
No POV
"Lea menggila!" Anthem melaporkan hal itu kepada Raja Wren dan Penguasa.
"Aku bahkan tidak dapat membaca pikirannya. Bagaimana ini? Aku harus memiliki keturunan untuk menggantikanku," sahut Raja Wren.
"Bagaimana cara membujuknya?" tanha Anthem.
Penguasa membenarkan posisi duduknya. "Tidak ada yang bisa kalian lakukan karena jika sudah waktunya mereka bersatu, mereka akan bersatu," kata Penguasa.
Raja Wren memandang Penguasa dengan penuh harapan. "Berarti mereka akan bersatu? Aku hanya perlu Kau menjawab itu. Mau kapan pun waktunya aku tidak peduli, aku hanya ingin tau jika mereka akan bersatu nantinya," tanya Raja Wren memastikan.
Penguasa menjawab dengan jawaban yang menggantung. "Kita lihat saja nanti, Wren. Yang jelas hati mereka harus di kuatkan. Aku tidak akan memberikan ujian lagi kepada mereka karena mereka akan diuji dengan bentrokan kepribadian mereka. Kita hanya bisa melihat dan menunggu, Wren. Bersabarlah," jawab Penguasa.
Mereka semua terdiam dan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya di antara Matt dan Lea. Raja Wren sudah sangat berharap kepada Matt. Ia ingin Matt menjadi penerusnya. Dan saat ini, Raja Wren menyesali keputusannya untuk meminta Hades mengujinya.
"Kalau Matt bukan yang terbaik untuk Lea, kamu akan beruntung, Wren. Karena sudah mengetahui sifat Matt yang seperti itu," kata Anthem berusaha membesarkan hati Raja Wren yang terlihat sedih sekali.
Raja Wren mengangguk-angguk. "Benar katamu, Anthem. Aku mendoakan yang terbaik untuk mereka, tapi kalau Lea tidak jadi menikah dengan Matt, aku akan patah hati," ucap Raja Wren memeluk Anthem sambil terisak.
Penguasa dan Anthem menenangkan Raja Wren dengan menepuk pundaknya. Mereka menang teman yang baik.
***
Setelah berbicara dengan Anthem perihal pembatalan pernikahannya, Lea berniat menghampiri Matt. Dia tidak tau apa yang ingin di bicarakan dengan Matt. Tapi, hatinya berkata kalau ia harus kesana.
"Matt!" Lea mengetuk pintu apartemen Matt dan menunggu Matt membukakan pintu.
Memang dasar Lea yang tidak sabar, ia melompat dengan bantuan sayapnya dan mengintip Matt di lantai dua apartemennya.
"Matt!" panggil Lea lagi.
Lea mengelilingi apartemen Matt, dan mengintip dari balik jendelanya.
Karena Matt tak kunjung membukakan pintu, Lea akhirnya masuk ke dalam melalui satu jendela yang terbuka. Setelah masuk, Lea menunggu di atas ranjang kamar Matt. Ia tidak tau Matt berada dimana, tapi ia akan menunggunya disana.
__ADS_1
Ceklek!
Tak lama, terdengar suara pintu terbuka dari bawah. Namun, Lea tertidur selama menunggu Matt. Matt masuk ke dalam kamarnya dan terkejut melihat Lea tertidur disana.
"Bagaimana dia bisa masuk?" tanya Matt. Dilihatnya punggung belakang Lea, dan nampak Ayshill, sayap Lea, mengepak dengan lemah.
Matt mendekatinya lagi, dan ada lima sampai tujuh butir mutiara kecil di samping Lea. "Mengapa dia menangis?" tanya Matt dalam bisikan.
Ia tak tega membangunkan Lea, maka ia meninggalkan Lea tertidur sementara ia membuat makanan untuk dirinya sendiri dan tentu saja untuk Lea.
Lea terbangun begitu mencium bau harum masakan. "Eenngghh!" erangnya sambil meregangkan tubuhnya.
"Selamat sore, Nona," sapa Matt sambil meletakkan makanan di atas meja.
Lea tersentak. "Matt, kamu sudah pulang?" tanya Lea.
Matt tersenyum, ia mendekati Lea dan merapikan rambutnya. "Sudah. Ayo, temani aku makan," ajak Matt dengan suara lembut.
Lea beranjak dari ranjang dan mengikuti Matt ke meja makan. "Terimakasih makanannya," ucap Lea dan menyendok sesuap sup krim hangat yang masih mengepul.
"Jadi, ada apa kamu menemuiku? Sampai kamu datang kesini?" tanya Matt.
Lea ragu sesaat. "Aku ingin mengatakan kalau,-"
"Ah, tunggu sebentar. Aku ingin memberikanmu sesuatu," sahut Matt. Ia masuk ke dalam kamarnya dan keluar lagi dengan membawa sebuah paper bag berwarna ungu dan pink beraksen pita yang sangat manis.
"Ini untukmu, anggap saja sebagai permintaan maafku. Aku tau ini tidak bisa menyembuhkan hatimu yang sakit karena perbuatanku waktu itu, tapi paling tidak, kamu bisa melihat kesungguhanku untuk bersamamu," kata Matt lagi.
Lea mengeluarkan isi tas itu, dan ada sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang. Ia membukanya, dan seuntai kalung dengan liontin sebuah mutiara dan hati tersematkan huruf M&L di hati tersebut.
Matt memakaikan kalung itu ke leher Lea, "Kamu menyukainya?" tanya Matt.
'Tidak! Jangan harap hanya karena seuntai kalung, kamu bisa mendapatkan hatiku lagi, Matt!' ujar Lea bermonolog dalam hati.
Matt mengajak Lea ke depan cermin. "Kalung itu cantik, dan saat kamu memakainya kecantikan kalung itu bertambah berkali-kali lipat," ucap Matt.
__ADS_1
Mau tak mau, Lea memandang dirinya di depan cermin,
Deg!
Benar kata Matt, kalung itu cantik sekali saat ia memakainya. Bagaimana ini? Masa ia luluh hanya karena sebuah kalung?
"Ada satu lagi, bukalah lapisan kotak itu," kata Matt lagi, ia menggandeng tangan Lea dan mengajaknya duduk kembali.
Lea membuka lapisan kota persegi panjang itu, terdapat sebuah cincin yang cantik.
Matt memakaikan cincin itu ke jari Lea. "Aku tau, aku tidak pantas mendapatkan maaf darimu dan aku juga tidak berharap hatimu akan mencair karena barang pemberianku ini. Kamu bukan wanita kebanyakan, Lea. Aku hanya ingin, kamu melihat ketulusanku. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, dan tidak mau kehilanganmu dalam hidupku. Aku hanya mengharapkan maaf darimu, jadi, maukah kamu menaafkanku, Lea?" tanya Matt.
Lea memandang pria yang ada di depannya itu. Dua jam yang lalu, ia kesal sekali kepada Matt sehingga ia berkata kepada Anthem kalau ia tidak ingin menikah dengan Matt. Dan sekarang, ia ingin cepat-cepat menikah dengan Matt dan membawa pria itu bersamanya.
Matt menghela nafasnya. "Kalau kamu belum bisa me,-"
Tiba-tiba saja, Lea mencium bibir Matt dengan panas. "Tidak usah berbicara lagi!" bisik Lea sesaat, kemudian ia mencium Matt kembali.
***
Di Kediaman Penguasa
"Horee! Horee!" Anthem, Raja Wren, dan Penguasa bersorak senang saat mereka melihat Lea dan Matt berciuman dengan panas seperti itu.
"Apakah itu artinya mereka akan menikah?" tanya Raja Wren yang sekarang menari-nari kesenangan.
Anthem dan Penguasa saling melempar pandang ke arah Raja Wren. "Semoga, Wren. Semoga." kata Penguasa.
"Keyakinanku hanya satu persen tapi aku juga yakin ada mukjizat yang akan merubah satu persen menjadi seratus persen, bukan begitu, teman?" tanya Raja Wren merangkul Penguasa.
Malam itu, di Kerajaan Awan, Raja Wren mengadakan pesta besar. Ia merayakan kembalinya Matt dan Lea sebagai sepasang kekasih.
"Apa kau yakin mereka akan menikah, Wren?" tanya Ratu Edwina.
"Kata Penguasa, semoga. Percaya sajalah kepadanya. Karena aku yakin tidak ada yang dapat meluluhkan anak kita selain Matt," jawab Raja Wren antusias, dan dengan tersenyum ia mengecup bibir istrinya.
__ADS_1
...----------------...