Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Short Cut


__ADS_3

Lea POV


"Antara aku dan Max yang akan mati? Aku akan menyelamatkannya." Ucapku kepada Rue.


Sore itu, seusai pernyataan cintaku dan Max yang penuh drama. Ayahku datang dengan membawa pesan dari Meltem. Dan ayah datang bersama dengan Anthem.


"Tidak bisa Lea, nama kalian sudah tercatat di notebookku dengan kata lain sudah menjadi kehendak Sang Penguasa." Kata Anthem.


"Aku tidak akan menyerah! Kalau perlu aku akan berbicara langsung denganNya!" Sahutku geram.


Ayah memelukku, "Ini sudah tertulis Lea, kita tidak punya kuasa untuk mengubahnya." Bisik ayah.


"Aku akan tinggal bersama Max kalau begitu dan aku akan melakukan apa saja dengannya! Kalau perlu aku akan membuat seorang anak supaya Penguasa melihat kesungguhan cintaku dengan Max!" Tukasku dan aku berkemas.


Aku mengambil koperku dan membawa beberapa baju yang aku suka saja.


"A...apa maksudmu dengan apa saja anakku? Maksudmu kamu mau melakukan adegan dewasa dengan Max? Tidak Lea, kumohon jangan lakukan itu." Airmata ayah mulai berderai dan hujan pun turun.


Kalau ayahku menangis akan turun hujan, kalau hanya rintik-rintik berarti ayahku terisak. Tapi kalau hujan sangat deras disertai angin kencang itu berarti ayah dan ibuku sedang bertengkar hebat. Kalau setelahnya ada pelangi, kalian tau lah ada adegan dewasa yang terjadi setelah pertengkaran hebat itu.


"Aku akan menghabiskan sisa waktuku dengan Max! Akan kupastikan Max tetap hidup apa pun yang terjadi!" Tukasku lagi dan bergegas keluar rumah.


Begitulah, kenapa aku bisa sampai di rumah Max malam ini karena aku sudah bertekad untuk melindungi Max.


Keesokan harinya aku terbangun, dan betapa terkejutnya aku saat melihat Max di sampingku,


"Aaah, Lea turunkan aku!" Aku menerbangkan Max ke udara dan kuarahkan tongkatku ke arahnya.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kita bisa tidur berdua?" Tanyaku dengan tongkat tetap terarah kepada Max.


"Kamu lihat saja kita berdua tidak memakai pakaian apa pun. Dan asal kamu tau itu kamu yang memulainya. Aku sudah berusaha menahannya tapi kamu...kamu hebat sekali jadi pertahananku goyah." Jawab Max lemah.


Aku menurunkan tongkatku,


Gedebuk!


"Ouch! Ternyata begini rasanya menikah denganmu. Sedikit ekstrim tapi ya sudahlah bagaimana pun aku mencintaimu." Kata Max.


Aku segera menolong Max untuk berdiri dan memapahnya ke atas ranjang, "Maafkan aku. Itu karena aku belum terbiasa tidur berdua dengan orang lain." Ucapku malu-malu.


Max mengibaskan tangannya, "Tidak masalah. Aku juga akan belajar untuk bersiap siaga setiap pagi dan kalau perlu aku akan bangun sebelum kamu bangun." Jawab Max masih meringis kesakitan.


Aku mengajak Max untuk sarapan, sebagai seorang wanita manusia biasanya setiap pagi harus membuatkan sarapan untuk kekasihnya, maka aku akan membuatkan Max sesuatu untuk dimakan.


Aku mengetuk-ngetukan jariku di meja dapur Max, ah...aku pernah melihat Rue membuat ini.


Jadi, aku menyiapkan panci kuisi dengan air. Kemudian aku masukan ini itu, dan kutambahkan bumbu ini dan itu. Setelah semuanya jadi, aku menuangkan hasil masakanku ke dalam mangkuk.


Kemudian aku mengambil entah apa itu, aku memasukan roti ke dalamnya tapi aku tidak tau bagaimana dia keluar nanti, dan tiba-tiba

__ADS_1


Tring!


Roti-roti itu menyembul keluar dengan sendirinya, tapi kenapa warna rotiku tidak sama seperti di gambar? Apa yang salah? Aku kembali memasukan roti lain ke dalam mesin sihir itu,


Tring!


Roti dengan warna yang sama seperti yang pertama keluar, sudahlah mungkin gambarnya membohongiku! Aku meletakkan roti-roti yang sedikit hitam itu di piring.


Dengan langkah bahagia dan perasaan bangga karena aku telah berhasil memasak dengan baik, aku memanggil Max.


"Max, aku membuatkanmu sarapan. Makanlah bersamaku." Sahutku tersenyum.


Max sedang mengancingkan kemejanya, "Benarkah? Baiklah aku akan kesana sebentar lagi." Katanya antusias.


Tak lama kami sudah siap di meja makan, dan Max menatap roti-rotiku dengan heran, "Lea, apa ini?" Tanya Max.


"Roti. Aku membuatnya di mesin itu tapi kamu tau Max, gambar yang ada di kotaknya itu bohong! Mereka membohongiku karena warna rotiku berbeda dengan yang di gambar!" Sahutku kesal.


Max memincingkan matanya kemudian ia menggigit sedikit ujung roti itu, tak lama ia terbatuk-batuk, "Uhuk...uhuk. Ini pahit sekali." Katanya.


"Pahit? Aku tidak mencampurnya dengan obat apa pun." Sahutku dan mencobanya segigit. Ketika roti itu menyentuh lidahku, "Hueeee... Benar katamu ini pahit sekali. Jangan dimakan nanti kita keracunan." Tukasku.


Sebelum aku membuang roti-roti itu, aku meminta maaf kepada mereka, "Maafkan aku roti. Aku juga korban penipuan gambar, kamu tau? Sekali lagi aku minta maaf." Sahutku.


Tak lama aku kembali ke meja makan dan menyajikan cream sup ke dalam mangkuk kecil untuk Max.


"Cobalah." Sahutku, aku menunggunya dengan jantung berdebar.


Pasti enak karena aku membuatnya dengan sepenuh hati.


Suapan pertama akan masuk ke dalam mulut Max, "Hueeek, Lea apa ini? Aku rasa aku akan mati lebih cepat di tanganmu...uhuk...uhuk!"


Aku memukul-mukul punggung Max, dan mencoba sup itu sesendok, "Kenapa aneh rasanya? Kenapa Rue bisa membuatnya enak?" Tanyaku berpikir.


"Apa kamu pernah memasak sebelumnya?" Tanya Max.


Aku menggelengkan kepalaku, "Apa kamu lupa aku seorang putri? Segala keperluanku sudah tersedia. Baiklah, aku tidak akan masak lagi. Apa yang ingin kamu makan?" Tanyaku.


Max melambaikan tangannya, "Tidak perlu memasak lagi, Lea. Cukup." Katanya.


"Aku akan menggunakan tongkatku, sebentar." Aku mengayunkan tongkatku dan sajian sarapan pun terhidang di atas meja dengan rapi.


"Kenapa tidak daritadi?" Tanya Max.


"Karena aku ingin seperti manusia, ingin bisa memasak." Jawabku memberengutkan bibirku.


Max tersenyum, "Terimakasih sudah berusaha membuatnya." Katanya dengan manis.


Aku membalas senyumannya, "Selamat makan." Ucapku.

__ADS_1


Setelah pagi yang menghebohkan itu, aku dan Max berangkat bekerja bersama-sama.


***


"Bersiaplah, sebentar lagi mereka datang." Kata Rue kepadaku.


"Mereka siapa?" Aku bertanya.


"Max, siapkan dia. Minta dia untuk berhati-hati dan berjaga-jaga." Sahut Rue lagi.


"Anthem dan kawan-kawannya? Apakah sudah waktunya?" Tanyaku.


"Bukan Anthem. Mereka yang akan membuat salah satu dari kalian akan mati." Jawab Rue.


Aku meminta Rue untuk menemaniku menemui Sang Penguasa, "Temani aku ke atas!" Pintaku.


"Tidak bisa kan? Itu sudah di gariskan seperti itu, Lea dan kamu tidak bisa merubahnya." Kata Rue tampak sedih.


"Aku bisa merubahnya! Aku pasti bisa Rue!" Jawabku kemudian aku mencari Max.


"Max! Max!" Sahutku.


Max sedang berada di ruang kerjanya, "Ada apa?" Tanya Max.


"Ayo kita menikah sekarang!" Tukasku bersemangat.


"Hah? Bagaimana?" Tanya Max meragukan jawabanku.


"Ayo kita menikah, aku ingin memakai gaun putih cantik yang biasa dipakai manusia." Aku menjawabnya.


"Kenapa mendadak?" Tanya Max bingung.


"Karena aku ingin! Ayo kita cari gaunnya sekarang Max!" Aku menarik tangan Max, tapi Max malah menarikku mendekat dan aku terjatuh di pangkuannya.


Dia mengecup bibirku, "Apa karena sudah dekat?" Tanya Max.


Aku menutupi mulutku, "Kamu tau, Max? Kamu sudah tau? Ayahku memberitahukanmu yah?" Tanyaku.


Max mengangguk, "Itu juga alasanmu tinggal bersamaku, bukan?" Tanya Max lagi.


Aku mengangguk, "Tapi Max kumohon jangan berpasrah diri, jangan takut dan jangan menyerah. Kita bisa merubah ini. Aku pastikan itu kalau tekad kita kuat, Penguasa itu tidak akan bisa berbuat macam-macam." Sahutku.


Max menciumku lembut, "Aku tidak takut dan aku tidak akan menyerah. Kita akan berjuang bersama kan?" Tanya Max.


Aku mengangguk dan berterimakasih untuk semangatnya.


"Ayo kita pergi mencari gaun itu setelah itu ayo kita menikah!" Sahut Max tiba-tiba.


Aku tersenyum. Aku berlari ke arah jendela dan aku berteriak, "Ayah! Aku akan menikah hari ini dan hari ini juga aku akan melakukan adegan dewasa yang sebelumnya sudah aku lakukan! Datanglah ke pernikahanku sore ini! Ayah, apa kamu mendengarku?" Tanyaku.

__ADS_1


Sebuah kilat datang menyambar, dan aku menganggapnya sebagai jawaban dari ayah ibuku.


...----------------...


__ADS_2