Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-The Days Come True-


__ADS_3

“Kamu nggak apa apa? Masih mual?” tanya Arkan pelan.


“Sekarang nggak,” jawab Wulan.


“Jadwal haid aku sudah terlambat sebulan mas, apa beneran aku hamil?” bisik Wulan di telinga Arkan.


“Itu artinya kamu hamil sayang?!” seru Arkan kemudian memeluk Wulan.


Bi Indun dan Irma yang berdiri tak jauh dari situ tersenyum senang. Beda halnya dengan wajah kakek, ia memasang muka masam dengan jari tangan yang mengerat pegangan kursi roda.


“Anak anak ini? Kalian bikin malu!” ucap kakek kemudian mendorong kursi nya masuk ke dalam.


“Kakek, Arkan akan tanggung jawab kek. Arkan akan nikahi Wulan.” Arkan mengejar sang kakek kemudian berjongkok.


“Aku akan bertanggung jawab, Aku akan menjaga Wulan dengan baik.”


“Tanggung jawab memang mudah, tapi akhlak kalian dimana? Kakek pikir kamu anak baik yang akan selalu melindungi cucu kakek, nyatanya kamu malah tidur dengannya. Sikap kamu sama saja!” ucap kakek.


“Kek, Wulan yang salah. Wulan yang mendekati mas Arkan duluan,” ucap Wulan sambil ikut memohon di hadapan kakek. “Kakek jangan marah mas Arkan. Marah Wulan saja kek,” ucap Wulan. Ia ikut berjongkok di samping Arkan.


“Hhssshhh, bikin kakek kecewa! Apa kurang didikan kakek kepada mu? Kakek selalu mengajari mu menjadi wanita yang sopan, lemah lembut, ramah dan baik.”


“Arkan, ingin menikahi Wulan kek,” Arkan mohon, jangan menyalahkan Wulan.


Wulan mengangguk, mengiyakan ucapan Arkan.


“Jadi kalau tidak menikah, kamu akan membiarkan cucuku hamil tanpa suami?” ucap kakek Hendy geram.


Jenny dan Richard hanya melongo menatap mereka. Nasi sudah jadi bubur, tapi dengan begini akhirnya kakek merestui pernikahan mereka.


“Jadi kakek sudah merestui hubungan kami?” tanya Arkan.


“Mmm,” sahut kakek, ia terlihat masih enggan menatap Arkan.


“Makasih kek,” Arkan memeluk kakek Hendy kemudian menciumnya.


“Indun siap kan makan malam,” ucap kakek Hendy.


“Aku, akan membawa Wulan ke dokter. Mama, dan ayah akan temani kakek makan.”


Wulan langsung di bawa Arkan menuju praktek dokter obygin dan ginekologi. Ia secara pasti ingin meyakinkan Wulan hamil dan menyingkapi segala keperluannya Wulan selama masa kehamilan.


Sementara itu di meja makan…


Suasana kaku dan tegang menyelimuti seisi ruangan.


“Makanlah,” ucap kakek Hendy.


“Makanan tidak seberapa banyak, karena rencana barbeque batal, jadi kita hanya memliki menu sederhana ini,” ucap kakek yang kini sudah terlihat semakin santai.


“Paman, Terima kasih,” ucap Jenny.


Kakek Hendy menarik nafasnya panjang.

__ADS_1


“Aku tau kalian tidak sepenuhnya bersalah.”


“Wulan itu hatinya belum sepenuhnya pulih. Ia masih menyimpan dendam terhadap Brian. Dia ingin kembali membangun mahligai di atas duri dalam hatinya. Paman ragu, jika terjadi masalah sedikit saja Wulan akan sangat kecewa dengan Arkan, dan keadaannya untuk kembali percaya akan cinta akan sirna. Wulan selalu menempat kan perasaan dan kepercayaan di atas segala galanya!”


“Sudah terlanjur hamil, semoga saja hal yang aku takutkan tidak terjadi,” gumam kakek Hendy.


“Paman jangan terlalu berpikir berlebihan, bagaimana pun ada seorang bayi dalam kandungan Wulan, buah hati mereka. Apa pun kendala mereka, semoga mereka bisa mengatasinya. Mengingat mereka kini memiliki tanggung jawab.” ucap Richard.


“Ya semoga saja begitu. Sekarang ada seorang calon bayi yang harus ia lindungi. Semoga cara berpikirnya menatap dunia bisa semakin terbuka.”


“Jadi Wulan dan Arkan bisa segera menikah paman?” tanya jenny ragu.


“Nikahkan, tidak perlu pesta berlebihan. Setidak nya secara agama mereka sudah sah,” ucap kakek Hendy.


.


.


.


Seminggu kemudian, Wulan dan Arkan resmi menikah.


Pernikahan berlangsung sangat sederhana di kediaman Jenny. Walaupun hanya di hadiri oleh beberpapa orang kerabat dan keluarga, akad nikah berlangsung sangat syahdu. Acara tidak semeriah saat ia menikah dengan Brian, namun hati Wulan teramat bahagia. Senyuman tidak pernah lepas dari wajah Wulan. Ia seakan menjadi wanita paling bahagia di dunia. Hidup bersama pria yang di cintai nya bersama jabang bayi yang ada dalam kandungannya.


Arkan memperlakukan Wulan dengan sangat baik. Saat pagi hari Arkan akan mengantar Wulan ke rumah kakek, sore hari setelah usai pekerjaannya ia akan menjemput Wulan untuk pulang ke kediaman Jenny.


Begitu lah seterusnya setiap hari mereka membagi waktu untuk kakek dan juga untuk orang tua.


Hingga 6 bulan kemudian…


“Anak anak ini gimana sih kalau di panggil makan? Sudah jam berapa ini. Ia nggak bisa lepas dari istri nya. Maunya nempel setiap hari.” gumam Jenny.


“Hari libur Nyah, tuan muda pasti ingin istirahat lebih,” ucap bi Indun yang sedang membersihkan meja dapur.


“Istrinya lagi hamil, harusnya jam segini sudah makan. Dia lupa ada anak dalam perut yang harus di kasi makan?”


Jenny kemudian berjalan cepat menuju kamar anak dan menantunya itu. Baru saja ia akan mengetok pintu. Namun dari dalam kamar terdengar suara Wulan sedang meng erang nikmat. Des ahan nya terdengar jelas dari depan pintu tempat Jenny berdiri.


Tidak jadi mengetok, Jenny kembali ke meja makan.


Dengan wajah ditekuk, Jeny duduk menatap arah pintu.


Selang sejam, saat makan yang di hidangkan sudah mulai dingin. Arkan dan Wulan keluar menuju meja makan.


“Kamu yah, istri mu lagi hamil. Apa kamu lupa ada anak dalam perutnya? Kamu mau buat anak dalam perut nya kesakitan?” ujar Jenny sambil memukul mukul pundak Arkan.


“Maa, sakit ma.” pekik Arkan.


“Bisa nggak nafsu mu itu tahan tahan dikit. Wulan bentar lagi lahiran, kalau mau lakukan hal itu pakai etiket dong jangan seenaknya sampai Wulan teriak teriak gitu,” lanjut Jenny.


“Iya ma, maaf.”


“Wulan, Ayo di makan,” ucap Jenny masih rada kesal.

__ADS_1


“Nona Wulan apa mau bibi panasin lagi?” tanya bi Rahma.


“Nggak usah bi, Wulan akan makan.”


“Bi jangan lupa seduh susu untuk Wulan,” perintah Jenny.


“Baik Nyah,” sahut bi Rahma.


Masih dengan wajah kesalnya, jenny pun meninggalkan ruangan itu.


“Mama marah sekali mas, apa dia mendengar Wulan teriak kesakitan?” tanya Wulan pelan.


“Mungkin saja, kamu emang ga suka sadar sih. Udah keenakan suara ga bisa di tahan.”


“Padahal tadikan sudah pelan pelan suaraku, gimana kalau nggak?”


“Mungkin suara mu bisa sampai ke tetangga depan,” timpal arkan kemudian terkekeh.


“Setelah vila kita jadi, kita bisa berakhir pekan di sana. Tanpa gangguan,” ucap Arkan ditengah tengah aktivitas makannya.


“Anak kita?” tanya Wulan.


“Di ajak dong,” sahut Arkan.


“Mama?”


Arkan menggeleng seketika.


“Mama cerewet.” jawab Arkan.


“Kalau Kakek mau ikut gimana?”


“No, sebaiknya kakek juga ngga ikut. Kakek nggak pernah sekalipun tersenyum melihat wajahku.”


Wulan tersenyum lebar. “Kakek takut mas akan menyakiti ku,” ucap Wulan.


“Sejak kapan? Aku nggak pernah berpikir akan melakukan hal itu!”


“Mas yang sabar aja, kakek sudah tua. Dia suka berpikir berlebihan.”


“Ya aku tau, aku juga maklum akan hal itu.”


“Jadi hari ini kita akan kemana mas?” tanya Wulan.


“Nggak usah kemana mana. Kamu lupa kata dokter, tanggal lahiran mu ga bisa di tebak. Bisa besok, lusa, malam, siang. Jadi sebaiknya kita di rumah saja,” jawab Arkan.


“Baiklah, kalau gitu aku bisa menonton drama sepanjang hari.”


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2