
Wulan hanya berdiam diri menatap jalanan dan lalu lalang kendaraan di samping kirinya, Wulan tak tau harus mengucapkan apa terhadap pria yang duduk dibalik kemudi disampingnya. Ia juga tak tau apa yang ada dalam benak Brian hingga tiba tiba ingin mengantarnya menemui kakeknya.
“Hmm,” gumam Wulan mencoba membuka pembicaraan.
“Tuan,” panggil Wulan.
“Ada apa ingin menemui kakek?” tanya Wulan lagi.
“Aku tidak mau Arkan meracuni otak kakek mu,” jawab asal Brian.
“Kakek senang berada di rumah mas Arkan, jika…” ucap Wulan.
“Rencana apa yang sudah kamu dan mas Arkan mu itu susun?” potong Brian.
“Rencana?” tanya Wulan.
“Apa sekarang kamu sedang membangun kubu dengan adik sepupuku?” tanya Brian.
“Kubu, apa maksudnya?” tanya Wulan semakin keheranan.
“Sudah lah, aku hanya ingin bertemu kakek mu. Apa tidak boleh?” tanya Brian.
Wulan tak lagi menjawab nya. Jika Brian ingin bertemu sang kakek ia tak mungkin melarang nya.
Setiba di rumah Arkan, Brian lebih dahulu masuk ke dalam rumah. Ia langsung di sambut oleh seorang wanita paruh baya.
“Tuan Brian, tuan Arkan sedang tidak dirumah sekarang,” ucap pelayan itu.
“Aku ingin bertemu kakek itu, dimana dia sekarang?” tanya Brian.
“Kakek Hendy sedang diruang baca,” jawab pelayan itu.
Brian langsung berjalan menuju ruang baca diikuti Wulan yang berjalan cepat menyusulnya dari belakang.
“Tuan, apa yang ingin anda lakukan terhadap kakek? Please jangan ubah mood kakek yang lagi baik, jangan buat masalah dengan kakek ku,” cegah Wulan.
“Masalah? Tenang saja istriku. Aku hanya ingin menjalankan tugas sebagai cucu menantu yang datang mengunjungi kakek nya,” ujar Brian.
“Jangan bawa kakek kembali, selama non Raya masih di sana kakek lebih aman tinggal di sini. Tolonglah,” ujar Wulan pelan dengan mimik memohon.
“Tenang saja, aku tau apa yang harus aku lakukan. Aku hanya ingin menyapa kakek. Justru jika aku tidak mengunjunginya dia malah akan curiga. Bukan begitu?”
Brian melanjutkan langkahnya memasuki ruangan baca. Sedangkan Wulan masih mencermati ucapan Brian.
“Aku harap pria ini bisa sedikit lebih baik terhadap kakek.”
“Kakek,” sapa Brian dengan gembira dan ramah.
“Eh Brian, mana Wulan?” tanya kakek dengan wajah tak kalah gembira.
“Sayang, masuk lah,” panggil Brian.
Wulan akhirnya ikut masuk ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
“Kekak,” sapa Wulan.
“Lihat istrimu Brian. Dia bahkan tak pernah datang ke sini karena kesibukannya sekarang,” adu sang kakek.
“Brian juga sudah melarang Wulan bekerja, Brian bisa memberinya uang jika dia butuh,” ucap Brian.
“Wulan senang dengan kesibukan Wulan sekarang kek, wulan jadi nggak merasa bosan dirumah setiap haru,” sela Wulan.
“Ya sudah jika kamu suka, tapi ingat. Rumah tangga mu tetap harus jadi periodisasi utama,” ucap kakek.
“Baik kek,” ucap Wulan.
“Kek, aku ke sini ingin mengajak kakek pulang. Kakek mau kan pulang bersama kami sekarang?” tanya Brian.
“Kakek sudah janji dengan Arkan akan tinggal disini selama 2 pekan, sekarang baru lima hari. Kakek nggak mungkin pergi begitu saja setelah di belikan semua buku buku ini,” ucap kakek Hendy sambil menujuk sederetan rak berisi buku diruangan itu.
“Kalau cuma buku aku juga bisa belikan kakek buku 10 kali lebih banyak dari ini,” ucap Brian.
“Kakek tau, kamu bisa bangunkan kakek sebuah perpustakaan. Namun kakek tidak bisa langsung pergi begitu saja setelah perlakuan baik sepupumu itu dan ibunya. Lagian tak ada salahnya kakek disini lebih lama, Jenny dan Arkan juga sudah kakek anggap seperti anak dan cucu kakek sendiri,” jelas kakek.
Mendengar ucapan kakek Brian menggertakkan giginya.
“Apa yang tante Jenny katakan pada kakek?” tanya Brian tiba tiba.
“Kakek belum bertemu Jenny selama 3 hari, terakhir dia ke sini Selasa siang dan hanya menyapa kakek sebentar,” ujar kakek.
“Jika kakek ingin di sini, bagaimana jika aku kirimkan perawat untuk kakek. Hanya agar bisa ada yang menjaga kakek lebih intensif. Wulan pasti setuju mengingat kesibukannya sekarang ini. Bagaimana?” tanya Brian.
Perbincangan kakek dan Brian terus bergulir membahas mengenai perusahan, Arkan dan Jenny. Wulan terus berdiam menyimak pembicaraan kedua pria itu. Masih tidak habis pikir bagaimana Brian bisa berubah menjadi baik dalam sekejap, apa itu hanya kepura puraan atau memang Brian sekarang sadar dengan sikapnya.
“Wulan,” panggilan kakek membuyarkan lamunan Wulan.
“Eh iya kek,” jawab Wulan setelah tersadar.
“Kamu dipanggil malah bengong, kamu nggak membawakan makanan atau minuman untuk kami?” tanya kakek.
“I iya kek, Wulan ke dapur dulu,” wanita yang sedari tadi diam itu akhirnya keluar dari ruang baca itu.
Sepeninggal Wulan.
“Sekarang kamu cerita apa niat kamu sebenarnya Brian, sedari tadi kakek perhatikan kamu terus menyinggung soal tante mu Jenny. Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan atau ada sesuatu yang tante mu sembunyikan dari kakek?” tegas kakek Hendy.
“Nggak kek, Brian hanya sedikit penasaran soal perkembangan perusahan selama berada ditangan tante Jenny saja, akhir akhir ini tante terlihat agak berbeda,” ucap Brian.
“Hufftt itu artinya tante memang belum pernah membahas perusahan dengan kakek. Dan mungkin juga tante dan Arkan belum tau apa pun soal masalah itu,” batin Brian.
“Kamu baru saja memegang perusahan beberapa bulan, kenapa malah mempertanyakan kinerja Jenny yang sudah bertahun tahun bekerja untuk perusahan? Berbeda apanya? Pabrik sudah di atur jenny bertahun tahun, berbeda apanya coba?” sindir kakek berusaha membela Jenny.
“Nggak kek, justru karena masih baru, malah jadi kepingin tau banyak,” sahut Brian.
“Sialan! Kakek seharusnya kamu berada di pihak ku, jauhi Arkan dan ibunya. Aku sudah berusaha baik terhadap mu!” batin Brian.
Beberapa saat kemudian Wulan bersama seorang wanita muda masuk ke ruangan.
__ADS_1
“Wulan membawakan wafle havermut kesukaan kakek. Dan ini minuman nya,” sambil meletakkan makanan dan minuman ke atas meja. “Wulan sengaja buatkan yang nggak manis, ingat kakek nggak boleh makan manis berlebihan,” ujar Wulan begitu perhatian.
Brian menatap Wulan yang terlihat sangat memperhatikan sang kakek. Kemudian sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
Brian bergegas keluar dari ruangan mengangkat panggilan tersebut.
“Kakek, Brian keluar sebentar,” sambil memperhatikan layar ponselnya.
Kakek dan Wulan hanya menatap Brian yang keluar terburu buru dari ruangan itu.
“Suami mu terlihat berbeda kali ini. Dia lebih perhatian,” ujar kakek yang masih menatap pintu sepeninggal Brian.
“Semoga saja,” sahut Wulan singkat.
“Pasangan yang dijodohkan memang seperti itu, butuh waktu untuk kalian mengenal satu sama lain. Kenalilah suami mu lebih baik, cari tau apa yang di sukainya dan jauhi hal yang di bencinya. Lambat laun dengan ketulusan dan baktimu sebagai istrimu dia sebagai suami pasti akan berubah. Perasaan asing akan berubah menjadi cinta,” lanjut kakek.
“Kakek ngomong apa? Cinta cinta, nih dimakan kuenya,” sembari menyerahkan sepotong kue ke tangan kakek.
“Pasti kakek makan, sudah beberapa hari kakek nggak makan makanan buatan kamu.”
“Saat wulan nggak ada, kakek makan apa saja?”
“Makan buatan bibi Rahayu, bibi Rahayu sudah tau menu apa saja yang kakek bisa makan,” jawab sang kakek.
“Syukurlah, Wulan lega. Ga salah Wulan percayakan kakek kepada Arkan, dia bisa menjaga kakek dengan baik.”
“Wulan, sudah waktunya kamu mengurus diri kamu sendiri. Jangan terlalu memikirkan kakek. Terlebih setelah menikah, tanggung jawab mu adalah melayani suami bukan kakek.”
“Iya iya Wulan tau kakek bosan lihat Wulan ngomel setiap hari kan?”
“Haha, itu lah sebabnya kakek lebih betah disini,” gurau sang kakek.
“Jadi benar Kakek bosan bersama Wulan?”
“Ya, kakek ingin agar kamu fokus melayani suami kamu, layani dia sepenuh hati hingga tumbuh benih benih cinta, bangun keluarga yang harmonis dan berikan cicit untuk kakek secepat nya.”
“Ish, kakek ngomong apa sih? Otak kakek sudah di cuci Arkan, iya kan?”
“Kakek, Brian pamit dulu. Brian ada meeting dadakan, mungkin belum bisa jenguk kakek dalam waktu dekat ini,” suara Brian yang kini berdiri di belakang Wulan.
“Sayang kamu temani kakek dulu, agak malam aku jemput kamu disini,” ucap Brian pada Wulan.
Brian pun bergegas pergi dari situ, sedangkan Wulan hanya diam menatap punggung suaminya yang mulai meninggalkan ruangan itu.
“Ada apa dengan nya, tiba tiba pamit. Biasanya kalau mau pergi tinggal pergi saja,” batin Wulan dipenuhi pertanyaan.
.
.
.
TBC****..
__ADS_1