Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Sight


__ADS_3

Matt POV


Pagi hari itu, Lea menghubungiku. Ia berkata Anthem mengalami kejang karena demamnya yang terlalu tinggi. Saat itu aku sedang memimpin rapat penting dan segera saja kuserahkan kepada Aiden.


Secepat mungkin aku menuju rumah Alesya. Aku melihat Anthem sudah sedikit tenang dan aku segera memapahnya ke rumah sakit.


"Berapa lama tadi dia kejang?" tanyaku.


"Tidak lama, mungkin sekitar satu menit, " jawab Alesya terisak.


Ia terus memegang tangan Anthem sampai kami tiba di rumah sakit.


Anthem segera di masukan ke dalam ruangan unit gawat darurat dan di tangani disana. Anehnya, semua obat yang diberikan untuk Anthem, di keluarkan lagi oleh tubuhnya.


"Bagaimana dok?" tanyaku.


Dokter itu menggelengkan kepalanya sambil membenarkan letak kacamatanya. "Tubuhnya menolak obat-obatan dari kami dan jika terus begini, maka ia tidak akan dapat tertolong," ucap dokter.


"Hanya ada satu cara!" sahut Lea.


Aku dan Alesya saling berpandangan, kami mengerti dan paham apa maksud Lea. Anthem kami kembalikan kepada Penguasa.


Dengan bantuan Lea dan Rue (dia datang menyusul setelah aku menghubungi dia,) kami keluar dari rumah sakit dan membawa Anthem terbang ke tempat Penguasa.


Sesampainya di tempat Penguasa, aku dan Alesya tidak masuk kesana.


"Aku lupa kalau kalian manusia. Aku akan mengantar kalian dulu ke tempat ayahku dan aku akan segera mengabarkan kepada kalian secepatnya," sahut Lea. Ia kemudian menaikan kami ke atas sayapnya dan mengantar kami ke Kerajaan Awan.


"Ayah! Ibu! Aku titip Mat dan Alesya!" ucap Lea.


Ratu Edwina segera menyambut dan menghampiri kami. "Loh, kalau Matt di titipkan disini, kamu mau kemana?" tanya Ratu Edwina.


"Matt dan Alesya akan menjelaskan, terimakasih Ibu," ucap Lea dan terbang menjauh.


Aku dan Alesya menunggu di bawah. Kami bergantian menceritakan apa yang terjadi kepada Anthem. Ratu Edwina mendengarkan dengan seksama, dan menutup mulutnya saat mendengar Anthem mengalami kejang.


Wajahnya tampak sangat khawatir. "Dulu aku tidak serumit Anthem. Waktu itu, aku dari manusia menuju manusia abadi. Aku pun saat itu sempat sakit tapi tidak sampai separah Anthem," cerita Ratu Edwina.


Ia menatap Alesya dan memberikan simpatinya kepada Alesya. "Percayalah, Anthem akan baik-baik saja," ucap Ratu Edwina dan memeluk Alesya dengan sayang.


"Dimana ayah?" tanyaku.


Ratu Edwina melepaskan pelukannya dari Alesya dan bergegas masuk ke dalam untuk memanggil Raja Wren.

__ADS_1


Tak lama mereka sudah keluar lagi. Raja Wren segera memeluk dan menenangkan Alesya. "Aku yakin dia akan baik-baik saja," kata Raja Wren.


"Terimakasih, kalian baik sekali," balas Alesya.


Raja dan Ratu merangkul Alesya dengan sayang.


"Matt, ikut aku," kata Raja Wren kepadaku.


Aku menautkan kedua alisku dan mengikutinya tanpa banyak tanya.


Ternyata Raja Wren mengajakku untuk pergi ke pantai duyung. Ia memanggil Meltem, "Meltem, aku membutuhkanmu, naiklah," titah Raja Wren.


Aku kembali mengerutkan keningku. Kenapa Raja Wren memanggil Meltem? Bukankah dia duyung peramal yang hanya muncul saat meramalkan kejadian yang akan terjadi nanti? Apa maksud Raja Wren?


Seorang wanita cantik dengan rambut berkilau keemasan tiba-tiba muncul membelah air. "Yang Mulia," katanya sopan.


"Meltem, bukalah ramalan untuk Anthem dan Matt," perintah Raja Wren.


Meltem naik ke atas dan duduk di tepi pantai. "Baiklah, Yang Mulia,"


Meltem mengibaskan tongkat besar seperti tongkat Poseidon dan tampaklah video yang serupa dengan film di bioskop. Tapi aku tak bisa melihatnya dengan jelas.


Plep!


"Apa maksudnya itu?" tanyaku.


Raja Wren menganggukan kepalanya kepada Meltem. "Terimakasih Meltem, kau boleh kembali," kata Raja Wren.


Meltem menganggukan kepalanya dengan anggun dan menceburkan dirinya kembali ke pantai. Ia sempat mengibaskan ekornya untuk berpamitan.


"Matt, kau lihat tadi? Oh, kau pasti hanya bisa melihat sekelebatan gambar yang tidak jelas. Baiklah, aku akan menjelaskannya kepadamu," ucap Raja Wren.


Ia mengajakku duduk di tepi pantai yang tadi di tempati oleh Meltem tadi.


"Pada akhirnya kerajaan ini akan jatuh ke tanganmu. Akan ada satu manusia lagi yang akan bergabung dengan kita nantinya. Tentang Anthem, dia akan berhasil menjadi manusia hanya saja sampai satu tahun ke depan, kondisinya akan lemah. Maka dari itu aku meminta kepadamu untuk membantu Anthem dan juga Alesya untuk mengatasi masa-masa berat mereka," kata Raja Wren lagi menjelaskan maksud ramalan Meltem tadi.


Aku berpikir tentang kehadiran satu manusia lagi, apakah itu anakku?


"Apakah manusia itu anakku dengan Lea nantinya?" tanyaku penasaran.


Raja Wren menggelengkan kepalanya. "Aku rasa bukan, Matt. Aku melihat seorang pria," jawab Raja Wren.


Pria? Siapa dia? Apakah dia akan menjadi bagian dari keluarga besar Kerajaan Awan?

__ADS_1


Raja Wren merangkulku. "Kau tau, Matt. Mengurus kerajaan ini tidak sulit, karena semua yang ada disini bergerak dengan sendirinya hanya saja kamu perlu mengatur keharmonisan para peri dan duyung yang ada disini. Kesenjangan di antara para peri sangat tinggi terutama para peri rumah," ucap Raja Wren menjelaskan.


"Peri rumah itu yang selalu membantu ibu?" tanyaku.


Raja Wren mengangguk. "Dan membantu Kerajaan Awan ini supaya tetap indah," jawab Raja Wren.


Entah kenapa aku menyadari banyak peri-peri kecil beterbangan. Ada yang membawa bunga, membawa perkakas, ada pula yang menenteng tumpukan bahan makanan.


Peri bunga tentu saja mereka yang menempel pada bunga. Mereka membawa keranjang kecil yang di dalamnya berisi sebuah pot kecil untuk tempat madu.


Raja Wren tau aku sedang memperhatikan sekelilingku. Dia tersenyum. "Baru terlihat yah? Seorang manusia belum tentu bisa melihat peri-peri ini. Karena mereka hanya ingin melihat apa yang ingin mereka lihat. Saat kamu datang pertama kali kesini apa yang kamu lihat?" tanya Raja Wren.


Aku mengingat saat Lea pertama kali membawaku kesini. Aku pingsan, jujur saja. "Aku takut, kalian semua tinggi dan besar," jawabku.


Raja Wren tersenyum. "Bagaimana dengan sekarang?" tanya Raja Wren.


Benar juga. Perlahan-lahan aku bisa melihat semua makhluk yang ada disini, dan Raja Wren tidak sebesar Raja Triton. Raja Wren sama seperti raja-raja di bumi hanya saja mereka memiliki sayap.


Aku juga bisa melihat makhluk air selain duyung. Ternyata banyak sekali makhluk yang hidup disini. Yang sangat mengesankanku adalah pohon-pohon disini yang seakan menyambut kedatangan kami, daun-daunnya berguguran untuk mengantar kami kemana pun kami pergi.


"Aku terkesan. Mereka seperti sudah mengenalku. Dan pohon besar di dekat singgasanamu, daun-daunnya berguguran hanya untuk menyambutku dan seterik apapun matahari bersinar, pohon itu selalu menaungiku. Aku baru menyadarinya," sahutku.


Tiba-tiba saja daun dari pohon itu kembali berguguran dan menghampiriku. Aku memegang bagian atas dari pusaran daun itu, dan daun-daun itu seperti membungkuk ke arahku dan Raja Wren.


"Mereka sudah mengetahui ramalan Meltem, tidak hanya pohon itu tapi semua makhluk yang hidup disini," sahut Raja Wren masih tersenyum kepadaku.


"Andaikan aku jadi raja, aku tidak bisa terus berada disini sepertimu," ucapku.


Raja Wren tertawa. "Hahaha. Kau pikir aku duduk di singgasanaku sepanjang hari? Aku bermain, berjalan-jalan bersama ibumu, aku menikmati hidupku, Matt. Pantai ini tersambung dengan pantai serta lautan di bumi, kalau aku bosan aku mengajak ibumu berjalan di pantai bawah sana kadang melihat matahari terbit, dan kadang melihat matahari tenggelam," kata Raja Wren membocorkan rahasianya.


Aku menatap Raja Wren yang sekarang sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri ini. "Aku akan berusaha menjadi raja yang baik sepertimu," sahutku.


Teriakan Lea sudah terdengar. Raja Wren dan aku segera menghampiri Lea.


"Bagaimana dengan Anthem?" tanyaku.


Lea menghela nafas lega. "Dia sudah sadar. Aku akan membawanya turun begitu kekuatannya sudah kembali," sahut Lea.


Alesya memeluk Lea. "Terimakasih, Lea," ucapnya.


"Aku tidak melakukan apa pun. Kita sekarang menunggu kekuatan Anthem muncul, paling tidak setengahnya supaya dia bisa menopang tubuhnya sendiri. Berdoalah," kata Lea.


Kami semua saling berpandangan dan mengeratkan pegangan tangan kami. Kami memohon kepada Penguasa untuk memulihkan Anthem.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2