek kondisinya apakah dia mati atau masih hidup.
Aku menolong pasangan tua itu, "Kalian tidak apa-apa?" Tanyaku.
Alih-alih menjawab mereka menunjuk ke arah Max. Aku menghampiri Max, "Aku tidak perlu bantuanmu tapi terimakasih." Sahutku mengulurkan tanganku untuk membantu Max berdiri.
"Berita sore ini sampai seminggu ke depan akan sangat ramai." Katanya mengusap pinggir bibirnya yang berdarah.
"Bereskan!" Perintah Max kepada anak buahnya. Mereka mengangguk dan memahami apa maksud Max.
Max mengajaku kembali, namun sebelum pergi aku memberikan sejumlah uang kepada pasangan tua itu. Dan sebagai balasannya mereka memberikanku berbagai macam perabotan yang aku tidak tau nama-namanya.
...----------------...
Max POV
"Lea. Tidak ada yang bisa kukatakan kepadamu selain keren." Ucapku kepada Nelson malam itu.
"Aku sudah membaca beritanya dan kalian berada di tajuk utama. Mau kubacakan?" Tanya Nelson kepadaku.
Aku memberikan tanganku, "Silahkan."
Nelson berdeham keras, "Ehem. Pasangan pengantin Max dan Eleanor Membuat Sensasi."
"Membantu Pedangan Renta, Max dan Eleanor Menghajar Preman. Netizen : aku tidak pernah menyangka tuan max sekeran itu."
Nelson membacakan lagi, "Ini yang paling heboh, Eleanor yang sering disembunyikan oleh Max ternyata mempunyai kekuatan terpendam. Mengulik Eleanor. Hahahaha."
Aku tergelak tertawa juga mendengar ucapan Nelson, "Aku pun tidak menyangka dia segila itu. Andai kamu bertemu langsung dengannya, kamu akan terkejut. Dia luar biasa, Nelson. Dan kupikir aku tergila-gila padanya." Sahutku, aku tidak bisa menghentikan senyum yang terus terukir di wajahku ini.
...----------------...
__ADS_1