
Max POV
Aku, tunggu sebentar karena penulis ini salah menuliskan namaku,
Matt POV
Saat aku turun ke bumi, Penguasa memerintahkanku dan Anthem untuk pergi ke Rampai Hospital. Disana kami akan bertemu dengan jiwa seorang pria bernama Axel Johnson, yang mati karena sakit jantung yang di deritanya sejak kecil.
Penguasa pun berkata bahwa nantinya akan ada sesi wawancara karena aku akan memakai tubuh Axel.
"Apakah kamu akan menemaniku melakukan wawancara itu?" Tanyaku kepada Anthem.
"Tentu saja. Karena yang mewawancaraimu adalah manusia itu sendiri." Jawab Anthem.
Aku mengangguk, "Begitukah?" Tanyaku lagi khawatir.
Wajar saja aku khawatir karena aku memikirkan bagaimana kalau Axel menolak jiwaku untuk masuk ke dalam tubuhnya? Aku tidak mau selamanya berada di Api Penyucian.
Begitu kami tiba di Rampai Hospital, Anthem segera berubah wujud menjadi manusia. Aku iri! Itu kemampuan dia yang baru saja di berikan oleh penulis kepadanya.
Manusia tidak bisa melihatku karena aku hanyalah sebuah jiwa tanpa raga, tak ada bedanya aku dengan hantu-hantu yang berkeliaran di rumah sakit ini. Hanya saja aku tampan.
Pluk!
"Owh!" Tiba-tiba saja Anthem memukul kecil pucuk kepalaku.
"Fokus!" Seru Anthem.
Aku kembali fokus dan mengosongkan pikiranku, suatu hari nanti aku harus belajar untuk menutup pikiranku dari Anthem.
Sesampainya di Rampai Hospital, kami segera ke ruang Instalasi Gawat Darurat untuk menemui Axel.
Dan di samping tempat tidur rumah sakit nampaklah sesosok pria yang terbaring dengan perlatan penunjang hidup terpasang di tubuhnya.
Sedangkan jiwa pria itu berdiri di samping tubuhnya memperhatikan tubuhnya yang dipasangi segala macam alat kedokteran itu.
Anthem berjalan mendahuluiku, "Axel Johnson?" Tanya Anthem.
Aku mendekati mereka berdua, Anthem memintaku untuk waspada. Awalnya aku tidak tau apa maksud Anthem akan tetapi begitu aku memperhatikan dengan lebih jelas, di sekeliling Axel sudah menunggu beberapa jiwa yang siap tempur untuk mendapatkan tubuh kosong Axel. Mereka sangat seram, aku pum takut.
"Aku minta kamu untuk fokus dan awasi tubuh Axel selama aku berbicara dengannya atau sampai ada pengawalku datang. Dan jangan kosongkan pikiranmu!" Seru Anthem memperingatkan.
Anthem mengajak Axel menuju ke tempat lain dan menghilang. Aku memandang tubuh Axel, dia cukup manis tapi aku lebih manis. Akankah Lea nanti menyukaiku? Jantungku berdebar hanya memikirkan Lea.
"Psst! Sepertinya aku mengenalmu. Kamu yang sering berkeliaran di kediaman Penguasa bukan?" Tanya salah satu jiwa yang berada di sudut tembok kamar Axel.
__ADS_1
"Ya, memangnya kenapa?" Aku bertanya kenapa.
"Apa kamu datang kesini atas perintahNya?" Tanya yang lain, yang sedari tadi meneteskan air liurnya setiap melihat tubuh Axel seolah tubuh Axel sebuah makanan lezat yang siap disantap.
"Tentu saja. Memangnya ada apa?" Aku bertanya lagi.
"Apa Dia yang menentukan kemana jiwamu akan pergi?" Tanya jiwa yang berada tepat di atas kepala Axel. Ia yang sedari tadi menatapku tajam dan galak, sekarang ia menatapku dengan iri.
"Ya, Penguasa yang menentukannya. Sekali lagi kukatakan memangnya ada apa?" Aku mengulang pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
Mereka saling berpandangan, "Kita sudah kalah, ayo cari tubuh yang lain." Sahut mereka.
"Hei! Apa maksud kalian!" Belum sempat mereka menjawab pertanyaanku, mereka sudah menghilang. Aneh sekali jiwa-jiwa itu!
Tak lama, Anthem dan Axel kembali dan betapa herannya Anthem karena di ruangan tempat tubuh Axel terbaring ini sudah sepi dari jiwa-jiwa yang kelaparan.
"Kemana mereka?" Tanya Anthem.
Aku mengangkat bahuku, "Entahlah, mereka menghilang sebelum menjawab pertanyaanku." Jawabku.
Kemudian aku menceritakan apa yang terjadi denganku dan jiwa-jiwa itu kepada Anthem.
"Mereka menyerah karena jika mereka melakukan perlawanan tetap saja kamu yang akan menang Max. Karena Dia sudah berkehendak tubuh Axel untukmu." Jawab Anthem.
Aku mengangguk, "Oh begitu."
"Apakah kamu ikut denganku?" Tanyaku.
Anthem menggelengkan kepalanya, "Tentu tidak, aku menunggu tubuh Axel. Cepatlah, waktunya menipis." Sahut Anthem.
Aku mengangguk dan tiba-tiba dari belakang jiwa Axel muncul malaikat besar sekali dengan sayap putih membentang, dan dia mengenaliku.
"Hei Max." Serunya tersenyum.
Axel memandangku dan malaikatnya bergantian, "Apa kalian saling mengenal?" Tanya Axel.
"Tentu saja. Max ini menyewa sayap dari tempatku di atas sana dan dia memakai cicilan 12 kali selama setahun. Dan bulan ini masuk cicilan ke enam." Katanya menyeringai lebar.
Aku tidak menyangka malaikat pelindung Axel adalah pemberi sayapku.
"Wowh!" Axel bersiul kagum dan menyentuh sayapku.
"Sudahlah. Jadi kamu yang akan mewawancaraiku Castiel?" Tanyaku kepada malaikat pelindung Axel yang bernama Castiel itu.
Castiel mempersilahkanku untuk duduk, sedangkan dia bersebelahan dengan Axel. Castiel mengeluarkan sejumlah dokumen dan sebuah alat tulis. Aku merasa seperti akan di wawancara kerja.
__ADS_1
"Siapa namamu?" Tanya Castiel.
"Maximilianus." Jawab Castiel lagi sambil mencatat.
"Berapa usiamu?" Castiel bertanya lagi.
Aku sudah membuka mulutku dan siap menjawab, tapi sekali lagi Castiel sudah mendahuluiku, "Dua puluh lima tahun dan satu tahun usia kematian." Tulis Castiel.
Dok...dok!
Aku mengetuk meja, " Kapan giliranku menjawab jika kamu terus menjawabkan untukku?" Tanyaku gusar.
"Kita kan teman, jadi wajar saja jika aku hafal semua tentangmu." Jawab Castiel tersenyum lebar.
"Sekarang giliranmu untuk menceritakan bagaimana kematianmu. Itu yang aku belum tau." Sahut Castiel mempersiapkan alat tulisnya.
"Jadi, sebenarnya aku tidak mati. Hanya saja tubuhku terbakar habis di dalam Api Penyucian saat aku ingin menyelematkan istriku." Ucapku memulai cerita kematianku.
"Lea, jika kamu mengenalnya anak dari..."
"Raja Wren, sahabat karib Penguasa dan teman minum kopi Anthem. Demi Penguasa, Max. Kamu bodoh sekali masuk ke dalam Api Penyucian. Tidak ada manusia yang bisa bertahan satu menit saja disana." Ujar Castiel prihatin.
"Ya, Lea adalah putri tunggal Raja Wren. Karena latar belakangku yang..."
"Seorang mafia yang telah menghabisi keluarga mafia lain beserta keturunanannya dan ada salah satu anak dari keluarga mafia itu yang selamat dan menuntut dendam padamu, lanjutkan!" Jawab Castiel.
Aku menggertakan gigiku kesal, "Bagaimana aku bisa melanjutkan kalau kamu selalu memotong ucapanku!" Sahutku kesal.
"Pada intinya aku sudah mengetahui semua tentangmu, ini hanya formalitas. Kalau aku tidak melakukan ini maka gajiku akan di kurangi. Sedih sekali bukan?" Ucap Castiel.
Setelah cerita tentang kematianku selesai, aku dan Axel menandatangani surat persetujuan dan perjanjian pindah kepemilikan tubuh.
Tidak boleh membuat tato, tidak boleh memasang tindik dalam bentuk apa pun dan dimana pun, olahraga teratur, tidak minum beralkohol, makan yang sehat serta tidak jajan dengan wanita yang bukan pasangan, dan bahkan aku dituntut untuk setia.
"Aku sanggup!" Jawabku mantap.
"Oke kalau seperti itu, setelah ini Axek akan ke atas bersama Anthem dan aku akan menemanimu sebagai malaikat pelindungmu." Ujar Castiel.
Aku dan Axel saling berjabat tangan, "Terimakasih dan kuharap kamu menjaga tubuhku." Pinta Axel.
"Aku yang seharusnya berterimakasih karena kamu mengijinkanku memakai tubuhku." Ucapku penuh haru.
"Oh iya, Penguasa menitipkan pesan kepadaku, namamu adalah Matthew Johnson." Sahut Castiel.
Aku mengingat nama itu, Matthew Johnson.
__ADS_1
...----------------...