
Lea POV
"Hei, Matt!" tukasku suatu hari. Akhir-akhir ini Matt banyak termenung tapi tatapan matanya kosong. Apa ini karena pengaruh Hades?
Aku mengepakkan sayapku dengan kencang, "Matt!" seruku.
Matt gelagapan dan mengusap wajahnya, tapi yang kuperhatikan bukan Matt, melainkan Hades. Hades pun tampak terkejut dengan kepakan Ayshill.
"Hades! Pergilah dari tubuh Matt dan jauhi dia!" ucapku berseru kepada Hades.
Hades menampakkan kebesarannya. "Tidak akan, Lea karena Matt juga menghendaki aku ada di tubuhnya," jawab Hades.
Aku menatap kepada Matt yang masih tampak kosong, "Matt, sadarlah!" Namun, percuma saja karena Matt tidak mendengarkan kata-kataku.
Aku mengibaskan sayap dan mengerahkan seluruh kemampuanku serta ayunan tongkatku untuk menjauhkan Hades dari tubuh Matt.
Pyung!
Hades pun melayang, tapi aku yakin dia akan kembali kepada Matt karena seperti dia katakan sebelumnya kalau Matt memiliki harum yang khas yang ia sukai dan Matt juga memiliki masa lalu kelam yang dapat dibangkitkan suatu waktu.
Beberapa jam setelah Hades menghilang, Matt tampak dapat menguasai dirinya kembali dan ia tampak normal seperti layaknya seorang Matt.
"Matt, apa yang kamu rasakan?" tanyaku.
"Ada apa denganmu, Lea? Kamu menanyakan ini sebanyak waktu makan manusia. Bahkan melebihi, manusia kadang hanya 2-3x sehari. Tapi, kamu menanyakanku masalah ini selama kira-kira 5-8x dalam sejam," ujar Matt.
"Dan jawabanmu?" tanyaku lagi.
"Aku baik-baik saja," jawab Matt.
Aku menggelengkan kepalaku, "Kalau kamu baik-baik saja, kamu tidak akan termenung dan tatapanmu tidak akan kosong, Matt!" aku berseru kesal.
Tiba-tiba saja Matt menggebrak meja, "Aku tidak seperti itu! Siapa pun akan kesal jika terus di tanya hal yang sama berulang-ulang!" tukasnya.
"Maafkan aku. Aku hanya khawatir,-"
Suara Matt kembali merendah. "Kamu boleh khawatir tapi jangan khawatir yang berlebihan. Aku baik-baik saja, Lea. Percayalah," jawab Matt.
Hari-hari berikutnya, aku berusaha untuk tidak mengkhawatirkan Matt, tapi tetap saja aku merasakan ada yang aneh pada Matt. Seperti malam ini aku mengajaknya makan bersama di sebuah restoran. Ada yang tak biasa dengannya, dia biasa memesan wine namun kali ini dia memesan bir yang cukup keras. Dan dia makan dengan gelisah.
Aku berusaha untuk menganggapnya biasa saja. "Bagaimana makanannya, Matt?" tanyaku.
Matt mengangguk-angguk. "Hmmm,"
__ADS_1
Aku mengulang anggukannya. "Syukurlah, senang rasanya kalau kamu menikmati malam ini," sahutku tersenyum.
Matt ikut menyeringai kecil. "Aku ingin melakukan sesuatu tapi aku tidak tau apa yang ingin kulakukan, aneh sekali, kan?" tanya Matt.
Saat ini aku tidak kenal siapa pria yang duduk di sebelahku ini? Apa karena Hades? Tapi Hades sudah pergi, kan? Tunggu!
"Matt, bisakah nanti kita berpisah? Aku ingin bertemu dengan ayahku," tanyaku berbohong.
Matt mengangguk setuju. "Oke," jawabnya.
Setelah selesai makan, aku meninggalkan Matt disana. Bahkan aku tidak melihat Castiel ada di belakangnya karena biasanya Castiel selalu menempel di belakang Matt dan menarik-narik rambut Matt dengan penasaran.
Aku tidak ke tempat ayahku, aku menemui Rue.
"Rue!" panggilku.
Rue sedang makan malam sambil menatap layar laptopnya dengan serius. Baru kali ini aku melihat kehidupan peri senyaman ini di bumi.
"Apa kamu memperhatikan Matt akhir-akhir ini?" tanyaku.
Rue tidak menjawab, ia menekan laptopnya dan memberikannya kepadaku. "Bacalah," ucapnya.
Aku mengerutkan keningku. "Kamu mencatat semua perubahan Matt ke dalam sini? Wah, hebat sekali kamu, Rue. Aku serahkan jabatan CEOku kepadamu kalau begitu," sahutku.
"Dan Hades bisa membangkitkan sisi gelap Matt?" tanyaku.
Rue mengangguk. "Di dalam tubuh Matt, tersembunyi jiwa Max. Max bukan seorang mafia kemarin sore. Kiprahnya luar biasa. Dia memenangkan pertarungannya dengan Nelson seorang diri. Dan aku rasa, jika tidak ada kamu, maka dia akan memenangkan pertarungannya dengan Hunter ataupun Brad," ucap Rue.
Apa mungkin aku menjadi penghambat karir mafia Max? Apakah aku harus menghilang saja dari hidupnya? Aku kembali melayangkan ingatanku di masa saat kami pertama kali bertemu. Siapa yang jatuh cinta pertama kali? Aku.
Aahhh! Aku tertunduk lesu!
"Hei, Lea. Kamu tidak perlu mundur, tetaplah di sisinya karena dia akan membutuhkanmu," ucap Rue.
"Untuk?"
"Untuk membantu menenangkan jiwanya. Karena tubuh yang dipakai Max akan menolak jika ia melanggar perjanjian. Mereka telah melakukan perjanjian dengan Anthem dan Castiel sebagai saksi," jawab Rue.
Aku menghela nafasku. Aku abadi tapi kenapa aku merasa seperti seorang nenek-nenek hanya karena memikirkan Matt seorang. Ah, cintaku selalu menyedihkan.
"Aku akan menemanimu," kata Rue tiba-tiba, sayap panjangnya sudah terbentang lebar.
"Kemana?" tanyaku.
__ADS_1
"Kamu mau kemana tadi?" Rue balas bertanya.
Aku baru sadar, dan mengangguk. Aku mengikuti Rue dan membuka sayapku lebar-lebar. Kami pun terbang ke atas menuju tempat Anthem.
"Darimana kamu tau, Anthem sedang berada di atas?" tanyaku.
"Anthem akan selalu memberitahukan kepadaku tentang pekerjaannya dan ia memintaku juga untuk menjaga Alesya," jawab Rue.
Kami berbincang-bincang di angkasa, dan begitu sampai kediaman Anthem, ia menyambut kami. "Ah, tenaga bantuan sudah datang. Bantu aku. Rue, tolong kamu catat biodata kebaikan dan keburukan jiwa-jiwa ini di barisan sana. Dan, Lea, kamu bisa membantuku untuk,-"
"Aku kesini bukan untuk membantumu, Anthem! Aku ingin berdiskusi!" sahutku kesal.
Anthem mengangguk putus asa. "Ya, aku tau. Tapi itu tidak akan terjadi jika antrian jiwa-jiwa ini tidak hilang," ratap Anthem.
Aku memandang antrian panjang jiwa manusia di Lembah Kematian ini. "Kenapa mereka?" tanyaku.
"Gempa bumi dan tsunami. Banyak yang meninggal. Asistenku masih menjemput mereka yamg tersisa," kata Anthem.
Tidak ada pilihan lain, kan selain membantu Anthem supaya ini bisa selesai dengan cepat? Aku melihat Rue sudah mengeluarkan tongkat untuk membantunya mendata.
Aku menolah ke arah Anthem, dia tersenyum lebar. "Apa pun Lea, apa pun akan aku ijinkan supaya ini cepat selesai. Aku juga tidak mau meninggalkan Alesya terlalu lama," kata Anthem.
Setelah memakan waktu kira-kira hampir setengah hari, akhirnya pekerjaan kami selesai juga. Anthem mengajak kami istirahat di pondok Nyonya Titipati.
Aku memesan kukis madu dan kayu manis serta minuman hangat yang terbuat dari tetesan embun serta sedikit sinar matahari. Ini rasanya sangat lezat karena Nyonya Titipati sangat pandai meracik minuman seperti ini. Oh, Nyonya Titipati juga pandai meracik ramuan dan obat.
"Aku sudah lama tidak melihatmu, Lea. Bagaimana kabarmu?" tanya Nyonya Titipati.
Aku tersenyum. "Aku baik-baik saja, bibi. Bagaimana denganmu?" tanyaku.
Dan sambil memberikan kepadaky minuman embun dan matahari kepadaku, dia menjawab, "Aku sangat baik. Lihat saja tubuhku membesar seperti ini, hahahaha!"
"Apa yang mau kamu bagi kepadaku?" tanya Anthem.
Aku menyesap minuman hangat dan mulai menceritakan ketakutanku kepada Anthem
"Oh, Penguasa mengijinkan Hades untuk menggodanya. Kita akan melihat seberap besar kekuatan yang dimiliki oleh Matt ini," jawab Anthem.
"Maksudmu?" tanyaku.
"Matt diharapkan untuk menjadi kuat namun Hades memintanya untuk kembali. Hades dengan cepat masuk je dalam tubuh seorang manusia untuk memanipulasi jalan pikiran mereka. Dan target Penguasa bulan ini adalah Matt," jawab Anthem.
Aku mengetukan jariku ke pinggiran gelas. Itu berarti aku harus bisa lebih meyakinkan Matt untuk tidak kembali ke dirinya yang dulu. Dan tidak hanya itu, pertengkaran di antara kami pun pasti akan terjadi. Itu tidak bisa di hindari lagi. Aku harus menguatkan tekadku dan aku juga harus sanggup melepaskannya jika ia memang ingin kembali kesana.
__ADS_1
...----------------...