
Matt POV
Pagi hari itu aku terbangun dan betapa terkejutnya aku, Lea ada di sebelahku! Apa yang aku lakukan tadi malam? Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian tadi malam?
"Pa...pagi, Lea." sapaku, membangunkan Lea.
Lea meregangkan tubuhnya kemudian sontak tersadar, "Dimana aku? Apa yang terjadi?" tanya Lea yang segera memeriksakan tubuhnya dan menarik selimut sampai ke batas hidung.
"Tidak mungkin tadi malam kita melakukan adegan dewasa, kan Matt? Berbaliklah aku ingin memakai pakaianku." ucap Lea.
Aku tidak bisa memandangnya, wajahku sangat panas. Kenapa hal itu bisa terjadi? Ah, ini karena hujan. Aku mengacak-acak rambutku.
Aku kembali ke kamarku, dan melihat Lea yang masih berselimut tebal memandang keluar jendela, "Lihat, sekarang ada pelangi. Pelangi di pagi hari, indah sekali." ucap Lea.
Aku menghampirinya dan berdiri di samping Lea, "Ya, itu indah sekali." jawabku.
Lea tiba-tiba terkikik, "Orangtuaku sedang melakukan sesuatu juga sama seperti kita, hihihi." kata Lea yang kemudian berdiri menghadapku dan memandangku.
Tak lama, keluarlah sayap dari belakang punggungnya dan membuatnya terangkat. Sekarang ia berhadapan denganku, dengan lembut Lea menciumku kembali.
Aku ingin menolaknya tapi ciuman Lea menghanyutkanku. Aku tidak dapat menghentikan ini dan maafkan aku, Axel karena aku melanggar janjiku tapi percayalah Lea adalah satu-satunya wanita yang melakukan ini bersamaku. Jadi, tubuhmu aman.
Otakku terus berbicara kepada Axel, dan setelah meminta maaf dan meminta ijin darinya, aku bisa menikmati ciumanku dengan Lea.
Hingga satu jam kemudian, kami belum beranjak dari ranjang kami. Dan tak lama, perusak suasana pun datang,
Plop!
"Aku mencari kalian dimana-mana ternyata kalian sedang asik saling menghangatkan diri disini. Apakah kamu sudah ijin kepada Axel, Matt?" tanya Anthem sambil mengepakkan sayapnya.
"Berhenti mengepakkan sayapmu, Anthem! Kamu lihat kami hanya memakai selimut? Lalu bagaimana kalau selimut ini terangkat dari tubuh kami?" protes Lea.
__ADS_1
Anthem memandangnya mengejek, "Apa yang bisa aku lihat darimu, Lea? Tubuhmu kecil seperti itu, tidak ada yang bisa di nikmati." ucap Anthem mencemooh Lea.
Sayap Lea muncul dan mengepak dengan kencang, matanya mulai berubah menjadi kelereng berwarna biru methalic.
Aku memeluknya dan menurunkannya kemudia aku masukan kembali Lea ke dalam selimut, "Lain kali kalau mau marah, pakai pakaianmu dulu." ujarku lembut dan beranjak dari ranjangku sendiri.
Setelah berganti pakaian, aku membuatkan sarapan untuk Lea dan Anthem. Apakah begini rasanya menjadi seorang ibu? Ketika aku sibuk di dapur, dua makhluk bersayap itu sedang ribut bertengkar. Kepalaku terasa pecah mendengarnya. Terberkatilah semua ibu di dunia ini dengan kesabaran dan kekuatannya.
"Hei! Hei! Mau makan atau terus berdebat?" tanyaku.
Mereka terdiam begitu melihatku membawa makanan. Tak lama tidak ada lagi perdebatan yang ada hanyalah suara berdenting pisau, garpu dan sendok.
"Terimakasih atas makanannya, Matt." sahut mereka.
"Oke, tujuanku kesini adalah aku ingin kalian membantuku mempersiapkan pernikahanku dengan Alesya." ucap Anthem.
Kami semua bersorak gembira mendengar berita itu, "Kamu akan menikah? Benarkah itu? Akhirnya Anthem. Oh, aku turut bahagia mendengarnya." kata Lea memeluk Anthem.
"Begitu semuanya selesai. Kami tidak mengundang banyak orang hanya beberapa teman Alesya dan warga langit, tentu saja." jawab Anthem.
"Wowh, ini akan menyenangkan!" ucap Lea antusias. Aku sudah bisa merasakan aura pesta keluar dari Lea dan Anthem.
"Aku meminta bantuanmu untuk menemani Alesya menyiapkan segalanya, sedangkan aku akan bersama Matt dan Rue akan mengurus ijin turun Raja Wren dan semua penghuni langit." jawab Anthem
"Kenapa repot sekali? Kalian datang saja ke atas dan menetaplah disana." usul Lea.
Aku setuju dengan usul Lea, "Benar apa yang dikatakan Lea. Kita pindah saja pestanya ke atas. Aku yakin Alesya tidak akan keberatan." kataku mengusulkan.
Anthem tampak berpikir, "Bisa saja, nanti aku akan bicarakan ini dengan Alesya. Dia akan sedikit takut aku rasa." jawab Anthem lagi.
"Kalau dia takut, kenapa dia mau menikah denganmu?" tanyaku.
__ADS_1
"Itulah keajaiban cinta. Kata Penguasa itu, kalau cinta tidak mengenal batasan. Dan semua makhluk yang telah diciptakan berhak dicintai dan mencintai." jawab Anthem.
Benar apa yang dikatakan oleh Anthem bahwa cinta tidak mengenal batasan dan kita tidak bisa memilih untuk kepada siapa kita jatuh cinta.
Seperti kisahku dan Lea saja, hanya soal waktu sampai kami bisa hidup bersama dengan bahagia kan? Tapi sejujurnya aku iri kepada Anthem, dia bisa lebih cepat bahagia.
"Jangan berpikir seperti itu. Doakan saja supaya ini berjalan lancar, Matt! Kamu lihat sayapku? Sayapku yang malang, bulunya selalu lepas dan beterbangan. Tapi aku juga belum memikirkan bagaimana jika aku menjadi manusia. Hentikan kegalauan ini." sahut Anthem membaca pikiranku.
"Mudah saja. Carilah yang nyaman untuk kalian berdua. Aku ingin menjadi seperti Lea, tapi Penguasa sudah menjawabku katanya itu hal yang mustahil karena aku di gariskan menjadi seorang manusia sampai aku mati nanti." ucapku menjelaskan.
"Kenapa kamu ingin menjadi seperti kami?" tanya Lea.
"Tentu saja, supaya aku bisa selalu melindungimu. Dan kita bisa terus bersama-sama selamanya." jawabku.
Wajah Lea memerah, "Be...benar juga. Tapi aku ingin menjadi manusia. Aku ingin merasakan menjadi tua bersamamu. Ketika kita nanti saling mencari rambut putih, ketika kita nanti saling memijat satu sama lain, ketika kita tertawa terkekeh saat melihat anak dan cucu kita, dan aku ingin merasakan bergandengan tangan dengan tangan keriput kita nanti. Itu pasti akan mengasyikan." jawab Lea.
Itu juga keinginan Anthem.
"Tapi, begitu manusia tua nanti, mereka akan takut dengan kematian." jawabku.
"Tidak semua manusia seperti itu, Matt." sanggah Anthem.
"Aku pernah menjemput seorang pria tua, penyebab kematiannya karena tua. Dia meninggal saat ia tertidur. Kamu tau? Dia ceria sekali saat aku menjemputnya dan dia berkata kepadaku, kenapa aku terlalu lama menjemputnya. Saat aku bertanya kepadanya, kenapa ia ingin sekali di jemput, dia menjawab kalau hidup di dunia itu melelahkan dengan segala perkara yang ada dan lagi umur dia sudah tidak muda lagi, pasangannya sudah meninggalkannya lebih dulu. Begitu mereka di pertemukan di taman Penguasa, aku terharu sekali, Matt. Itulah alasanku ingin menjadi manusia ketika aku bertemu jodoh manusiaku." kata Anthem menutup ceritanya.
"Itu manis sekali, Anthem." ujar Lea.
Aku terhanyut dalam cerita Anthem, "Baiklah, ayo kita mulai bersiap-siap untuk acara Anthem. Apa yang harus aku lakukan pertama?" tanyaku.
Anthem tersenyum, "Pertama, kita akan menjemput Alesya dan mengantar wanita-wanita ini kemana tadi katanya itu, bridal apalah itu. Setelah itu, kamu harus menemaniku mencarikan sesuatu supaya aku menjadi makhluk tertampan yang pernah ada di alam semesta ini." kata Anthem bersemangat.
Aku menautkan alisku, "Kupikir itu terlalu berlebihan, Anthem. Tapi karena hari itu kamu akan menjadi pangeran baiklah, mari kita jadikan hari ini sebagai Anthem's Day!" ucapku tertawa geli.
__ADS_1
...----------------...