
Lea POV
Matt... Matt.... Matt... Matt!
Siapa sebenarnya manusia itu!
Rasa penasaranku semakin membuncah setiap kali aku melihatnya dan yang anehnya lagi, dia di kelilingi oleh malaikat yakni Castiel dan Anthem.
Mereka selalu datang bertiga, Anthem tidak akan mau bercerita kepadaku. Dia menikmati aku yang memohon-mohon kepadanya.
"Psst, Castiel!" Aku membisiki Castiel. Dia sedang menunggu Matt yang sibuk bekerja.
"Hei, Lea." Serunya.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mendeteksi keberadaan Anthem, kanan aman dan kiri juga aman. Aku menarik nafas lega,
"Aku di belakangmu Lea." Sahut Anthem tiba-tiba.
Seketika aku memejamkan mataku, "Tidak bisakah aku bicara berdua dengan Castiel? Toh aku tidak pernah mengganggumu dengan Alesya!" Tukasku kesal.
Anthem berkacak pinggang, "Kamu mau tau tentang Matt, kan? Biarkan ini berjalan secara alami Lea. Sama sepertiku, cinta itu tidak bisa diburu-buru." Kata Anthem menasihatiku dengan bijak.
"Cih!" Aku mengejeknya sengit.
"Mattku tampan yah?" Tanya Castiel memamerkan Matt.
"Apakah dia Max? Castiel, jawab aku atau aku akan katakan kepada ayahku kalau kamu tidak kami ijinkan lagi bermain dengan Sirene." Aku berusaha mengancamnya.
Castiel tidak bergeming, "Baiklah, kalau begitu aku akan meminta kepada Nyonya Titipati untuk memberikanmu bonus kukis setiap kali kamu membayar hutangmu." Aku kembali mengancamnya dengan tingkatan yang lebih tinggi dan berhasil, aku tersenyum dalam hati.
"Kenapa harus begitu? Apakah kamu tau betapa sulitnya menagih hutang? Max saja masih punya cicilan sayap kepadaku, dan.." Castiel tiba-tiba merapatkan bibirnya.
Aku menarik sayap Castiel, "Apa katamu? Dia memiliki cicilan sayap? Kenapa Max harus memakai sayap? Jadi dia ada dimana?" Tanyaku menuntut.
Anthem dan Rue yang sekarang ikut mendengarkan percakapan kami menggelengkan kepala mereka, "Sangat bodoh Castiel." Gumam Rue.
Akhirnya Castiel menyerah, "Maafkan aku karena aku mengeluarkan cerita itu jadi bisakah aku menceritakan saja kepada Lea apa yang terjadi dengan Max?" Tanya Castiel.
"Ya, boleh. Silahkan Castiel. Kamu mau makan atau minum apa? Aku akan mentraktirmu." Sahutku.
"Matt itu Max. Dia memakai tubuh orang lain supaya tetap hidup." Jelas Castiel.
Aku menutup mulutku, "Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyaku, suaraku tercekat dan sulit sekali untuk mengucapkan serangkaian kalimat sederhana itu.
"Dia mencoba menyelamatkanmu di Api Penyucian." Anthem yang menjawabnya untukku.
Aku menghela nafasku dan airmataku dengan cepat membasahi pipiku dan bergulir ke bawah menjadi butiran mutiara.
"Lea, jangan menangis. Tahan tangisanmu." Ucap Rue kemudian ia bergegas memelukku.
"Aku tau ini berat untukmu. Aku pun baru tau cerita ini dari kalian. Apa Max bodoh atau bagaimana? Apakah dia tau bahwa Api Penyucian itu panas sekali? Astaga." Rue mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
Aku dan Rue saling bertukar pandang karena tidak tau harus berkata apa lagi. Kami hanya memikirkan Max di dalam Api Penyucian.
"Saat itu kan dia hanya sebuah jiwa, kenapa dia tidak terpikirkan kesana sih?" Tanyaku tak habis pikir.
"Dia menyelamatkanmu Lea. Dia menarikmu dari sana." Jawab Anthem mencoba membela Max.
"Apa kamu tidak menjelaskan bahwa aku menukar nyawanya dengan nyawaku? Dan anehnya kamu mengabulkan permintaannya itu! Kamu kan tau Anthem, kalau Max itu selalu bodoh!" Tukasku kesal.
"Tubuhnya hancur, Lea dan dia mendapatkan hukuman dari Penguasa selama 365 hari lebih sedikit. Penguasa masih mengijinkannya turun ke bumi karena memang belum saatnya dia mati." Kata Castiel mencoba menyelesaikan penjelasannya.
Aku hanya menggelengkan kepalaku saat Castiel bercerita tentang Max.
"Tubuh siapa yang dia pakai?" Tanyaku.
Castiel memberikanku sebuah foto seorang pemuda sederhana, "Axel Johnson. Penguasa mengambilnya untuk duduk di sisiNya, sedangkan Max menempati tubuhnya dengan memakai nama belakang yang sama. Matthew Johnson." Jawab Castiel.
"Dia sudah lolos?" Tanyaku lagi.
Castiel dan Anthem mengangguk, "Memangnya kamu mau menggantikan dia lagi?" Tanya Anthem sinis.
"Bukan! Aku ingin berterima kasih kepadanya. Dan untuk sayap Max, berapa kali lagi cicilan si bodoh itu?" Tanyaku.
"Enam bulan lagi." Jawab Castiel.
"Aku yang akan melunasinya. Berikan nomor rekeningmu sekarang." Sahutku.
Castiel segera menuliskan nomor rekeningnya kepadaku, dan aku mentransfernya dengan cepat, "Lunas yah. Jangan tagih Max lagi. Lindungi saja dia. Tapi untuk malam ini menjauhlah darinya, karena aku akan berbicara dengannya." Ucapku.
"Hai Matt. Selesai kerja jam berapa nanti?" Tanyaku.
Matt tampak gelagapan, "Oh, eh, hai. Aku sebentar lagi selesai. Ada apa Le...ada apa nona?" Tanya Matt gugup.
"Aku tunggu kamu di meja itu selesai kamu bekerja, oke? Temui aku disana." Ucapku.
***
Setelah hari mulai malam, Matt menemuiku di tempat yang aku tunjukkan sebelumnya.
"Halo Nona." Sapanya.
Aku mempersilahkan Matt untuk duduk, "Silahkan duduk." Sahutku.
Aku mengeluarkan tongkat berbintangku, dan Matt tidak terkejut sama sekali. Aku mengayunkan tongkatku dengan satu ayunan tangan, dan segera saja restoran itu sepi menyisakan kami berdua disana.
Lilin di tengah meja menyala, aku mengayunkan tongkatku lagi dan beberapa koki memasakkan makanan untuk kami serta membawakan kami minuman di dalam botol.
"Hai, baru kali ini ada manusia yang tidak terkejut melihat pertunjukan sulapku." Sahutku tersenyum.
Matt tersenyum, "Aku rasa kamu sudah tau siapa aku." Jawabnya. Matanya terus menatapku, tidak sedetik pun ia lepaskan daripadaku.
"Aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri. Siapa kamu sebenarnya?" Tanyaku.
__ADS_1
"Begitukah? Aku Matthew Johnson." Jawabnya mengulurkan tangannya.
"Aku Lea." Sahutku sambil membalas uluran tangannya.
"Oke, salam kenal Lea." Kata Matt.
Tak lama makanan kami pun datang. Kami menikmati makanan kami sambil berbincang-bincang.
Aku menyadari bahwa itu Matt atau Max belum mau terbuka sepenuhnya kepadaku.
"Matt, apakah kamu adalah Max?" Tanyaku.
Matt hanya menatapku tanpa mampu menjawab pertanyaanku.
"Castiel, malaikat pelindung tubuhmu yang memberitahukannya kepadaku." Ucapku lagi.
Matt tampak bingung sekarang, "Siapa Castiel? Aku hanya tau Anthem." Jawab Matt.
Ini tidak sesuai dugaanku? Apa yang terjadi dengan Matt, "Apa kamu tau nama Lea sebelumnya?" Tanyaku memancingnya.
Matt menggelengkan kepalanya, "Tidak. Kita baru bertemu hari ini kan?" Jawab Matt.
Apa ada yang salah? Apa aku salah orang? Kenapa dia tidak ingat kepadaku.
Tak lama Anthem dan Rue datang, mereka menghentikanku untuk menanyai Matt.
"Hai Matt." Sapa Anthem.
"Hai Anthem." Jawab Matt.
"Lea, ada yang harus kita bicarakan dahulu." Bisik Rue.
Aku menatap Rue dan Anthem.
"Aku serahkan Matt kepadamu." Ucap Rue.
"A...apa maksudnya itu Rue?" Tanyaku.
Rue merangkulku dan,
Syut!
Kami sudah berada di rumah kami,
"Matt memang Max tapi ada hal-hal yang memang ia lupakan dan seperti itu prosesnya Lea. Jangan paksa dia untuk mengingatmu. Apa kamu paham tentang reinkarnasi? Itulah yang dialami Max. Paham?" Sahut Rue.
Reinkarnasi?
Kepalaku tiba-tiba pusing dan berputar, "Aku tidak paham Rue. Aku hanya terlalu merindukannya." Ujarku, airmataku kembali lagi mengalir akan tetapi kali ini Rue membiarkan aku menangis.
...----------------...
__ADS_1