
Anthem POV
Minggu -minggu ini sangat melelahkan. Apalagi setelah kejadian Hades, dan aku mengunjungi dia di Alam Kegelapan.
"Hades." sapaku saat aku datang ke Alam Kegelapan.
Hades datang menghampiriku dan memelukku, "Kakakku tersayang. Yang setelah ratusan abad, baru kali ini kamu mengunjungiku kembali. Tahukah kamu betapa bahagianya aku? Hahaha." jawab Hades tertawa dingin.
Hades sudah berubah menjadi sosok bayangan hitam besar dengan suara dalam yang dingin sekali. Hades tidak berjalan seperti aku, tapi dia melayang.
Aku melihat Brad ada disana, di dalam penjara Hades. Menyedihkan! Bisa-bisanya dia menjual hidupnya kepada kuasa kegelapan.
"Jangan berkata seperti itu kepada temanku, Anthem!" tukas Hades.
"Ya, aku bisa lihat bahwa kalian berteman baik. Nasib dia sama seperti wanita yang bernama Eleanor itu. Sama baiknya." ucapku menyindir Hades.
Hades tertawa lagi, tawanya membuatku merinding.
"Eleanor? Gadis nakal itu, aku jatuh cinta kepadanya, hahaha. Dia...ah sulit sekali diungkapkan dengan kata-kata. Brad yang membawanya kepadaku." jawab Hades, menjilati jari-jarinya seakan kehilangan camilan yang disukainya.
Aku menghampiri Brad dan duduk di sebelahnya, "Apa kamu ingin keluar dari sini? Kalau kamu mau keluar dari sini aku bisa membebaskanmu tapi dengan syarat." bisikku kepada Brad.
"Groaaarr!"
Bruk!
Hades marah dan menghempaskanku kemudian ia melayang dengan cepat ke arahku, "Jangan coba-coba mengambil makananku, Anthem! Selalu itu yang kamu lakukan dari kita kecil! Kamu selalu membebaskan makananku!" tukas Hades marah.
Dia menganggap manusia sebagai makanannya? Itulah, mengapa ibuku sering mengajaknya ke bumi, ya hanya untuk memberikan Hades makanan. Di bumi banyak jiwa-jiwa yang kosong dan tersesat tak tau arah. Mereka menjadi makanan lezat untuk Hades.
Ibuku sama seperti Hades, tapi ayahku seorang malaikat sama sepertiku. Namun, karena ayah begitu mencintai ibuku, dia selalu membela ibu dan Hades. Dan pada akhirnya, mereka menjadi santapan anaknya sendiri.
"Itu bukan makananmu, Hades!" sahutku. Aku menjentikan jariku dan muncullah seekor ayam panggang, kentang goreng, berbagai macam sayuran serta aneka roti.
"Inilah makananmu." ucapku sambil memotong sepotong ayam untuk kuberikan kepada Hades. Brad mencium harum makanan yang ada di depannya, matanya memandang tajam ke arah semangkuk sup dan sepotong ayam. Hidungnya mengendus-endus seperti seekor anjing yang kelaparan.
Aku memberikan sepotong ayam dan semangkok sup juga sebuah roti untuk Brad. Aku memasukkan makanan-makanan tersebut ke dalam kurungannya. Brad dengan segera melahap makanan itu.
"Sudah berapa lama dia tidak makan Hades?" tanyaku.
Hades melihat Brad makan dengan lahap, sedangkan HD sendiri tidak menyentuh apapun yang ada di depannya.
"Berikanlah dia makan yang banyak supaya aku bisa melahapnya ketika dia sudah kenyang nanti. Jiwa manusia yang sedih, frustasi, kesal, atau marah memang enak tapi lebih enak jiwa manusia yang sedang berbahagia, hahaha." kata Hades tertawa nyaring.
"Bebaskanlah dia dan lepaskanlah dia biarkan aku yang menyelamatkan jiwanya. Bagaimanapun dia bukan milikmu, Hades. Dia milik Penguasa. Semua manusia diciptakan olehNya dan akan kembali kepadaNya juga, jadi kamu tidak berhak memiliki setiap inci dari jiwa-jiwa tersebut."
Hades tampak murka dengan ucapanku itu sehingga dia melayang dan mengobrak-abrik seluruh stalaktit yang berada di atas kami sehingga stalaktit itu berjatuhan dan hampir saja mengenaiku.
__ADS_1
"Jangan ucapkan nama Penguasa di tempatku, dari dulu kamu selalu membela Dia. Akulah keluargamu Anthem bukan penguasa. Akulah yang harus kami lindungi bukan Dia!" amarah Hades kembali meledak.
Permasalahan utama Hades dari dulu Memang terletak pada emosinya yang meledak-ledak dan sulit dikendalikan ditambah lagi orang tuaku yang selalu memanjakannya jadilah dia seperti ini sekarang. Menyeramkan menurutku.
"Kasihanilah dia Hades. Dia tidak bersalah walaupun dia memiliki banyak dosa tapi dia tidak bersalah kepadamu. bebaskanlah dia." ucapku.
Hades memandangku tajam, "kita akan melakukan pertukaran. Berikan manusia yang selalu kamu lindungi itu dan aku akan membebaskan manusia yang berada di dalam kurunganku." kata Hades memberikan penawaran.
"Aku tidak akan pernah memberikanmu manusia manapun yang sedang aku lindungi ataupun yang tidak aku lindungi. Bertobatlah Hades sehingga kamu dapat diterima oleh Penguasa." sahutku lagi menasihati.
Hades kembali meraung, "Groooaaarr! Tidak! Ini bukan salahku! Pergi! Pergilah Anthem!"
Swwooosshh!
Hades melayang dan melemparkanku keluar dari Alam Kegelapan.
"Cih! Adik yang tidak sopan!" tukasku kesal sambil merapikan jasku yang kusut. Padahal dia bisa menjadi tampan sepertiku dan mempunyai sayap yang hebat. Sayang sekali Hades.
Aku pergi ke tempat Penguasa dan bertemu denganNya, "Aku menyerah terhadap Hades." jawabku.
Penguasa mengangguk, "Baiklah. Nanti akan kita coba lagi. Terimakasih Anthem karena kamu selalu mendengarkanKu." jawab Penguasa.
Aku berpamitan kepada Penguasa dan kembali turun ke bumi.
Sesampainya aku di bumi, Lea memberikanku kabar yang menurutku bahagia di tengah hariku yang suram.
Bulu-bulu di sayapku kembali berterbangan dan berjatuhan, "Jujur saja aku belum siap. Karena pasti dia ingin memberikan jawaban dari pertanyaanku waktu itu. Bagaimana kalau dia menolakku? Mau diletakkan ke mana lagi wajahku yang tampan ini, Lea?" tanyaku putus asa.
Lea tertawa tergelak, "Kalau kamu tampan, kamu tidak akan takut mendengar jawaban Alesya banyak wanita-wanita cantik lainnya di luar sana, Anthem. Mereka akan rela mengantri begitu melihat wajahmu yang tampan. Yang jadi masalah sekarang adalah Apakah kamu benar-benar tampan? Hahaha!" sahut Lea mengejekku.
"Diamlah kamu, wanita setengah-setengah!" balasku.
Wuuooossh!
Ayshill beraksi seketika,
Cup!
Matt datang dan mengecup bibir Lea, seketika sayap Lea menghilang, dan wajahnya bersemu memerah.
Plop!
"Tahan emosimu, Lea. Baru kemarin kamu terbangun setelah seminggu kamu tidak bisa membuka matamu." ucap Matt.
"Temui Alesya, aku akan membantumu berdandan." sambung Matt lagi.
Ia membelikanku satu set jas, kemeja, dasi serta sepatu pantofel putih.
__ADS_1
"Bagaimana? Oke?" tanya Matt.
Ada perasaan yang sulit aku ungkapkan saat itu, "Aku malu." jawabku perlahan.
Matt tertawa kembali, "Hahaha. Aku baru tau kalau malaikat punya rasa malu." jawab Matt.
***
Aku menemui Alesya yang sudah menungguku di sebuah restoran. Dia cantik sekali, dan dia memakai cincinku.
Dia memakai cincinku!
Alesya - memakai - cincinku! Jantungku semakin berdegup kencang.
Aku ingat kata-kata Matt, "Jika seorang wanita memakai pemberian dari seorang pria, bukan berarti dia menerima cinta kita melainkan dia merasa sayang kalau barang pemberian itu di kembalikan lagi."
Aku meredupkan kembali api harapanku.
"Ha...hai Alesya. Kamu cantik sekali." sapaku.
Alesya tersenyum, "Hai, Anthem. Kamu juga tampan memakai jas berwarna putih itu. Biasanya kamu hitam dari atas sampai bawah." jawab Alesya menggodaku.
"Ah, itu karena pekerjaanku." jawabku tertunduk malu.
Alesya menatapku, "Anthem, kamu mau makan dulu atau mendengarkan jawabanku?" tanya Alesya.
"Aku akan mendengarkan jawabanmu lebih dulu supaya nantinya aku bisa makan dengan tenang dan nyaman." ucapku.
Alesya kembali tertawa, "Kamu lucu sekali, Anthem." Alesya terdiam.
"Terimakasih karena kamu selalu ada untukku, dan kamu selalu membuatku tersenyum, Anthem. Kamu telah mengangkat hidupku yang menyedihkan. Aku sangat berterimakasih kepadamu untuk itu." kata Alesya.
Aku kehilangan fokusku, apakah ini berarti dia menerimaku? Atau malah menolakku? Aahh...moment sialan ini!
"Dan untuk pertanyaanmu saat itu, maafkan aku, Anthem..."
Deg! Sudah ada kata maaf! Tolong aku!
"Maafkan aku jika nanti aku menjadi pendampingmu aku tidak sempurna dan akan banyak melakukan kesalahan tapi aku berharap kamu bisa terus membimbingku..."
Aku mengangkat wajahku, "Heh? Bagaimana?" tanyaku.
Alesya tersenyum penuh misteri, dan mendekatkan wajahnya ke arahku kemudian ia menciumku dengan lembut. Setelah itu ia tersenyum kembali.
Apa itu berarti dia menerimaku? Atau..?
...----------------...
__ADS_1