Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Surprice-


__ADS_3

Begitu keluar dari pintu kamar hotel. Wulan langsung menggandeng lengan Arkan. Ia tau suasana hati Arkan sedang buruk. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Wulan hingga mereka keluar dari lift.


“Mas.”


“Mas Arkan.”


“Tunggu, kaki ku sakit,” ucap Wulan.


Arkan mulai memperlambat lanju langkah nya.


“Mas.”


Mereka menghampiri mobil yang hanya terparkir di pinggir jalan.


Hingga tiba di mobil Arkan masih tidak menjawab Wulan.


“Mas.”


“Mas marah sama Wulan atau sama Mail?” tanya Wulan.


“Aku kesal dengan laki laki itu! Kamu lihat wajah nya? Ia menyeringai seolah sedang memanas manasi ku,” ujar Arkan.


“Aku tau mas, bisa apa? Kan nggak mungkin aku mengusirnya pulang,” ujar Wulan.


“Makanya kamu jangan memberi harapan kepadanya!”


“Loh mas, kapan aku memberi nya harapan?” serang Wulan. Ia merasa tidak pernah melakukan hal itu.


“Kenapa tidak menghindar saat ia menyentuh mu?” tanya Arkan.


“Aku mana tau kalau dia akan datang memegang kakiku mas. Lagian yang di pegang hanya di ujung betis saja kok,” ujar Wulan.


“Dia nggak suka kita bersama, makanya dia bertingkah seperti itu. Ia ingin menunjukkan bahwa dia akan mengambil mu dariku.”


“Aku nggak asa perasaan apa pun padanya. Aku juga bukan barang yang bisa di ambilnya begitu saja untuk menjadi miliknya,” sahut Wulan dengan cemberut. Dahi nya mengerut, bibirnya mengerucut.


“Mas Arkan saja kemaren pegang pegangan dengan Sheila aku ga ngegas,” ucap Wulan pelan.


“Kapan?” tanya Arkan.


“Aku lihat si memegang tangan mas. Pantulan dari kaca. Dih,” ujar Wulan.


“Dia yang berniat memegang lenganku. Bukan aku,!”


“Sama ajakan?!”


Wulan berbalik belakang menghadap jendela, ia duduk membelakangi Arkan dengan bibir komat kamit ga jelas.


“Egois banget. Kenapa tadi ga marah langung sama mail. Marah nya ke aku, emang aku yang suruh dia pegang kaki ku?!”


“Kalau tau begini, mending ga usah temani aku ke sini.”


“Emang enak di marah marah, aku kan ga salah.”


“Hufffttt,” Wulan membuang nafasnya panjang.


Tiba tiba Arkan memegang lengan Wulan.

__ADS_1


“Sayang,” panggil nya.


“Maaf.”


“Tadi aku terbawa emosi.”


Arkan mengambil lengan Wulan.


“Lihat sini dong,” bujuk Arkan.


“Honey, please. Jangan marah lagi. Aku janji nggak akan seperti tadi lagi,” ucap Arkan.


“Sayang, please.”


Arkan duduk menatap jalanan didepannya. Ia sedang memikirkan bagaimana cara membujuk Wulan.


Karena Arkan diam saja, akhir nya Wulan berbalik badan. Wajah nya tidak se manyun sebelumnya. Ia menatap wajah Arkan yang juga sedang menatapnya.


“Aku akan berusaha jaga jarak dari Mail. Aku nggak melarang jika dia memegang kakiku lagi,” ujar Wulan.


“Sebenarnya tadi aku tidak sedang marah padamu, alu kesal dengan nya. Tapi sudah lah. Aku minta maaf, aku nggak seperti itu lagi. Next time aku akan langsung menghajar wajahnya jika dia sengaja membuatku marah.” Ujar Arkan.


“Menghajarnya? Sampai segitunya. Dasar pencemburu. Pencemburu buta!”


“Ya sudah, kita akan ke mana?” tanya Arkan.


“Ke rumah. Sebelumnya singgah di rumah makan A. Kita harus beli makan siang.”


Wulan menatap jam digital pada Dashboard mobil, sudah menunjukkan hampir pukul satu siang.


“Buruan mas, sebelum mereka keluar dari dalem. Kita masih harus singgah, belum lagi jalanan macet!


Arkan langung mengendarai mobil nya melaju menuju jalan imam Bonjol. Di rumah makan itu, makanan sudah tersedia. Tinggal pilih jenis prasmanan yang ingin mereka pesan.


—ooOoo—


Dua minggu berlalu…


Setelah rapat pemegang saham hari itu, Arkan resmi terpilih sebagai CEO dari perusahan Wina Graha menggantikan ibunya.


Sedangkan Wulan, dia sibuk bolak balik negara A dan C untuk mengurus hak ahli waris atas tabungan milik mendiang suaminya.


Setelah selesai semua urusan Wulan di negara A, ia langung menuju Singapore. Sejak kemaren tante Jenny terus menghubungi Wulan, ia menyuruhnya mampir Singapore untuk menjenguk paman Johan.


Menjelang malam wulan tiba di Changi AirPort bersama pengacaranya pak Cahyono, namun dari Singapore pak Cahyono akan melanjutkan lagi perjalanan menuju Jakarta. Sedangkan Wulan, ia masih harus singgah di negara itu beberapa hari lagi.


Tubuhnya terlalu lelah, dua seminggu terakhir ia habiskan sebagian besar waktunya di atas pesawat, dari negara satu ia harus terbang lagi ke negara satu. Jet lag dan penyesuaian iklim dingin membuat tubuhnya terasa sangat pegal dan nyeri. Belum lagi makanan negara yang di datanginya itu tidak sesuai dengan lidahnya, setiap hari ia hanya makan seadanya hanya sekedar mengisi perut agar staminanya tetap terjaga.


Sambil menunggu Porter bagasi wulan Duduk bersandar di sebuah bangku di ruangan pengambilan bagasi.


Sesekali ia menguap. Matanya terasa sangat mengantuk.


“Jika saja mas Arkan ada di sini, aku pasti akan bersandar di pundak mas Arkan. Ahh, betapa aku sangat merindukan mas Arkan.” batin Wulan.


Wulan mengambil ponsel dari dalam tas nya kemudian menghubungi Arkan. Setidaknya, berbincang dengan Arkan bisa menghilangkan rasa kantuknya saat itu.


Namun beberapa kali ia menghubungi, nomornya tidak terhubung.

__ADS_1


“Miss, all your lugguage is here. Want to check again?” tanya Potter itu pada Wulan.


Wulan mengitung lima koper yang di bawanya.


“That’s all.”


“So you need a taxy?” tanya Porter itu.


“No, i have someone to pick me up outside. Wait i call her,” ucap Wulan.


Ponselnya mulai menghubungi tante Jenny.


“Tante, ada yang jemput Wulan ga?” tanya Wulan.


“Sudah sayang, Arkan sudah ke situ menjemputmu,” ujar tante Jenny.


“Mas Arkan di sini?” tanya Wulan lagi.


“Ia, tante lagi dalam ruang ICU, tante ga bisa lama lama ngobrol. Tante tutup dulu, Bye.”


Saat Itu juga Wulan langsung bangkit dari kursinya.


Ia berjalan keluar melewati pintu kaca, sambil matanya menyimak satu persatu penjemput yang berjejer di depan pintu keluar.


Di ujung Arkan sudah berdiri menunggunya.


Dengan senyuman ia langsung menghampiri Wulan. Ia mengangkat dan memeluk Wulan. Sembari mengecup bibir wanita yang sudah hampir dua minggu terakhir tidak bertemu dengannya.


“Mas kapan ke sini?”


“Tadi siang,” jawab Arkan.


“Kenapa nggak bilang? Aku tadi telpon mas tapi nggak aktiv,” ujar Wulan.


“Surprice.”


“Haha ya surprice banget,” Wulan membalas pelukan Arkan.


Arkan dan Wulan langung menuju mobil di parkiran.


Porter terus ikut di belakang Wulan hingga tiba di sebuah mobil. Mobil sedan sport warna merah Maroon yang hanya memilik dua kursi penumpang di dalamnya.


“Mas? Koper aku nggak muat nih,” ucap Wulan.


Mata porter itu melotot menatap lamborgini aventador di hadapannya. Mobil yang hanya di cetak 10 saja di seluruh dunia.


Wulan tidak peduli dengan mobilnya, masalahnya kelima kopernya yang gede nggak bisa masuk ke bagasi mobil itu.


Hmm…


Arkan membuka bagasi mobilnya. Di dalam mobil masih ada kopernya yang belum di keluarkan sejak ia datang sore tadi.


Arkan akhirnya menghampiri porter itu. Ia menyerahkan sejumlah uang, ia meminta agar porter itu mengirim bagasi Wulan ke alamat yang akan di berikan.


Porter itu mengangguk. Setelah menerima alamat dari Arkan, Porter itu langung mendorong kembali bagasi Wulan menuju jejeran taxi yang sedang mengantri di depan pintu kedatangan penumpang.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2