Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Perayaan-


__ADS_3

Baru seminggu Wulan libur ngantor, pekerjaan nya langsung menumpuk. Hari ini ia harus periksa beberapa laporan dari para pekerja lapangan yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya.


Masih ada beberapa berkas lagi yang harus diselesaikan, tapi waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Ia harus segera pulang mengingat pekerjaan memasak sedang menunggunya dirumah.


Wulan menarik tas nya dari lemar di belakang nya kemudian pergi dari ruangan itu.


Dalam perjalanan pulang Wulan menyempatkan membalas satu persatu pesan dari Arkan, Renata dan Sarah. Jika sudah sibuk seperti ini, ia hanya bisa berkomunikasi dengan mereka melalui aplikasi chat.


Setelah tiba di rumah, Wulan memasukkan ponselnya le dalam tas.


Ternyata Soraya sudah berada di rumah, suara Soraya langsung terdengar saat Wulan memasuki pintu rumah tersebut.


Wulan berjalan menghampiri sumber suara Soraya. Dari jauh terdengar ia tertawa, seperti nya dari arah teras rumah.


“Sore nona,” ucap Wulan. Sedikit nggak enak perasaan karena ternyata Brian juga berada di situ.


“Sore tuan,” sapa Wulan.


“Wulan duduk sini, ini brownies Choco dari cafee De Layla. Cobain deh,” Soraya memberi sepotong kepada Wulan.


“Aku masih banyak kerjaan nona, nanti saja,” tolak Wulan.


“Ayo lah Wulan, mood aku sedang baik hari ini, kamu harus ikut merayakan juga bersama kami,” ujar Soraya memaksa.


Wulan menatap Brian. Pria itu seperti mengangguk mempersilahkan Wulan duduk.


Wulan duduk di samping soraya kemudian menerima kue pemberian Soraya.


Sesuap kue masuk ke mulutnya. Wulan mengunyah mencoba menyukai kue tersebut. Terlalu manis, ia tak suka namun harus tersenyum senang.


“Enak kan?” tanya Soraya.


“Enak non,” jawab Wulan.


Brian terus menatap Wulan yang sedang menikmati kue tersebut.


Coklat kental dari kue itu sedikit belepotan di bibir Wulan.


“Lap bibir kamu,” ucap Brian menyodorkan selembar tisu ke tangan Wulan.


“Terima kasih tuan,” ucap Wulan.


“Wulan, papaku sekarang terpilih lagi sebagai ketua DPC partai Nasional,” ujar Soraya.


“Benarkah? Selamat nona,” ucap Wulan.


“Oh ya, nona mau di masak kan apa malam ini, aku akan masakkan yang special untuk merayakan kebahagiaan nona,” ujar Wulan.


“Masak yang paling enak yang kamu bisa aja. Aku pasti makan kok,” ujar Soraya.


“Baiklah, kalau begitu aku ke dapur dulu non, tuan,” pamit Wulan.


Ia langsung menuju dapur menyiapkan bahan makanan untuk dimasaknya malam ini.


Berbagai menu disiapkan Wulan. Dengan bantuan bi Narsih, semua jenis masakan terselesaikan sebelum pukul delapan malam itu.


“Bi, tolong panggil non Soraya di kamar. Minta mereka segera turun,” pinta Wulan pada bi Narsih.


“Baik Nyah,” jawab bi Narsih kemudian melakukan seperti yang diperintahkan Wulan.


Selang beberapa saat Soraya dan Brian sudah berada di meja makan. Soraya makan dengan begitu lahap. Seperti yang di ucapkannya, pesta! Malam itu adalah pesta bagi Soraya. Ia benar benar merayakan keberhasilan sang ayah.


Sebotol minuman berlabel chivas di keluarkan dari dalam lemari kaca oleh Brian. Lemari kaca dimana terdapat berbagai kokeksi minuman ternama dari seluruh penjuru dunia.


Usai makan, Wulan mulai membereskan meja makan.


“Wulan ayo gabung,” ajak Soraya.


“Gabung? Aku nggak pernah minum sejenis itu,” batin Wulan.

__ADS_1


“Wulan beresin dapur dulu non,” tolak Wulan.


“Ya sudah sana buruan trus gabung sini,” ujar Soraya.


Wulan segera menuju dapur, ia membersihkan apa saja yang ada di dapur. Berlama lama mencuci piring kemudian menyapu lantai.


“Wulan,” panggil Soraya.


“Non?”


“Ayo duduk,” ajak Soraya.


“Ta tapi pekerjaan ku belum selesai,” ujar Wulan lagi.


“Bi, bibi suruh bibi yang kerjakan. Kamu gabung sini,” ucap Soraya.


Dengan berat hari Wulan duduk di meja itu bersama mereka.


Soraya menyodorkan segelas kecil minuman yang sudah di raciknya ke tangan Wulan.


“Cobain deh, racikan minuman kesukaan Brian,” ujar Soraya.


Wulan menerima gelas dari tangan Soraya. Ia mencoba meminum sedikit kemudian meletakkan gelas itu di atas meja.


Soraya melanjutkan perbincangannya dengan Brian. Soraya menceritakan kembali kejadian lucu saat Soraya berada di Swedia.


Dengan penuh kebosanan Wulan harus berpura pura betah berada di situ. Ia turut mendengar kisah Soraya, terkadang ia ikut tertawa dan sesekali ia akan komentar sedikit atau sekedar bertanya. Seolah ia sangat antusias dengan perjalan hidup Soraya di negri orang.


Hingga waktu menunjukkan pukul 12 malam. Soraya sudah terkapar di bahu Brian.


“Wulan, bantu aku membawanya ke kamar,” ujar Brian.


Wulan sedikit kaget, ia menatap wajah Brian. Ini adalah kali pertama Brian memanggilnya dengan sebutan namanya.


“I iya tuan,” jawab Wulan. Ia berdiri dari kursi nya, menatap sekeliling, ruangan itu terasa berputar. Wulan berusaha memegang sandaran kursi dibelakngnya.


Mata Brian memicing. “Kamu bahkan tidak menghabis dua gelas minuman,” ujar Brian.


“Alah paling kamu nggak pernah minum alkohol,”


“Aku pernah minum Wine,” jawab Wulan sambil berjalan mendekati Brian.


“Kamu bantu angkat tangan nya ke bahuku, kita gotong dia ke kamar,” ucap Brian.


“I iya.” Wulan berusaha sadar dan sekuat tenaga mengangkat Soraya ke atas punggung Brian.


Wulan pun membantu menahan tubuh Soraya dari sebelah kanan.


Setiba di kamar. Brian membaringkan tubuh Soraya di atas ranjang.


“Keluarlah,” perintah Brian.


Wulan langsung bergegas keluar.


“Jika bukan karena terpaksa aku nggak akan meminum minuman haram itu,” gumam Wulan sambil mengurut ngurut tengkuk lehernya.


Ia terus berjalan menuju kamar nya. Setiba dikamar ia meneguk segelas air putih dari atas nakas.


Mata Wulan berpendar ke sekeliling mencari keberadaan tas nya.


“Oh iya, tas ku masih di bawah.”


Wulan kembali berjalan turun menuju dapur, sebelum masak ia meletakkan tas nya di dalam laci.


Masih di dapur, Wulan meraih ponsel dari dalam tasnya. Ponsel yang kini Low bat itu dimasukkan kembali ke dalam tas.


Wulan berjalan naik kembali ke kamar nya.


Saat melewati pintu kamar Brian, terdengar suara seperti sedang melempar sesuatu.

__ADS_1


Praaaakkkkk


“Bodoh, nggak becus. Jika terjadi sesuatu dengannya, kamu yang gantikan dia dalam lubang kubur,” teriak Brian penuh emosi.


Mendengar ucapan itu Wulan langsung berjalan cepat masuk ke kamarnya. Ia mengunci pintu kamarnya dari dalam, aura buruk Brian sepertinya kumat lagi, bagaimana jika ia ke kamar Wulan hanya untuk melampiaskan emosinya?


Wulan segera mengambil ponsel keluar dari tasnya. Colokan dan charger sudah disiapkannya di samping tempat tidur, ia akan membalas chat teman temannya sebelum tidur malam itu.


Begitu ponsel menyala, beberapa pesan beruntun langsung masuk.


“Pasti Renata dan Sarah. Biasanya mereka heboh saat malam hanya karena drama korea terbaru yang sedang mereka geluti,” batin Wulan.


“Mas arkan?” gumam wulan sembari membaca satu persatu pesan dari Arkan.


(Wulan, hp kamu mati lagi?!)


(Wulan.)


(Wulan, setelah baca chat ini langsung balas.)


Wulan pun membalas dengan cepat.


(Iya mas ada apa?)


“Katanya langsung balas, sudah dibales malah hp nya yang mati,” gerutu Wulan.


Ia langsung meletakkan kembali ponselnya di atas nakas kemudian meluruskan badannya di atas pembaringan. Dalam sekejap Wulan langsung terlelap.


Baru sekitar sejam Wulan tertidur…


Bip


Bip


Drrrttttt


Drrrttttt


Drrrtttttt


Suara pesan masuk dan panggilan masuk terus berbunyi.


Dengan mata terpejam wulan meraba ponsel di atas nakas persis di samping ranjangnya.


“Haloo.”


“Wulan, aku sedang perjalanan ke rumah kamu sekarang,” ucap Arkan.


“Mas arkan?”


“Wulan kamu tunggu di depan, sepuluh menit lagi aku sampai,” ujar Arkan.


“Mas, ngapain? Sekarang masih jam,” wulan melihat jam digital pada ponselnya. “Setengah dua mas,” ujar Wulan.


“Iya, tapi aku perlu bicara serius dengan kamu,” ucap arkan serius.


“Loh bukannya mas Arkan lagi di Surabaya?” tanya Wulan setelah sedikit sadar.


“Aku baru tiba, baru saja. Sekarang dalam perjalanan ke rumah kamu. Kamu nggak ke depan aku akan masuk ke kamar kamu!” ujar arkan serius.


“Oke oke, aku turun sekarang,” ucap Wulan setuju.


Wulan berusaha bangun, kepalnya sedikit cenat cenut, perut nya rada mual. Namun sebelum Arkan menerobos masuk ke kamarnya, ia harus turun menemui Arkan di bawah.


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2