Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
I See The Light


__ADS_3

Lea POV


Aku merasakan tubuhku sangat berat dan aku melayang di permukaan sungai Api Penyucian itu. Kemana perginya jiwa-jiwa yang menarikku itu? Apakah mereka sudah pergi meninggalkanku?


Aku melihat seberkas cahaya yang sangat menyilaukan di sekelilingku, dan aku baru sadar cahaya itu menghalau jiwa-jiwa yang ingin mendekatiku.


Sekilas aku melihat Rue yang berusaha menggapaiku, "Lea!" Gelembung-gelembung keluar dari mulut Rue.


Aku menggapai tangan Rue, namun terasa sulit sekali. Padahal jarak kami sangat dekat namun tangan Rue tampak jauh.


Rue terus menggapai-gapai tanganku, dan


Klep!


Dia berhasil meraihku dan menarikku,


Sret!


Rue segera membawaku ke permukaan dan membaringkanku di tepi Api Penyucian.


"Aku berhasil membawanya, Anthem. Jangan potong benang kehidupan sialan itu!" Aku mendengar Rue berbicara dengan Anthem.


Aku mengubah posisiku, "Apa yang akan kamu lakukan Anthem?" Tanyaku.


"Wah, kamu hidup." Pekik Anthem agak kecewa.


"Apa yang kamu harapkan? Kamu mengharapkan aku mati? Jahat sekali kamu sebagai seorang malaikat!" Tukasku.


"Kan aku Malaikat Kematian, wajar saja jika aku mengharapkan kematian seseorang. Kalau tidak ada yang mati, lalu apa tugasku? Bisa saja sih aku menghabiskan waktu dengan menonton atau berjalan-jalan di pantai, tapi aku suka kesibukan." Jawab Anthem.


"Tapi bukan berarti kamu mengharapkan kematian orang lain dong!" Sahutku kesal.


"Aku akan ke dalam lagi, aku sudah melihat Max. Semoga dia tidak berpindah." Aku menambahkan.


Rue melarangku, "Bagaimana jika kamu tertarik oleh jiwa-jiwa itu lagi?" Tanya Rue.


"Aku sudah tau cara untuk menghadang mereka. Dengan cahaya." Jawabku.


Rue mengerutkan keningnya, "Cahaya?" Tanya Rue.


Aku mengangguk, "Ya, cahaya. Sewaktu kamu mencariku di dasar sana, kamu menyalakan tongkatmu dan membuat jiwa-jiwa itu menjauh dariku begitu pun dengan kamu. Tidak ada jiwa yang mendekatimu, Rue." Sahutku.


Tanpa menunggu lama, aku kembali masuk ke dalam Api Penyucian itu.


Sekali lagi, Api itu berdesis ketika aku masuk ke dalamnya,


Ssszzzz


Aku mulai menyalakan tongkatku dan mencari Max. Aku sudah menghafal dimana tempat Max berada tadi.


Setiap ada jiwa-jiwa yang mendatangiku, aku akan mengarahkan tongkatku kepada mereka. Suara pekik dan jeritan serta lolongan terdengar olehku.


Semakin dalam aku menyelami ke dalam Api itu dan semakin panas juga di dalam sana. Aku mencari Max di tempat pertama kali aku melihatnya tapi Max tidak ada disana.


Aku memutar jalanku dan memulainya kembali dari pusaran di tengah.

__ADS_1


Setelah berkeliling, aku melihat sekelebat bayangan manusia yang belum memucat, dengan cepat aku segera menariknya.


Sret!


Blup!


"Aaakkhh!" Terdengar suara kemarahan dari jiwa-jiwa itu.


Mereka mengejarku! Suara mereka yang sangat tidak merdu dengan cepat memenuhi telingaku, "Aakkkhh! Aaakkkhh!"


Aku mempercepat ayunan tanganku, dan merapal mantra perlindungan untuk aku dan Max.


Aku masih merasakan mereka menarik kakiku.


"Hhmmmpphh!" Aku berusaha membangunkan Max tapi usahaku tidak menampakkan hasil.


Baiklah, ini usahaku yang terakhir. Aku akan mendorongnya karena aku tidak bisa membawa jiwanya bersamaku.


Aku memberikan aba-aba pada diriku sendiri,


Satu...


Dua...


Tiga...


Aku mendorong jiwa Max dengan sekuat tenaga dan menyemburkan api dari tongkatku sebagai tanda untuk Rue agar segera menyelamatkan Max.


Max sudah melayang di permukaan, sekarang aku yang akan bertarung dengan jiwa-jiwa merana ini!


Bugh!


Aku melayangkan tinjuku ke salah satu jiwa yang menarik tanganku.


Kakiku pun tidak tinggal diam, aku menendang mereka sekuat yang aku bisa. Aku harus segera keluar dari sini karena semakin panas rasanya, bisa-bisa aku yang akan mati terpanggang disini.


Sangat tidak lucu, Max selamat tapi aku tidak. Lalu siapa yang akan menjadi tokoh utamanya kalau aku mati kan? Aku akan menghantui si penulisnya jika ia membuat garis hidupku seperti itu dan menggantiku dengan Eleanor sebagai pemeran utama.


Di tengah kesibukanku bertarung dengan jiwa-jiwa yang sedang disucikan itu, tiba-tiba muncul cahaya yang sangat terang entah dari mana,


Splash!


Cahaya itu membuat jiwa-jiwa yang mengelilingiku terhempas dan pergi menjauh.


Dengan sigap aku segera berenang menuju ke permukaan,


"Huaaahhh!" Aku mengatur nafasku saat tiba di permukaan. Rue membantu menarik tanganku, dan aku tergeletak di samping jiwa Max.


"Hei Malaikat Kematian yang tidak sopan! Sekarang aku harus apa?" Sahutku, begitu melihat Anthem mengendap-endap pergi dari kami.


Dia berbalik dan tersenyum lebar, "Kamu mempunyai insting yang sangat bagus Lea." Sahutnya, "maka itu aku ingin sekali me..."


"Terima kasih untuk bantuanmu di bawah tadi. Cahaya besar itu darimu, kan?" Tanyaku.


Hanya Anthem yang bisa membuat jiwa manusia ketakutan dengan cahayanya yang sangat menyilaukan.

__ADS_1


"Darimana kamu tau itu?" Tanya Anthem.


"Siapa lagi yang bisa membuat cahaya seperti itu selain dirimu." Jawabku.


Anthem menatapku dengan matanya yang berbinar dan bersinar, "Ah, Lea. Aku jadi suka padamu dan ingin cepat-cepat membawamu bersamaku." Sahutnya.


"Sembarangan! Cepat katakan bagaimana setelah ini?" Tanyaku mendesak Anthem.


Rue sudah menggendong jiwa Max yang tertidur ke dalam pelukannya.


"Tinggal di satukan kembali ke tubuhnya. Sama seperti kamu menempelkan kertas origami pada pohon apelmu. Semudah itu." Jawab Anthem.


Aku dan Rue mengangguk, "Baiklah, aku pergi dulu. Terimakasih atas petualangan hari ini. Semoga kita tidak berjumpa lagi." Sahutku


Anthem tertawa, "Tidak mungkin. Besok sore aku sudah berjanji dengan ayahmu untuk minum teh bersama di tempat Nyonya Titipati." Jawab Anthem.


"Kupastikan besok aku sudah turun kembali ke bumi. Dah Anthem." Seruku, melambaikan tangan kepadanya.


Kami segera turun ke tempat kami. Begitu kami sampai, Raja Wren dan Ratu Edwina sudah menanti kami.


Ibuku langsung memelukku, Rue tetap berjalan mendekati tubuh Max kemudian dengan amat sangat perlahan, Rue menyatukan jiwa Max ke dalam tubuhnya.


Aku berlutut di samping Rue, "Apakah dia akan hidup?" Tanyaku penasaran.


Rue mengangguk, "Berharaplah." Jawab Rue.


Aku menunggunya dengan perasaan yang tak bisa kujelaskan.


Ibu dan ayahku juga sudah berdiri di belakang kami. Ayahku mere*mas pundakku, "Dia akan kembali Lea. Pasti." Ucap ayah.


Aku mengangguk kembali, "Bagaimana kalau dia tidak kembali?" Tanyaku meragu.


"Dia akan kembali. Max bukan pria lemah, dia cukup berani. Aku hargai itu." Sahut Ayah meyakinkanku.


Aku memegang tangan Max, "Bangunlah Max, aku menunggumu." Ujarku berharap.


Tak lama doaku dikabulkan. Max perlahan mengerjap-ngerjapkan matanya dan membalas genggaman tanganku, "Dimana aku? Apa aku sudah berada di surga?" Tanya Max.


Aku memeluknya, "Kamu belum mati, Max." Sahutku. Max mengeratkan pelukanku.


"Aku bertemu Malaikat Kematian tampan, apa kamu tau itu? Bahkan saat aku berjalan bersamanya, aku sempat takut kalau kamu bisa saja jatuh cinta kepadanya." Ucap Max.


Aku tertawa, "Bodoh! Kalau aku jatuh cinta padanya, aku tak akan turun ke bumi. Sayang sekali kamu belum melihat wajah aslinya bagaimana." Jawabku.


Max tersenyum, "Aku tau kamu pasti akan berbicara seperti itu " jawab Max.


"Saat kamu tertembak aku sadar bahwa aku mencintaimu maka saat aku sampai disini dan bertemu dengan ayahmu, aku siap untuk menggantikan nyawaku dengan nyawamu. Aku tidak mau kehilangan dirimu." Kata Max


"Kamu tau, aku melihat banyak cahaya ajaib saat aku tadi sedang berada entah dimana. Dan aku melihatmu, kemudian aku berpikir apakah aku bermimpi karena aku merasa aku sudah mati. Ternyata kamu benar-benar ada dan aku tidak mati!" Seru Max menambahkan dengan girang dan penuh rasa haru.


Max kembali memelukku lagi, "Terimakasih Lea karena kamu sudah memberikan terang di hidupku." Katanya lagi. Kemudian ia memelukku.


"Ehem! EHEM!" Suara berdeham yang berat dan besar mengganggu aktifitas pelukan kami.


"Ra...Raja Wren. Yang Mulia, aku tidak bermaksud..." Ucap Max terbata-bata.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2