
Lea POV
"Eleanor." Sahutku.
"Wow, santai sekali sapaanmu kepadaku. Brad, apa kamu tau Lea adalah seorang penyihir. Airmatanya luar biasa." Kata Eleanor.
"Ya, membuallah Eleanor. Aku tidak peduli." Sahutku.
Brad memandangku dan Eleanor bergantian, "Apa yang terjadi dengan kalian? Apa kalian saling membenci atau bagaimana?" Tanya Brad.
"Tidak, hanya saja kami memperebutkan sesuatu atau lebih tepatnya seseorang." Jawab Eleanor.
"Tidak ada yang memperebutkan disini hanya kesalahpahaman kecil yang terjadi di antara kami dan itu berlarut-larut sehingga sulit untuk di selesaikan." Jawabku.
Eleanor duduk di samping Brad dan mengecup bibirnya dengan manja, "Apa kamu tau babe, hari ini temanku ada yang berulang tahun. Bolehkan aku datang? Tapi aku butuh perhiasan baru, aku akan senang sekali jika itu terbuat dari mutiara." Kata Eleanor dan menekankan di bagian mutiara sambil melirik ke arahku.
Brad tampak bosan dengan Eleanor, "Bekerjalah, Lea. Kalian berdua sama-sama bernama Lea, wajah kalian pun seperti kembar tapi sifat kalian sangat bertolak belakang." Ujar Brad.
"Tentu saja aku berbeda dengannya." Sahutku memprotes. Aku tidak mau disama-samakan dengan Eleanor yang manja.
Brad tertawa, "Hahahaha, aku tau perasaanmu Lea." Kata Brad.
Eleanor melepaskan pelukannya dari Brad dan cemberut, "Aku tidak suka kamu membela dia. Kekasihku itu kamu, jadi seharusnya kamu membelaku bukan dia. Dan lagi aku tidak suka bekerja, itu terlalu ribet dan membuat kepalaku berputar karena pusing." Sahut Eleanor.
Brad mengeluarkan dompetnya dan memberikan Eleanor kartu berwarna hitam kepadanya, "Pergilah dan jangan ganggu aku." Ujar Brad.
Eleanor mengecup pipi Brad kali ini dengan kegirangan, "Terimakasih Brad. Dan jangan terlalu dekat dengan penyihir kecil itu, kamu akan berubah menjadi sesuatu jika dia sedang kesal, hahaha." Ucapnya.
Brad memandangku dengan mata takjub, "Eleanor tidak pernah berbohong atau menipuku tapi memang dia agak manja. Dia kuanggap sebagai adikku sendiri tapi dia menganggapku sebagai kekasihnya. Kisahnya sama sepertimu." Kata Brad mengungkapkan perasaannya.
"Jadi menurutmu aku dan Rue seorang penyihir?" Aku bertanya dengan tidak melepaskan mataku darinya.
Brad tersenyum kembali, "Entahlah. Aku tidak tau ada apa di antara kalian tapi aku percaya kalian orang baik. Dan satu hal yang bisa kurasakan saat ini adalah aku menyukaimu dari pertama kita bertemu. Mau kamu seorang penyihir atau bukan, seperti katamu aku tidak peduli." Jawab Brad.
"Terimakasih kalau kamu percaya kepada kami." Sahutku.
Selama Brad belum tau airmataku bisa berubah menjadi mutiara kuanggap itu aman.
Begitu aku selesai dengan Brad aku menemui Rue dan kuceritakan pertemuanku dengan Brad.
"Tidak masalah. Cepat atau lambat dia akan mengetahui itu melihat dari pekerjaan kita yang tidak mungkin diselesaikan oleh waktu manusia normal." Kata Rue menyahuti.
__ADS_1
"Atau memang kita yang terlalu disiplin karena semakin aku mengenal manusia semakin pusing aku di buatnya. Mereka sering mengulur waktu padahal waktu itu sangat berharga." Sahutku lagi.
"Bagaimana dengan Max?" Tanya Rue.
Aku kembali bercerita tentang Max, tentang dia pindah rumah, tentang kematian Nelson,
"Nelson? Sudah sewajarnya dia mati. Anthem akan dengan senang hati menerimanya." Kata Rue puas.
Aku menceritakan juga tentang keinginan Max yang ingin kembali seperti dulu, tapi aku masih ada rasa takut.
"Kenapa harus kembali kepada Max?" Tanya Rue.
"Ya, karena perasaanku masih sama seperti dulu kan? Maksudku masih belum berubah hanya takut saja." Jawabku berkilah.
"Sore ini Brad mempunyai jadwal untuk bertemu dengan Max dan kita akan ikut serta dengan mereka." Kata Rue.
Aku memberengutkan bibirku, "Aku tidak suka sebenarnya, aku tidak nyaman. Hanya karena kita belum mempunyai rumah sendiri kita harus menuruti Brad. Akan kuikrarkan kembali cita-citaku, menjadi manusia dan menjadi kaya! Semangat Lea! Baiklah, ayo Rue." Ucapku bersemangat.
Sore itu, Brad mengajakku dan Rue ke pusat perbelanjaan dan dia meminta kami untuk memilih baju dan lain-lainnya.
"Ketika aku kaya nanti, aku juga akan berbuat demikian. Orang yang pertama kubelanjakan adalah kamu, Rue." Bisikku kepada Rue di tengah kesibukan kami memilih pakaian.
"Hish!" Tukasku kesal.
Setelah kami memilih pakaian, Brad mengajak kami bertemu Max di sebuah gedung tinggi bernama hotel.
"Oke, kita tinggal menunggu Max disini. Kamu lapar Lea?" Tanya Brad.
Aku menggeleng, "Tidak. Mari kita selesaikan ini dulu setelah itu kita bisa makan." Sahutku dengan gaya professional.
Brad merupakan pria pemerhati, dia memperhatikan segala sesuatunya dengan detail dan benar-benar memperhatikan kenyamananku juga.
Tak lama Max datang bersama dengan Eddie, teman yang ia ceritakan kepadaku. Jika dibandingkan dengan Nelson jauh sekali perbedaannya. Ed sosok pria yang ceria dan ramah, sedangkan Nelson dari wajahnya saja aku sudah tau dia orang yang serakah dan licik.
Kami berbicara mengenai kerjasama yang akan dilakukan oleh Max dan Brad untuk perusahaan baru mereka. Dimana Max sebagai penanam modal sekaligus penan saham terbesar di perusahaan yang mereka dirikan.
Agak membosankan karena aku tidak paham apa yang mereka bicarakan, Brad tau aku bosan dan dia mengajak untuk beristirahat sebentar,
"Kita istirahat sebentar karena sepertinya Nona Lea ingin melakukan sesuatu. Silahkan Lea." Kata Brad.
Max menatap tajam pandangan Brad terhadapku, "Oke, kita istirahat sebentar." Ucap Max.
__ADS_1
Max menggandeng tanganku, "Sepertinya kamu dekat dengan Brad?" Tanya Max dengan nada agak kesal.
"Aku sudah bercerita kepadamu kalau aku dan Rue dibantu oleh Brad jadi tentu saja kami dekat." Jawabku.
"Pandangannya beda terhadapmu, belum lagi cara dia menatapmu." Tukas Max.
Aku mulai kesal, "Lalu?"
Max mengacak-acak rambutnya dengan kesal, "Sudahlah. Aku hanya tidak suka kamu terlalu dekat dengannya!" Seru Max lagi.
"Aku tidak paham maksudmu." Ujarku kemudian aku pergi meninggalkan Max.
Aku tidak suka diatur. Ayahku saja tidak mengaturku, kenapa orang lain harus mengaturku?
Rue menangkap tanganku, "Ada apa denganmu?" Tanya Rue.
Aku menceritakan kepada Rue tentang Max.
Rue tertawa, "Selamat datang di bumi dan Max sedang cemburu. Nikmatilah, drama percintaanmu sudah dimulai." Jawab Rue tersenyum-senyum kecil menggodaku.
Drama percintaan? Sudah kubilang aku tidak memikirkan itu! Rue bodoh!
Aku kembali menuju tempat pertemuan kami tadi, Brad menghampiriku begitu juga dengan Max.
"Kamu bosan?" Tanya Brad kepadaku.
Max merangkulku, "Dia tidak akan bosan karena ada aku di sisinya. Bukan begitu Lea?" Kata Max.
Aku benci situasi ini, "Aku tidak bosan dan aku baik-baik saja. Mari kita selesaikan ini dengan cepat." Sahutku bergegas pergi.
Namun, baik Max dan Brad menangkap pergelangan tanganku.
Aku memejamkan mataku dan berpindah tempat,
Slap!
Kemudian aku melambaikan tanganku kepada Max dan Brad yang tercengang, "Aku sudah siap." Sahutku.
Rue menyusulku dengan cepat, "Langkah yang bagus untuk membuka identitas dirimu sendiri, Lea. Aku suka cara bodohmu itu untuk menghindari tatapan cinta mereka, hahaha." Ucap Rue
...----------------...
__ADS_1