Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Brad! Move Back!


__ADS_3

Max POV


Aku Max tidak pernah menyerah, sepanjang hidupku aku tidak pernah merasakan kalah? Apa itu kalah? Apa itu menyerah? Bahkan baunya pun tidak pernah tercium.


Tapi saat ini yang kuhadapi adalah cinta, sesuatu yang tidak bisa kuatur, sesuatu yang tidak bisa kuancam dengan senapanku, sesuatu yang tidak terlihat dan sesuatu yang sulit untuk aku taklukan.


"ED! ED!" Teriakku dengan gusar saat mengingat betapa dekatnya Lea dengan Brad.


Ed datang dengan tergopoh-gopoh, "Hei! Aku bukan asistenmu! Aku minta padamu untuk mencari seorang asisten tapi kamu tidak mau. Aku tidak mau kamu perintah seperti itu!" Protes Ed.


Aku menatap Ed dengan tajam, "Jadi?" Tanyaku.


"Ya, ada apa?" Ed memaksakan diri untuk tersenyum.


"Ajari aku tentang cinta." Tukasku menyembunyikan semburat merah yang menjalar di wajahku.


Ed tertawa tergelak-gelak, "Hahahaha. Maafkan aku Max, tapi ini lucu sekali. Apa bumi akan berhenti berputar karena kamu ingin mengenal cinta?" Tanya Ed tertawa puas.


"Berhenti mentertawakanku Ed!" Gertakku gusar.


Dengan susah payah Ed akhirnya berhenti tertawa, "Siapa wanita yang beruntung itu?" Tanya Ed.


"Lea!" Sahutku galak.


"Jadi? Apa yang disukainya?" Tanya Ed lagi.


"Uang." Jawabku.


Ed kembali tertawa, "Eh, hahahaha... Ehem! Ehem! Baiklah." Katanya menahan tawa, "maksudku itu apa yang dia sukai? Yang benar-benar ia impikan?" Kata Ed memperjelas pertanyaannya.


Aku berpikir, "Hmmm, tidak ada yang benar-benar disukainya selain uang dan .."


Tidak mungkin aku katakan kepada Ed kalau Lea ingin menjadi manusia.


"Lea ingin mempunyai sebuah rumah dan menjadi kaya. Itu saja keinginannya." Jawabku pada akhirnya.


Ed menatapku lalu menggelengkan kepalanya, "Wah, mimpi yang luar biasa sekali." Katanya, "susah mewujudkan itu jika kamu bukan orang mampu." Sambung Ed lagi.


"Tidak ada yang sulit. Aku hanya akan tinggal mendampinginya, memberikan dia semangat dan aku akan menyoraki setiap langkah yang ia buat." Sahutku.


Ed bertepuk tangan untukku, "Aku salut dengan perjuanganmu Max. Tekadmu kuat saat menginginkan sesuatu. Baiklah, aku akan mendukungmu untuk mendapatkan Lea." Jawab Ed menepuk punggungku.


"Bagaimana caranya?" Aku bertanya, karena aku buta tentang hal ini dan ini baru untukku. Aku berjuang demi cinta bukan untuk kekuasaan atau kemenangan. Rasanya sulit di jelaskan saat kita berjuang untuk cinta.


"Aku akan membuat reservasi atas nama kalian berdua di sebuah restoran. Ajak dia makan malam romantis malam ini." Kata Ed menawarkan gagasannya.


"Lea tidak suka makan. Dia hanya suka es krim." Sahutku putus asa.


"Susah juga yah? Bagaimana kalau menonton bioskop?" Tanya Ed.

__ADS_1


"Dia tidak suka karena gelap dan bising." Jawabku.


Ed kembali berpikir, "Jalan-jalan di pinggir pantai?" Tanya Ed lagi, dia tampak tidak kehabisan ide.


"Lea tidak perlu itu karena ia sudah mempunyai pantai beserta duy... Maksudku dia sudah sering melihat pantai." Ucapku hampir saja keceplosan.


Ed memiringkan bibirnya dan berkacak pinggang, "Baru kali ini aku menemukan wanita seribet Lea." Katanya. Aku tidak ingin membantahnya karena memang begitulah Lea. Dia suka ayam tapi tidak suka ayam panggang, dia suka ikan tapi tidak suka durinya, bahkan dia suka durian hanya wanginya saja. Tidak ada orang seribet Lea di dunia ini.


"Max bagaimana dengan taman bermain. Ajak Lea kesana. Di taman bermain ada penjual es krim, corndog, cemilan ringan, iya kan?" Usul Ed tiba-tiba.


Mataku bersinar, "Kamu pintar juga Ed. Itu ide yang briliant. Baiklah karena kamu pintar aku akan mengangkatmu menjadi asisten pribadiku. Oke Ed. Buatkan jadwalnya aku akan memberitahu Lea." Sahutku.


"Kan bisa pakai ponsel Max." Kata Ed.


"Lea tidak pakai itu, tapi nanti akan aku belikan." Ucapku bergegas menemui Lea.


Keesokan harinya, aku membelikan Lea dan Rue sebuah ponsel keluaran terbaru.


"Apa ini?" Tanya Lea.


"Ponsel." Jawabku.


"Aku tau karena aku sudah dapat dari Brad kemarin dulu, tapi kenapa memberikanku sebuah ponsel?" Tanya Lea.


"Tidak ada alasan. Aku hanya ingin memberikan kalian sesuatu." Aku menyahut sambil memalingkan wajahku.


"Tidak ada alasan juga untukku menerimanya Max." Jawab Lea dan mengembalikan ponsel itu kepadaku.


"Boleh. Akhir pekan ini tidak masalah kan?" Tanya Lea


Aku bersorak kegirangan, "Benarkah? Benarkah itu, Lea?" Tanyaku lagi.


Lea mengangguk pelan, "Iya." Jawab Lea.


***


Hari Minggu yang kutunggu pun tiba, aku menjemput Lea dengan dandanan super tampan.


"Wow, kamu tampan sekali Max." Puji Ed.


Aku mengacungkan ibu jari kepadanya kemudian bergegas menjemput Lea.


Sesampainya disana,


"Hai Max. Terimakasih sudah mengajak kami ke taman bermain." Kata Brad tersenyum lebar sekali.


"Tidak ada yang mengajakmu, aku hanya mengajak Lea." Balasku.


Lea keluar dan membawa banyak sekali barang-barang, "Aku mengajak Brad, Rue dan Tom bersama kita. Apa itu terlalu banyak?" Tanya Lea.

__ADS_1


Aku menepuk keningku, "Ya Tuhan kuatkan aku." Ucapku pelan.


Mau tidak mau aku memasang senyumku yang paling manis, "Silahkan Lea. Tidak terlalu banyak kok." Jawabku.


Dalam perjalanan, aku tersisihkan dan mendapat tugas untuk mengendarai mobil. Sedangkan Brad? Dia asik bersenda gurau dengan Lea dan Rue. Jika ada yang bertanya siapa yang duduk di sebelahku? Si kakek tua penjual es krim. Ingin kubanting rasanya setiranku ini.


Begitu sampai di taman bermain aku menarik baju Brad, "Hei Brad. Mundurlah! Aku yang mengusulkan ini jadi hari ini kesempatanku untuk dekat dengannya." Tukasku geram.


Brad tertawa, "Aku berterimakasih untuk itu Max, tapi kita tidak boleh melewatkan kesempatan kecil sekali pun bukan? Jadi aku akan menggunakan waktu luang dan berhargaku ini untuk bermain sepuasnya dengan Lea." Jawab Brad.


"Tidak bisa! Bagaimana kalau kita mengadakan pertandingan? Pemenangnya akan mendapatkan kesempatan makan malam bersama Lea." Usulku.


Brad menatapku bersemangat dan mengulurkan tangannya, "Deal!" Kata Brad.


Aku menyambutnya, "Oke, disana ada stand menembak. Bagaimana kalau kita kesana?" Tanyaku.


Brad tersenyum, "Jangan licik Max. Itu keahlianmu. Kita cari yang lain. Bagaimana dengan memancing? Aku tidak pandai memancing dan aku rasa kamu juga belum pernah. Jadi siapa yang mendapatkan ikan pertama mereka pemenangnya? Bagaimana?" Tanya Brad.


Memancing? Aku tidak takut!


"Oke! Kalau aku menang, kamu harus membayar semua makanan kami nanti malam, begitu juga sebaliknya." Sahutku menambahkan.


Brad tersenyum lebar, "Tidak masalah." Jawab Brad.


Akhirnya aku dan Brad berpisah jalan dengan Lea, Rue dan Tom. Karena ada pertandingan cinta yang harus kami selesaikan dengan segera.


Aku tidak pernah tau memancing sangat membosankan dan aku menyesal karena mengikuti Brad yang mengusulkan ide sialan ini.


Dua puluh menit berlalu tidak ada tampak ikan akan mendekati umpanku, dan aku melihat Brad. Nasibnya juga sama. Waktuku terbuang percuma disini.


"Apa yang kalian lakukan? Katanya mau bertanding?" Tanya Rue yang sepertinya sudah puas sekali bermain.


"Kenapa kalian malah memancing?" Tanya Lea. Kemudian hatiku bersorak gembira karena Lea mendekatiku dan mengambil pancinganku.


"Biar aku." Katanya.


Tidak sampai lima menit, Lea sudah mendapatkan tiga ekor ikan, "Wah ini seru sekali." Sahutnya.


Aku dan Brad saling bertukar pandang, "Baiklah kita akan makan malam bersama. Bermainlah sepuasnya." Seru Brad.


Aku tersenyum. Tidak masalah aku tidak jadi bermain dengan Lea selama aku bisa melihat senyumnya aku sudaj sangat bahagia.


Hari sudah mulai gelap dan kami memutuskan untuk kembali, namun tiba-tiba Lea menarikku.


Dia memintaku berdiri di sampingnya, dan


Cup!


Dia mengecup pipiku dengan manis, "Terimakasih untuk hari ini. Aku senang sekali bermain disini." Bisiknya.

__ADS_1


Aku melanjutkan kecupannya menjadi sebuah ciuman, aku harap dia membalas ciumanku karena aku sudah menyampaikan perasaanku disana.


...----------------...


__ADS_2