Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Trust


__ADS_3

Lea POV


"Kamu siapa?" Tanyaku saat seorang pria tiba-tiba saja menelukku.


Pria itu melepaskan pelukannya namun mata semua orang yang ada restoran itu tertuju kepada kami.


"Aku Max." Jawab Max.


Aku mengerutkan keningku, berusaha mengingat wajah terakhir dari pria yang kucintai itu, dan ya benar itu Max.


"Max, benarkah?" Tanyaku dan setelah kupastikan, itu memang Max aku kembali memeluknya.


"Max! Kamu masih hidup Max." Aku terisak dalam pelukannya.


Plek!


Plek!


Rue memandang mutiara yang mulai berjatuhan dan kemudian mengambilnya, "Maaf, perhiasan Lea sering putus." Katanya.


Aku melepas pelukanku, aku tidak boleh menangis! Max membenarkan pakaiannya begitu pula denganku. Kami berjalan menuju meja tempat Brad menunggu.


"Kalian saling kenal? Itu pertemuan yang cukup mengharukan." Ucap Brad.


"Dia..." Max baru akan menjawab tapi Rue sudah memotong jawabannya.


"Kami pernah dekat namun karena satu dan lain hal kami harus berpisah sementara." Jawab Rue.


"Diucapkan dengan baik sekali Rue." Ucap Max.


Aku merasa ini mimpi, bisa bertemu dengan Max lagi apalagi dia masih hidup. Entah apa yang di laluinya sampai dia berubah seperti ini.


Aku tidak paham apa yang dibahas oleh Brad, pikiranku, hatiku bahkan tubuhku hanya fokus kepada Max. Dan aku rasa dia merasakan hal yang sama. Karena sedari tadi dia hanya menatapku tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dariku.


Setelah selesai pertemuan hari ini, Max menarik tanganku.


"Aku ingin berbicara denganmu. Ikut aku sekarang." Sahutnya.


Aku berusaha memanggil Rue tapi sepertinya Rue tidak mendengarku.


Max membawaku ke rumahnya, "Ed, jangan pulang ke rumahku. Habiskan waktumu seharian ini diluar!" Sahut Max dan melemparkan kartu hitam miliknya.


Pria yang bernama Ed menangkapnya dan tersenyum lebar, "Hehe..pilihan yang tepat Max." Kata Ed.


Max menarik tanganku dengan cepat, "Mau kemana kita?" Tanyaku


"Rumahku." Jawab Max singkat.


Aku membayangkan ke rumah Max di kota kecil itu dan aku mulai ketakutan. Bagaimana tidak? Disanalah aku dipisahkan oleh Max. Dan hujan peluru serta suara desingan senapan tanpa henti mengarah kepada kami.

__ADS_1


Max menangkap raut wajah takutku, dia menggenggam tanganku, "Tidak usah khawatir. Aku membeli rumah baru di kota ini. Ed banyak membantuku." Kata Max menenangkanku.


Aku menarik nafas lega, "Kemana Nelson?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Mati." Jawabnya singkat.


Aku berdeham, "Aku bertemu Eleanor baru-baru ini. Dia kekasih Brad ternyata." Ujarku.


Max terdiam dan hanya menyahut, "Hmm. Aku tidak peduli. Aku lebih tertarik mendengar cerita tentangmu." Kata Max.


"Bagaimana denganmu? Kenapa bisa sampai disini?" Tanyaku.


Tak beberapa lama kemudian, mobil Max masuk ke dalam area gedung yang sangat tinggi dan mewah. Kami masuk menggunakan lift dan menuju lantai paling atas.


Max membukakan pintu untukku, "Masuklah." Katanya mempersilahkanku masuk.


Aku masuk dan duduk di salah satu kursi besar dan panjang, "Kamu sudah lama disini Max?" Tanyaku.


Max duduk di sampingku, "Ceritakan tentangmu!" Tukasnya.


"Tidak banyak yang harus aku ceritakan. Aku dan Rue bertemu dengan Brad setelah pergi dari tempatmu. Aku menangis sepanjang jalan, dan orang-orang memunguti mutiaraku. Rue memakaikan aku topi supaya tidak ada yang melihat kalau aku mengeluarkan mutiara." Sahutku memulai bercerita.


Kemudian aku bercerita kami di tolong oleh Brad, diajak tinggal bersamanya, di berikan kepercayaan untuk mengelola bisnisnya.


Max mengangguk, "Brad sebaik itu?" Tanya Max.


"Ya, aku paham. Tapi kenapa orang sebaik itu bisa bersama Eleanor?" Tanya Max lagi.


"Dia hebat, Eleanor itu. Bisa mengenaliku hanya dari suaraku. Sesaat kupikir dia bersamamu tapi dia sendiri. Dia tampak dewasa." Sahutku.


"Tentu saja, satu tahun bukan waktu yang lama untuk merubah seseorang." Jawab Max.


"Dan bagaimana denganmu?" Tanyaku.


"Aku? Aku sangat terpuruk semenjak kamu pergi. Kamu telah membawa sebagian hidupku, Lea." Jawab Max.


Aku tertunduk, apakah hubungan kami kali ini bisa berjalan dengan baik? Ayah tidak pernah turun ke bumi sejak hari itu. Bahkan Rue pun selalu berada di sampingku.


Max mengangkat wajahku, "Bisakah kita kembali seperti dulu? Kali ini kita bisa lebih tenang karena tidak ada Nelson atau Eleanor." Ucap Max.


Deg!


Jantungku berdegup kencang..


Bagaimana aku harus memberikan jawaban? Aku takut jika aku bersamanya, akan terulang hal-hal buruk seperti setahun lalu.


"Jujur saja aku takut Max." Jawabku.


Max berusaha memahami jawabanku, "Aku tau. Baiklah kalau begitu. Kita bisa berteman dan bertemu setiap hari kan?" Tanya Max.

__ADS_1


Aku mengangguk dan tersenyum, "Boleh. Mainlah ke rumah kami Max. Aku dan Rue hanya tinggal berdua karena Brad berpikir kami adik kakak. Padahal wajah kami tidak mirip." Ucapku.


"Saat aku mengantarmu nanti aku akan mampir ke rumahmu." Kata Max.


Kemudian kami berbincang-bincang selayaknya teman yang tidak bertemu sejak lama.


***


"Lea, bisa ikut aku sebentar?" Tanya Brad kepadaku suatu hari.


Aku menoleh kepada Rue dan beranjak mengikuti Brad dari belakang. Ia mengajakku untuk makan di sebuah restoran.


"Sepertinya kamu dekat dengan Max?" Tanya Brad.


Aku mengangguk, "Max teman lamaku." Jawabku singkat.


"Sudah lama berteman?" Tanya Brad lagi penuh selidik.


Aku mengangguk, "Sudah cukup lama." Jawabku.


"Yang kudengar, Max berasal dari kota kecil di Selatan dan dia adalah seorang mafia. Bisakah aku mempercayai seorang mafia untuk bekerja sama denganku?" Tanya Brad.


Aku memandangnya tajam, "Jika aku katakan kepadamu kalau aku seorang peri dan seorang penyihir yang selalu membawa tongkat sihirku kemana pun aku pergi bahkan airmataku pun akan berubah menjadi mutiara saat aku menangis, apakah kamu masih percaya kepadaku dan mempekerjakanku?" Aku bertanya kembali kepadanya.


Brad tersenyum, "Justru aku akan memintamu untuk mempercepat pekerjaanmu dengan tongkat ajaibmu itu, hehehe." Jawabnya terkekeh.


"Tapi kamu tidak tau aku penyihir jahat atau baik yang mungkin saja sewaktu-waktu bisa merubahmu menjadi seekor kadal besar atau kecoa." Sahutku.


Brad kembali tertawa, "Hahaha, lalu kenapa kamu percaya kepadaku?" Tanya Brad.


"Perasaanku dan Rue mengatakan kamu orang baik." Sahutku berbohong. Mana mungkin aku berkata kepadanya bahwa Rue bisa membaca pikirannya.


"Jadi, benar Max seorang mafia?" Tanya Brad.


"Tergantung kepercayaanmu Brad. Selama dia baik dan bisa di percaya, mau dia seorang mafia, atau penyihir sekali pun itu tidak menjadi masalah kan?" Sahutku.


Brad tersenyum, "Aku suka pola pikirmu. Baiklah aku akan menandatangani perjanjianku dengan Max hari ini juga dan terimakasih untuk pencerahannya." Ucap Brad.


Brad kemudian memintaku untuk menikmati sajian yang sudah tersedia di depan kami.


Tak...tok


Tak...tok


Suara langkah sepatu berhak tinggi bergaung di seluruh restoran itu, "Halo penyihir kecil." Sahut wanita itu.


Aku menatap ke arah wanita itu tajam, "Eleanor." Sahutku menganggukan kepalaku.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2