
Max POV
"Aku memegang janji ayahmu, jadi aku minta kepadamu tolong turuti aku atau nyawaku melayang. Aku masih mau menikah Lea dan berkeluarga jadi turuti perintahku!" Sahutku menegaskan kepada Lea saat kami baru saja turun kembali ke bumi.
"Ya tuan Mafia." Jawab Lea.
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku mendengar jawabannya. Sesampainya di tempat kediamanku kami telah disambut oleh Eleanor dan Nelson.
Sejak kapan mereka saling kenal?
"Lea, kembalilah ke kamar. Ada yang mau aku urus sebentar. Dan Rue tolong jaga dia, jangan sampai kabur." Perintahku kepada Rue.
Aku berjalan menghampiri Eleanor dan Nelson.
"Pria kita sudah datang. Mari kita lanjutkan perbincangan kita." Kata Nelson.
"Ini rumahku. Silahkan masuk." Sahutku mengambil alih. Nelson menarik bibirnya ke bawah dan mempersilahkan Eleanor masuk ke dalan terlebih dahulu.
"Jadi?" Tanyaku.
"Eleanor tadi datang terlebih dahulu, wanita cerdas ini menjawab semua keraguanku, Max tentang Lea barumu itu. Dia bukan istrimu, tapi dialah yang istrimu." Kata Nelson merangkul Eleanor.
"Lalu? Dimana masalahnya?" Tanyaku mulai tak nyaman.
"Perjanjianmu, Max." Tuntut Eleanor.
"Apa maksudmu?"
"Aku yakin kamu paham betul tentang perjanjian kita ini, Max." Sahut Eleanor lagi.
Aku tidak pernah lupa janji itu, hanya saja setelah aku bertemu dengan Lea, aku merasa perjanjian itu sudah lenyap. Eleanor bukan Lea, itu yang aku sayangkan.
"Aku ingat perjanjian itu." Jawabku jujur pada akhirnya.
"Kamu telah mengingkarinya, Max. Dan aku menuntut janjimu untuk segera kamu genapi." Kata Eleanor.
Nelson mengangguk-angguk dan entah kenapa dia tersenyum dan tampak bahagia sekali. Aku sendiri tidak paham apa yang membuatnya bahagia.
"Baiklah. Tinggallah disini dan jangan keluar-keluar lagi." Sahutku kepada Eleanor.
"Aku minta kepadamu untuk memperlakukanku seperti kamu memperlakukan Lea. Mengajaknya keluar, berjalan ke pusat kota, makan bersama, atau hanya sekedar berhaha-hihi di kedai es krim." Pinta Eleanor.
Aku tersenyum, "Lea bukan istriku. Jelas berbeda." Aku menjawabnya.
"Jelaskan dimana bedanya!" Pertanyaan itu bukan dari Eleanor melainkan dari Nelson.
"Kamu tidak perlu ikut campur!" Tukasku.
"Aku dan Eleanor sekarang berteman. Jadi, aku mendukungnya." Jawab Nelson santai.
"Bedanya adalah aku hanya menggenapi janjiku kepada Elanor sedangkan bersama Lea, aku sangat menikmati setiap detik bersamanya. Itu bedanya." Jawabku.
Dan aku baru menyadarinya kalau Lea mulai istimewa untukku, Lea bukan lagi seorang wanita biasa bagiku. Bahkan hanya mengingat kenyataan itu aku tersenyum sendiri saat ini.
__ADS_1
Eleanor bangkit berdiri dan menamparku,
Plak!
"Sadarlah Max. Janjimu adalah hutangmu!" Seru Eleanor.
Aku masih tersenyum saat menatap wanita di depanku ini, "Sudah kubilang, tinggalah disini seperti dulu. Aku berusaha menggenapi janjiku, Eleanor. Tapi maaf, aku tidak bisa membiarkan Lea keluar dari rumah ini karena aku juga sudah terikat janji dengannya." Sahutku dan melihatnya serius.
Setelah itu aku bergegas pergi ke ruanganku tapi Nelson menahanku, "Bagaimana denganku?" Tanya Nelson.
"Apa masalahmu?" Aku bertanya kepadanya.
"Aku ingin mengajakmu bekerja sama. Duduklah dulu Max." Kata Nelson sambil menunjuk kursi di depannya dengan kepalanya.
Aku menarik nafasku dan duduk di tempat yang sudah ia tunjukkan, "Cepatlah." Sahutku lelah.
"Aku ingin kita menjadi satu kelompok. Kamu tetap akan menjadi Don, Max. Aku mendaftarkan diriku menjadi underboss. Kamu lihat? Aku merendahkan diriku hanya untukmu, Max. Bagaimana?" Kata Nelson.
"Idemu gila, Nelson. Aku tidak bisa." Aku menolaknya. Tentu saja, aku mempunyai banyak keluarga yang harus aku lindungi disini. Penggabungan wilayah akan menjadikan kedudukanku rentan, tentu saja aku tolak.
"Kita bisa mengalahkan sindikat-sindikat tidak jelas itu bersama-sama. Dan lagi, bayangkan pajaknya, Don." Nelson mulai membujukku.
Aku memandang ke arahnya, "Aku tidak tertarik. Maafkan aku saat ini aku lelah sekali." Sahutku dan bangkit berdiri.
Eleanor mengikutiku, "Apa yang baru saja kamu lakukan bersama Lea sampai kamu lelah?" Tanyanya.
"Aku senang dengan pertanyaanmu. Tentu saja kami bercinta sepanjang malam hingga pagi tadi." Jawabku tersenyum dan meninggalkan Eleanor yang kesal.
...----------------...
Lea POV
Malam itu aku dan Max tidur di kamarnya seperti biasa. Yang tidak biasa adalah Max tampak lelah sekali dan begitu bertemu dengan Eleanor serta Nelson dia langsung tertidur. Apakah berjalan ke kerajaan di atas awan semelelalhkan itu? Padahal kami terbang dan tidak berjalan kaki. Lemah sekali manusia bumi ini.
"Eenngh.."
Max tiba-tiba gelisah dalam tidurnya, keringatnya mulai membasahi seluruh badannya. Aku mendekatinya, "Max." Panggilku lembut.
Grep
Max menangkap tanganku. Apa yang sedang terjadi di alam bawah sadarnya? Biasanya Rue tau tentang mantra yang dapat menyelami mimpi.
Genggaman tangan Max makin kuat hingga terasa seperti mencengkramku.
"Max. Bangunlah." Aku berusaha membangunkannya.
Aku mengusap lembut dadanya, "Max, bangunlah Max." Sahutku berbisik.
"Max!" Ucapku lebih kencang.
Max terkesiap dan membuka matanya, dia memelukku erat sekali. Dan kupikir dia menangis. Aku membalas pelukannya dan membelai lembut punggungnya hanya untuk membuat Max kembali tenang.
"Maafkan aku. Aku membuatmu terbangun yah?" Tanya Max kepadaku.
__ADS_1
Aku menggeleng, "Aku yang membuatmu terbangun. Sepertinya ada yang kamu pendam dan tidak bisa kamu keluarkan." Tanyaku.
Max mengangguk, "Lupakanlah." Katanya dan kembali tidur.
"Tunggulah disini aku akan meminta lilin mantra kepada Rue." Sahutku.
Tapi Max menggelengkan kepalanya lagi, "Aku hanya butuh kamu untuk menemaniku disini. Maka dari itu tetaplah disisiku." Pinta Max.
"Sebentar kok. Aku nanti akan kembali kesini lagi. Kalau kamu takut kamu bisa menungguku." Sahutku beranjak turun dari ranjang Max.
Max kembali menahan tanganku, "Lea kumohon." Pinta Max lagi. Dan kali ini ia menarikku ke dalam pelukannya.
Semoga Rue tau apa yang kubutuhkan saat ini.
Keesokan harinya aku terbangun dengan Eleanor menatapku tajam.
"Max! Bangunlah!" Tukas Eleanor sudah mengangkat bantak untuk membangunkan Max.
Aku menahannya, "Biar aku yang membangunkannya. Semalaman dia menangis dan tidak bisa tidur. Mengertilah Eleanor." Sahutku berbisik dan menyeret Eleanor ke luar ruangan.
"Aku tidak peduli kamu siapanya tapi bersikap baiklah. Kasihanilah Max, dia benar-benar tidak tidur. Kita berteman baik, jadi aku harap kamu bisa memahami itu." Ucapku.
"Aku memutuskan untuk tidak berteman kembali denganmu." Kata Eleanor tajam.
Wah gawat kalau Eleanor tidak mau berteman lagi denganku, nanti aku tidak akan mendapatkan gaji darinya.
"Jangan bicara seperti itu Elanor. Bagaimana pun kamu sudah ada di hidupku begitu pula denganku, begitu kan?" Sahutku lagi.
Eleanor menepis tanganku, "Mulai detik ini tidak saling mengenal, menjauhlah dari Max! Aku yang akan mengurusnya karena aku istrinya." Tukas Eleanor.
Aku menatapnya kesal. Kenapa harus memutuskan pertemanan? Toh juga aku tidak melakukan apa pun dengan Max. Aku mengetuk kamar Rue.
"Rue. Aku masuk yah." Sahutku dan membuka pintu ruangan Rue.
"Aku bisa melihat semuanya. Nyonya Lily memberikanku bola kristal dan aku bisa memantau kalian." Katanya, wajahnya memerah.
Aku menutup mulutku, "Jadi kamu tau tentang tadi malam? Sepanjang malam Max memelukku apa kamu juga tau itu?" Tanyaku kepada Rue.
Rue memalingkan wajahnya, "Tentu saja." Katanya, "dan untuk sementara menjauhlah dari Eleanor. Dia mempunyai niat jahat terhadapmu dan Max." Rue memperjelas lagi.
"Apa maksudmu?" Aku bertanya karena tidak mungkin Eleanor berniat jahat kepadaku atau Max. Aku akan mendukungnya andaikan dia mempunyai niat jahat terhadap Nelson.
"Aku tidak tau pasti. Tapi saat ini menjauhlah sementara dari manusia-manusia bumi itu. Untuk Max, aku akan memantrainya dari jauh setiap malam." Ucap Rue.
Aku memandang ruangan Max yang sepi, biasanya pintu ruangan Max selalu terbuka dan sekarang tertutup. Akankah aku selalu melihat pintu yang tertutup itu?
Nyut
Aku memegang dadaku, kenapa nyeri rasanya? Nanti aku akan minta ramuan kepada Rue.
Semoga Max baik-baik saja disana.
...----------------...
__ADS_1