Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Menyelinap-


__ADS_3

Malam pukul delapan malam, seorang perawat tengah mendorong sebuah meja troli medis menuju ruangan VVIP nomor 2. Perawat itu terlihat kesulitan mendorong meja berbentuk semi lemari kecil itu. Menu berbagai jenis makanan terhidang di atas meja.


Saat melewati dua orang yang berjaga di depan pintu kamar, perawat itu di hadang oleh dua orang penjaga yang terus berdiri di depan pintu. Kedua penjaga itu baru saja berganti sif jaga sejam yang lalu.


“Stop!” Seorang penjaga menghadang suster itu sebelum masuk ke dalam kamar.


“Apa ini?” tanya penjaga itu sambil memeriksa apa yang di dorong si perawat.


“Ini makan malam pasien, maaf kali ini agak sedikit terlambat mengantar makan malam. Bagian dapur sedang kekurangan koki,” jelas si perawat tanpa di tanya. Ia berusaha membuat peralihan agar kedua penjaga itu tidak melanjutkan pemeriksaan hingga ke dalam meja troly itu.


“Besok mungkin tidak ada sarapan lagi, para koki di dapur sepakat akan mogok kerja jika gaji mereka tidak di bayar,” lanjut perawat itu.


Kedua pengawal itu saling tatap. Mungkin dalam hati mereka saling tanya. Ada hubungan apa antara urusan dapur dengan kami? Atau mungkin mereka bertanya tanya, kenapa rumah sakit mahal ini tidak bisa membayar gaji koki di dapur?


“Jika aku jadi para koki itu tentu—” perawat itu baru saja akan melanjutkan ceritanya namun kedua penjaga itu langsung menyuruhnya masuk.


“Masuk lah, nggak usah banyak bicara, sekarang sudah lewat jam makan malam.”


“Perawat kerja yang benar, jangan terlalu banyak bergosip,” tukas pengawal yang satu.


“Tapi saya tidak bergosip pak, di dapur koki koki memang—,”


“Sudah sudah cepat masuk,” potong pengawal itu. Ia tak ingin si perawat cerewet melanjutkan lagi ceritanya.


Akhirnya perawat itu berhasil masuk ke dalam kamar.


“Malam bu Jenny,” sapa perawat itu.


Jenny yang sedang mengolesi wajahnya dengan sebuah kapas toner langsung menoleh ke belakang.


“Malam.”


“Saya membawa makan malam bu Jenny dan pasien,” ucap perawat itu.


“Loh tadi jam 6 petang makan malam sudah..”


“Sshhhht.” Perawat langsung menutupi jari telunjuk ke bibirnya.


Perawat itu langsung membuka pintu lemari.


Dari dalam lemari Richard langsung keluar.


“Hhhhhh mas,” gumam jenny. Tenggorokannya tercekat sedangkan matanya terbelalak. Ia sangat kaget melihat sosok Richard keluar dari dalam lemari.


“Ssshhhhtt,” Richard ikut menyuruh Jenny agar tidak terlalu berisik.


“Apa yang mas lakukan di sini?” tanya Jenny sambil membawa Richard masuk ke sebuah ruangan.


“Mas nekat sekali, di luar ada penjaga!” ucap Jenny.


“Kamu tidak pernah mengabari, dengan cara bagaimana aku dapat mengunjungi mu?” tanya Richard pelan.


“Aku, aku bisa tinggal di sini asalkan nggak bawa apa pun dari luar,” sahut Jenny.

__ADS_1


“Dimana Arkan?” tanya Richard kemudian.


“Arkan? Kenapa mas mencari Arkan di sini?” tanya Jenny.


“Sudah dua minggu Arkan tidak ada kabar.”


“Ha, anak ku pergi ke mana? Wulan?” Jenny balik bertanya.


“Wulan di culik oleh Brian, dan Arkan menghilang beberapa minggu setelah Wulan di culik!” ujar Richard.


“Hssshhhh,” desis Jenny. “Brian! Ini pasti ulah Brian!” Jenny meremas bajunya hingga terlihat kusut. Wajahnya marah sekaligus khawatir.


“Aku pikir Arkan berada di sini dengan mu.”


“Aku di sini karena sengaja. Mas Johan baru di operasi, aku sengaja menawarkan diri mengurusnya hingga sembuh,” ujar Jenny.


“Istri mas Johan sendiri mana? Kenapa kamu yang harus mengurusnya?”


“Kata Brian, ibunya juga sedang sakit. Sekarang di Swiss belum besa terbang ke sini.”


“Kamu sudah tau sifat Brian seperti apa, tapi kamu masih percaya ucapannya! Sekarang bagaimana nasib anak ku, aku merasa Arkan sedang butuh batuan ku.”


“Mas, mas jangan buatku takut. Arkan pasti baik baik saja.”


“Sekarang kamu ambil ini. Saat ada kabar keberadaan Arkan kamu langsung hubungi aku, aku tidak bisa berlama lama di sini,” ucap Richard seraya menyerahkan ponsel ke tangan Jenny.


“Mas, tolong cari anak kita sampai ketemu. Setelah mas Johan sadar, aku akan memintanya menghubungi Brian dan bertanya langsung kepadanya,” pinta Jenny dengan wajah memohon.


“Ya sudah, kamu jaga diri di sini. Salam untuk mas Johan,” Richard bergegas keluar dari ruangan itu dan kembali masuk ke dalam lemari.


Sepeninggal Richard, pikiran Jenny menjadi tidak tenang. Apa yang di lakukan Brian sudah di luar kendali. Jenny harus meminta kepada mas Johan agar membujuk Brian melepaskan Arkan. Padahal sebelumnya Brian sudah berjanji pada kami tidak akan membunuh lagi.


“Apakah Brian sudah membunuh Arkan? Tidak tidak, itu tidak boleh terjadi!”


Jenny berjalan menuju sebuah pintu. Ia memasuki ruangan tersebut, ruangan di mana kakak nya sedang tidur. Ia kemudian duduk di samping ranjang.


“Mas Johan, sadarlah. Sudah dua hari sejak di operasi mas Johan belum juga sadar. Ada yang ingin aku ceritakan mas,” ujar Jenny sambil memegang tangan kakaknya.


“Kata dokter, operasi ke dua, mas akan lebih cepat pulih. Nyata nya sekarang sudah dua hari mas belum juga bangun,” gumam Jenny.


Sambil bersandar di samping ranjang Jenny akhirnya tertidur.


Selang beberapa jam. Tangan Johan mulai bergerak. Ia mencoba mengangkat tangannya ke atas kepala Jenny.


“Jenny,” panggilnya.


“Mas, mas Johan. Syukurlah. Aku Panggil dokter ke sini dulu mas.” Ia memencet tombol hijau di dinding dekat nakas.


“Mas, gimana perasaan mas johan Sekarang?”


Johan mengedipkan matanya, pertanda ia baik baik saja.


“Cepatlah sembuh mas, aku butuh mas. Jangan sakit terus. Apa mas tega melihat adik mas ini selalu khawatir?”

__ADS_1


Johan tersenyum kecil. Beberapa saat kemudian seorang dokter dan dua orang perawat memasuki ruangan itu.


“Pak Johan sudah sadar ya,” ucap dokter sambil memeriksa kondisi pasien. “Apa ada rasa mual pak?” tanya dokter itu.


Johan menggeleng.


“Dokter, kapan pasien bisa pulang?” tanya Jenny blak blakan.


“Aduh bu, baru juga sadar, masa iya sudah minta pulang?” ucap dokter itu.


“Kira kira aja dok kapan,” imbuh Jenny.


“Hmm, empat sampai lima hari lagi. Selebihnya setiap minggu harus kontrol rutin,” jelas dokter.


“Bagus lah, mas akhirnya kita bisa pulang,” ujar Jenny senang.


“Maklum lah dok, saya di rumah sakit sudah sebulan. Jika mas saya nggak pulang artinya saya juga nggak bisa pulang. Siapa sih yang betah tinggal di rumah sakit?” tanpa rasa enggan Jenny mengungkapkan isi hatinya.


“Iya bu, saya mengerti. Sabar hingga empat sampai lima hari lagi ya bu,” ujar dokter itu.


“Ya sudah, aku pamit dulu. Perawat akan tinggal mengambil darah dan mengambil urine serta mengganti pakaian pasien, kalau ibu butuh bantuan Panggi saja saya di ruangan saya di sebelah kamar ini,” ujar dokter itu.


“Baik dok, Terimakasih.”


“Mari pak, bu. Saya permisi.” Dokter pun berlalu dari ruangan itu.


“Mas,” panggil jenny.


Mata Johan melirik ke arah Jenny.


“Mas,” panggil nya lagi.


Johan mengangkat keningnya.


“Mas nggak bisa bicara?” celetuk Jenny.


“Kenapa?” ucap Johan dengan nada pelan dan kaku.


“Kirain operasi di jantung yang rusak bibir mas,” gumam Jenny.


Johan tertawa kecil mendengar ucapan Jenny.


“Bu, pasien baru saja sadar. Biasanya pasien yang di bius total agak lambat berpikir dan merespon. Kesadaran mereka belum kembali sempurna,” jelas perawat itu.


Johan terlihat mengangguk mengiyakan ucapan perawat.


“Ya sudah, aku tanya besok aja. Besok pasien sudah bisa di ajak bicara kan sus?” tanya Jenny.


Ia terlihat khawatir, gelisah. Otak nya terus memikirkan keberadaan anaknya Arkan. Sudah dua minggu Arkan tidak ada kabar berita, dan dia baru tau sekarang. Bagaimana jika sudah terjadi sesuatu yang buruk dengan Arkan?


.


.

__ADS_1


.


TBC…


__ADS_2