
Sekitar pukul empat sore terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Wulan yakin itu suaminya karena suara mesin mobil suaminya sudah tak asing di telinga Wulan. Sesuai perjanjian mereka pagi tadi, Arkan akan pulang lebih awal sore ini.
Wulan menarik tas selempang dari atas kursi kemudian berjalan menuju teras rumah. Mobil hitam yang tadinya akan menjemputnya kini pergi dengan cepat meninggalkan rumah tersebut
“Mas Arkan?” panggil Wulan.
“Kok pergi lagi?” gumamnya seraya mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya.
Dengan ponsel nya ia langsung menghubungi nomor suaminya itu.
“Mas, bukan nya-”
“Sayang, aku ada urusan penting. Sejam aku akan kembali menjemput kamu sayang,” potong Arkan.
“Tapi mas aku sudah-“
“Mas Arkan?” panggil Wulan namun ponselnya sudah di matikan.
Wulan berjalan cepat menuju samping rumah dimana Buto dan kakek berada.
“Buto, anter saya sekarang,” ucap Wulan.
“Kunci mobil di mana?” tanya Wulan lagi.
Buto mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.
“Ini Nyah.”
“Mau kemana kalian?” tanya kakek.
“Ada yang mau Wulan beli kek, penting,” sahut Wulan.
“Ayo Buto, temani saya,” Wulan langsung berbalik badan menuju garasi mobil.
“Kita mau kemana Nyah,” ujar Buto.
“Ayo cepat, mungkin masih bisa di kejar,” ucap Wulan.
Buto langung duduk di balik kemudi dan Wulan di sampingnya. Mobil berjalan keluar dengan cepat dari halaman rumah itu.
“Ayo Buto, buruan,” pinta Wulan.
Begitu keluar di simpang tiga. Mata Wulan melirik ke kiri.
“Karena jalan di situ satu arah, mobil Arkan pasti berbelok ke kiri. Dia belum jauh dari sini. Sebelum tiba di jalan yang padat sebaiknya Buto harus lebih cepat lagi.”
“Buto lebih cepatlah.”
“Tapi Nyah, nyonya sedang mengandung. Saya tidak ingin membahayakan keselamatan nyonya.”
“Aku nggak apa, justru kalau kamu lambat aku naik taxy nih,” ancam Wulan.
Di tengah kemacetan jalan, mata Wulan menerawang hingga ke ujung simpangan.
“Kejar mobil hitam di belakang mobil mini van itu,” ucap Wulan sambil menujuk arah ujung jalan.
__ADS_1
Kepala Buto ikut mencari di antara padatnya mobil yang ada di hadapannya. Sedan hitam yang agak ceper, tapi mata Wulan sanggup melihatnya.
“Jadi kita ikuti mobil tuan?” tanya Buto ragu.
“Iya, ikuti terus. Tapi tetap jaga jarak jangan sampai ketahuan kita mengikuti dia.”
Buto mengikuti keinginan majikannya itu. Ia berusaha melewati beberapa mobil di hadapannya, hingga hanya tersisa jarak 5 mobil di belakang mobil Arkan.
“Tuan Arkan emang mau kemana Nyah?” tanya Buto.
“Entahlah, selingkuh mungkin,” ucap Wulan asal. Terlihat kekesalan di wajahnya.
Wulan kembali mengambil ponsel di tasnya kemudian menghubungi Arkan.
“Mas, dimana? Kita nggak jadi lihat rumah. Katanya mau lihat rumah?” tanya Wulan.
“Tiba tiba ada urusan penting sayang. Kita tunda besok aja yah lihat rumah nya. Tar begitu urusan selesai, aku jemput dan kita cari keperluan yang ingin kamu beli. Gimana?” tanya Arkan.
“Emang mas dimana?” tanya Wulan.
“Sekarang lagi mengarah ke kantor,” jawabnya.
“Ok mas, hati hati di jalan.”
“Iya sayang.”
Begitu panggilan berakhir. Wulan langusng membanting hp nya ke arah dashboard.
“Ke kantor? Emang ini jalan menuju kantor?” ucap Wulan geram.
“Mas Arkan selingkuh? Heh coba saja kalau berani,” ujar Wulan sambil menguncir rambutnya. Saat itu ia sudah bersiap akan memergoki siapa orang yang akan di temui suaminya saat itu.
Setelah beberapa saat mengikut di belakang mobil Arkan, mobil itu berbelok ke arah jalan Gatot Subroto.
“Ini kan arah ke pabrik, ngapain mas Arkan ke pabrik?”
“Mungkin memang urusan kerjaan nyah.”
“Urusan kerjaan di pabrik. Pabriknya sudah tutup selama dua tahun, kerjaan apa di sana?”
Benar saja, mobil Arkan kini memasuki sebuah portal. Beberapa meter di dalam lorong itu pabrik sekaligus kantor dimana Wulan berkantor dahulu berada.
“Tetep jaga jarak, jangan sampai mas Arkan tau kita mengikutinya,” ucap Wulan terus mewanti wanti Buto.
“Nyah, jika tuan benar benar selingkuh, ijinkan aku-” ucap Buto Ragu.
“Aku apa?” tanya Wulan.
“Aku akan memberinya pelajaran,” ucap Buto.
Wulan menatap pria yang sudah di anggap keluarga nya itu dengan mata menjalak. “Mas Arkan urusan ku, kamu jangan ikut campur,” cegah Wulan.
“Sekali tinju mu melayang, mas Arkan pasti KO! Ayo masuk.”
Saat itu mobil Arkan sudah terparkir di gedung kedua di bagian belakang.
__ADS_1
“Apa yang dilakukan mas Arkan di pabrik? batin Wulan.
“Parkir mobil di sini saja, jangan sampai ketahuan. Jika aku butuh bantuan aku akan telpon kamu.”
Wulan mengambil ponsel dari atas dashboard kemudian memasukkan kembali ke dalam tas nya.
“Hati hati Nyah. Jika nyonyah tidak keluar dalam waktu setengah jam, saya akan menyusul ke dalam,” ujar Buto.
“Baiklah.”
Wulan turun dari mobil yang terparkir di samping bangunan, agak terhalang hingga tidak terlihat oleh siapa pun. Wulan berjalan beberapa meter menuju pintu rolling door yang sedang terbuka separuh.
Ia harus sedikit menunduk agar bisa masuk ke dalam. Keadaan dalam pabrik terlihat plong. Mesin mesin yang tadinya memenuhi ruangan itu kini tak lagi berada di situ. Beberapa pecahan kaca dan tumpukan kardus berserakan di ruangan luas itu.
Wulan melanjutkan langkah memasuki sebuah koridor. Suasana dalam koridor sangat berbeda jauh dengan di luar yang terlihat sangat berantakan. Di sini seperti terawat dengan baik, sebuah meja, lemari dan beberapa kursi berjejer di situ.
Langkah kaki Wulan semakin di perlambat karena ia tak ingin menimbulkan bunyi apa pun. Semakin masuk ke dalam, suara seorang wanita terdengar samar di telinganya.
Wulan berjalan semakin mendekati pintu itu.
“Sudah, saya anastesi pak. Besok mungkin sudah sadar,” ucap Wanita itu.
“Tapi tidak bahaya kan dok?” tanya Arkan.
“Nggak pak, hanya operasi kecil. Mungkin juga beberapa jam lagi pasien siuman,” jawab dokter itu.
“Pasien? Pasien siapa?” batin Wulan. Seketika itu ia di penuhi rasa penasaran.
“Ya sudah dok, saya tidak ingin berlama lama di sini. Saya masih harus menjemput istri saya. Nanti kalau ada kabar terbaru hubungi saya saja,” ucap Arkan.
Sadar bahwa Arkan sedang pamit, Wulan berjalan cepat menuju meja meja yang berjejer dan sembunyi di bawah sebuah meja di ruangan itu. Meja yang dipenuhi beberapa barang barang medis serta kain kain yang masih terbungkus rapih.
Suara langkah kaki Arkan terdengar semakin dekat. Ia dan dokter wanita itu berjalan bersama melewati meja di mana Wulan sedang sembunyi dibawahnya. Sambil menyusuri koridor itu dokter dan Arkan terus membahas perawatan lanjutan untuk si pasien.
“Pasien? Siapa yang di sembunyikan mas Arkan di sini? Aku harus masuk melihatnya langsung.”
Kepala wulan keluar separuh mengintip Arkan dan dokter yang terus berjalan menuju roling door.
Saat itu juga, Wulan berlari kecil masuk ke dalam ruangan.
Tidak ada apa apa di ruangan itu, hanya terdapat beberap meja dan lemari serta botol obat obatan yang berjejer rapih di atas meja.
Mata Wulan tertuju ke sebuah pintu. Dengan cepat ia berjalan menghampiri pintu itu kemuidan membukanya.
Saat itu juga Mata Wulan membulat menatap pria tang terbaring di atas ranjang pasien. Pria yang sedang terkulai lemah tak berdaya.
“Mas Brian!”
.
.
.
TBC…
__ADS_1