
Raya mengambil piring di tangan Wulan kemudian mengisi piringnya itu dengan nasi dan lauk yang ada di atas meja.
“Maaf Lan, aku keceplosan membeli sebanyak ini. Maksud aku supaya kamu bisa makan enak. Aku nggak tega lihat kalian hanya makan tempe dan sambal. Aku janji nggak akan membeli makanan sebanyak ini lagi,” ujar Raya.
Wulan menatap Raya, ia kemudian tersenyum lebar pertanda maaf sudah diberikannya.
“Ya sudah, karena sudah di beli, kita makan saja,” ucap Wulan.
“Mana piring kakek,” pinta Raya.
Ia juga mengambilkan makanan untuk kakek.
Wulan, kakek, Mail dan Raya mulai menghabis kan semua menu di atas meja. Mereka terus makan hingga tersisa sedikit saja lauk di atas piring. Malam itu adalah malam terkenyang sepanjang sejarah hidup mereka. Kejadian yang tidak akan pernah mereka lupakan. Bahkan Wulan hampir saja muntah saat memakan dessert puding keju pada suapan terakhir.
“Udah, enough,” ucap Wulan sambil bersandar tegap pada sandaran kursi. Ia mengusap perutnya yang sangat kenyang.
“Sumpah, aku nggak bisa gerak lagi. Kalo gerak pasti muntah,” lanjut Wulan.
“Raya, bisa tolong ambilkan obat kolesterol kakek di dalam tas?”
Raya yang juga kesulitan bergerak terpaksa menarik tas selempang Wulan dengan kakinya.
“Maaf Lan, perut aku juga begah.” Raya mengeluarkan obat dari dalam tas Wulan kemudian melempar obat tersebut ke tangan Mail.
“Mail, berikan kepada kakek,” perintah Raya.
Dokter itu terpaksa berdiri dari duduknya. Ia mengambil satu botol air mineral di atas nakas. Setelah memilah milah obat dari dalam kantong, ia memberikan obat tersebut kepada kakek.
Kakek pun langsung menelan semua obat yang di berikan Mail.
Mail kemudian berbisik di telinga kakek, entah apa yang di bisik nya. Tiba tiba saja ia mendorong kursi roda kakek dan kembali ke kamar mereka.
“Mail,” teriak Raya. Namun Mail sudah menutup pintu penghubung kedua kamar itu.
“Enak saja main pergi, baru saja mau di suruh udah kabur,” dumel Raya.
“Aya, aku telpon waitres suruh ke sini. Aku nggak sanggup mencium aroma makanan ini lagi,” ujar Wulan. Ia kemudian menghubungi pelayan agar naik membersihkan kamar mereka.
Keesokan harinya, Wulan dan Raya menuju pusat perbelanjaan. Mereka membeli beberapa barang kebutuhan untuk semua orang. Wulan membeli sesuai kebutuhan dirinya, sedangkan Raya, ia hampir memborong semua ponsel model terbaru yang ada di pajangan tanpa sepengetahuan Wulan.
Ia membeli beberapa pasang sepatu mahal untuk Wulan dan Irma. Ia juga membeli sebuah kursi roda model terbaru untuk kakek. Ia membeli beberapa tas branded termahal untuk Wulan, Irma dan bi Indun.
Setiba di butik ternama, Raya membeli begitu banyak pakaian. Ia mengambil apa saja yang sesuai untuk Wulan, Irma dan bi Indun. Serta beberapa setelan pria untuk Buto dan kakek. Tak lupa juga jatah si kecil Zaka yang lucu dengan model piyama terbaru.
Semua barang yang di beli Raya langsung di antar ke alamat hotel.
Menjelang sore hari kaki Wulan mulai terasa letih, ia duduk di sebuah bangku di depan sebuah toko.
“Mau cari apa lagi ya?” tanya Wulan.
“Udah, udah di beli semua. Kita spa aja yuk,” ajak Raya.
“Biar ga capek, kita Relaxasi dan massage yuk,” ajak Raya.
“Ya sudah, lumayan buat ngilangin pegel,” ucap Wulan setuju.
Wulan dan raya melanjutkan langkah menuju ujung koridor mall. Sebuah spa ternama dengan segala macam perawatan kulit mereka hampiri. Untuk melepas lelah Wulan dan Raya di suguh oleh perawatan tubuh terlengkap dan termutakhir yang di sediakan di spa itu.
Hingga dua jam berlalu. Usai memanjakan tubuh, Wulan dan Raya kembali ke hotel. Sepanjang perjalan pulang, berkali kali Wulan menguap mengantuk.
__ADS_1
“Ini nih, efek di pijit. Pasti bawaannya ngantuk,” ujar Wulan.
“Bentar lagi nyampe hotel,” ucap Raya.
“Huayeemm.” lagi lagi Wulan menguap panjang. “Lagian sekarang sudah jam 10. Wajar kalau ngantuk.”
“Besok kakek terapi jam berapa?” tanya Raya.
“Seperti kemaren jam 5,” jawab Wulan.
“Besok aku akan pulang ngecek rumah, sekalian mengambil sesuatu,” ujar Raya.
Wulan menjawabnya dengan anggukan. “Mau di temani?” tanya Wulan.
“Nggak usah, takut kesorean. Tar kakek terapi gimana?”
“Ya udah, kalau butuh di temani bilang ya,” ujar Wulan.
Malam itu setiba di hotel Wulan langsung terlelap. Efek di pijit Ralax benar benar membuat tubuhnya merasa rileks.
Sementara Raya. Ia masih mengurus barang barang belanjaannya. Semua yang di beli mereka siang tadi di antar ke kamar oleh seorang bel Boy.
Ruangan kamar yang tidak seberapa besar itu kini di penuhi kantong belanja. Bahkan tidak ada pijakan untuk Raya berdiri. Tumpukan paperbag itu telah memenuhi seluruh ruangan.
Setelah menyusun rapih semua barang barang, Raya terlihat menulis sesuatu di atas kertas. Ia mengambil laptop dan ponsel lamanya dari dalam tas jinjing kemudian mulai mengotak atik ponsel tersebut.
Hingga pagi hari Raya tidak terlelap, ia terlihat fokus pada laptop. Beberapa kali ia menghubungkan posel ke laptop kemudian mengetik sesuatu.
Sebelum Wulan bangun, Raya sudah menyelesaikan pekerjaannya kemudian tidur di samping Wulan.
.
.
.
Karena merasa terjepit, Wulan pun akhirnya bangun.
Agar tidak mengganggu tidur Raya, Wulan mengangkat perlahan kedua tangan Raya yang menghimpit di atas dadanya.
“Apa apa an sih Aya, ranjang kamu kan di situ,” gerutu Wulan kemudian berdiri dari ranjang nya.
Ia menyelimuti tubuh Raya dengan selimut, kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Selang setengah jam, Wulan keluar dari kamar mandi. Ia mentap semua barang barang yang sudah tersusun rapih di atas lantai.
“Kapan barang barang ini ada di sini? Perasaan semalam ga ada,” batin Wulan.
Iya melangkah menuju ranjang nya kemudian mulai membangunkan Raya.
“Ya, bangun. Kita turun breakfast yuk,” ajak Wulan.
“Ya. Ayo bangun,” ucapnya sambil menepuk nepuk punggung Raya.
“Aya, kita turun breakfast yuk.”
“Hmm, lima menit lagi. Masih ngantuk.” jawab Raya dengan suara parau.
Wulan pun berjalan memeriksa beberapa barang yang sudah tersusun rapih di atas lantai.
__ADS_1
“Kapan kamu beli ini semua?”
“Perasaan kemaren belanja nggak sebanyak ini.” Wulan memeriksa semua yang di beli Raya.
“Ini baju sebanyak ini buat apa?”
“Ponsel, kenapa beli ponsel sebanyak ini. Kamu mau jualan ponsel?”
Raya akhirnya bangkit dari pembaringan. Suara Wulan ceramah sangat mengganggu tidurnya.
“Ponsel itu untuk kamu, bibi, Irma, kakek, Buto, dan Zaka.” Jawab Raya.
“Zaka? Si kecil Zaka juga kamu belikan?” ucap Wulan tak percaya.
Raya mengangguk mengiyakan. “Nanti juga dipakai saat dia gede,” ujar Raya.
“Zaka baru usia dua tahun, harus tunggu berapa tahun baru dia gede?” tanya Wulan.
“Trus ponsel buat kamu mana?” tanya Wulan.
“Aku ada ponsel lama itu,” Raya menunjuk posel di atas meja dekat laptopnya.
“Kamu gimana sih, itu ponsel jadul. Mending kamu pakai yang kamu belikan buat Zaka, tar kalau Zaka nya udah gede baru di belikan lagi,” ujar Wulan.
“Nggak, itu untuk Zaka.” Masih dengan mata sayup, Raya berjalan menuju ke kamar mandi.
Saat Raya mandi, Wulan terus periksa barang barang yang di beli Raya. Tentu saja masih dengan mulut komat kamit mengoceh sana sini. Wulan tidak terima betapa borosnya Raya.
Saat Raya keluar dari kamar mandi Wulan masih terus mengomel. Tapi Raya hanya datang menghampiri Wulan kemudian memeluk nya dari belakang.
“Anggap saja hadiah dari santa claus. Kapan lagi bisa belanja seperti ini, tar kalau sudah di gunung kita ga belanja lagi kan,” ujar Raya.
“Tapi barang barang ini kan ga bisa kita pakai di gunung. Emang kamu mau adakan fashion show di bawah pohon?”
Raya tersenyum lebar. “Pakaian yang bagus akan membawa kita ke tempat yang bagus,” ujar Raya.
Wulan melenguh panjang, bagaimana pun dia mengomel, Raya tidak menyesali pemborosan nya itu. “Ya sudahlah. uang, uang kamu. Tar kalau sudah bosan belanja bilang ya,” singgung Wulan.
“Kamu nggak turun Breakfast?” potong Raya.
“Loh kamu?” tanya Wulan.
“Nggak, aku mau siap siap pulang ke rumah. Banyak barang yang ingin aku ambil disana,” ujar Raya.
“Ya sudah, aku turun sendiri. Kakek dan Mail pasti sudah duluan di bawah,” ucap Wulan.
Wulan berdiri menarik kardigan yang di gantung dalam lemari.
“Yakin ga turun sarapan?” tanya Wulan lagi.
Raya menggeleng kemudian tersenyum. Ia terus menatap Wulan hingga Wulan keluar dari pintu itu.
.
.
.
TBC…
__ADS_1