Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Hidupku Hampa-


__ADS_3

Setelah satu jam sepeninggal Wulan dan Buto dari pulau itu. Para pengawal Brian masih mencari tubuh Wulan dan Buto di sekitar perairan itu. Setelah perahu kemasukan air dan noda darah pada layar perahu kano. Semua orang berpikir kalau Wulan dan Buto sudah meninggal dan sudah terseret air laut.


Namun niat mereka untuk menemukan jasad Wulan dan Buto begitu besar. Mereka harus mebuat laporan kepada bos besar jika tawanan mereka saat itu sudah meninggal. Mereka masih mengitari pesisir pantai mencari hingga beberapa saat kemudian.


“Bos,” teriak seorang pengawal yang berjaga sambil memegang teropong jarak jauh di tangannya.


“Ada speed boat yang sedang mengarah ke sini,” teriak pria itu lagi.


Saat anak buah Brian sedang waspada terhadap keadaan sekitar pulau kecil itu, tiba tiba sebuah speed datang mendekat ke pulau itu.


“Speed siapa itu?” tanya pria lainnya.


“Entahlah, yang pasti nya bukan speed milik bos,” ucap pria lainnya.


“Sekarang speed nya berhenti, mesin kapalnya nya mati, lampunya juga di matikan,” lapor seorang pria yang tengah menggunakan teropong itu. Teropong terus menempel di matanya terus mengamati speed asing itu.


“Siapkan pasukan, kita kepung orang itu.” ujar seorang pria.


Dalam sekejap pria pria yang saat itu sudah stand by di perahu mereka, dengan muatan beberapa pria lainnya di atas kapal, mereka langsung menuju speed asing itu.


Pria pria yang pekerjaan setiap hari hari di atas kapal begitu gesit, sangat mudah bagi mereka membekuk sebuah kapal. Terlebih di kapal itu hanya membawa seorang pria. Pria yang baru datang itu langsung di bawa ke darat untuk di jadikan tawanan.


Pria itu adalah Arkan. Seperti janji nya pada Buto, ia akan menyusul Buto ke pulau Silent untuk menyelamatkan Wulan. Siapa menyangka orang yang ingin di selamatkannya sudah pergi dari pulau itu.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya pria hitam bertubuh besar.


“Aku ke sini mencari Wulan,” jawab Arkan jujur.


“Ha? Siapa Wulan?” tanya pria lainnya.


“Apakah Wulan seorang wanita?” tanya seorang lainnya.


“Kenapa Wulan ada disini haha,” ejek seorang pria.


“Wulan adalah tawanan wanita yang tinggal dirumah. Wanita yang sedang kita cari itu bernama Wulan, istrinya boss besar,” jelas seorang pria yang ditugaskan menjaga Wulan di rumah itu.


“Oh wanita itu Wulan? Dia sudah mati.” ucap pria lain.


Mata Arkan melotot garang. Emosinya langsung memuncak mendengar ucapan tersebut.

__ADS_1


“Apa yang terjadi pada Wulan?” tanya Arkan.


“Wulan sudah mati, dia sudah menjadi makanan hiu di laut,” ucap pria lainnya.


Arkan menghampiri pria itu kemudian mengangkat leher bajunya. “Saya bertanya serius dimana Wulan?” bentak Arkan dengan wajah serius.


“Wanita itu tertembak bersama seorang teman yang datang menjemputnya. Mereka berencana melarikan diri. Bos terpaksa menembak mereka,” jawab pria yang ditugaskan menjaga Wulan.


“Dimana Wulan sekarang?” tanya Arkan garang. Ia tidak percaya jika Wulan sudah mati tertembak.


“Mereka tenggelam di laut, kami masih mencari Jenasah mereka,” jawab seorang lainnya.


“Aku tidak main main, dimana Wulan?” tanya Arkan penuh amarah. Ia mengepalkan jemarinya kemudian meninju wajah pria yang baru saja bicara.


Sontak pria itu membalas pukulan Arkan, di susul dua orang pria lainnya yang ikut memukul punggung badannya.


“Dimana Wulan?” teriak Arkan sekali lagi. “Siapa bos kalian?” tanya Arkan.


Pria hitam bertubuh besar maju menghampiri Arkan.


“Wulan itu sudah mati, dia tertembak. Perahunya mengapung di lautan. Kami masih mencarinya hingga kamu tiba disini,” jelas pria itu.


“Untuk apa aku menipu, apa untung buatku menipu orang lemah seperti mu? Sebaiknya kamu terima kenyataan. Wulan itu sudah meninggal bersama seorang pria yang mencoba membawanya kabur dari sini,” jelas pria yang mengaku dirinya adalah ketua.


“Wulan?” teriak Arkan.


“Wulan aku datang menjemput mu,” teriak Arkan sekali lagi. Ia berharap wulan akan datang menemuinya.


“Cepat serahkan Wulan padaku,” Arkan mulai memukul setiap orang yang berdiri di dekatnya. Ia tak ingin mendengar ucapan orang orang itu. Jika mereka tidak menawan Wulan di situ, tentu hal ini tidak akan terjadi. Itu salah mereka semua.


“Haha, seekor tikus berani datang berbuat kekacauan di kandang harimau?” ucap seorang pria yang berhasil di hantam oleh Arkan.


Pria itu maju kemudian mebalas pukulan Arkan.


“Kembalikan Wulan padaku,” Arkan membalas pukulan pria itu.


Setelah mengingat Wulan telah mati tertembak dan tenggelam, Arkan menjadi sangat putus asa.


Ia memukul semua orang di situ. Pria pria itu pun tak tinggal diam, mereka membalas setiap pukulan yang diberikan Arkan.

__ADS_1


Arkan kemudian menarik sebuah papan kemudian memukul mereka. Semua orang di situ menjadi marah, mereka bersama sama mengeroyok Arkan. Ia di tendang, di injak injak dan di banting beberapa kali. Hingga tubuhnya menjadi lemah tak berdaya.


Setiap orang memukulnya bergantian dan berulang ulang, tanpa ampun hingga Arkan tak sadarkan diri.


Seluruh tulang nya remuk, darah mengalir keluar dari hidung dan mulutnya. Ia dibiarkan tergeletak begitu saja di pinggir dermaga. Semua mata hanya menatapnya remeh.


“Wulan, di sepanjang hidup ku ini, aku hanya ingin bersama dengan mu. Jika kamu pergi begitu saja, apa lah jadinya diriku? Hidupku hampa, aku tak ingin kehidupan ini lagi,”


Pria pria itu terus berdiam menatap Arkan.


Hingga beberapa saat kemudian Brian tiba di tempat itu menggunakan sebuah speed boat.


“Ada apa ini?” tanya Brian pada orang orang yang sedang berkerumun di pinggir dermaga.


“Ada penyusup Bos,” jawab seorang pria.


“Penyusup?” Brian berjalan menghampiri pria yang sudah babak belur dipukuli para anak buahnya. Darah segar mengalir di sekitar Arkan terbaring. Wajahnya membengkak dan memar dengan robekan di beberapa bagian wajah dan kepala.


“Periksa dompetnya,” perintah Brian.


Seorang pria mengambil dompet dan ponsel dari saku celana Arkan. Dompetnya di serahkan kepada Brian sedangkan ponsel yang sudah hancur di lempar di samping tubuh Arkan.


Brian membuka dompet tersebut sambil terbelalak.


“Arkana Frederico Lee,” gumamnya.


Brian langsung berjongkok memeriksa keadaan Arkan. Denyut nadinya sangat lemah, ia sudah hampir tidak bisa selamat.


“Cepat bawa dia ke atas kapal,” perintah Brian kemudian berjalan cepat menuju kapalnya. Dua orang pria mengangkat tubuh Arkan ke atas kapal.


Sedangkan beberapa orang pria di pinggir dermaga bisik berbisik.


“Siapa pria itu, apa kita salah memukul orang. Wajah bos terlihat sangat khawatir.”


“Jika terjadi apa apa dengan orang ini, aku akan membuat perhitungan dengan kalian!” ucap Brian sebelum pergi dari pulau itu.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2