Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
The Palace


__ADS_3

Lea POV


"Terimakasih sudah membantuku untuk bersaksi." Aku mengucapkan terimakasih kepada Max yang telah bersaksi untukku.


Saat ini kami sedang berjalan-jalan di sekitar kerajaanku setelah kejadian dengan bola kristal yang menakutkan.


"Jadi? Apa itu tadi?" Tanya Max


"Itu Nyonya Lily, dia adalah pembaca kebenaran. Kamu tidak bisa berbohong di depannya." Jawabku.


Max berdecak kagum, "Wow. Aku tidak bisa berada disini karena kebohonganku akan segera terungkap." Kata Max sambil bercanda.


"Apa yang kamu sembunyikan?" Aku bertanya menyelidik.


Max tersenyum, "Sesuatu yang lebih menakutkan daripada kematian." Katanya suram.


Aku memandangnya, "Apa itu?" Tanyaku lagi.


Max tiba-tiba teringat sesuatu, "Aku lupa aku menciummu. Maafkan aku." Katanya, Max mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.


Kenapa dia mengalihkan pembicaraan kami kesana? Sama seperti Max, tiba-tiba saja sarang laba-laba menjadi seratus kali lebih menarik.


"Tapi itu untuk menenangkan emosimu seperti yang kamu lihat di dalam bola kristal. Aku tidak bermaksud apa-apa. Lupakanlah kalau kamu tidak suka." Kata Max


"Aku suka." Jawabku cepat. Entah sudah seperti apa wajahku saat ini.


Max tertunduk. Rue menyusul kami dari belakang, ia mengetahui apa yang terjadi sehingga ia menjaga jarak dari kami.


"Lea, apakah kamu akan kembali?" Tanya Max.


Aku mengangkat bahuku, "Entahlah. Aku ingin turun lagi ke bumi tapi sepertinya itu akan sulit." Aku menjawabnya


Max memperhatikan teman-temanku yang tinggal di kerajaan kami. Kemudian ia memperhatikan sayapku, "Sayapmu bagus. Dan apa gunanya ini?" Tanya Max.


Vivi dan Rose yang menjawab pertanyaan Max itu, "Lea. Max, bagaimana tadi?" Tanya mereka kemudian mendarat di depan kami.


"Seperti yang kalian tau, Max bersaksi di depan ayahku dan Nyonya Lily dan Nyonya Lily tidak menemukan satu kebohongan pun pada Max. Akhirnya ayahku membebaskan kami." Aku menjelaskan kepada Vivi dan Rose.


Max tidak mempedulikan jawabanku, "Bisakah kamu mengajakku terbang?" Tanya Max.


Vivi dan Rose tertawa cekikikan. Mereka menggoda Max, "Tadi kamu teriak-teriak ketakutan sedangkan disini kamu meminta Lea mengajakmu terbang."


"Disini lebih aman, aku tidak akan takut tertabrak gedung." Jawab Max berkilah.


Baiklah, karena dia tadi sudah menolongku maka aku akan mengajaknya terbang.

__ADS_1


Aku meminta Max untuk memejamkan matanya dan aku menaburkan bubuk peri kepadanya.


"Apa kamu siap, Max?" Aku bertanya kepadanya, dan Max mengangguk.


"Wow!" Sahutnya saat Max mendapati dirinya terbang tanpa sayap.


"Hahaha, inilah rumahku Max. Lebih indah dari tempat asalmu. Tapi kalau kelamaan disini pasti akan bosan juga." Ucapku.


Aku mengajak Max mendarat di air terjun pelangi, kami menikmati suasana disana dan duduk di pinggir air terjun itu.


"Indah sekali yah." Kata Max.


Aku mengangguk, "Aku senang bermain seluncuran di atas sana karena setelah meluncur kita akan bisa berenang di dalamnya." Sahutku.


Aku terbang ke lengkungan pelangi dan bermain seluncuran disana.


Byur!


"Max, kemarilah." Sahutku memanggil Max.


Max terbang dan dengan takut-takut duduk di lengkungan pelangi. Aku menyusulnya dan mendorong Max ke dalam kolam air terjun yang dingin.


Byur!


Max tertawa, kami bermain air di dalam kolam air terjun selama beberapa waktu.


Aku mengangguk, "Kalau kita disini lebih lama aku akan menunjukan kepadamu sungai putri duyung. Kamu bisa bermain bersama mereka. Mereka cantik-cantik sekali Max. Tapi jika mereka sudah marah, wajahnya bisa menjadi sangat mengerikan."


Max menatapku dalam, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arahku dan mencium bibirku dengan lembut. Ciuman kami semakin dalam dan lama, dan aku rasa itu tidak akan berakhir jika Rue tidak melompat ke dalam kolam air terjun.


Byur!


"Apa aku mengganggu kalian?" Tanya Rue tanpa dosa.


***


Max POV


"Maafkan saya Yang Mulia. Itu salah saya, bukan salah Lea." Sahutku mencoba menjelaskan


"Nona Lea!" Tukas Raja


"Nona Lea Yang Mulia, maafkan saya." Ucapku


"Jelaskan apa yang terjadi!" Perintah Raja Wren

__ADS_1


Aku terus menunduk dengan hormat dan menceritakan tentang kejadian beberapa hari yang lalu saat Nelson bermain gila dengan aku dan Rue.


Kalau tidak melihat bola kristal aneh itu aku tidak akan pernah ingat apa yang terjadi dan aku tidak akan tau kalau Nelson melakukan tindakan gila seperti itu.


Selesai aku bercerita, Raja Wren mengangguk-angguk sambil mengusap jenggot panjangnya. Aku jadi teringat King Triton ayah dari putri duyung di sebuah film.


Aku mencubit diriku sendiri supaya aku sadar bahwa ini nyata dan sekarang nasibku ada di tangannya.


"Jadi kamu mencintai putriku?" Tanya Raja Wren.


"Tidak Yang Mulia." Aku menjawabnya, jantungku berdetak dengan cepat tanpa aku perintah, apa karena aku melihat Nyonya Lily dan bola kristalnya yang berpendar aneh?


"Lantas kenapa kamu menciumnya?" Tanya Raja Wren lagi.


"Itu karena saya ingin membantu nona Lea untuk tenang dan meredam emosinya. Saya tidak tau harus bagaimana lagi meredam emosi nona Lea. Maaf Yang Mulia." Aku melirik ke arah bola kristal yang berubah menjadi hijau. Apa maksudnya itu?


"Kenapa kamu ingin membantunya kalau kamu tidak mencintainya?" Tanya Raja lagi.


Sial, aku saja belum paham dengan perasaanku.


"Saya mungkin menyukai nona Lea tapi belum mencintainya. Maafkan saya." Sahutku.


Raja Wren tertawa begitu juga dengan Nyonya Lily, "Anak muda bagaimana kamu membedakan suka dengan cinta? Begini, aku tidak akan membiarkan Lea turun ke bumi lagi. Saat itu Lea baru mengeluarkan sepertiga emosinya, belum seluruhnya keluar. Kekuatan yang ada di dalam diri Lea luar biasa besar dan itu bisa membahayakan dirinya sendiri." Raja Wren menjelaskan.


"Saya akan menjaganya, Yang Mulia." Entah apa yang kupikirkan tapi kata-kata itu meluncur saja dari mulutku.


"Apa yang bisa kamu lakukan, anak muda? Lea belum merasakan sakit saat di bumi dan aku sangat tau bagaimana rasanya penghianatan, kebohongan, atau kepalsuan. Aku tidak mau Lea merasakan hal seperti itu. Sebelum itu terjadi, aku melarangnya turun ke bumi." Kata Raja Wren menegaskan.


"Saya akan mencegah hal itu terjadi kepada nona Lea. Saya akan menjaganya Yang Mulia." Aku bersikeras pada keputusanku sebelumnya.


"Dengan apa? Bukankah kamu sendiri punya trauma?" Tanya Raja Wren.


"I..itu urusan saya. Maafkan saya Yang Mulia. Tapi saya bisa menjaga nona Lea dengan segala kekuatan saya." Jawabku.


"Apa taruhanmu?" Raja Wren tersenyum menantangku.


"Hidup dan nyawa saya Yang Mulia." Sahutku lagi dan sekali lagi aku dibuat terkejut dengan jawabanku sendiri.


"Baiklah anak muda. Jika Lea mengeluarkan satu butir kecil mutiara dari matanya maka aku tidak akan menunda untuk menghabisimu." Tukas Raja Wren memperingatkan.


"Terimakasih Yang Mulia. Saya akan menjaga nona Lea dan tidak akan membiarkannya terluka sedikit pun." Aku membalas peringatan Raja Wren.


"Baik, aku percaya padamu kali ini. Rue akan tetap menjaga kalian berdua. Dan kembalilah saat Lea sudah siap turun ke bumi. Ingat, satu butir mutiara Lea jatuh berarti satu nyawamu akan melayang." Kata Raja Wren.


Aku mengangguk dan berpamitan kepada Raja Wren dan Nyonya Lily.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2