Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Anthem and Death Valley


__ADS_3

Lea POV


"Seenaknya sendiri memutuskan dan membuat janji seperti itu! Apa dia pikir dia mempunyai sembilan nyawa? MAX BODOH!" seruku menahan kesal kepada Max.


"Kamu bisa membangkitkan jiwa orang yang sudah tenang disini Lea." Ucap Rue santai.


"Maafkan aku. Aku numpang lewat untuk mencari seorang pria yang katanya mafia tapi sangat amat bodoh. Kalau ada dari antara kalian yang melihatnya bisa beritahukan kepadaku." Ujarku sambil melewati bayangan-bayangan hitam yang sedari tadi berada di sekeliling kami.


Kami sedang berada di Lembah Kematian. Disinilah Anthem akan membawa jiwa-jiwa yang sudah mati tapi tidak memperoleh kedamaian.


Anthem itu tampan dan kalau ada yang melihatnya dia tidak akan mengira kalau Anthem adalah Malaikat Kematian. Dia sering memakai jas hitam, kemeja putih kadang malah merah muda dengan dasi panjang atau dasi kupu-kupu. Rambutnya necis sekali. Saat aku bertemu dengannya pun aku tidak menyangka kalau dia Malaikat Kematian.


"Aku sudah menceritakannya kepada pembaca di bab sebelumnya." Tukas Rue.


Aku memandangnya kesal, "Kan tidak masalah jika aku menceritakannya lagi dengan lebih detail." Sahutku.


Tak lama kami di ssstt oleh salah satu jiwa yang melayang-layang di atas kepala kami. Rasanya sangat dingin, jelas saja karena mereka hanya jiwa yang kosong. Entah kemana isinya?


Aku tidak pernah bisa memahami manusia bumi. Kenapa bisa mereka tidak mempunyai jiwa?


Kami terus berjalan menyusuri lembah, tapi tidak ada tanda-tanda Max atau bahkan Anthem.


"Rue dimana mereka kira-kira berada?" Tanyaku.


Rue tampak berpikir, "Apa mungkin Anthem membawa Max ke Api Penyucian?" Tanya Rue.


Api Penyucian adalah tempat dimana jiwa-jiwa manusia yang sudah meninggal di sucikan sebelum di angkat ke surga.


"Tidak mungkin kan? Ayah bilang Max belum mati!" Sahutku.


"Apa mungkin di Sungai Pembuangan?" Tanya Rue lagi.


Aku menatapnya kesal, "Kan sudah kubilang, Max belum mati!" Sahutku geram.


"Mati atau hidup itu tetap jiwa Max! Kita tidak tau Anthem membawanya kemana karena Raja hanya meminta Anthem mengajaknya jalan-jalan." Jawab Rue.


Benar juga sih, tapi aku harus mencari Max kemana? Kami meneruskan perjalanan. Setelah tadi dipenuhi bayangan hitam, sekarang kami masuk ke dalam area dimana ada sebuah sungai berwarna kuning kehijauan yang terletak di tengah-tengah lembah. Inilah yang namanya Sungai Pembuangan.


Konon katanya manusia yang mempunyai banyak dosa tak terampuni akan dibuang kesini terlebih lagi untuk mereka yang tidak pernah di doakan. Mereka akan terus berputar-putar disana entah sampai kapan. Kasian sekali.


Tak...tok


Tak..tok


Terdengar suara tongkat yang di ketukan ke tanah. Aku mengalihkan pandanganku, "Anthem. Dimana Max?" Seruku.


Anthem dengan wajah tampannya tersenyum, "Apa menurutmu dia ada di dalam sana? Karena sudah banyak darah yang mengalir dari tangannya jadi dia kubersihkan di dalam Api Penyucian." Jawab Anthem santai, "kalau sekiranya dia sudah cukup bersih, aku akan mengeluarkannya dan mengembalikannya ke bumi." Sambung Anthem lagi.

__ADS_1


Aku merasakan luapan emosi kepada malaikat yang tampan ini, percuma saja tampan kalau ia tidak mempunyai hati seperti ini!


"Jadi dia berada di dalam Api Penyucian?" Tanyaku dengan nafas memburu.


Anthem mengangguk ceria, "Ya, kamu benar sekali anak cantik." Jawab Anthem.


Aku berlari dan bergegas menyelamatkan Max. Dia belum mati, untuk apa mendapatkan pembersihan seperti itu! Aku bahkan belum mengatakan aku mencintainya! Malaikat Kematian sialan itu akan kuobrak abrik dia setelah aku berhasil mengeluarkan Max dari Api itu.


Api Penyucian terletak di paling ujung Lembah Kematian, disana sangat panas berbeda dengan di depan tadi.


Aku akan masuk ke dalamnya, tapi bagaimana cara masuk ke dalam sana?


Rue dan Anthem menyusulku dan untunglah dengan begitu aku jadi bisa bertanya bagaimana masuk ke dalam api itu untuk menyelamatkan Max dan sekaligus aku akan minta kepada Rue mantra perlindungan tambahan untuk melindungiku.


"Rue, tambahkan mantra perlindungan untukku. Aku sudah merapalnya." Kataku.


"Apa kamu benar-benar ingin masuk ke dalam sana?" Tanya Rue tidak percaya.


"Kalau kamu masuk berarti kamu siap mati, Lea. Aku akan segera memotong benang kehidupanmu kalau begitu." Sahut Anthem santai seakan-akan kami sedang membahas aku yang tidak boleh memakan terlalu banyak kayu manis dengan gula karena nanti sakit gigi, begitulah.


"Terserah kamu!" Sahutku, "bagaimana masuk ke dalam sana?" Tanyaku lagi.


"Masuk saja seperti kamu masuk ke dalam sungai untuk berenang hanya saja ini panas sekali dan banyak jiwa yang belum berhasil masuk surga atau neraka. Setelah carilah Max dan bawalah jiwanya ke atas. Kemudian satukan dengan tubuhnya. Semudah itu." Jawab Anthem.


"Ada pesan untukku?" Tanyaku.


"Sayang sekali, cita-citaku menjadi seorang manusia bukan malaikat apalagi malaikat kematian! Baiklah, aku pergi!" Tukasku.


Aku mengangguk dan beralih kepada Rue, "Doakan aku Rue." Ucapku.


"Aku akan menemanimu." Sahut Rue.


Aku melarangnya, "Tidak perlu. Berjagalah saja disini andaikan terjadi sesuatu kepadaku kamu harus siap menolongku Rue atau mencari bantuan ke bawah." Ucapku.


Sebelum melompat ke dalam sana aku memgumpulkan keberanianku terlebih dahulu. Aku menghembuskan nafasku dan,


Ssszzzz!


Aku berenang di dalam sungai itu. Benar kata Anthem ada banyak sekali jiwa-jiwa yang melayang-layang di sekitar api ini. Bayangkan saja di dalam api bisa melayang? Sampai sejauh mana tingkat halusinasi penulis ini?


Ada salah satu jiwa yang berusaha menarikku untuk kubebaskan, tapi aku berhasil menendangnya menjauh.


Aku kembali berenang menyusuri sungai penuh jiwa itu dan semakin dalam aku berenang, semakin banyak lolongan yang terdengar olehku. Mengerikan sekali.


Sampai sejauh ini aku belum melihat Max, dihanyutkan di sebelah mana Max itu? Anthem sialan itu benar-benar ingin mengajakku bergabung di divisi kematian rupanya! Sungguh terlalu!


Aku berhenti sebentar untuk mengambil nafas, dan kemudian menyelam kembali namun,

__ADS_1


Jreeeeng!


Sebuah jiwa yang kosong dengan mata yang sangat sayu dan pipi tirus menghadang di depanku!


Aku memberikannya tinju daruratku,


Bugh!


Jiwa itu melayang jauh dan segera hilang dari pandanganku,


"Maafkan aku manusia tak dikenal." Ucapku dalam hati kemudian aku berenang kembali.


Aku menajamkan pandanganku untuk mencari Max,


Max


Max


Max, dimana kamu?


Selintas aku melihat Max melayang, warnanya belum pucat jadi mudah sekali di kenali.


Aku kembali muncul ke permukaan untuk mengambil nafas dan menyiapkan tongkatku, untunglah aku membawa tongkat untuk memudahkanku menjangkau jiwa Max.


Tak lama aku sudah berada di dalam sungai lagi, aku berusaha menjangkau Max dengam tongkatku karena Max terlalu dalam disana.


Plentang!


Ah tidak! Tongkatku tergelincir, dan jatuh semakin dalam. Bagaimana ini?


Rue, tolong aku!


Aku melupakan tongkatku dan fokus kepada Max. Namun beberapa jiwa kembali menarikku. Mereka sangat kuat, satu jiwa memegangi tangan kananku, satu jiwa memegangi tangan kiriku, dan yang lain mengerubuti kakiku!


"Mmmmhhh! Lepaskan aku!" Aku berusaha menendang mereka dan mengibaskan tanganku sekuat yang aku bisa.


Semakin banyak aku bergerak, semakin banyak jiwa-jiwa yang menarikku dan membawaku semakin jauh dari Max.


"Max! Bangunlah! Max!" Aku berseru, tapi hanya gelembung yang keluar dari mulutku.


Nafasku semakin habis, aku tercekat di dalam sungai tanpa dasar itu!


Aku memejamkan mataku, berharap Rue mendengarku...


"Rue, tolong aku!" Sahutku dalam hati.


...----------------...

__ADS_1


NB : ini murni hasil halusinasi tingkat dewa dari aku, jadi tidak nyata yah friends. untuk have fun saja 🤗💜


__ADS_2