
Arkan kembali masuk ke dalam kamar dengan senyum yang di buat sebahagia mungkin. Ia berjalan agak lambat tidak seperti dia yang biasanya.
“Sebentar lagi perawat akan mengantar makanan kamu,” ucap Arkan.
“Mas kenapa?” tanya Wulan. Sambil terus menatap gerak gerik Arkan.
“Aku baik baik saja,” ucap Arkan.
Wulan terlihat berusaha bangun dari pembaringan. Ia ingin mengambil posisi duduk. Namun seluruh tubuhnya terasa remuk. Walaupun begitu ia terus berusaha bangun.
“Please jangan bangun dulu jika masih belum bisa,” Arkan memaksa kakinya berjalan cepat menghampiri Wulan dan membantunya.
“Mas, kaki mas kenapa?” tanya Wulan yang akhirnya berhasil mengambil posisi duduk.
“Kaki ku baru saja sembuh,” ucap Arkan.
“Kaki mas kenapa?” tanya Wulan penuh seksama.
“Mas, jangan berbelit belit. Ceritakan kaki mas kenapa?”
“Jika mas tidak cerita aku,” Wulan berniat berdiri dari ranjang untuk melihat kaki Arkan. Namun Arkan menahannya.
“Aku akan cerita,” Arkan mulai menggulung celananya hingga terlihat sebuah keloid memanjang di kakinya.
“Kaki mas kenapa?” tanya Wulan semakin penasaran.
“Bekas operasi karena patah,” ujar Arkan.
“Kapan?”
“Sekitar setahun yang lalu,” jawab Arkan.
“Parah?” tanya Wulan.
“Aku sudah sembuh. Lihat aku bisa berjalan dengan baik sekarang,” ucapnya bersemangat.
Setidaknya Arkan tidak menambah beban pikiran Wulan hari itu. Yang dialaminya sudah cukup berat, jika Arkan menceritakan kejadian yang menimpa dirinya tentu akan membuat wulan semakin sedih.
Tok tok tok
Seorang perawat masuk dari arah pintu dengan sebuah nampan berisi makanan.
“Sarapan nona Wulan, Silahkan di makan,” ucap perawat itu sambil meletakkan nampan di atas nakas. “Pak, ada titipan resep dari dokter Diana, harus di tebus hari ini,” ucap perawat itu kemudian menyerahkan selembar kertas kepada Arkan.
“Baik terima kasih sus.”
“Sama sama, saya permisi.”
Setelah perawat itu keluar, Arkan langsung menyiapkan makanan untuk Wulan.
“Makanlah, sebentar lagi aku akan membawa mu menemui Raya,” ucap Arkan.
“Benarkah?” Rona gembira terpancar dari wajah Wulan.
“Syarat nya kamu harus menghabiskan makanan ini. Tubuhmu butuh banyak kalori dan gula agar berenergi,” ucap Arkan.
Wulan pun menghabiskan makanan nya dengan lahap. Dalam sekejap semua makanan di atas piring ludes tak bersisa.
“Aku mau mandi dulu, badanku terasa lengket semua,” ucap Wulan.
“Tapi luka di kaki mu belum boleh kena air, lukanya harus kering dulu baru bisa kena air,” ucap Arkan.
“Kalau begitu aku akan mengangkat kaki ku ke atas kemudian mandi,” jawab Wulan bersemangat.
Arkan menggelengkan kepalanya.
“Aku akan membantu kamu mandi,” ucap Arkan.
__ADS_1
“Ya sudah, aku nggak jadi mandi,” tolak Wulan.
Arkan menatap wajah Wulan lekat. “Kenapa?” tanya nya.
“Mas seorang pria, dan aku, kita.” Wulan tidak melanjutkan kata katanya.
“Jadi siapa yang bisa memandikan kamu? Mail?” tanya Arkan.
“Mail? Kenapa harus Mail yang mandikan aku mas. Aku bisa mandi sendiri, aku masih punya tangan. Dan kakiku masih bisa berdiri,” ucap Wulan.
Kemudian Wulan menatap Arkan. “Darimana mas tau Mail?” tanya Wulan.
“Aku tau dari dokter Yudha,” jawab Arkan.
Ia berjalan ke arah lemari mengambil sepasang pakaian untuk Wulan.
“Pakai lah,” ucap Arkan.
Wulan memegang baju yang di berikan Arkan kemudian menatap Arkan.
“Kenapa?” tanya nya.
“Mas akan berdiri disitu? Gimana aku mengganti pakaian jika mas terus di situ!”
Arkan langsung menutup tirai yang menggatung di sekitar ranjang pasien. Saat itu juga ia langsung berbalik badan.
“Setahun tinggal di gunung membuat pikirannya makin kolot. Kenapa harus malu dengan ku. Aku kekasihnya…” batin Arkan.
Arkan terdiam.
Waktu setahun itu memang telah merubah banyak hal. Dalam sehari saja banyak hal bisa berubah apalagi setahun.
“Aku tidak tau apa yang di alaminya. Dia menjadi begitu waspada dan menjaga jarak dariku, aku harus perlahan mendekatinya lagi. Aku harus kembali mengambil hatinya.”
“Sudah?” tanya Arkan lembut.
“Daniel yang membawa gaun itu subuh tadi. Dia sibuk jadi hanya bisa beli yang dia bisa beli,” ujar Arkan.
“Sibuk? Subuh subuh sibuk ngapain?” tanya Wulan nyeleneh.
“Sibuk mengurus jenazah Raya. Ia, bi Indun dan Buto yang menyiapkan segala keperluan Raya,” sahut Arkan dalam hati.
“Mas,” panggil Wulan.
“Bisa tolong kancing kan, kayaknya nyangkut di rambut,” pinta Wulan.
Arkan kembali membuka tirai itu. Ia melepaskan rambut Wulan yang tersangkut di resleting kemudian menarik resleting itu ke atas.
Arkan mengecup punggung Wulan secara tiba tiba. Hasratnya ingin mencium terjadi secara naluriah, ia tak ingin menunda lagi.
Saat itu juga Wulan kaget dan menarik tubuhnya mundur.
“Maaf,” bisik Arkan.
Wulan menjadi canggung kemudian mulai merapihkan rambutnya.
Rambut nya di ikat ke atas semua, membuat leher jenjang nya terlihat jelas.
“Kamu cantik,” ucap Arkan.
“Sejak kapan dia pinter menggombal seperti ini? Padahal setahun aku tinggal di gunung tanpa perawatan, kulitku menghitam, rambutku berminyak dan tidak terurus. Cantik dari mana?
“Kita kapan jalan?” tanya Wulan.
“Aku akan telpon Daniel, dia akan jemput kita,” ucap Arkan.
“Raya tidak di rawat di rumah sakit ini?”
__ADS_1
“Apa lukanya parah?”
Arkan tidak menjawab pertanyaan Wulan. Ia terus menghubungi Daniel, sekaligus menghindar dari pertanyaan pertanyaan Wulan yang terus menyerangnya.
“Dimana?”
“Oke jemput sekarang.”
“Daniel sudah dekat, aku akan ambil kursi roda di depan sekalian memanggil perawat ke sini,” Arkan langsung berjalan keluar dari kamar.
Otaknya sedang memikirkan bagaimana cara menjelaskan keadaan Raya pada Wulan. Sebenarnya dokter Diana sudah menyarankan agar kematian Raya di tutupi dulu, tapi lihat lah gembiranya Wulan saat tau ingin menemui Raya.
Entah apa yang terjadi di antara mereka hingga menjadi akrab seperti itu. Raya begitu berharga layaknya seorang keluarga, Wulan begitu mengkhawatirkannya.
Beberapa saat kemudian, Arkan kembali ke kamar bersama seorang perawat.
“Hai Nona Wulan, anda akan keluar hari ini. Jadi saya kesini untuk melepas selang infus ini. Kalau sudah di rumah, makan yang bergisi. Banyak istirahat, dan jangan sedih. Kondisi anda sebenarnya belum memungkinkan untuk di rawat jalan, tapi dokter Diana sudah mengijinkan anda pulang,” jelas perawat itu panjang lebar.
Selesai melepas selang infus dari tangan Wulan, ia membantu Wulan naik ke kursi roda.
“Terima kasih sus,” ucap Arkan dan Wulan.
“Sama sama. Hati hati di jalan,” ucap perawat itu.
Arkan mendorong Wulan keluar dari kamar itu terus menuju parkiran mobil.
“Mas.” panggil Wulan.
“Ya.”
“Bagaimana dengan Brian?” tanya Wulan tiba tiba.
“Brian? Brian sudah meninggal,” jawab Arkan.
Mendengar ucapan Arkan leher Raya seakan tercekat.
“Brian meninggal? Mas aku tidak main main, bagaimana keadaan nya?”
“Brian sudah meninggal.”
Jawaban arkan tetap sama. Brian sudah meninggal!
“Kamu sedang mencemaskan nya? Dia sudah meninggal,” ucap arkan lagi.
Itu adalah ketiga kalinya Arkan mengatakan Brian sudah meninggal. Akhirnya Wulan harus percaya jika Brian memang sudah meninggal.
“Kamu nggak ke pemakaman nya? Paman Johan dan tante gimana?”
“Paman di Singapore, kondisi jantung nya tidak stabil. Terlebih setelah mendengar kematian Brian. Dia shock dan belum bisa meninggalkan rumah sakit.”
“Jadi kamu tidak hadiri pemakaman nya?” tanya Wulan.
“Kita akan ke sana bersama. Kamu sebagai istrinya harus hadir di sana,” ucap Arkan.
“Istri? suamiku sudah meninggal? Aku sekarang seorang janda. Aku tidak butuh surat cerai lagi. Aku, aku tidak butuh perceraian lagi,” batin Wulan.
Ia menjadi sedikit senang. Mengingat semua perbuatan Brian, Wulan tidak sedikitpun merasa sedih. Ia sangat menikmati hari kebebasannya itu.
Tanpa ia sadari sedikit senyuman tersungging di kedua sudut bibirnya.
.
.
.
TBC…
__ADS_1