
Dini hari pukul empat subuh Wulan terbangun dari tidur. Mimpi buruk terus menghantuinya selama beberapa hari terakhir. Dalam mimpinya, ia terus melihat kakek nya telah meninggal satang menghampirinya.
Karena tidak bisa kembali tertidur, Wulan memutuskan keluar dari kamar.
Rumah baru lagi, kali ini terasa benar benar seperti rumah. Berbeda dengan Vila yang di tempati sebelumnya, rumah ini lebih padat akan barang barang hingga terasa lebih hangat.
Wulan menyusuri ruangan luas yang sebagian besar furniturnya terbuat dari kayu. Terlihat sangat klasik ditambah aroma kayu, membuat rumah itu menjadi begitu khas.
“Ehmmm,” dehem seorang pria.
Wulan berbalik mencari sumber suara tersebut yang ternyata adalah paman Richard.
“Paman, apa Wulan sudah mengganggu paman?” tanya Wulan.
“Ahh, tidak. Barusan paman mendengar suara langkah kaki, karena paman biasa tinggal sendiri disini, jadi paman agak panik, paman mengira ada pencuri yang masuk,” ucap Richard blak blakan.
“Maaf Wulan sudah merepotkan paman,” ujar Wulan.
“Tidak tidak, kamu sama sekali tidak merepotkan. Justru sekarang paman senang, rumah semakin ramai. Kamu lanjutkan saja, paman akan kembali tidur,” ucap Richard kemudian langsung kembali ke kamarnya.
Wulan melanjutkan langkahnya menuju pintu samping, pintu yang terbuat dari terali besi sederhana. Dari pintu itu pandangan langsung tertuju ke lapangan basket. Wulan pun memutuskan untuk menghampiri lapangan tersebut. Tak jauh dari lapangan basket itu, terdapat sebuah gudang kecil dan sebuah pintu.
Wulan berjalan menuju pintu yang terletak di samping gudang. Ia penasaran dengan hal apa yang ada di luar pintu.
“Wulan!” panggil Arkan.
“Mas Arkan? Sepagi ini sudah bangun?” tanya Wulan.
“Ayah menelponku, ia menyuruhku bangun. Katanya kamu butuh teman,” ucap Arkan seraya menguap, terlihat jelas jika ia masih sangat mengantuk.
“Aku nggak butuh teman, mas kembali tidur gih kalau masih ngantuk.”
“Kamu mau ke mana?” tanya Arkan.
“Aku lihat ada pintu, aku ingin keluar menghirup udara pagi,” jelas Wulan seraya menunjuk pintu di sebelah kirinya.
“Itu bengkel ayah, taman ada dibelakang rumah,” ucap Arkan sambil menujuk sebuah pintu.
“Aku akan keluar melihat lihat di luar,” ujar Wulan seraya berjalan menuju pintu yang lainnya di arah belakang.
Arkan menatap Wulan. Wanita itu terlihat bersemangat mengayunkan langkah nya dan membuka pintu belakang. Setelah pintu di buka wulan malah terdiam, Ia berdiri masih memegang gagang pintu menatap keluar dan tak berani melangkah.
Arkan tersenyum tipis menatap Wulan.
“Belum jam lima, apa yang bisa di lihat di luar?” gumamnya.
Wulan menutup kembali pintu itu dan kembali.
__ADS_1
“Aku lupa, ternyata masih gelap di luar.”
“Ya sudah, ayo ikut aku.” Arkan menggenggam tangan Wulan menuju lantai dua rumah tersebut.
Mereka memasuki sebuah pintu yang terletak di ujung ruangan.
“Ada yang ingin aku perlihatkan pada mu,” ucap Arkan.
“Ini kamar siapa mas?” tanya Wulan.
“Ini kamarku,” jawab Arkan seraya membuka sebuah kotak berisi barang barang lamanya.
“Ini kamar anak kecil, ini kamar mas semasa kecil kan?” tanya Wulan takjub. Ia menyisir rak kayu dimana terpajang segala jenis mainan anak laki laki.
“Sebenarnya aku tidak pernah tidur di kamar ini. Sejak kedua orang tuaku pisah, aku sekolah beberapa tahun di Jerman. Saat itu mama sempat deperesi karena berpisah dari ayah. Mama membawaku ikut bersama nya. Aku nggak tau, ternyata ayah membawa barang barang masa kecilku bersama nya dan membuat kamar ini,” jelas Arkan.
“Oh ya, ayah mendekornya sama persis dengan kamar ku dulu. Jadi kamarku kecil persis seperti ini,” lanjut Arkan.
“Sejak kapan mas kembali di Indonesia?” tanya Wulan.
“Sejak mama di tujuk menjadi kepala pabrik. Saat itu kakek sudah sakit sakitan, aku duduk di bangku sma kelas 2 saat itu,” jawabnya.
“Sini duduk, coba lihat ini,” ajakArkan, ia memperlihatkan sebuah album foto lama kepada Wulan.
“Ini?” Wulan menerima album itu dari tangan Arkan kemudian duduk di kursi kayu di samping Arkan.
“Moment saat ulang tahun perusahan yang ke 7, aku tidak sengaja menemukan Album foto ini dalam lemariku,” ujar Arkan.
“Ini kakek kan mas? Dan ini pasti kakek Alan,” Wulan menujuk dua orang tua yang saling berjabat tangan di halaman pertama album foto tersebut. Sebuah tulisan Wina Graha 7 thn menjadi latar di belakang kedua orang tua itu.
Wulan menggeser lagi halaman selanjutnya.
“Ini, ini mama dan papa ku, Mereka juga hadir waktu itu,” Wulan tersenyum gembira melihat kedua sosok yang selalu di kenangnya hanya melalui beberapa foto mereka.
“Bukan hanya mama dan papa mu, kamu lihat gadis kecil ini? Aku yakin gadis ini adalah dirimu,” ucap Arkan sambil menunjuk gadis kecil berbaju merah.
“Ya itu aku mas,” mata Wulan kemudian tertuju pada anak laki laki kecil di samping dirinya. “Ini siapa?” tanya Wulan.
“Itu aku,” jawab Arkan.
“Haha, mas sangat lucu.”
“Kamu lihat, setiap ada kamu di situ pasti ada diri ku. Aku selalu mengikuti kamu dimana pun kamu berada,” Arkan membuka lagi lembar berikut nya dimana ia dan Wulan sedang bermain.
“Dan ini, aku sedang memelukmu, kamu sangat menggemaskan sewaktu kecil,” ujar Arkan.
“Saat itu kamu berusia empat tahun, aku berusia tujuh tahun. Kamu sangat suka memanggilku aka, kamu ingat?” tanya Arkan.
__ADS_1
Wulan menggelengkan kepalanya. Ia masih fokus dengan beberapa foto lainnya di halaman berikut album tersebut.
Arkan menyandarkan tubuhnya pada pada sandaran di belakangnya. “Aku baru sadar sekarang, sejak kecil aku sudah begitu menyukai mu. Tak heran saat melihat mu mengenakan gaun putih menuju altar hatiku tidak rela. Brian tidak pantas menikahi dirimu. Setelah melihat album ini aku baru ingat, Wulan si gadis kecil berkuncir dua adalah dirimu. Gadis kecil yang sangat riang dan suka tersenyum. Gadis kecil yang paling cantik yang pernah aku temui,”
Mendengar ucapan Arkan Wulan tertunduk lesu. Ia menyadari betapa dia sangat ceria dan gembira. Saat itu semua hal yang di cintainya masih bersama dengan nya. Sejak kapan Wulan menjadi lebih tertutup? Sejak kematian kedua orang tuanya. Ia tak pernah lagi tertawa dengan riang.
“Ada apa? tanya Arkan.
“Apa karna aku memperlihatkan foto foto ini?” tanya Arkan.
“Alangkah baiknya jika kedua orangtuaku masih hidup, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Kakek tidak akan menghilang. Aku tidak bakalan jadi seperti ini,” ucap Wulan.
“Wulan, hei. Lihat aku.” Arkan menarik wajah Wulan agar menatap ke arahnya. “Ada aku, sekarang kamu tidak perlu khawatir lagi. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti mu.”
“Mas, pikirkan masa depan mas. Aku istri mas Brian sepupumu. Hubungan kita tidak Logic mas,” ujar Wulan.
“Yang tidak logic adalah jika kamu masih ingin bertahan dengan suami mu itu padahal sudah di perlakukan seperti ini!” Arkan menatap serius wajah Wulan.
“Aku akan menggugat cerai mas Brian,” ucap Wulan penuh tekat.
“Kalau begitu aku akan menunggu mu.”
“Mas, setelah cerai aku akan menjadi seorang janda. Hidup mas terlalu berharga untuk seorang janda seperti ku. Dan aku janda dari sepupu mu mas. Apa kata orang orang nanti?!”
“Masih harus memikirkan kata orang? Kenapa tidak tanyakan kata hatimu dulu. Apa kamu tega membuat ku terus berharap? Aku sangat menyukai dirimu.”
“Apa yang di sukai dari diriku. Aku nggak punya kelebihan apa pun. Dan aku seorang janda, aku juga tidak sexy seperti gadis gadis di luar sana. Aku tidak cantik. Aku aku—”
Wulan terdiam, saat itu Arkan menyumpal mulut nya dengan ciuman yang tiba tiba. Mata nya terbelalak karena kaget. Kepalanya terus mundur hingga tersandar pada dinding dibelakangnya.
“Mas, hubungan kita belum boleh ke tahap ini, kita belum jadi siapa siapa.” Wulan berusaha menghindari ciuman itu. Wajahnya memerah karena malu.
“Waktu itu kamu yang duluan menciumku, kenapa sekarang perlu tahapan?”
“Kapan aku duluan mencium mu mas?” tanya Wulan malu.
“Kamu lupa? Dikamar Brian, kamu yang menyerang ku duluan. Kamu sangat ber—”
“Itu karena mas menangis, aku nggak. Ah sudah lah, aku mau ke taman belakang. Otak mas pasti lagi eror,” potong Wulan. Karena malu wajahnya semakin memerah, ia akhirnya keluar dari ruangan itu.
.
.
.
TBC…
__ADS_1